Ketika Senja Berlalu

Ketika Senja Berlalu
Back to Campus


__ADS_3

Walaupun merasa penasaran, akhirnya Azzel mengikuti Azka. Mereka beriringan keluar dari halaman rumah Lira. Azka kali ini benar- benar mengantarkan Azzel sampai tepat didepan rumahnya. Namun Azka menolak ketika Azzel menawarkan untuk masuk, cowok itu langsung berbalik pulang.


Azzel masih termenung melihat kepergian Azka, teka- teki mulai muncul dikepalanya, mulai dari kepergian Azka dan Lira bersamaan waktu pulang dari gunung, sampai melihat reaksi keduanya waktu di rumah Lira. Jelas- jelas tadi Azka sama sekali tidak berniat untuk menjemput dirinya.


Azzel tidak cukup bodoh untuk bisa mengartikan bahwa benar tindakan yang dilakukan Azka tadi murni hanya untuk membuat Lira cemburu. Tapi mengapa?, benang kusut itu agak nya sudah mulai sedikit terurai, aku harus cari tahu, benak Azzel.


...


Lira menghembuskan nafas dalam sambil membersihkan sisa teh yang diminum tamunya tadi. Di hatinya yang terdalam, ia sangat menginginkan hubungannya dengan Azka baik- baik saja seperti dulu, Azka yang selalu hangat kepadanya dan yang selalu jadi dewa penolong untuknya, tapi sekarang mereka berdua telah dipisahkan oleh tembok tinggi yang tak kasat mata. Entah kapan tembok itu akan hancur.


...


Akhirnya, setelah satu bulan setengah Lira tidak menginjakkan kaki di kampus, ia kembali lagi menjalankan rutinitas seperti biasanya, berlari mengejar pagar kampus yang entah mengapa sudah jadi kebiasaan Lira, sehingga ia sedikit heran jika satu hari saja tidak ngos- ngosan ketika berdiri dilapangan pada saat APEL pagi.


Cuaca cukup terik untuk ukuran pukul 8 pagi hari ini, tapi tak apalah berdiri di lapangan berlama-lama, hitung- hitung mensuplai vitamin D untuk kebutuhan tubuh. Lira manggenggam tangan Yunia, mereka berada dibarisan paling belakang. Setelah sekian lama tidak bersama rasanya rindu juga dengan sahabat gendutnya ini.


Mereka berdua melangkah ke kelas dengan tangan masih bergandengan, Lira yang mempunyai postur tubuh jangkung dan sedikit kurus, sedangkan Yunia yang gendut dan agak pendek, membuat mereka terlihat seperti angka sepuluh ketika berjalan bersama.

__ADS_1


Mata kuliah Psikologi berlangsung menegangkan, Pak Agus yang menjadi dosennya, usianya sudah menginjak 45 tahun, tapi kalian percaya? dia masih bujangan. Entah mengapa di usianya yang sudah memasuki fase lansia awal itu ia tak kunjung mendapatkan jodoh.


Tapi jika dilihat dari karakternya, wajar saja. Mana ada wanita yang tertarik dengan kepribadiannya yang introvert, garis muka nya yang terlihat datar dan keras menunjukkan bahwa kejiwaannya juga tidak begitu baik. Ia tidak segan- segan menghardik mahasiswi yang berpenampilan sedikit menor jika ke kampus.


Pernah suatu hari Meta dihardik nya habis- habisan, lantaran Meta memakai lipstik berwarna merah ke kampus. " Kamu kira saya tertarik sama penampilan kamu hah!!!" begitu kata pak pak Agus waktu itu, Meta hanya menunduk. Setelah bapak itu pergi, Meta menirukan kembali gaya pak Agus menghardiknya tadi.


" Cihh.. Bapak pikir, saya mau menarik perhatian bapak??" Sorry dulu ya pak, saya masih waras!! Meta berteriak sambil menendang pot bunga, tentu saja ketika batang hidung si bapak sudah menghilang dari sana. Lira dan teman- teman yang lain tertawa dari jauh melihat adegan seru itu.


...


Wc nya sudah bau, karpetnya berdebu, beberapa mukena sudah tampak lusuh. Mata kuliah selanjutnya dimulai pukul 11.00, masih ada waktu luang sekitar satu setengah jam. Yunia berinisiatif untuk membersihkan musholla, akhirnya kedua gadis itu berbagi tugas, Lira membersihkan Wc dan Yunia membersihkan bagian dalam musholla, kemudian mukena yang lusuh mereka bawa pulang untuk dicuci dirumah.


Lira tengah berjongkok membersihkan kloset pria dengan sikat dan botol cairan pembersih WC ditangannya. Kemudian seseorang membuka pintu WC yang setengah tertutup itu. Seketika Lira menoleh.


" Lagi ngapain disini ?" Azka bertanya aneh melihat Lira di dalam kloset pria.


" Gak liat aku lagi bersih- bersih, kalo mau pipis di WC lain aja, jangan dimusholla." Kata Lira ketus.

__ADS_1


Ada rasa kagum Azka kepada gadis itu, peluh mengalir dari wajah manisnya, lengan bajunya digulung sampai kesiku. Tampak kalau ia sedikit letih. Disaat yang lain tertawa ria bersama teman- temannya, gadis ini malah sibuk membersihkan WC musholla.


Azka kemudian pergi menuju WC mahasiswa untuk menuntaskan hajatnya. Sementara itu Lira dan Yunia membaringkan tubuh mereka di lantai musholla sambil tersenyum kelelahan, sungguh beruntung Lira memiliki sahabat seperti Yunia, yang selalu mengajak Lira melakukan hal- hal yang baik.


Mata kuliah selanjutnya sebentar lagi dimulai, Lira dan Yunia berjalan santai menuju kelas, belum lagi kedua gadis itu sampai di kelas, Azka menghampiri mereka, Azka memberikan bungkusan plastik berisi dua botol minuman ion, tentu saja hal itu langsung diterima Yunia dengan suka cita.


Lira hanya melirik Azka sekilas, ia menarik sedikit ujung bibirnya sehingga membentuk senyuman tipis, Azka membalasnya dengan senyum penuh makna. Namun baik Azka maupun Lira sama sekali tidak menyadari jika ada yang memperhatikan tingkah keduanya.


...


Azzel tengah memperhatikan keduanya dari depan pintu kelas, kecurigaan nya makin menemukan titik terang ketika ia memergoki Azka dan Lira saling menatap dan tersenyum penuh makna. Ia makin yakin kalau Azka memiliki perasaan yang berbeda terhadap Lira. Selama ini ia telah salah, banyak bertanya pada Lira.


Bersambung yaaaa


mohon like dan dukungannya selalu untuk karya pertamaku..


Jazakallah

__ADS_1


__ADS_2