
Azzel menangis sendirian dikamarnya, begitu sakit rasanya ditinggal pergi oleh seorang Azka, cowok yang ia sukai sejak di sekolah menengah atas itu, sambil sesegukan ia meratapi nasibnya. Tiba- tiba ia teringat Lira, jangan- jangan Azka memang menyukai Lira, ia tampak berfikir sejenak, kemudian ia memejamkan matanya terlihat frustasi, ah sudahlah, kalaupun Azka menyukai Lira, ia tak kan bisa berbuat apa- apa. Beruntung sekali gadis itu, gumam Azzel iri.
...
Telah lama kejadian itu berlalu, padatnya aktivitas kampus membuat mereka sedikit melupakan perasaan masing- masing, walaupun terkadang Azzel sesungguhnya masih sering menatap sosok Azka dari kejauhan, menatapnya dalam diam, mencintainya dari kejauhan, terkadang ada rasa iri dihatinya ketika sesekali melihat kebersamaan Azka dan Lira.
Lira memang tidak secantik Azzel, wajah mereka jauh berbeda, Azzel dengan kulit putih serta mata sipitnya, sementara Lira dengan kulit sawo matang, wajah manis serta mata bulatnya. Tapi satu hal yang tampak mencolok, Lira adalah gadis yang memiliki prinsip yang kuat dalam hidupnya.
Tanpa terasa sekarang mereka telah memasuki dua semester akhir di perkuliahan. Sibuk, tentu saja sangat sibuk. Setelah jadwal magang di Puskesmas, mereka akan melanjutkan magang di Rumah Sakit di luar kota, kemudian lanjut magang di Rumah Sakit Jiwa, setelah itu ada pengajuan proposal untuk pembuatan karya tulis ilmiah.
Lira sibuk berkutat membolak- balik beberapa buku di sudut perpustakaan, mencari- cari judul apa yang cocok untuk proposal yang akan ia teliti. Sesekali ia mencatat sesuatu yang dianggapnya penting di buku sakunya. Tanpa sadar hari sudah menunjukkan pukul 3 sore, Pak Rahmad selaku petugas perpustakaan menginstruksikan semua pengunjung untuk segera mengosongkan ruangan perpustakaan karena akan segera ditutup.
Bergegas Lira mengemasi barang- barangnya, setelah meminjam dua buah buku, ia segera pergi meninggalkan perpustakaan, mata kuliah sudah tidak ada lagi hari itu, kampus sudah sedikit sepi. Karena kebanyakan mahasiswanya sudah pulang. Lira berniat untuk pulang, ia tengah berdiri di dekat pagar kampus sambil menunggu ojek namun pandangannya menangkap sesuatu yang menarik perhatian.
Lira melihat Anna, ia sedang bertengkar dengan seorang pria di samping tembok tinggi dekat gang kos- kosan Anna, yang menurut perkiraan Lira pria itu adalah pacar Anna. Laki- laki itu berpostur tubuh tinggi, tegap dan lebih berumur.
Lira tersentak ketika ia melihat Laki- laki itu menampar Anna di pinggir tembok, Anna hanya menangis sesegukan. Lira sangat kesal melihatnya, ia kemudian menghampiri keduanya sambil menahan amarah, berani- beraninya menyakiti perempuan, dasar cowok brengsek.
" Hei, kak jangan main tampar- tampar aja anak gadis orang ya!!!" Hardik Lira pada pria itu.
" Kamu siapa? jangan ikut campur urusan orang." Laki- laki itu melotot ke arah Lira.
__ADS_1
"Aku temennya Anna, kakak jangan coba- coba nyakitin Anna, aku udah lihat semuanya tadi, kakak bisa kami laporkan." Dengan seluruh keberanian yang ia punya Lira menarap tajam ke arah pria itu. Sementara itu Anna menutup kedua mukanya, ia sudah merosot jatuh di pinggir tembok.
Akhirnya pria itu pergi begitu saja meninggalkan Lira dan Anna. Lira membantu Anna untuk berdiri. Dengan memegang bahunya, tapi kemudian dengan cepat Anna menghempaskan tangan Lira dengan kasar.
" Kamu kenapa?" Tanya Lira heran.
Dengan wajah seakan ingin membunuh, Anna mendorong Lira sehingga Lira mundur beberapa langkah.
" Lain kali jangan pedulikan aku, aku tidak butuh bantuanmu." Kata Anna dingin, kemudian ia berlalu begitu saja meninggalkan Lira yang masih terpaku dengan perlakuan kasar Anna kepadanya."
" Wahh, benar- benar gak waras nih anak, cocok sekali dia sama pacarnya yang brengsek tadi." Decak Lira sambil menggeleng- gelengkan kepalanya kemudian ia berbalik. Ia tersentak, ternyata Azka sudah berdiri di belakangnya.
" Kamu kenapa Ra?" Tanya Azka sambil melihat punggung Anna yang yang sudah menjauh. Setau Azka Lira tidak pernah punya musuh, tapi jelas- jelas tadi ia melihat Anna mendorong gadisnya dengan tatapan membunuh sehingga Lira terlihat masih sedikit syok.
Azka mengajak Lira pulang, sepanjang perjalanan Lira menceritakan kejadian tadi kepada Azka tanpa ada yang ia lewatkan.
" Itu urusan mereka, sebaiknya kita tidak perlu ikut campur Ra." Kata Azka kemudian.
" Baiklah, tapi tetap aja kesal kalo lihat tuh cowok. Rasanya pengen aku sumpah jadi kodok." Lira bersungut. Azka hanya tersenyum menanggapi pernyataan Lira tersebut.
Karena kejadian kemarin, membuat Anna menjauhi Lira jika kebetulan mereka berdekatan atau sesekali berpapasan, tapi hal itu justru membuat Lira penasaran dengan sosok Anna. Akhir- akhir ini Anna lebih sering memakai jaket, dan tampak sedikit pucat.
__ADS_1
Lira dan Yunia duduk dibawah pohon kedondong sambil asyik memegang ponsel masing- masing. Pagi itu jadwal mata kuliah kosong, memang beberapa hari ini mereka tidak banyak belajar dikelas, karena seminggu lagi mereka akan magang di rumah sakit besar yang ada di luar kota.
Alin berlari kecil sambil melambaikan tangan ke arah Lira, dengan nafas yang tersengal- sengal ia duduk di diantara Yunia dan Lira.
" Ada gosip baru, lagi hot jeletot !!!" Bisiknya sambil menoleh ke Lira dan Yunia. Sontak saja kedua gadis yang tengah asyik dengan ponsel masing- masing itu langsung menghentikan aktivitas mereka dan serentak menoleh ke asal suara.
" Gosip apa?" Tanya Lira penasaran.
" Anna hamil !!"
Lira langsung menutup mulutnya, matanya melotot kearah Alin. Begitupun dengan Yunia, ia menatap tajam ke arah Alin.
" Astaghfirullah, lin. Jangan sembarangan kalo ngomong. Kamu dapat kabar dari mana? " Yunia nyeletuk.
" Banyak desas- desusnya Yun. Tuh lihat, gelagat Anna juga aneh, tiap hari pake jaket, wajahnya pucat gitu. kemaren Meta sempat lihat, emang perutnya agak buncit." Alin sedikit memicingkan matanya.
" Tuh kan, jangan berburuk sangka dulu. Belum tentu benar, bisa jadi fitnah nanti lin." Yunia mulai menasehati Alin dengan diikuti anggukan oleh Alin, persis seperti interaksi guru dan murid. Lira hanya menyunggingkan senyum tipisnya, melihat ekspresi wajah Alin yang gagal bergosip, Lira yakin seratus persen, Alin tidak begitu mendengarkan tausiahnya Yunia.
Sambil ikut mendengarkan ocehan Yunia yang sudah memakai hadist Rasulullah, dan azab seseorang yang menjelekkan saudaranya sendiri membuat Lira sedikit bergidik, tapi ingatannya kembali ke kejadian kemarin, dimana Anna ditampar oleh seorang pria, dan juga sikap dingin dan kasar yang ditunjukjan Anna, membuat sebuah teka- teki yang sulit dipecahkan.
Bersambung yaaaa....
__ADS_1