
Byurrr...
Aku terpeleset dan masuk ke dalam kolam renang dengan kedalaman dua meter itu. Tanganku menggapai- gapai meminta bantuan, tapi nihil. Tak seorang pun menyadari bahwa aku tenggelam.
Nafasku sudah habis, entah telah berapa liter air kolam yang tertelan masuk ke dalam mulutku. Mataku mulai merabun, namun aku masih bisa melihat pemandangan di dalam kolam, pemandangan yang sangat mengerikan, disudut kolam aku melihat pusaran air yang begitu besar. Pusaran itu seolah- olah ikut menyedotku ke dalam.
Aku terus berusaha menggapai- gapaikan tanganku, kuhentakkan kakiku sekuat mungkin, berharap kepalaku bisa muncul ke permukaan kolam. Namun usahaku sia- sia, yang ada sekarang tenagaku sudah habis total.
Aku pasrah, mungkin inilah akhir hidupku. Mati di usia muda sungguh sangat menggenaskan, aku bahkan masih duduk di kelas 2 SMA. Ya Tuhan ampunilah aku, titipkan salamku untuk bu'e tercinta yang sekarang sedang berangkat umroh bersama majikannya.
Aku tidak bisa membayangkan betapa terpukulnya bu'e ketika pulang nanti melihat pusara kuburanku yang masih basah. Dan akhirnya aku sudah tidak kuat lagi, aku memejamkan mataku dan membiarkan tubuhku melayang ke dasar kolam.
...
Suasana hening, aku memicingkan mataku dari silaunya cahaya mentari. Apa aku sudah mati? yah sepertinya begitu.
Aku melihat sebuah wajah indah tepat didepan mataku, wajah yang sangat sempurna, alis tebal dengan bulu yang tersusun rapi, hidungnya mancung dan lurus, wajahnya mulus rata seperti jalan tol, aku tidak melihat pori- pori diwajah itu apalagi komedo dan jerawat.
Dan terakhir bibirnya, MasyaAllah sempurna, bibir tipis namun sedikit bervolume dengan gradasi warna merah muda yang indah. Fix, aku benar- benar sudah mati dan dia adalah malaikat mautku.
Tapi tunggu, aku tidak merasa amalanku banyak sehingga harus dijemput oleh malaikat yang luar biasa tampan ini. Tuhan, ini benar- benar anugerah untuk ku, aku tidak begitu menyesal telah mati muda, sungguh Engkau sangat baik padaku Tuhan. Aku tersenyum sendiri.
Tiba- tiba ide konyol terlintas dipikiranku, selagi dihadapkan oleh malaikat tampan ini, mengapa tidak kusentuh hidungnya itu, dari tadi aku gemas sendiri melihatnya, mumpung belum masuk ke alam kubur.
Tanganku bergerak pelan meraih hidungnya, mengelusnya sebentar kemudian memencetnya dan
" AAWWWW Berhenti !!! Dasar gadis gila !!!"
Hah, aku kaget malaikatnya berbicara. Cepat- cepat aku mendudukkan tubuhku. Ku pandangi daerah di sekelilingku. Ternyata aku terbaring di tepi kolam, masih di area rumah super besar dan mewah milik majikan bu'e ku.
Aku menggigit bibir bawahku, ternyata aku belum mati. Dan cowok yang ada di hadapanku ini kemungkinan adalah orang yang menyelamatkanku. Terlihat dari baju dan seluruh tubuhnya basah kuyup sama sepertiku.
__ADS_1
" Maaf. " Ujarku sambil terus menatap cowok itu. Jujur, selama beberapa tahun aku sering ikut bu'e kerja disini, tapi baru kali ini aku melihatnya. Dari penampilannya sepertinya ia bukan pembantu baru.
Cowok itu berdiri, tatapan nya dingin. Tidak lama mang Cecep satpam rumah ini tergopoh- gopoh berlari ke arah kami dengan membawa dua buah handuk. Yah, diantara pembantu- pembantu yang ada, hanya mang Cecep yang nonmuslim, sehingga ia tetap bekerja. Sedangkan pembantu yang lain diajak pergi umroh oleh bu Khadijah selaku pemilik rumah ini.
Termasuk bu'e, betapa senangnya hati bu'e ketika didaftarkan untuk menjadi peserta umroh bersama rekan pembantu yang lain. Hampir belasan tahun ia bekerja di rumah besar ini, bertugas sebagai tukang bersih- bersih rumah. Dari kerja keras beliau sebagai pembantu lah aku bisa bersekolah, abangku bisa kuliah, dan adikku bisa belajar di pesantren.
Aku mengambil handuk yang disodorkan oleh mang Cecep, menutupi tubuhku yang sudah basah. Kepalaku sedikit pusing, aku duduk di bangku kecil masih di area kolam. Mang Cecep pergi lagi, katanya mau membuatkanku teh hangat sedangkan Cowok dingin yang ku kira malaikat tadi sudah hilang tak tau kemana.
Kepalaku berputar- putar, mungkin efek kebanyakan tertelan air. Dari jauh aku melihat sosok malaikat dingin itu berjalan ke arahku, penampilannya sudah rapi, ia sudah ganti baju.
" Nih, pakai bajuku, bajumu sudah basah. Setelah itu aku antar pulang." Titahnya sambil menyodorkan sepasang celana dan kaos katun serta jaket bertopi padaku.
" Terima kasih." Jawabku sambil menunduk.
Aku mengambil baju tersebut dan berlari kecil mengarah ke kamar mandi yang biasa dipakai oleh pembantu disana. Dia baik juga, pikirku.
Tidak butuh waktu lama, aku sudah berganti baju. Jilbabku sudah basah, tidak mungkin aku memakainya lagi. Malaikat dingin itu rupanya sudah memperkirakannya, buktinya ia memberikan jaket bertopi agar aku bisa menutupi kepalaku dengan topi jaket ini.
" Asih, gak papa kan Sih ?" Tanya mang Cecep sambil menyodorkan kursi agar aku bisa duduk.
Aku menggeleng pelan, ku lirik sedikit malaikat dingin yang duduk di depanku, aku malu sekali karena telah berani memencet hidungnya tadi. Aku menyembunyikan rasa maluku dengan hanya tertunduk.
" Ini Tuan Rangga Sih, cucu nya ibu Khadijah. Dia baru pindah dari Singapura, sekarang tinggal dan mau bersekolah disini." Mang Cecep sukses menyiram dahaga penasaranku terhadap sosok malaikat dingin itu.
" Dan ini Asiyah alias Asih den Rangga, anaknya bik Ratna, salah satu pekerja disini juga." Jelas mang Cecep diikuti anggukan kecil oleh Rangga.
" Ayo, aku antar pulang." Rangga berdiri sambil mengambil kunci mobilnya dari atas meja.
" Gak usah Tuan, aku naik ojol saja." Kilahku sambil ikut berdiri.
" Ya udah kalau gak mau." Rangga duduk lagi sambil menyeruput tehnya.
__ADS_1
Glekk...
Aku tadi kan cuma basa- basi
Setidaknya dia bilang jangan naik ojol, biar aku aja yang ngantar
Wah, dia benar benar deh
" Terima kasih Tuan, saya permisi dulu. Nanti bajunya saya kembalikan. Sekali lagi terima kasih karena sudah menyelamatkan nyawa saya." Ungkapku tulus, kemudian aku berjalan keluar dari area rumah itu.
Aku bahkan tidak membawa ponsel, bagaimana caranya aku bisa memesan ojol, lagian ini daerah perumahan elit, mana ada ojek atau angkot yang lewat disitu. Alhasil, jadilah aku berjalan kaki keluar dari kompleks itu.
Keringatku mulai bercucuran, jarak untuk sampai ke jalan raya cukup jauh, aku mesti berjalan sekitar 400 meter lagi agar sampai ke ujung kompleks. Tiba- tiba suara klakson menghentikan langkahku. Aku menoleh dan melihat Rangga didalam mobil.
" Ayo naik." Katanya.
Sesaat aku ragu, kemudian ia keluar dan membukaan pintu mobil untukku. Tanpa pikir lagi aku segera masuk dan duduk nyaman di kursi samping kemudi.
Mobilnya harum sekali, seperti aroma kopi hangat yang baru diseduh. Kulirik pengharum mobil yang tergantung, ada tulisan Coffe . Rangga masuk ke dalam mobil dan mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
**To be Continue...
Hai readers tercinta, ini adalah karya ku yang kedua setelah** Ketika Senja Berlalu.
Sama seperti karyaku yang pertama, novel ini merupakan bacaan ringan berkisah tentang cinta.
Selamat membaca semoga kalian suka,
salam hangat dari Author receh yang baru belajar nulis.
loveee u
__ADS_1