
Hari ini Lira benar- benar sibuk. Ia keluar dari kampus pukul 5 sore, cuaca sangat mendung mungkin dalam hitungan menit awan hitam akan menumpahkan isi perutnya ke bumi.
Lira teringat ia tidak membawa motor kekampus, ia berjalan cepat menuju gerbang kampus, tepat dibibir gerbang motor Dio mendekatinya.
" Mari buk saya antar." Dio menawar sopan.
" Tidak usah, saya naik ojek saja." Jawab Lira, bukan apa-apa, jika ada yang melihat Lira berboncengan dengan mahasiswa bimbingannya itu dengan motor Dio yang sangat ekstrim, tentu saja akan menjadi isue hangat dikampus.
Lira memilih memesan ojek online ketimbang pulang bersama Dio, untung saja hujan turun tepat ketika Lira sudah sampai di kosan nya. Baru saja ia ingin membersihkan diri, sebuah pesan masuk di ponselnya, penasaran Lira membukanya.
Dio : Assalamualaikum, sudah sampai buk?kehujanan tidak tadi? Tangan ibuk bagaimana? sudah sembuh?
Haahh, yang benar saja, anak itu mengirim pesan seperti aku ini pacarnya, banyak sekali pertanyaannya. Lira mengabaikan pesan itu kemudian melaju ke kamar mandi.
Selesai mandi Lira memasak mie instan dan memakannya sambil menonton TV. Kemudian ia membuka ponselnya dan mengetikkan balasan untuk Dio.
Lira: Waalaikumsalam, tidak kehujanan tadi, tangan saya juga sudah sembuh, terimakasih
Dio tersenyum sendiri membaca balasan dari dosen manisnya itu. Yah, Lira memiliki daya tarik tersendiri bagi Dio sejak Lira mengajarnya untuk pertama kali, waktu itu Dio masih semester tiga dan sampai sekarang Dio sudah berada di semester akhir. Meski usia mereka berbeda 5 tahun, sama sekali tidak dipermasalahkan oleh Dio untuk mengagumi sosok Lira lebih dari seorang mahasiswa kepada dosennya.
...
Di Kediaman Citra
Tok
Tok
Tok
Mama mengetuk pintu kamar Citra. Citra yang mendengar pintu kamarnya diketuk langsung membukakan pintu.
" Cit, kamu sudah menghubungi tante Ica belum?" Mama masuk dan langsung duduk di ranjang Citra.
" Belum Ma, belum ada waktu." Jawab Citra santai sambil memotong kukunya.
" Loh kok belum, harus secepatnya Cit, dia kan WO mu, pernikahan kalian kan sebulan lagi, konsultasi sama tante Ica, kamu mau konsep acara yang seperti apa." Mama mulai mengomel.
" Iya, besok Citra ajak mbak Lira juga kesana biar ada masukan." Citra berbicara tanpa memandang mamanya.
__ADS_1
" Oh ya udah, jangan lupa ajak Azka." Mama mengingatkan Citra sambil berjalan keluar kamar.
Sebenarnya Citra sudah lama mengajak Azka menemui tante Ica, tapi ada- ada saja alasan pria itu untuk menolaknya dan Citra tidak mau pergi sendiri. Awalnya Citra mau mengajak Lira minggu kemarin, dikarenakan Lira masih cuti, akhirnya sampai saat ini Citra belum juga menemui tante Ica.
...
Keesokan harinya, Citra mengajak Lira yang memang free jadwalnya untuk menemaninya menemui tante Ica selaku Weeding Organizer untuk acara pernikahannya nanti.
Citra masih sibuk mengobrol dengan tante Ica, sementara Lira mulai mengambil beberapa katalog konsep weeding yang terpajang di rak ruangan. Ia melihat- lihat gambar contoh pelaminan yang ada dalam katalog.
Sekilas ada rasa sedih dihatinya ketika melihat gambar- gambar pelaminan itu. Entah kapan ia akan duduk dipelaminan, memakai kebaya pengantin dan tersenyum bahagia. Umurnya sudah 27 tahun, tiga tahun lagi ia akan masuk kategori wanita dengan resiko tinggi jika melahirkan untuk pertama kali.
Lira tersenyum getir, sudah memikirkan untuk melahirkan, untuk mencari calon suami saja bahkan Lira tidak tahu harus memulainya dari mana. Sedang asyik melamun sambil memandang gambar katalog, Lira dikagetkan dengan suara seseorang dari luar.
" Assalamualaikum." Terdengar suara seorang laki- laki di luar.
Melihat tante Ica masih asyik menjelaskan konsep acara yang Citra inginkan. Akhirnya Lira berinisiatif untuk menyambut tamu di depan. Ia melangkah menuju ruang depan. dilihatnya seorang pria bertubuh tinggi tegap tengah membelakanginya.
" Waalaikumsalam." Jawab Lira sopan.
Pria itu berbalik badan,
"Azkaa!!" Lira tersentak, walaupun sekarang Azka sudah bertransformasi menjadi sosok pria dewasa. Tapi Lira cukup mengenali hanya dengan melihat garis wajahnya saja.
Azka tidak kalah terkejutnya, wajahnya langsung menegang, air muka nya sama sekali tidak bisa ditebak, antara terkejut, ada juga raut wajah rindu dan mendamba disana semuanya bercampur jadi satu.
Azka dan Lira masih dengan posisi mereka mematung didepan pintu, tiba- tiba terdengar suara Citra dan tante Ica mendekat. Lira langsung paham bahwa calon suami Citra adalah Azka, orang yang selama ini ia tunggu.
Sakit, tentu saja sakit. Mengetahui Azka akan menikah saja, hati Lira seperti dicabik-cabik oleh bilahan sembilu, ditambah lagi fakta baru bahwa yang menjadi calon istri Azka adalah Citra, sahabat sekaligus adik angkatnya sendiri. Jangan ditanya perasaan Lira seperti apa untuk saat ini. Sungguh Tuhan, kejutan apa lagi ini.
Lira tidak keberatan jika harus menjadi korban jatuhnya pesawat Sukhoi di tengah laut beberapa waktu lalu, atau menjadi korban penembakan orang tak dikenal sekalipun. Lira sungguh sudah muak dengan hidupnya untuk saat ini.
" Eh Azka sudah datang, yuk masuk." Tante Ica mempersilahkan Azka masuk, Lira menepi dari depan pintu memberi jalan untuk Azka.
" Mbak Lira, ini lho calon suami Citra." Citra tampak begitu bangga memperkenalkan calon suaminya.
Lira mengagguk dan tersenyum sumringah. Jangan dipikir Lira akan menangis, ini bukan sinetron Indosiar Ku Menangis Membayangkan Betapa Kejamnya Dirimu Pada Diriku....
" Azka, selamat yaa, jaga adikku dengan baik." Ucap Lira langsung.
__ADS_1
" Loh mbak udah kenal sama kak Azka?" Citra tampak keheranan.
" Iya Cit, Azka sahabat aku sedari SMP sampe kuliah, iya kan Ka ?" Lira sedikit menyentuh lengan Azka.
Azka hanya mengangguk dingin dengan tatapan yang masih tidak bisa diartikan. Sementara Citra mengangguk antusias. Kemudian mereka duduk di ruang tamu. Lira yang merasa keberadaannya hanya akan menjadi vas bunga pajangan saja segera mengambil tasnya diruang tengah.
" Cit,mbak duluan ya, ada mahasiswa mau bimbingan." Lira setengah berbisik pada Citra.
" Terus mbak pulangnya naik apa, kita kan barengan tadi." Ucap Citra.
" Mbak udah pesan ojol Cit. Ya udah, tante sama Azka, aku duluan ya." Lira berpamitan dan berlalu dari ruangan yang sedikit lagi akan membunuhnya karena sesak di dada.
Lira berjalan menyusuri trotoar yang sepi, air mata yang sedari tadi ditahannya, sudah tumpah memenuhi pipi mungilnya, ia tidak memesan ojol melainkan terus berjalan sambil menangis sesegukan. Bodoh, bodoh sekali. Lira tak henti- henti mengutuki dirinya sendiri.
Bimbingan mahasiswa ?? Lira bahkan berbohong hanya sekedar untuk menjauhi Azka. Lelah berjalan akhirnya Lira duduk di bangku taman yang berada di tepi jalan, betisnya sudah sakit, tapi tentu saja tidak sesakit hatinya.
Tiba- tiba saja dan entah dari mana Dio dan motor ekstrimnya sudah bertengger di pinggir trotoar, tepat di bangku dimana Lira sedang duduk. Cepat- cepat Lira menghapus sisa air mata dari wajahnya. Malu sekali rasanya jika harus menampakkan sisi lemah di hadapan mahasiswa sendiri.
Dio berjalan mendekati Lira, dan duduk disamping dosennya itu.
" Kamu persis seperti Jelangkung, datang tak diundang, pergi tak diantar." Tutur Lira tanpa memandang orang yang duduk disebelahnya.
" Jelangkung siapa? tetangga ibuk?" Dio tersenyum sambil menggoda Lira.
" Jelangkung hantu tau??" Lira mendesis ke arah Dio.
" Ohhh, saya kira tetangga ibuk." Jawab Dio sambil menahan tawa.
"Kamu sudah berani ya sekarang." Ucap Lira angkuh.
" Kita tidak sedang dikampus buk, jadi bisakah kita berkencan?"
GLEKKK....
Kejutan apa lagi ini Tuhan, mahasiswa bimbinganku mengajakku berkencan? Apa aku tidak salah dengar? otaknya yang konslet atau pendengaranku yang terganggu?
Bersambung...
likeee nya tolong ya guys
__ADS_1