
Lira senyum- senyum sendiri ketika memasuki kamarnya, hubungannya dengan Azka sudah membaik, mereka mulai berteman lagi. Walaupun mungkin tidak seakrab dulu, tapi Lira lega mendengar pengakuan Azka tentang Azzel. Ia merebahkan tubuhnya, kemudian tak lama berselang ia pun tertidur dengan masih memakai seragam kampusnya.
Sementara itu dikediaman Azka, ia juga senyum- senyum sendiri jika mengingat ekspresi Lira. Yaah, tetap menjadi teman yang baik untuk Lira adalah pilihannya saat ini. Tapi suatu saat nanti, ketika aku sudah siap, aku akan memintanya untuk menjadi bidadariku didunia dan diakhirat. Tunggulah Lira sampai saat itu tiba. Azka pun mulai terpejam menyelami alam bawah sadarnya.
...
Suasana perkuliahan masih seperti biasanya, mengerjakan tugas kelompok, membuat makalah, menyusun peralatan lab mandiri, pergi ke perpustakaan untuk meminjam beberapa buku dan istirahat di musholla tercinta. Karena kesibukannya Lira sampai tidak begitu memperdulikan kalau sudah hampir dua minggu ini, Azka selalu bersama Azzel pada saat pulang.
Lain halnya dengan Azzel, Hampir dua minggu bersama, membuat Azzel sudah merasa sangat nyaman dengan keberadaan Azka didekatnya walaupun itu hanya saat pulang kuliah dan ia berniat tidak ingin melepaskannya kendati ia sudah berjanji bahwa hubungan mereka hanya akan berlangsung selama dua minggu.
Ini adalah hari terakhir Azka mengantar Azzel, tak terbayangkan betapa senangnya cowok itu, sedari pagi ia sudah bersemangat, bukan apa- apa, karena mulai besok embel- embel status sebagai pacar Azzel otomatis tidak lagi disandangnnya dan tentu saja ia akan kembali menjadi anggota club jomblo fisabilillah. Ia tersenyum sambil merapikan bajunya.
...
Azzel duduk di meja rias di kamar, ia melihat pantulan wajahnya dari cermin yang berada didepannya. Hari ini tepat dua minggu ia menjalani hubungannya dengan Azka, dan sesuai perjanjian, bahwa setelah dua minggu maka hubungan mereka berakhir. Azzel menelungkupkan telapak tangannya tepat diwajah cantiknya, ia menangis. Rasanya begitu sakit jika harus jatuh cinta sendirian.
Ia menyukai Azka sejak pertama kali melihatnya, Azka bertanding basket disekolahnya waktu itu, ada event pertandingan basket antar sekolah, memang Azzel dan Azka tidak satu sekolah waktu SMA. Azzel dan teman- temannya duduk dibangku penonton sambil berteriak menyemangati tim basket sekolah mereka.
Tapi diantara tim basket lawan, wajah Azka yang paling menarik perhatian, ia paling tampan dan paling cool diantara pemain yang lain, sehingga membuat semua kaum hawa yang berada disana langsung terpesona, seperti zulaikha dan para sahabatnya terpesona ketika melihat ketampanan nabi Yusuf AS.
Azka dengan sangat terampil memegang bola, melakukan dribble dan ketika ngeshoot bola dari jarak jauh dan masuk ring whoaaaaaaa semua kaum hawa berteriak histeris. Azzel yang waktu itu ikut menjadi penonton langsung jatuh hati pada pandangan pertama. Dilihatnya nama punggung yang melekat di kaos basket Azka adalah Ariza.
__ADS_1
" Ariza, Ariza kok kayak nama cewek ya?" Celetuk salah satu sahabat Azzel.
Kemudian mereka mencari tahu nama cowok tampan itu kepada salah satu pemain cadangan tim lawan.
" Kak, maaf boleh tanya, nama pemain tim kakak yang itu siapa namanya?" Lira memberanikan diri bertanya sambil menunjuk ke arah Azka.
" Oh, itu Azka." Jawab kakak itu ramah.
Namanya Azka, tapi nama punggung nya Ariza, Azzel tampak berfikir keras. Atau bisa jadi itu nama pacarnya atau gabungan nama dia dan pacarnya. Seperti yang dilakukan teman- teman kelas Azzel, yang sering mencantumkan nama pacar mereka di baju- baju bola yang mereka kenakan.
Sedikit kecewa ketika menebak bahwa cowok tampan itu sudah punya kekasih, tapi bukan Azzel namanya jika tidak menyelidikinya lebih jauh, berkat pergaulannya yang dimana- mana, akhirnya Azzel mendapatkan informasi bahwa cowok itu bernama Ariza dwi azka adiyatma, dipanggil Azka dan ia masih jomblo.
Mulailah saat itu benih- benih cinta tumbuh dihati Azzel, ditambah lagi ketika ia mengetahui bahwa ia berada di kampus yang sama dengan cowok dambaannya itu.
Tapi setelah ia tahu bahwa Azka mengangguk waktu itu hanya demi menyelamatkan harga dirinya, ia tertunduk lesu, Azka sama sekali tidak menyukai dirinya, ini adalah hubungan percintaan yang sepihak, yang hanya bertepuk sebelah tangan dan tentu saja tidak akan mengeluarkan bunyi sama sekali.
Dan tepat hari ini segalanya akan berakhir, sudah dua minggu berlalu sejak Azka mencoba memutuskannya di cafe waktu itu. Azzel berdiri dari duduknya dan berdiri di depan cermin, ia menghembuskan nafas dalam, ia bukanlah termasuk orang yang tidak menepati janji, masih ada harga diri dalam dirinya, jika memang harus berpisah, aku akan menerimanya, batin Azzel.
Mata kuliah benar- benar padat hari ini, mereka pulang pukul 5 sore, seperti biasa Azzel sudah menunggu Azka di parkiran, hari ini adalah hari terakhir ia akan berboncengan dengan Azka. Raut wajahnya tampak begitu sendu, ia melihat Azka berjalan menuju parkiran.
" Ka, kita cari makan dulu ya." Bujuk Azzel berusaha agar bisa berlama- lama dengan Azka.
__ADS_1
" Udah sore Zel, makan dirumah aja." Jawab Azka dingin sambil menghidupkan mesin motornya.
Azzel hanya menelan salivanya, yang tiba- tiba saja sangat sulit untuk ditelan. Ia duduk di jok belakang motor Azka. Sebenarnya ada banyak yang ingin ia sampaikan sebelum mereka benar- benar berpisah, tapi melihat sikap dingin Azka membuat nyali Azzel menciut.
" Hari ini hari terakhir aku ngantar kamu kan ya?" Tanya Azka mengingatkan Azzel.
" Ya, makasih untuk segalanya." Jawab Azzel dari jok belakang sambil menahan tangisnya.
Azka yang mendengar suara Azzel yang bergetar langsung meoleh ke belakang.
" Jangan nangis."
"Aku tidak akan menangis." Jawab Azzel menguatkan dirinya.
" Maafkan aku Zel, kita akan tetap berteman." Ucap Azka lembut.
" Apakah ada orang yang kamu suka? " Tanya Azzel.
Azka tidak menjawabnya, ia lebih memilih melajukan motornya. Suasana hening, tidak ada yang berbicara lagi sampai mereka sampai di depan rumah Azzel. Gadis itu turun dari motor Azka.
" Makasih Ka, makasih untuk segalanya, aku minta maaf sudah merepotkanmu selama ini." Lirih Azzel.
__ADS_1
" Aku juga minta maaf Zel." Jawab Azka tulus.
Bersambung...