Ketika Senja Berlalu

Ketika Senja Berlalu
Dia pergi


__ADS_3

Lira tersenyum sendiri melihat tingkahnya yang sedikit bar bar, ia berani bersumpah Yunia, sahabatnya yang sholehah pasti akan syok jika tau apa yang barusan ia perbuat pada Azzel. Jam magang telah usai, Lira mengganti pakaian dan keluar bersama teman tim yang lain.


Kali ini ia tidak ditinggal lagi, mereka pulang bersama dengan menaiki angkot menuju wisma. Azka masih bersikap dingin padanya, seperti tadi siang saat berangkat, kali ini Azka juga sudah pulang duluan. Sejak kejadian malam itu mereka hanya bertemu satu kali yakni saat Lira mengantar sarapan pagi itu.


Kesibukan mereka menyelesaikan tugas kampus, laporan kasus, laporan magang belum lagi disela sela padatnya kegiatan mereka tetap melanjutkan pembuatan karya tulis ilmiah, baik Lira maupun Azka sedikit mengesampingkan perasaan masing- masing hingga tak terasa akhirnya magang pun berakhir dan mereka sekarang sudah berada di kota kecil mereka yang sejuk.


Masih tersisa waktu tiga bulan lagi sebelum jadwal wisuda mereka, sekarang sudah jarang ditemukan mahasiswa semester akhir yang berkumpul- kumpul tak jelas, mereka sibuk dengan urusan masing- masing.


Seperti hari ini, rasanya Lira ingin sekali mengumpat keras kepada dosen pembimbingnya, bagaimana tidak, waktu bimbingan yang seharusnya dijadwalkan pagi pagi buta sebelum APEL, dengan entengnya si dosen memundurkannya jadi sore hari. Padahal Lira yang notabene sering telat, sangat penuh perjuangan untuk bisa ke kampus pukul tujuh pagi.


Dengan langkah gontai Lira berjalan mengarah ke Musholla kampus, ia ingin berbaring sejenak. Baru mau melangkahkan kaki ke pelataran Musholla matanya menangkap sosok Azka disana. Sejak kejadian tempo hari, Azka seperti menjaga jarak pada Lira. Dan melihat sikap Azka yang seperti itu membuat Lira pun bertingkah yang sama.


Lira tidak menampik bahwa tidak ada pria yang paling keren dimatanya selain Azka dan ia mengakuinya dalam hati bahwa entah sejak kapan ia mulai jatuh cinta pada Azka. Tapi ia pun bingung dengan perasaannya sendiri, entah mengapa setiap kali Azka ingin memasuki lingkaran pertahanan nya. Lira selalu bertahan dan tidak pernah memberi jawaban yang pasti.


Dan sekarang sosok Azka sudah menjauh darinya, ada penyesalan yang dalam di hati Lira. Haruskah ia yang memulai duluan agar hubungan mereka kembali hangat seperti dulu bahkan sekarang Lira berani berharap hubungan mereka akan setingkat lebih tinggi, seperti pacaran mungkin.


Tapi melihat Azka yang dingin padanya membuat hati Lira sedikit menciut. Alih- alih melangkah ke Musholla, Lira malah berbalik arah dan berjalan menuju Perpustakaan. Lira mengutuki kebodohannya sendiri karena tidak berani berbicara pada Azka walaupun itu hanya sekedar mengatakan say hello.


Azka melihat Lira yang tadinya ingin melangkah ke Musholla tiba- tiba saja langsung berbalik arah ketika melihatnya, membuat hati Azka sedikit miris, rasa bersalahnya semakin bertambah pada gadis itu, segitunya Lira sampai berbalik arah untuk menjauhiku, mungkin dia jadi takut padaku, takut kalau aku akan mencoba menciumnya lagi seperti waktu itu. Azka menundukkan kepalanya,ia sangat menyesal atas perbuatannya.


Maafkan aku Lira, aku harap kamu mau memaafkanku,aku terlalu malu untuk mengungkapkan maafku dihadapanmu, mulai saat ini aku tidak akan pernah mengganggumu lagi. Bukannya aku menyerah untuk mendapatkanmu. Tapi aku pikir kamu akan jauh merasa nyaman jika aku tidak ada didekatmu. Azka menatap sendu punggung Lira yang sudah menjauh.


Karena jadwal bimbingannya telah usai, Azka melajukan motornya keluar dari kampus, ia berniat untuk merevisi kaya tulisnya yang mengalami perbaikan oleh dosen pembimbing secepat mungkin, minggu depan adalah jadwal ujian karya tulisnya. Setelah itu ia bisa memakai toga dikepalanya.

__ADS_1


...


Tak terasa setelah bolak balik melakukan perbaikan karya tulis selama beberapa bulan, akhirnya tepat hari ini Lira akan di sidang. Lira merupakan mahasiswi pertama yang sidang karya tulis ilmiah diantara tenan- teman seangkatannya, hal ini membuat Lira cukup bangga pada dirinya sendiri.


Proses sidang cukup menegangkan, keringat sebesar jagung mengalir dari pelipis Lira, sekitar dua jam ia berada diruangan sidang dan berhadapan dengan empat dosen sekaligus, 2 orang dosen pembimbing dan 2 orang dosen penguji.


Yunia, Alin dan beberapa teman yang lain tampak menunggu Lira di depan ruangan sidang dengan wajah cemas. Ketika sosok Lira keluar dari ruangan, mereka berlari memeluk Lira dan bersorak mengucapkan selamat. Lira tersenyum lepas, serasa beban berat yang selama ini bertengger dipundaknya seperti terlepas.


Di hari- hari berikutnya, Lira menemani Yunia yang tengah sidang karya tulis, dilanjutkan dengan Alin dan menyusul teman- teman yang lain. Setelah itu mereka sibuk mengajukan perbaikan sampai akhirnya tinggal menunggu detik- detik akan diwisuda.


Lira sibuk mempersiapkan acara wisudanya besok, kebaya, baju wisuda, sepatu high heels dan toga sudah tersusun rapi dikamarnya, tak terasa akhirnya ia bisa menyelesaikan kuliahnya tepat waktu, Lira sangat terharu.


Ia berbaring dikamarnya. Ia juga sudah memutuskan untuk memberi jawaban atas pertanyaan Azka mengenai perasaannya tempo hari, Lira berniat untuk mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya pada Azka. Rencananya besok setelah acara wisuda ia ingin mengajak Azka berbicara.


...


Keesokan paginya semua tampak sibuk, Lira dan teman- temannya sudah berada disebuah salon kecantikan untuk merias wajah, mereka tampak sangat cantik memakai kebaya dilapisi baju toga.


Hampir 2 jam mereka berada disana hanya untuk memoles wajah, setelah itu mobil papa Alin menjemput mereka dan mengantar para gadis itu ke gedung tempat acara wisuda berlangsung. Sementara emak dan bapak sudah lebih dulu ke gedung.


Ketika mereka turun dari mobil, acara sudah akan mau dimulai, sehingga Lira dan teman- teman mempercepat langkahnya, karena tidak terbiasa memakai high heels, Lira jadi agak kesulitan untuk berjalan. Tempat duduk wisudawan sudah diatur berdasarkan IPK masing- masing. Lira dan Yunia duduk dibarisan terdepan karena mereka termasuk mahasiswi yang meraih gelar cumlaude.


Lira melirik Azka yang juga duduk dibarisan depan, mereka hanya dipisahkan oleh beberapa kursi. Ketika melihat Azka tiba- tiba saja Lira jadi ciut, ia tidak yakin bisa berbicara dengan Azka.

__ADS_1


Proses acara wisuda memakan waktu sangat lama, setelah acara berakhir, Lira menggandeng emak dan bapak untuk berfoto, berkat kerja keras dan usaha merekalah akhirnya Lira bisa seperti sekarang, setelah itu Lira berselfie ria dengan teman- teman yang lain, mereka semua menangis terharu.


Mata Lira menyapu semua orang yang ada, ia mencari sosok Azka, tapi ia tidak menemukan cowok itu. Sejak acara berakhir Lira kehilangan sosok Azka, ia berlari kecil keluar dari gedung, siapa tau Azka diluar. Tapi nihil, Azka tidak ada diantara teman- teman yang lain, Lira terus berjalan mengitari gedung dan pelataran gedung sampai kakinya lecet karena masih memakai high heels.


Ia mengeluarkan ponselnya, mencoba menghubungi Azka tapi nomornya tidak aktif. Karena letih Lira duduk dibawah pohon akasia, ia melepaskan sepatunya dan selonjoran disana. Lira melihat Aldo yang ingin meninggalkan gedung, tanpa pikir panjang Lira berlari menghampiri Aldo.


" Aldo, Al..." Teriak Lira.


Aldo berhenti dan menunggu Lira mendekatinya.


" Al, kamu lihat Azka gak ?" Tanya Lira.


" Azka udah pulang duluan dari tadi Ra, hari ini ia berangkat ke Jakarta, emang kamu gak tau?" Aldo menaikkan alisnya.


" Hah... Aku tidak tau." Ucap Lira tergagap, ia benar- benar tidak tahu kalau Azka akan pergi. Tubuhnya seketika jadi lunglai seperti tak bertulang.


" Kamu baik- baik aja Ra?" Aldo berusaha meraih lengan Lira.


" Tidak, aku tidak sedang dalam keadaan baik." Lirih Lira, detik berikutnya ia terduduk di tanah sambil menangis memegang dadanya.


Aldo berjongkok mencoba memapah Lira, tapi tangis Lira makin kencang, membuat Aldo gelagapan. Untungnya banyak yang sudah meninggalkan gedung sehingga aksi Lira tidak begitu jadi perhatian sekitar.


Bersambung

__ADS_1


mohon like dan komentarnya ya


__ADS_2