
Lama keduanya menikmati itu dalam diam. Memangkas jarak diantara mereka. Azka menghirup aroma tubuh Lira dalam- dalam seolah- olah tak ingin lagi melepaskannya. Namun kemudian kesadaran Lira kembali. Ia langsung mendorong pelan tubuh Azka.
Jantungnya berdegup kencang tak beraturan, dengan sisa- sisa kesadaran yang ia miliki, Lira membuka pintu mobil dan berlari menembus kegelapan malam. Azka melihat siluet tubuh Lira yang mulai menjauh. Ia mengacak- acak rambutnya frustasi, mata nya berair menahan pedih di dada. Kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
...
Satu hal yang Lira tahu bahwa menyesal itu sungguh menyakitkan. Ia menyesal mengapa dulu tidak pernah memberi jawaban pada Azka, tidak pernah terbuka dengan perasaannya sendiri.
Ia terus menggantung perasaan Azka, wajar saja jika pria itu beranggapan bahwa Lira hanya menganggapnya sebagai sahabat dan memilih untuk pergi, miris sekali. Seperti lagunya Rossa.
*Dahulu kau mencintaiku
Dahulu kau menginginkanku
Meskipun tak pernah ada jawabku
Tak berniat kau tinggalkan aku
Sekarang kau pergi menjauh
Sekarang kau tinggalkan aku
Disaat ku mulai mengharapkan mu
Dan kumohon maafkan aku
Aku menyesal tlah membuatmu menangis
Dan biarkan memilih yang lain
Tapi jangan pernah kau dustai takdirmu
Kasih, itu terbaik untukmu
Janganlah lagi kau mengingatku kembali
Aku bukanlah untukmu
Meski ku memohon dan meminta hatimu
Jangan pernah tinggalkan dirinya untuk diriku*.
...
Citra masih meraba jantungnya yang sudah berdetak tak beraturan, nafasnya memburu. Air mata? jangan ditanya, ia sudah mengering sejak tadi.
Awalnya Citra berniat untuk bermalam dikosan Lira, jadilah malam itu ia pergi menuju ke kosan Lira dengan menggunakan motornya, baru saja ia ingin berbelok di persimpangan gang kosan Lira. Ia melihat mobil Azka terparkir tepat di pinggir gang.
Citra ragu untuk melajukan motornya, ia masih menimbang- nimbang, tak lama dilihatnya Azka dan Lira masuk kedalam mobil. Tapi mobil tidak bergerak alias diam ditempat. Apa yang mereka lakukan? benak Citra.
Citra mengendap- endap ke dekat mobil.Ia berdiri persis di dekat pintu kemudi sambil membungkukkan tubuhnya. Dengan menajamkan telinganya ia mendengar percakapan antara dua orang yang ia sayangi itu.
Jantungnya terus berpacu, mendengar setiap kalimat dari dalam mobil yang sangat mengguncang jiwanya. Perasaannya campur aduk tidak karuan. Akhirnya ia mundur perlahan, mendekati motornya kembali yang sempat ia tepikan di pinggir tembok dan berbalik.
__ADS_1
Citra kembali ke rumahnya. Sangat manusiawi kalau ia marah saat ini. Wanita mana yang tidak sakit hati ketika tahu bahwa pria yang akan dinikahinya ternyata mencintai wanita lain. Tapi pengecualian untuk Lira, Lira adalah sosok wanita yang sangat disayangi Citra.
Sebagai anak tunggal, Citra sudah terbiasa hidup sendiri sejak kecil, tidak ada teman sekamar, tidak ada objek untuk dijadikan candaan, tidak ada teman curhat dirumah dan tidak ada teman berkelahi untuk rebutan barang.
Yah, dia hanya sendiri, tidak ada kakak dan tidak ada adik. Kepribadiannya yang sedikit introvert membuatnya susah memiliki teman akrab. Namun seolah- olah dihadiahi Tuhan dari langit, datanglah sosok Lira yang ceria. Lira dengan sejuta pesona mampu mengisi hari- hari Citra.
Citra seakan mendapatkan sosok kakak perempuan dalam diri Lira, ia bisa bermanja, bisa curhat, dan bisa berbagi. Kalau saja wanita yang disukai Azka bukanlah Lira. Tentu Citra akan mengamuk saat itu juga, tapi ini Lira.
Citra cukup terkejut mendengar bahwa Lira mengikhlaskan Azka untuknya. Alih- alih memohon untuk meminta hati Azka, Lira justru menyarankan Azka untuk jangan pernah meninggalkan Citra.
Citra gamang harus berbuat apa, sementara pernikahannya dengan Azka hanya tinggal beberapa minggu lagi. Haruskah ia egois dengan pura- pura tidak tahu tentang apa yang sudah terjadi ?
...
Hari ini seperti biasa, Lira berangkat ke kampus dengan mengendarai motor maticnya. Mungkin hari ini ia akan sedikit sibuk, Lira mulai mengajukan surat pindah tugasnya.
Sebagai Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Kementerian Kesehatan, cukup sulit untuk mengajukan pindah atas usul pribadi bukan rekomendasi. Namun walaupun diprediksi akan memakan waktu cukup lama, Lira tetap mencobanya.
Melihat Lira yang sedari tadi kasak- kusuk sibuk sendiri, Citra mendekatinya.
" Mbak, dari tadi sibuk apa sih mbak ?" Citra berjalan ke meja Lira.
" Ini Cit, mbak mau ngajukan pindah tugas, ternyata agak ribet juga alurnya." Keluh Lira.
Mbak mau pindah??
Apa karena aku mbak? Sehingga mbak memilih untuk pergi ?
" Mbak cuma mau dekat sama emak dan bapak dikampung Cit, mereka sudah tua." Ujar Lira sambil tersenyum pada Citra.
Itu cuma alasanmu saja kan mbak??
Yang sebenarnya mbak ingin pergi jauh dari kami kan??
Aku pastikan mbak tidak akan pergi mbak.
"Apa cuma itu alasan mbak? tidak ada alasan yang lainnya?" Tatap Citra penuh selidik.
Sontak saja tingkah Citra membuat Lira gelagapan dan serba salah. Diraihnya tangan Citra dan digenggamnya erat- erat.
" Tidak ada alasan lain Citra sayang, percayalah." Ucap Lira meyakinkan Citra, walaupun itu tidak semuanya benar. Yah, Lira ingin pergi jauh dari kehidupan Citra yang sebenarnya.
...
Hari ini Azka tidak berangkat kerja, kepalanya pusing sejak pagi, ditambah perutnya mual. Entah sudah berapa kali ia memuntahkan isi perutnya.Keringat dingin terus mengalir. Karena kondisinya lemah dan terlihat memburuk. Ibu membawanya ke Rumah Sakit.
Sesampainya di Rumah Sakit, Azka harus dirawat dan tidak disarankan untuk rawat jalan seperti permintaan Azka. Akhirnya jadilah ia terbaring lemah sebagai pasien dengan jarum infus tertusuk di punggung tangan kanannya.
Abang Azka yang tertua, Kevin dan istrinya datang melihat kondisi Azka.
" Ya elah, gimana sih Ka. Calon pengantin kok nge drop." Kevin duduk di sisi bed Azka.
Azka hanya melengkungkan bibirnya. Jujur kepalanya masih terasa sangat berat.
__ADS_1
"Citra udah tau belum?" Kata Kevin sambil memandang adik bungsunya itu.
Azka hanya menggeleng lemah. Tak lama Kevin keluar dari kamar perawatan sambil memegang ponsel ditelinganya.
Lira masih menggenggam tangan Citra ketika ponsel di saku blezer Citra bergetar, gadis itu membukanya.
" Hallo, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
" Ada apa bang Kevin ? Citra penasaran, mengapa calon kakak iparnya menelpon.
" Mau kasih tau Cit, Azka dirawat di RS X." Terdengar suara Kevin diseberang telpon.
" Kak Azka sakit? Sakit apa bang?"
"Typoid sama magh juga." Kata Kevin.
"Makasih bang, Citra segera kesana." Citra memutus telponnya.
" Ada apa Cit ?" Lira mengeryitkan dahinya.
" Kak Azka sakit mbak, Citra mau kesana. Pagi ini Citra gak ada jadwal" Citra bergegas sambil mengambil tasnya.
Azka sakit? malam tadi masih baik- baik saja. Benak Lira.
...
Citra memasuki ruangan Azka bersama Cecil istri Kevin. Cecil sengaja menunggunya di lobi depan. Dilihatnya wajah tampan Azka yang tampak pucat. Azka sedang tidur ketika Citra duduk disisinya.
" Azka emang kayak gitu, kalau mulai banyak pikiran pasti nge drop." Ibu membuka pembicaraan.
" Kebanyakan mikir persiapan nikah mungkin." Cecil membalas.
Kalian salah, yang sebenarnya adalah kak Azka memikirkan mbak Lira sampai jatuh sakit seperti ini.
Citra menatap intens Azka yang tengah terbaring lemah.
" Eh ngomong- ngomong persiapan nikah. Kalian sudah mendaftar untuk nikah kantor kan? masalahnya tinggal 2 minggu lagi ini, takut mepet nanti." Kevin nyeletuk.
" Belum bang." Citra menggeleng.
" Tapi sepertinya kami nikah secara agama saja dulu nanti bang, yang berkas kantor nanti disusulkan aja, mengingat kondisi kak Azka yang seperti ini." Citra menunduk.
" Kalo gitu nanti kamu belum tercatat di berkas negara sebagai istri anggota lho Cit." Ucap Cecil.
"Iya gak papa mbak, yang penting tercatat dibuku nikah nanti ." Jawab Citra sambil tersenyum tipis.
Azka belum membuka matanya sampai Citra pulang, sebelum pulang Citra berpamitan pada ibuk dan berjanji akan menemani ibuk menjaga Azka malam nanti, sementara Kevin dan Cecil sudah pulang duluan tadi.
Bersambung...
Likee nya yaaa
__ADS_1