Ketika Senja Berlalu

Ketika Senja Berlalu
Menjauh...


__ADS_3

Lira merebahkan tubuhnya di tempat tidur dikamarnya, Ia masih tampak syok dengan apa yang diucapkan Azka beberapa menit yang lalu.


Bagaimana mungkin, pikirnya.


Ia mencoba memejamkan mata, berharap ketika ia membukanya lagi, itu hanya mimpi.


Tapi itu sama sekali bukan mimpi, ya Tuhan.


Lira benar- benar tidak habis fikir, bagaimana mungkin seorang Azka bisa menyukainya. "Ada begitu banyak gadis dikampus, atau bahkan di dunia ini, mengapa harus aku." Benak Lira.


Lira membenamkan wajahnya ke bantal, ia benar- benar malu, ia tidak bisa menegakkan mukanya di depan Azka lagi.


Aaaggrrhhhhhh !!!!!


Lira memukul- mukul bantalnya, ia kesal, kesal sekali.


Tunggu...


Tapi mengapa Lira harus kesal?


Azka cuma bilang suka. Selebihnya tidak mengatakan apapun lagi, bahkan cowok itu tidak menanyakan perasaan Lira terhadapnya.


Jadi...


Maksudnya tadi apa??


...


Azka


Apa yang baru saja aku lakukan??


Gilaaa,,,aku benar- benar gila.


Aku hanya bisa menunduk lemah sambil meremas rambutku frustasi.

__ADS_1


Entah kerasukan setan dari mana tadi yang membuatku mengucapkan hal gila dalam hidupku.


Ku lihat gadis yang ada dihadapanku tadi dengan hati- hati, ia tampak sangat syok dengan ucapanku barusan.


Detik berikutnya, ia langsung berdiri canggung.


"Aku udah selesai, kita pulang yuk." ia berkata sambil menampakkan mimik wajah yang sama sekali tidak bisa kuartikan.


Haaahhh...


Segitu aja responnya???


Aku tersenyum getir sambil menghabiskan sisa minumku yang ada di gelas. Kemudian berdiri dan membayar makanan di kasir.


Kami pulang dalam diam. Bergelut dengan pikiran masing- masing. Ku pikir aku tidak harus bertanya tentang perasaannya juga kan?


Aku tadi hanya membuat satu pernyataan saja. Yah, sebuah pernyataan cinta dalam bentuk komunikasi satu arah, sungguh lucu sekali.


Dia hanya tersenyum canggung sambil mengucapkan terima kasih ketika kami sampai didepan rumahnya.


...


Sepertinya Lira sudah mulai ingin membuat sebuah lingkaran tak terlihat dalam dirinya. Ia tampak mulai menjauh dan membatasi diri dari Azka.


Seperti pagi ini, kebetulan mereka berada dalam satu sift dinas yang sama. Lira tidak banyak bicara, sengaja menghindar ketika tatapan mereka bertemu atau dalam kondisi dimana keduanya harus melakukan tindakan medis bersama.


Azka mulai jengah melihat perubahan sikap Lira yang seperti itu. Tapi Azka belum punya kesempatan sama sekali untuk berbicara dengan Lira.


...


Lira


Ya Tuhan, hari ini sift pagi bersama Azka. Ini untuk pertama kalinya kami bertemu lagi setelah kejadian waktu itu.


Jujur aku belum siap melihat wajahnya, aku terlalu malu. Bagaimana tidak, orang yang selama ini sudah aku anggap sebagai saudara sendiri, tiba- tiba bilang suka ke aku. Aku bingung mau meletakkan mukaku dimana.

__ADS_1


Potongan berbagai kenangan yang telah kami lalui bersama menari- nari di kepalaku. Aku ingat bagaimana aku dengan tidak tahu malu memintanya untuk menjemputku dari berbagai kegiatanku, meminjam uang nya, pernah juga meminjam jaketnya, tasnya, entah apa lagi yang pernah aku pinjam darinya.


Dan terakhir, kulirik sepatu yang sedang ku pakai.


Aku menelan salivaku sendiri yang rasanya sudah seperti duri di kerongkonganku.


Ini pun dari Azka...


Aku hanya tertunduk lesu memandang sepatu itu, rasanya tubuhku sudah seperti seonggok daging tak bertulang.


Seorang perawat senior memerintahkan teman yang ada disampingku untuk pergi ke ruang Laboratorium mengantar sampel darah pasien. Baru saja ia berdiri, aku menahan tangannya.


" Biar aku saja yah." Pintaku padanya.


Aku ingin pergi, setidaknya menghilang dulu dari ruangan ini.


Aku berjalan dengan langkah lebar, menyusuri koridor yang sedikit sepi.


Ketika aku menoleh ke belakang.


Glekkk...


Ada Azka berjalan ke arahku.


Aku mempercepat langkahku, sesekali aku melirik ke belakang, ia masih mengikutiku.


Ya Tuhan, mau apa sih dia.


Aku menambah kecepatan langkahku, dan dia juga menambah kecepatannya.


Oke...


Aku menghembuskan nafas, sambil memejamkan mata dan berbalik badan.


" Mau kamu a...."

__ADS_1


Aku terhenti seketika.


Sedikit kaget, karena yang ku ajak bicara tidak ada di belakangku. Ternyata Azka berbelok di persimpangan koridor lain. Cepat- cepat aku membalikkan badanku lagi, melihat sekeliling dengan wajah pias sambil menahan malu. Ternyata dia tidak mengikutiku.


__ADS_2