
Pagi ini merupakan pagi tersendu diantara ratusan pagi yang telah Lira lewati selama berada dikampus putih coklat. Matanya masih sayu, bukti bahwa ia turut merasa kehilangan akan sosok Anna. Telah 2 hari berlalu sejak kejadian tragis yang dialami almarhumah Anna, sekarang mereka berdiri dibarisan mahasiswa yang tengah mengikuti APEL pagi.
Anna telah dikebumikan hari minggu kemarin, Azzel dan Alin serta beberapa teman geng Anna ikut mengantar kepergian Anna sampai ke tempat pembaringan terakhir di kampung halamannya. Sementara kasus ini tidak sampai terendus oleh pihak berwajib. Namun pihak kampus sudah mendapatkan laporan tentang kasus ini. Semuanya ikut bersedih, bapak kepala Kaprodi menghimbau kepada seluruh mahasiswa, cukuplah kejadian Anna ini adalah hal yang pertama dan yang terakhir kali terjadi dikampus ini.
Lira duduk di pelataran musholla dengan ditemani Yunia yang tidak henti- hentinya beristifgfar sejak tahu bahwa Anna pergi dengan cara yang tidak wajar, namun bukan hanya Yunia, semua penghuni kampus sangat terkejut dengan kejadian yang menimpa Anna, jadilah hari itu tragedi Anna menjadi tranding topik di kampus.
Sulit untuk melupakan kejadian itu, namun hidup harus terus berjalan. Lira dan teman- temannya tengah mempersiapkan diri untuk berangkat magang ke rumah sakit besar, yaitu salah satu rumah sakit rujukan milik pemerintah pusat di daerah Sumatera Selatan. Mereka akan menetap di kota itu selama kurang lebih satu bulan setengah. Dan ini adalah magang terakhir untuk mereka, setelah itu mereka akan fokus pada ujian kasus dan ujian karya tulis ilmiah sebagai persyaratan untuk bisa memakai toga kelulusan di kepala mereka.
Berbagai persiapan sudah hampir 100 persen, disana mereka akan magang di Rumah Sakit Umum dan Rumah Sakit Jiwa. Dan tibalah hari yang ditunggu, dengan menggunakan jalur kereta api semua mahasiswa memasuki gerbong. Ini adalah pengalaman pertama Lira naik kereta api, hahahaaa sungguh lucu, di usianya yang hampir menginjak angka 21 tahun, hanya motor dan mobil itulah kendaraan yang pernah ia naiki.
Mereka menaiki kereta api dengan jadwal keberangkatan dimalam hari, tepat pukul 10.00 malam, kereta api berangkat menuju stasiun tujuan, gerbong- gerbong besi yang saling bergandengan itu mulai bergerak perlahan, Lira menempelkan hidungnya dikaca jendela kereta, melihat pemandangan diluar yang gelap agak sedikit mengerikan, kereta makin melaju kencang meninggalkan pepohonan yang berjejer rapi di sisi lintasan rel, selintas pohon- pohon ramping itu tampak seperti beterbangan mirip seperti dementor yang melambai.
Lira menutup tirai jendela kereta, takut jika pohon- pohon tersebut benar- benar berubah menjadi dementor dan menghisap semua jiwa nya, hahahaaaa Lira menggeleng bodoh. Tak lama ia pun tertidur dengan kepala bersender pada sisi bangku penumpang. Tepat pukul 6 pagi mereka tiba di stasiun tujuan. Hari memang masih pagi, tapi ini adalah kota besar yang tidak pernah tidur.
__ADS_1
Suasana hiruk pikuk stasiun mulai terasa, Lira dan teman- temannya langsung dijemput oleh bus yang akan mengantar mereka ke tempat peristirahatan. Bus dinaiki berdasarkan kelompok magang, Lira menaiki bus yang akan mengantar mereka ke mess perawat rumah sakit jiwa, sedangkan bus satunya lagi untuk kelompok yang magang di rumah sakit umum.
Perjalanan memakan waktu hampir setengah jam, kini bus telah berhenti tepat di depan gerbang sebuah rumah sakit. Rumah sakitnya sangat besar dan luas, Lira sampai terperangah melihatnya, dengan dipandu oleh dosen dan penanggung jawab rumah sakit, mereka berjalan beriringan memasuki halaman rumah sakit, kemudian berbelok kesisi kiri, tampak bangunan berupa deretan gedung 2 lantai berjejer, namun terlihat sepi.
Akhirnya sampailah mereka pada dua buah bangunan, ia berdiri terpisah di sudut kompleks rumah sakit, bangunan itu akan mereka tempati sebagai tempat tinggal mereka selama magang dirumah sakit jiwa. Dosen mempersilahkan seluruh mahasiswa untuk istirahat hari ini karena telah melakukan perjalanan jauh dan mengintruksikan untuk berkumpul dilapangan pukul 07.30 besok pagi.
...
Keesokan harinya seluruh mahasiswa telah berkumpul dilapangan dengan memakai pakaian kebesaran mereka, yakni kostum putih- putih. Seorang laki- laki bertubuh atletis berusia kira- kira 40 tahunan berdiri didepan barisan. Dia adalah kasi keperawatan rumah sakit disana. Setelah memberi sedikit pengarahan, mahasiswa dipersilahkan masuk ke ruangan masing- masing berdasarkan kelompok mereka.
Lira menelan salivanya, sungguh merawat pasien dengan gangguan kejiwaan berbeda sekali dengan merawat pasien yang sakit fisiknya. Di ruangan ini Lira memahami bahwa manusia itu adalah mahluk holistik yang terdiri dari berbagai unsur biopsikososiospriritual , dan agar semuanya berjalan baik setiap unsur haruslah seimbang.
Di hari pertama mereka magang, mereka sudah mendapatkan pasien masing- masing yang dipilih secara acak oleh kepala ruangan. Setiap mahasiswa mendapatkan satu pasien, dan mereka ditugaskan melaksanakan asuhan keperawatan jiwa sesuai kasus. Mulai dari pengkajian sampai melakukan terapi- terapi pada pasien, baik itu terapi individu ataupun kelompok.
__ADS_1
Lira membaca nama pasien yang ia dapat, nama nya cantik Asiyah Gitaswara , nama Asiyah mengingatkan Lira pada salah satu dari empat sosok wanita penghulu syurga yakni Asiyah istrinya Fira'un. Baiklah, okey Asiyah mari kita berkenalan, batin Lira percaya diri sambil berdiri dan melangkah ke kamar rawat Asiyah pasiennya.
Namun kepercayaan diri Lira yang tadinya sebesar gunung uhud tiba- tiba menguap entah kemana ketika melihat bahwa Asiyah ternyata adalah gadis yang tadi tersenyum padanya. Entah mengapa Lira jadi takut menghadapi pasiennya yang mengalami gangguan jiwa ini. Lira mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk sekedar menyapa Asiyah.
Asiyah sedang duduk sendiri dikursi panjang sambil memainkan kuku jarinya, terkadang ia tampak begitu sedih. Lira berdiri tak jauh dari gadis itu, berusaha untuk tidak terlalu dekat namun juga tidak terkesan menjaga jarak. Diperhatikannya gadis itu dengan seksama, mereka mungkin seumuran, Asiyah gadis yang manis, memiliki perawakan yang mungil, rambut lurus dan hitam serta hidung yang bangir.
Lira belum mengetahui penyebab Asiyah menjadi seperti ini, tapi informasi yang ia dapat dari status Asiyah, diagnosanya adalah halusinasi pendengaran, Lira masih memperhatikan gerak gerik Asiyah, maju selangkah mendekati gadis itu, namun tiba- tiba Asiyah mendelik ke arahnya, sambil menyeringai tak jelas.
Lira mundur selangkah, sambil terus menatap Asiyah, mencoba tidak mengubah ekspresi wajahnya. Asiyah mendekat hingga jarak mereka kurang dari semeter. Ia memperhatikan wajah Lira secara instens lalu sesuatu tak terduga keluar dari mulutnya.
" Suster mirip artis Alisha soebandono."
Gleekkkk...
__ADS_1
Sontak Lira ingin tertawa, untuk pertama kalinya selama hampir 21 tahun hidup didunia ia dipuji sedemikian rupa, dan mirisnya itu keluar dari mulut orang gila hahahaaaa.
Bersambung...