Ketika Senja Berlalu

Ketika Senja Berlalu
Teman Tapi Cinta


__ADS_3

Lira masih memandang tangannya yang sedikit aneh, mengingat kekonyolannya bersama Alin kemarin membuatnya tertawa sendiri.


Masih ada libur 2 hari sebelum ia melanjutkan dinas diruangan baru. Lira memilih menghabiskan waktu bermalas- malasan dirumah.


Drrrrttt...Drrrttt


Handphone nya berbunyi.


Lira membuka pesan masuk, tampak pesan dari sahabatnya, Azka.


" Lagi ngapain, Ra?"


Sudah beberapa hari memang Lira tidak bertemu dengan Azka, karena mereka beda sift dinas.


Dengan cepat Lira membalas pesan sahabatnya.


" Lagi balas pesan kamu." Jawab Lira.


" Hahahaaa,,,oh iya ad jadwal free gak hari nih?" Balas Azka lagi.


" Kalau buat kamu, aku selalu free kok ." Balas Lira sengaja menggombal.


" Kalo gitu, anterin aku cari kado buat ibuk yuk, ibuk ku ulang tahun besok." Azka mengetik pesan dengan cepat sambil senyum- senyum sendiri.


" okee,, aku mandi dulu." Balas Lira.


" Hahh??? jam segini belum mandi?" Azka mengetik pesan sambil melirik jam yang ada di dinding kamarnya, yang sudah menunjukkan waktu jam 2 siang.


" iya,,emang kenapa klo aku belum mandi?" Balas Lira.


" ya udah, cepat siap- siap. Aku jemput setengah jam lagi." Azka mengetik pesan nya sambil berdiri dari kasurnya.


...


Lira tertegun ketika melihat Azka sudah berdiri di depan pagar rumahnya. Mengenakan dalaman kaos oblong putih dibalut kemeja berwarna donker, celana jeans hitam, sepatu kets senada.


"Kalau tau dia bakalan sekeren itu, aku kan bisa mikir buat dandan dulu," benak Lira sambil memandang penampilannya sendiri yang hanya memakai kaos panjang dan jeans biru tak lupa jilbab segiempat dengan ujung di lipat ke belakang bahu.


Motor yang dikendarai kedua sahabat itu melaju dengan kecepatan sedang menuju arah pertokoan.


" Mau beli kado apa ka buat ibuk?" Tanya Lira dari jok belakang.

__ADS_1


" Belum tau, menurut kamu kasih apa ya?" Azka meminta pendapat.


" Hmmm, gimana kalau kasih mukena aja, kan bisa dipake sholat tiap hari." Jawab Lira.


" Bagus juga." Kata Azka sambil mengangguk pelan.


Keduanya sampai di sebuah toko yang menjual pakaian muslim, setelah memilih- milih mukena, akhirnya mereka mendapatkan yang cocok, tentunya itu adalah pilihan Lira.


Sambil menunggu Azka membayar di kasir, Lira berjalan ke toko sepatu yang ada disebelah. Melihat- lihat sepatu yang semuanya cantik itu.


Lira melirik sebuah sepatu berwarna putih polos, ada ornamen pita diujungnya, sederhana tapi elegan. Kebetulan sepatu kuliahnya sudah soak, Lira melihat harga yang tertera disana -IDR 235.000.


Lira hanya menelan air liur ketika melihat harganya. Untuk ukuran mahasiswi seperti Lira sepatu harga 75 ribu saja sudah cukup. Heheheee


Selesai membayar, Azka langsung mencari Lira yang sudah duluan keluar dari toko tadi. Di lihatnya gadis itu ada di toko sebelah.


Gadis itu tampak sedang terpukau melihat satu sepatu yang terpajang di etalase.


Azka melirik harga sepatunya.


" Kamu pake nomor berapa Ra?" Tanya Azka tiba- tiba, sehingga membuat gadis itu terperanjat.


Bukannya menjawab pertanyaan Azka, Lira malah menarik lengan Azka mengajaknya keluar dari toko.


" Kamu naksir sama sepatu tadi kan?" Lanjut Azka.


Lira mendekati Azka kemudian berbisik pelan.


"Naksir sih naksir tapi lihat harganya, bikin aku stroke."


"Yuk keluar." Ajak Lira.


" Kamu pake nomor berapa ?" Azka mengulangi pertanyaannya tadi.


" Nomor 39." Jawab Lira.


" Yuk kita ambil sepatu tadi, biar aku yang bayar." Kata Azka.


" Aduuh jangan Ka, kita keluar aja, kemahalan sepatunya." Pinta Lira.


" Gak papa, aku lagi dapat bonus dari bisnis pulsaku." Kata Azka.

__ADS_1


"Gak usah, aku gak enak." Kata Lira lagi.


" Kalo kamu gak enakan, kamu bisa nyicil ke aku nanti." Jawab Azka sambil berjalan ke tempat etalase sepatu tadi.


"Coba lihat yang nomor 39 mbak." Kata Azka kepada pegawai toko.


Pegawai itu pun langsung sigap mengambil sepatu yang diminta sambil terus tersenyum ramah.


" Ayo keluar ka," pinta Lira sambil berbisik. Dan ternyata didengar oleh pegawai toko.


" Pacarnya mau belikan sepatu kok gak mau dek." Katanya sambil tersenyum simpul.


Perkataan pegawai itu sontak membuat muka Azka dan Lira memerah.


Dengan sedikit perdebatan sengit, akhirnya Lira mengalah, ia mengambil paper bag berisikan sepatu itu.


Keduanya berjalan menuju parkiran motor.


" Makasih ka, kok kamu baik banget sih." Kata Lira sambil tersenyum simpul.


Ingin rasa nya Azka menjawab,


" karena aku suka kamu."


Namun perkataan itu tersendat dikerongkongannya, alhasil yang keluar hanyalah suara batuk yang tertahan.


" Kita makan yuk." Ajak Azka.


" Aku masih kenyang." Lira buru- buru menjawab. Merasa tidak enak, setelah dibelikan sepatu, masih mau ditraktir makan pula.


...


Hari sudah menjelang sore ketika Azka mengantar Lira pulang.


" Makasih ya, aku langsung pulang." Kata nya kemudian .


" Sama- sama, makasih juga." Kata Lira sambil mengangkat paper bag ditangan kanannya.


Lira masih berdiri di depan pagar sampai sosok Azka tak terlihat lagi.


Sebagai anak tertua dari tiga bersaudara, membuat kehadiran Azka seperti kakak bagi Lira, usia mereka hanya berbeda beberapa bulan. Lewat sosok Azka, Lira bisa merasakan asyiknya punya seorang kakak.

__ADS_1


Namun tidak demikian dengan Azka, benih- benih cinta mulai tumbuh dalam persahabatan mereka. Azka sendiri mulai menyadari bahwa sekarang dia benar- benar jadi suka pada sahabatnya itu.


__ADS_2