
Lira berbaring di kasur di kamar Mess. Ia mencoba memejamkan matanya, namun tidak bisa. Pikirannya masih berkutat tak karuan, membayangkan apa yang baru saja terjadi antara ia dan Azzel.
Punya bakat jadi pelakor ???
Haahh...
Yang benar saja...
Azzel sudah tidak waras
Lira tersenyum kecut, bukan salahnya jika Azka menyukainya, bahkan mereka sudah dekat dari dulu, jauh sebelum Azzel hadir ditengah- tengah mereka. Azzel saja yang tidak ada urat malu, jelas- jelas Azka tidak menyukainya.
Lira membolak- balikkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, ia begitu gelisah malam itu. Sehingga membuat Yunia yang sekamar dengannya menjadi heran.
" Kamu kenapa Ra? gak enak badan ?" Yunia memperhatikan tingkah Lira dari balik selimutnya.
"Nggak kok Yun, cuma gelisah aja."
" Tadi kamu habis pergi kemana sama Azka ?" Ucap Yunia menyelidik.
" Abis dari minimarket, ada yang dibeli." Jawab Lira.
Seketika Yunia duduk dari tidurnya, ia menatap Lira yang berbaring diseberangnya.
" Ra, hubungan kamu sama Azka seperti apa sih sebenarnya? kalian pacaran ya?" Yunia berkata pelan dan hati- hati.
Degg...
Tiba- tiba entah mengapa jantung Lira seperti ingin berhenti berdenyut, hati nya mencelos.
" Ng- nggak kok Yun, kamu kan tau kami cuma sahabatan." Lira terbata- bata.
" Kalau dua insan yang berlainan jenis sahabatan pasti ujungnya nanti timbul rasa diantara mereka Ra, itu lumrah, sudah manusiawi dan sudah sering terjadi." Kata Yunia pelan.
Lira seperti tertohok mendengar ucapan Yunia, yang dikatakan sahabatnya itu benar, awalnya hanya bersahabat, saling menolong, tapi Lira tidak bisa memungkiri bahwa sekarang ia sudah jatuh hati pada sosok Azka, begitupun sebaliknya.
" Beberapa teman kita tadi banyak yang nge-gosipin kamu Ra, kata mereka kamu keluar malam- malam berduaan sama Azka." Yunia memandang Lira dalam.
" Azka cuma minta ditemanin keluar Yun." Lira berbicara sambil memandang ujung seprainya.
__ADS_1
" Kenapa dia memintamu?"
" Karena kami sahabat." Jawab Lira sekenanya.
" Apa sahabat harus bergandengan tangan ?" Yunia terus memojokkan Lira.
" Kami tidak bergandengan tangan !! Siapa yang mengatakan itu !!" Suara Lira mulai meninggi. Ia sudah cukup stress atas perlakuan Azzel tadi, sekarang ditambah Yunia juga terus memojokkannya, apa yang salah jika ia berjalan bersama Azka. Mengapa semua orang seolah- olah memojokkannya.
Yunia terkejut melihat reaksi Lira yang seperti itu, ia berdiri dan menghampiri Lira, menggenggam tangan sahabatnya itu.
" Maafkan aku Ra." Kata Yunia lembut sambil memandang Lira hati- hati.
" Kamu tau kan Azzel pernah jadian sama Azka, dan Azzel masih menyukai Azka, dan kamu tau sendiri geng mereka seperti apa, mereka terus membicarakan kamu, sebagai sahabat kamu, aku merasa sangat tidak nyaman mendengar perkataan mereka."
Lira menghembuskan nafas dalam, ia memandang Yunia lalu tersenyum, mendengar bahwa Yunia begitu memperhatikannya, itu lebih dari segalanya.
" Makasih Yun." Lira memeluk sahabatnya.
" Tutup telinga kamu jika mendengar mereka membicarakanku. Kamu tidak perlu mendengar apa- apa dari mereka." Ucap Lira.
"Azka dan aku sudah sahabatan dari dulu, pertama kali aku mengenalnya waktu duduk di kelas satu SMP, dia duduk dibangku tepat dibelakangku. Semua berjalan seperti biasa, sampai kelas tiga SMP, kami tetap berada di satu kelas yang sama." Lira menjeda sebentar ceritanya.
" Tuh kan, aku bilang juga apa. Ujung- ujungnya ada rasa yang tak biasa." Yunia menggoda.
" Aku terlalu gengsi untuk mengakuinya Yun. Aku pikir biarlah seperti ini." Ucap Lira.
Akhirnya malam itu dihabiskan dengan cerita dari hati ke hati diantara dua sahabat, entah siapa yang mulai memejamkan mata duluan, yang jelas mereka berdua sudah tertidur lelap dengan mimpi masing- masing.
...
Tak terasa sudah hampir 3 minggu mereka magang di Rumah Sakit Jiwa, dan hari ini adalah hari terakhir mereka disana. Lira mempersiapkan diri untuk berpisah dengan Asiyah, pasien yang ia rawat hampir tiga minggu disini.
Entah mungkin karena sudah terbiasa dengan kehadiran Asiyah, membuat Lira sedikit Mellow ketika akan berpisah. Gadis itu masih sangat muda, tapi takdir membawanya jadi seperti itu.
Hari ini Lira duduk disamping Asiyah, ia sengaja mengajak Asiyah mengobrol, mereka membicarakan apa apa saja yang terlintas dibenak mereka. Karena ini adalah salah satu bentuk terapi pada pasien halusinasi agar ia bisa mengalihkan perhatiannya terhadap kondisi yang bisa memicu timbulnya halusinasi.
" Dimana oppa Hyun bin?" Tanya Asiyah.
" Dia masih ada kerjaan, nanti dia kesini." Ucap Lira santai.
__ADS_1
" Apa kau menyukainya ?" Asiyah bertanya, sekilas ia sama sekali tidak tampak seperti pasien jiwa.
" Menurutmu ?" Lira jadi aneh sendiri dengan pertanyaannya pada Asiyah.
" Menurutku, dia menyukaimu dan kau juga menyukainya." Asiyah tampak berfikir, pandangannya jauh kedepan.
Lira tersenyum, sempat berfikir apakah gadis yang duduk disampingnya ini sudah sembuh kejiwaannya, bicaranya begitu fasih seperti orang normal.
" Hmmmm, ya aku menyukainya, tapi aku terlalu malu untuk mengakui ini." Ungkap Lira, merasa lucu sendiri dengan tindakannya. Bisa- bisanya dia curhat pada pasien gila, tapi tak apalah, Asiyah tidak akan ingat juga apa yang ia katakan.
" Ituu oppa Hyun bin!!" Asiyah berteriak, meloncat kegirangan sambil mengarahkan jari telunjuknya ke siluet tubuh Azka yang muncul dari balik tembok.
Azka berjalan mendekati mereka berdua, Lira gelagapan, khawatir jika Asiyah menceritakan apa yang baru saja ia ucapkan pada gadis itu. Ia menyamarkan kegugupannya dengan tersenyum miris.
"Oppaaaaa..." Asiyah berlari kecil menghampiri Azka.
" Hai, Asiyah apa kabar?" Tanya Azka ramah.
Yang ditanya hanya senyum- senyum sendiri. Asiyah menggandeng tangan Azka mesra.
"Oppa, tadi suster ini bilang dia menyukai Oppa." Ucap Asiyah tanpa perasaan.
Jleeebbb...
Jantung Lira seperti mau lepas dari rongga dadanya, wajahnya sudah tidak tau semerah apa. Ingin sekali Lira menggali lubang sedalam- dalamnya dan menguburkan tubuhnya sendiri disana.
"Asiyaaahhh,, kau benar- benar keterlaluaannnn !!!" batin Lira menjerit.
" Oh ya." Azka melirik Lira meminta penjelasan lebih.
" Ti- dak, tidak." Lira menggeleng cepat sambil meringis menahan malu.
" Jangan bohong suster, tadi suster sendiri yang bilang, suster menyukai oppa." Asiyah menatap tajam ke Lira yang sudah seperti terdakwa yang sedang diselidiki oleh polisi.
"Hahaaahaaaa, ini lucu, benar- benar lucu, mengapa sekarang aku yang seperti pasien jiwa yang sedang dikuliti oleh dua orang yang berada didepanku." Benak Lira.
Azka tersenyum simpul melihat reaksi Lira, memergoki gadis itu yang sudah mati gaya membuat Azka semakin gemas dibuatnya.
Bersambung..
__ADS_1
mohon like n komentarnya ya guys