
" Suster mirip artis Alisha soebandono."
Gleekkkk...
Sontak Lira ingin tertawa, untuk pertama kalinya selama hampir 21 tahun hidup didunia ia dipuji sedemikian rupa, dan mirisnya itu keluar dari mulut orang gila hahahaaaa.
Alih- alih tertawa, Lira berusaha tersenyum namun yang terjadi malah wajahnya tampak seperti meringis kesakitan. Sementara Asiyah masih terus mengawasi gerak gerik Lira dengan matanya yang tajam.
" Boleh kita berkenalan?" Kata Lira pelan.
"Apa suster mau berteman denganku ?" Asiyah balik bertanya.
" Tentu saja, kita akan menjadi teman yang baik." Jawab Lira sambil menenangkan tubuhnya sendiri.
Akhirnya keduanya duduk dibangku panjang, Lira melirik asiyah sebentar, ia berusaha membuat suasana senyaman mungkin agar terbina hubungan saling percaya diantara mereka berdua.
" Nama kamu asiyah kan?" Tanya Lira lembut.
Yang ditanya hanya diam saja, tatapannya kosong kedepan. Lira sungguh penasaran apa yang ada dipikiran Asiyah saat ini. Mood nya bisa berubah- ubah bahkan hanya dalam hitungan detik. Asiyah memejamkan matanya kemudian menggeleng- geleng tak jelas. Lira menautkan kedua alisnya tampak keheranan melihat tingkah Asiyah.
Kemudian seperti tersadar Lira menepuk jidadnya sendiri. " Oh iya, dia gila." Lira membatin. Akhirnya ia menunggu Asiyah berbicara.
" Sssssttt...! " Asiyah meletakkan telunjuk di bibir mungilnya, sambil menajamkan matanya melihat ke kiri dan ke kanan. Lira mengeryitkan dahinya mengikuti arahan Asiyah.
" Apa kamu mendengar suara itu juga ?" Tanya Asiyah pelan.
Lira menautkan kedua alisnya dan menggeleng. Sumpah aku bisa ikutan jadi gila juga kalau lama- lama disini, pikir Lira sambil menahan senyum.
" Apa yang kamu dengar ? " Kata Lira, yakin bahwa saat ini Asiyah tengah mengalami gangguan persepsi sensori halusinasi pendengaran.
__ADS_1
" Suara itu,,, Su- a- ra nya jelas sekali, dia meminta tolong !" Asiyah membelalakkan matanya.
" Tapi aku tidak mendengar apa- apa, disini tidak ada orang yang meminta pertolongan." Tegas Lira berusaha mengembalikan Asiyah pada realita yang sesungguhnya.
" DASAR SUSTER TULI !!!!"
Lira agak ketakutan melihat reaksi Asiyah yang tampak tidak terkendali. Asiyah menatap tajam kearah Lira, detik berikutnya ia mulai mengamuk, ia berusaha menarik hijab yang dikenakan Lira, beruntung perawat senior segera datang, mengambil alih perawatan Asiyah, mereka membawa Asiyah kekamarnya, dan memberikan obat pada gadis itu.
Lira membenarkan hijabnya yang sedikit berantakan. Tubuhnya masih terasa gemetar. Tak lama Azka sudah berdiri disampingnya, raut wajah cemasnya tidak bisa disembunyikan sama sekali.
" Kamu gak papa Ra ?" Azka tampak mengabsen seluruh tubuh Lira dari ujung kepala sampai ujung kaki melalui ekor matanya. Lira menggeleng pelan.
" Pasienku ngamuk." Ucapnya kemudian.
" Lain kali kalau mau ketemu pasien, jangan sendirian." Kata Azka khawatir.
Lira hanya menggangguk, pengkajiannya hari ini hanya sebatas perkenalan pada Asiyah. Akhirnya mereka kembali ke ruang perawat. Lira tampak membolak balik status pasiennya, mencari data faktor penyebab dan pencetus Asiyah menjadi seperti itu. Di liriknya sebentar jam dinding yang tergantung di ruangan, hari sudah menunjukkan pukul 11.00 siang.
" Saya kak." Lira mengangkat tangannya ke udara.
" Itu ada keluarganya datang kunjungan, kalau kamu mau wawancara untuk data tambahan, pergilah temui keluarganya." Kata kakak senior sambil berlalu.
Lira bergegas mengambil buku saku dan pena nya di atas meja, kemudian berlari kecil ke aula tempat keluarga pasien Asiyah berada. Sesampainya di aula Lira melihat seorang wanita tua, mungkin usianya berada dikisaran angka 60 tahunan, memakai jilbab syar'i berwarna tosca tengah duduk di kursi panjang, Lira mendekati nenek tersebut.
" Permisi nek, maaf mengganggu." Kata Lira sopan sambil tersenyum.
Nenek itu menoleh ke arah Lira kemudian tersenyum. Menggeser tubuhnya sedikit agar Lira bisa duduk disampingnya.
" Maaf nek, saya adalah perawat magang yang bertugas merawat Asiyah, apa nenek keluarga dari pasien Asiyah ?"
__ADS_1
Nenek itu mengangguk penuh arti. Kemudian mulailah Lira menanyakan apa yang ingin ia tanyakan sebagai tambahan data pengkajiannya. Akhirnya nenek itu bercerita panjang.
...
Asiyah adalah gadis yang pendiam, lahir ditengah- tengah keluarga yang broken home dan di asuh oleh seorang ayah tunggal yang sering mabuk- mabukan membuat Asiyah menjadi pribadi yang introvert. Sedangkan ibunya sudah pergi entah kemana bersama selingkuhannya.
Kejadiannya setahun yang lalu, tiba- tiba seluruh media dibebohkan dengan penemuan mayat balita berusia 5 tahun di lemari pakaian Asiyah, dan ternyata balita itu adalah anak tetangganya sendiri.
Kami sangat terpukul waktu itu mendengar pengakuan Asiyah, bahwa ia yang telah menghabisi anak tetangganya itu. Sangat menyesal karena kami bahkan tidak pernah sekalipun memperhatikan kehidupan Asiyah, bagaimana ia banyak memendam kekecewaan di usia mudanya dan menanggungnya sendirian.
Ketika polisi dan detektif menginvestigasi serta menggeledah kamarnya, banyak ditemukan gambar- gambar aneh serta tulisan kekecewaan dan kebencian, baru itulah kami sadar bahwa ada yang tidak beres dengan kejiwaan anak itu.
Dan yang lebih mencegangkan lagi, setelah invesigasi polisi tengah berjalan, baru diketahui bahwa Asiyah tengah hamil muda, dan menurut pengakuannya bahwa ia telah diperkosa oleh teman- teman ayahnya yang sering kerumahnya.
Kami waktu itu tidak tahu harus berbuat apa, kasus Asiyah begitu rumit, ia memendamnya sendiri, jiwanya tertekan begitu dalam sampai pada puncaknya, ia mendengar suara- suara aneh. Dan naasnya hari itu, bocah tak bersalah yang sedang bermain diteras rumahnya menjadi korban kekejaman Asiyah.
Nenek itu menunduk, cairan bening keluar dari sudut matanya yang keriput.
" Jadi berarti Asiyah sudah melahirkan anaknya?" Tanya Lira penasaran.
" Tidak, janinnya tidak berkembang di usia kehamilan 3 bulan."
Asiyah sempat hampir dijatuhi hukuman pidana, namun setelah dibuktikan bahwa kejiwaannya memang terganggu, akhirnya ia dirawat disini.
Lira mengangguk sambil menggenggam tangan si nenek.
" Apa Asiyah ada saudara nek?" Suara Lira lembut.
Nenek itu menggeleng, dia hanya sendiri. Seandainya dulu, ketika kedua orang tuanya berpisah, aku langsung mengambil pengasuhan Asiyah, mungkin ia tidak seperti ini. Nenek itu menghembuskan nafas dalam, nampak sekali diwajahnya kekecewaan dan penyesalan yang sangat mendalam.
__ADS_1
Bersambung..
mohon likee nya readers tersayang