Ketika Senja Berlalu

Ketika Senja Berlalu
Berubah Dingin


__ADS_3

AZKA


Astaghfirullah, apa yang mau coba aku lakukan tadi. Gila !!!


Aku benar- benar sudah tidak waras, bagaimana mungkin aku mau mencoba mencium Lira.


AAaaaarrgghhhhhhh...


Aku memukul-mukul kepalaku sendiri, tidak puas aku lalu membenturkannya di tembok. Aku sungguh menyesal, aku tergoda dengan gairah sesaat. Entah mengapa tadi aku seperti itu.


Sekarang apa yang harus aku lakukan. Haruskah aku meminta maaf pada Lira? Tidak tidak, aku terlalu malu untuk itu. Lira pasti menganggapku pria mesum, dasar aku tidak tahu malu. Aku berjalan mondar- mandir di dalam kamar, pikiranku benar- benar kacau.


Beruntung teman sekamarku dinas malam hari ini, jadi aku leluasa berekspresi dikamar sendiri. Lelah mondar- mandir, akhirnya aku menghempaskan tubuhku di kasur. Entah sudah berapa jam aku seperti itu, mataku enggan tertutup. Lira pasti akan membenciku. Yah, dia pasti akan membenciku.


Akhirnya pukul 3 pagi aku baru benar-benar terlelap dalam tidurku. Aku sudah pasrah, apapun reaksi Lira untuk kedepannya, aku akan menerimanya. Itulah konsekuensiku karena sudah bertingkah tidak waras di depannya.


Alarm notifikasi sholat subuh berdering kencang dari ponselku membuat aku tersentak, kepalaku sangat pusing karena terbangun mendadak, baru dua jam aku tertidur, lama aku duduk mematung di bibir kasur untuk menstabilkan tubuhku, setelah pusingku agak berkurang barulah aku berdiri menuju kamar mandi, mengambil air wudhu kemudian sholat.


Hari ini aku mendapatkan jadwal shiff sore, dengan begitu paginya aku bisa bersantai dan bermalas- malasan dikamar. Aku memilih untuk menonton TV sambil berbaring di atas kasur. Pukul tujuh pagi suara yang sangat aku kenal berteriak memanggil setiap penghuni kamar sambil mengetuk pintu pintu.


" SARAPAN SARAPAN." Lira dan Meta berteriak sambil membawa troli yang berisi omprengan sarapan setiap mahasiswa. Mereka mendapatkan jadwal piket membagi sarapan ke setiap kamar pagi ini. Beberapa mahasiswa muncul dari pintu kamar masing- masing mengambil jatah sarapan mereka.


DEGGGG...


Itu Lira !!!


Aku harus bagaimana? apa yang harus aku lakukan jika bertemu dengannya? tak terasa keringat dingin mengalir dari pelipisku, aku mondar mandir tak karuan. Tiba- tiba


Tok tok tok...


" SARAPAAAN !!"


Suara Lira terdengar nyaring dari luar. Aku tersentak, dengan sedikit gemetar aku membuka pintu kamar, menyembulkan kepalaku dari dalam. Kulihat Lira berdiri di depan pintu kamarku.


Aku menelan salivaku yang seperti duri ditenggorokan, melihat wajah lira, wajah yang hampir kucium tadi malam membuat aku rasanya seperti ingin melompat ke dasar lautan yang dalam dan tidak berniat untuk muncul lagi ke permukaan.

__ADS_1


Sshhiitttt.. Bodoh sekali aku.


Cepat- cepat aku mengambil jatah sarapan untukku dan untuk teman sekamarku kemudian menutup pintu kamar lagi, sekilas kulirik wajah Lira, dia tampak keheranan melihat tingkahku, tapi sudahlah aku tidak peduli, aku terlalu malu sekarang.


...


Lira terpaku menatap pintu kamar yang sudah ditutup oleh pemiliknya. Ia benar- benar heran melihat sikap dingin Azka, " Bukankah seharusnya aku yang marah karena dia hampir saja mencuri ciuman pertamaku? tapi mengapa dia yang bersikap seperti itu?" Benak Lira.


" Ra, ayo !" Suara Meta membuat Lira mengalihkan pandangannya dari pintu kamar Azka kemudian kembali mendorong troli omprengan.


Selesai menjalankan tugasnya membagikan makanan, Lira menghabiskan jatah sarapannya di kursi taman di depan kamarnya, kebetulan kamar Lira berada di lantai satu dan tepat didepannya ada jejeran bangku kecil yang mengelilingi sebuah meja bundar serta hiasan bunga di sisinya sehingga membentuk sebuah taman kecil yang apik.


Sambil mengunyah Lira teringat kejadian malam tadi, dimana ia ditinggal oleh teman- temannya.


" Hoiii jangan melamun !" Suara Alin yang tiba- tiba sangat mengejutkan Lira sehingga membuat gadis itu tersedak makanannya sendiri.


Cepat- cepat Lira meneguk minumnya kemudian menatap garang kepada Alin. Alin cengengesan tak bersalah lalu mengambil posisi duduk berhadapan dengan Lira.


" Kenapa kalian ninggalin aku malam kemarin ?" Tanya Lira sambil menutup omprengannya.


" Mana kami tau kalau dirimu belum keluar Ra. Aku sempat nanyain kamu ke Azzel tapi katanya dia nggak lihat kamu. Jadi kami pikir kamu udah duluan pulang bareng angkot kloter pertama." Cerita Alin.


" Siapa ?" Alin mengeryitkan dahinya.


" Siapa lagi kalau bukan Azzel, dia seruangan denganku, waktu mau pulang dia tau kalau aku masih didalam, karena kami berpapasan di lift." Lira menggertakkan giginya karena kesal.


" Tega sekali, aku menyadari kalau kamu tertinggal ketika kami udah nyampe wisma, aku gak lihat kamu Ra, makanya aku langsung telpon dan ternyata dugaanku tidak meleset, kamu benar tertinggal." Sesal Alin.


" Terus gimana ceritanya Azka bisa jemput aku ?" Lira menatap Alin secara intens.


Alin yang ditatap seperti itu jadi salah tingkah, sambil menyelipkan anak rambutnya di balik telinga ia berbicara.


" Aku datang ke kamar Azka, minta tolong ke dia buat jemput kamu hehehee." Alin cengengesan.


"Eh ngomong- ngomong udah makasih belum ke Azka, dia panik banget loh waktu aku kasih tau kalau kamu ketinggalan."

__ADS_1


Mendengar ucapan Alin, Lira jadi teringat kejadian malam kemarin, dan sikap Azka yang dingin padanya tadi pagi.


" Sudah." Jawab Lira pendek.


...


Hari begitu menyengat ketika Lira dan teman- temannya berangkat untuk magang shiff sore. Biasa berada di daerah dingin, sedikit membuat Lira gerah berada dikota ini. Berkali- kali ia mengipaskan selembar buku ke wajahnya. Setelah mengganti pakaian dinas mereka segera menuju ruang operasi.


Seperti biasanya, kesibukan di dalam ruang operasi begitu terasa, Lira memasuki ruang orthopedi, baru membuka pintu ia tercengang melihat kondisi di dalamnya, persis seperti sebuah bengkel, berbagai alat yang Lira tidak ketahui namanya terusun di meja operasi.


Tiga jam mereka berada diruangan itu, Lira membuka pintu ruang operasi dengan perlahan, ia mengambil minumnya kemudian duduk di kursi dekat ruang perawat. Lagi- lagi pikirannya melayang ke Azka, sikap cowok itu berubah drastis sejak kejadian malam dimana ia menjemput Lira.


Seperti siang tadi, ketika mereka akan berangkat magang, Azka sengaja pergi duluan, tampak sekali bahwa ia sedang menjauhi Lira. Lira menghembuskan nafas dalam, ketika ia berdiri dan ingin mengembalikan botol minum ke dalam lokernya lagi, Azzel datang.


Mata mereka bertemu, ada kilat kemarahan di wajah Lira. Azzel ingin melangkah pergi, namun dengan cepat Lira menahan lengannya.


" Kenapa kamu melakukan itu padaku?" Lira makin menguatkan cengkramannya sehingga membuat Azzel sedikit meringis kesakitan.


" Maksud kamu apa ?" Azzel menyeringai.


" Kamu tau kalau aku belum keluar dari ruangan kemarin malam, kenapa kamu tega?" Lira berkata dengan penuh penekanan di setiap katanya.


Azzel tidak menjawab pertanyaan Lira, ia menghentakkan lengannya dengan kasar sehingga cengkraman Lira terlepas. Kemudian dengan santai dia berlalu dari hadapan Lira.


Lira yang mendapat perlakuan seperti itu oleh Azzel, membuat amarahnya semakin menjadi, darahnya sudah mendidih sampai ke ubun- ubun, ingin sekali rasanya ia menjambak rambuk Azzel, mencabik bibirnya, mencakar pipinya, Aaagggrrrhhh. Tapi itu hanya ekspektasinya saja, dan realitanya ia hanya berdiri mematung membiarkan Azzel pergi.


Namun baru beberapa langkah Azzel melangkah, Lira berlari menyusulnya.


" Tapi kalau dipikir- pikir terimakasih nona Azzel, berkat dirimu Azka jadi semakin sayang padaku, kau tau dengan siapa aku pulang malam kemarin? Azka menjemputku, dia sangat panik ketika tau aku tertinggal." Lira tersenyum puas melihat wajah Azzel yang tiba- tiba berubah dan Azzel menghentikan langkahnya seketika.


Lira tersenyum mengejek, kemudian berlalu dari hadapan Azzel sambil melambaikan tangan. Terlihat sangat jahat sekali. Seumur hidup baru pertama kali Lira bertingkah seperti ini, Lira pun sangat heran dengan tingkahnya saat ini.


Hahaaaaa.....


Azzel Azzel...

__ADS_1


Rasakan...


Bersambung


__ADS_2