
AZKA
" Sudah siap nak?" Ibu menghampiriku ketika aku sedang bercermin dikamar.
" Sudah bu." Kataku tersenyum ketika ibu menoleh kekamar.
" MasyaAllah anak bujang ibu ganteng sekali." Ibu menepuk bahuku lembut, aku hanya tersenyum simpul mendengarnya.
Kebetulan abangku yang tertua ikut mendampingi wisudaku hari ini. Ia terbang dari ibu kota ke kota kecil ini untuk menghadiri wusudaku sekaligus menjemputku. Karena setelah ini aku akan tinggal dengan abangku, untuk mengikuti tes penerimaan calon perwira PK TNI AU.
Kami berangkat bersama pagi itu, ibu dan abangku duduk di barisan wali mahasiswa sedangkan aku duduk dibarisan depan. Aku duduk sambil mengobrol dengan teman yang duduk disebelahku, tak lama kulihat Lira berjalan tergesa- gesa ke tempat duduknya karena acara akan segera dimulai.
Sesaat aku terpesona melihat penampilannya, dia begitu cantik, matanya yang bulat didesain sedemikian rupa dengan berbagai peralatan kecantikan sehingga membuat mata itu bertambah indah berkali- kali lipat. Lira yang ku tahu jarang memoleskan make up di wajahnya ternyata begitu memukau ketika ia berdandan.
Liraku memang manis. Aku tersenyum melihatnya. Kami mengikuti setiap proses acara wisuda dengan seksama.
"ARIZA DWI AZKA ADYATMA, lahir pada tanggal 12 Agustus 1992, indeks prestasi kumulatif 3.88, dengan predikat TERPUJI." Suara pembawa acara dengan lantang menyerukan namaku, akupun maju ke podium mengambil tempat.
Acara telah selesai, abangku segera mengajakku untuk keluar karena kami akan segera berangkat, akupun hanya sempat berfoto dengan beberapa orang temanku, kemudian aku, abang dan ibu segera meninggalkan gedung wisuda.
Aku melihat Lira tengah asyik berfoto bersama kedua orang tua dan teman- temannya. Aku tersenyum sedih, maafkan aku Lira, aku mencintaimu. Entah sejak kapan aku menyadari bahwa aku mulai menyukaimu.
Waktu telah membuatku mencintaimu lebih dari segalanya, aku suka semua tentangmu, tawamu, candamu, senyummu. Entah kapan lagi aku bisa melihat semuanya... Maafkan aku, aku pergi, aku tidak kuasa untuk menyampaikan perpisahan ini secara langsung karena aku takut, aku tidak bisa menahan diri.
Bertahun- tahun rasa ini kupelihara tapi kamu sepertinya begitu sulit untuk ku gapai Lira. Kamu bagaikan sebuah batu yang sama sekali tidak bergeming oleh tetesan air hujan yang menerpa. Bukannya aku lelah, tapi sudah cukup rasanya kamu menggantungkan perasaanku selama tiga tahun ini.
Akan tetapi seperti apapun itu teruslah tersenyum karena senyummu akan selalu kusimpan dalam bilik hatiku yang terdalam. Sungguh cinta ini tak akan pernah hilang, entah sampai kapan.
__ADS_1
Aku melangkah pergi meninggalkan gedung, meninggalkan semuanya karena sekarang aku memiliki sebuah mimpi baru yang akan aku gapai. Selamat tinggal kota kecilku.
Dadaku terasa berat, perasaan kehilangan yang sangat dalam aku rasakan karena aku tahu entah kapan lagi aku akan menginjakkan kaki di kota ini, ibu berencana menjual rumah ini dan ikut menetap bersama abang di ibu kota, karena tidak mungkin beliau tinggal disini sendirian.
Aku dan abang berangkat duluan, sedangkan ibu nanti akan menyusul karena harus menyelesaikan beberapa urusan dulu. Kami menaiki travel menuju bandara, jarak dari kota kecilku ke bandara memakan waktu dua jam perjalanan darat, setelah mencium kedua pipi ibu, aku memasuki mobil.
...
Lira menghapus riasan make up dikamarnya, matanya terlihat sembab," kamu jahat Azka, jahaaaattt." Lira melempar tissue basah ke kaca. Ia menelungkupkan kedua tangan kewajahnya, air mata mulai keluar lagi dari sudut matanya.
Setelah puas menangis, Lira membersihkan dirinya dan berbaring di atas ranjang. Matanya tertuju pada sebuah buku yang terpajang di rak, buku itu mencolok diantara yang lain karena memiliki sampul berwarna pink cerah. Ia ingat buku itu dulu pernah dibelikan Azka waktu ia masih SMA.
Lira meraih buku itu, buku yang berjudul LA TAHZAN , Lira mengambil pulpen dan secarik kertas, ia mulai menulis.
*To Ariza Dwi Azka Adyatma,
Hai sahabatku,
Sebenarnya aku bingung harus memulainya dari mana. Kau tau, aku memikirkan bagaimana caranya untuk berbicara padamu, aku memikirkannya berhari- hari, akhirnya kuputuskan akan menemuimu setelah acara wisuda. Aku mencarimu setelah acara selesai, tapi aku tidak menemukanmu, aku terus mencari sampai kakiku lecet. Kau tau?? Aku menangis, aku hanya ingin mengatakan bahwa aku mencintaimu, mengapa begitu susah. Yah, aku ingin mengakuinya, aku menyukaimu, aku mencintaimu. Entah sejak kapan, aku tidak tahu.
Maafkan aku karena terlalu lama meyakinkan diriku sendiri bahwa rasa persahabatan ini telah berubah menjadi cinta.
Lira Khasanah Putri*.
Lira melipat kertas tersebut dan menyelipkannya di dalam buku berwarna pink itu. Kemudian ia mengganti pakaian dan keluar menuju rumah Azka.
Rumah Azka terlihat sepi, Lira mencoba mengetuk pintunya, terdengar suara gagang pintu yang dibuka, Lira bernafas lega ternyata masih ada orang di dalam. Wanita tua berdiri didepan pintu, rambutnya sudah memutih, wajahnya sedikit keriput tapi masih tampak jelas bahwa ketika muda ibu ini sangatlah cantik, yah, dia adalah ibu Azka.
__ADS_1
" Eh Lira, masuk masuk." Ibu Azka membuka pintu lebar- lebar mempersilahkan Lira untuk masuk.
Lira mencium punggung tangan wanita itu dan duduk.
" Lira cuma mau ngasih buku ke Azka buk, Azka nya ada?" Tanya Lira menyelidik.
" Oalaah, Azka gak bilang ya? Tadi dia sama abangnya udah berangkat ikut abangnya ke Jakarta." Celoteh ibuk.
" Oh ya udah gak papa, kalo gitu Lira titip bukunya ke ibuk aja ya." Pinta Lira.
Lira sudah menduganya, buku yang terlebih dulu ia bungkus dengan kertas kado itu ia titipkan ke ibu Azka, dengan begitu ibu Azka tidak bisa membuka buku yang didalamnya terdapat surat cinta itu.
Lira tidak banyak bertanya, karena ia takut akan menumpahkan air mata didepan ibu Azka, setelah berbasa- basi akhirnya Lira pulang. Azka sengaja tidak menemuinya, kenapa?
Lira baru mau melangkah keluar dari rumah itu, ibu Azka memanggilnya.
" Lira, ibu minta maaf ya, mungkin ibu dan Azka tidak akan kembali ke kota ini, soalnya ibu akan menetap di Jakarta ikut Azka dan abangnya, rumah ini sudah dijual. InsyaAllah besok ibu berangkat menyusul mereka."
Degg...
Itu artinya Azka tidak akan pernah kembali, seketika Lira lemas, tubuhnya kaku, kalau tau Azka benar- benar pergi seperti ini mungkin ia akan bicara waktu Azka menanyakan perasaannya, ia tidak akan gengsi dengan mendiamkan cowok itu berlama- lama. Sekarang Lira sangat menyesal.
Lira berbalik menghadap ke ibu Azka, dia berusaha menguatkan hati agar tidak menangis. Ia tersenyum dan mencium punggung tangan wanita tua itu.
" Lira juga minta maaf ya bu, jaga kesehatan ibu, titip salam untuk Azka semoga sukses." Hanya itu yang bisa Lira ucapkan kemudian ia pergi dari rumah itu.
Sesampainya dirumah, ia hanya menangis dan menangis. Menyesal memang tidak pernah datang diawal, ia selalu hadir belakangan. Setelah terjadi barulah tersadar, sungguh Lira merasa menyesal saat ini. Dan sekarang Lira hanya memendam kisahnya, tak perlulah yang lain tahu betapa pedih hatinya saat ini.
__ADS_1
Lelah menangis akhirnya ia tertidur. Adzan magrib berkumandang dari toa masjid, Lira terbangun dari tidurnya, ia mengucek matanya yang makin bertambah sembab. Ia meraih ponselnya berharap ada panggilan Azka disana, atau paling tidak ada satu pesan dari cowok itu, tapi ternyata tidak ada sama sekali.
Bersambung