
Nampaknya awan hitam sudah mulai bosan dengan aktivitasnya di langit atau mungkin persediaan airnya mulai menipis hingga yang turun tinggallah rintik- rintik hujan yang melayang- layang di udara dengan enggan.
Azka mencoba memejamkan matanya sambil berbaring di kasur. Menutupinya dengan sebelah lengan kanannya. Pikirannya entah terbang kemana- mana. Teringat kejadian beberapa jam yang lalu.
Ia tersenyum sendiri, sungguh betapa ia sama sekali tidak bisa mengabaikan gadis itu. Sekuat apapun ia mencoba, ia akan makin terperosok jauh ke dalam lubang perasaan yang tanpa ia sadari telah ia gali selama bertahun- tahun lamanya.
Akhirnya ia tertidur dengan posisi yang tidak berubah, meyimpan erat perasaannya dalam malam yang sunyi.
...
Ini adalah ruangan terakhir untuk Lira dan teman- temannya, setelah itu mereka akan kembali ke kampus lagi. Ruangan ini adalah ruangan penyakit dalam, dimana pasien yang didiagnosa dengan berbagai penyakit yang sering disebut silent killer berkumpul disini.
Ruangan ini terletak di sudut bangunan dari Rumah Sakit, sedikit menyeramkan karena bersebelahan dengan ruang jenazah. Memiliki koridor panjang yang membelah ruangan itu menjadi 2 bagian membentuk kamar- kamar yang saling berhadapan.
Lira menahan nafas saat pertama kali memasuki ruangan, seketika bulu kuduknya berdiri ketika melihat sebuah lukisan seorang wanita berkebaya merah di ujung koridor.
Kok bisa- bisanya meletakkan lukisan seperti itu disini, mungkin niatnya sebagai pemanis ruangan, tapi yang ada malah menambah kemistikan dari ruangan ini. Jadi nambah sereeeemm.
Entah mengapa dinas kali ini berbeda, ada aura yang sedikit aneh menurut Lira. Dan ternyata itu juga yang dirasakan oleh beberapa temannya, termasuk Alin. Bentuk asli olive pacarnya popeye dalam wujud nyata.
Sift malam telah menunggu Lira, gadis itu telah memasukkan tasnya ke dalam loker perawat sebelum bergabung bersama teman- teman yang lain, yang tengah serius mendengarkan arahan dari kakak senior penanggung jawab dinas malam itu.
" Berhubung pasien kita sedikit malam ini, jadi kita tidak banyak melakukan tindakan keperawatan." Ucap kakak senior yang berperawakan tinggi dengan lesung pipi dalam di kedua pipinya, ngalah- ngalahin afgan nih.
" Tugas kita malam ini memastikan jadwal injeksi obat dengan tepat, menulis asuhan keperawatan disetiap status pasien sesuai diagnosa keperawatan pasien malam ini, dan mengecek cairan infus pasien." Lanjutnya sambil memandang mahasiswa magang satu per satu.
" Kalian mengerti !!"
" Siap kak, mengerti." Ucap mereka hampir bersamaan.
Kemudian mereka duduk berjejer di bangku depan sambil sibuk dengan kegiatan masing- masing. Ada yang menulis Laporan Pendahuluan untuk tugas kasus, ada yang mengecek status pasien, ad yang ikut berkeliling ke bangsal- bangsal.
__ADS_1
Kalau kalian mengira seorang perawat bekerja hanya berdasarkan perintah dokter, itu sungguh salah besar kawan. Karena perawat adalah profesi profesional, mereka memiliki jalur ilmu tersendiri, memiliki diagnosa sendiri.
Kalau seorang dokter memiliki diagnosa medis tujuannya adalah cure, mengobati. Lain dengan perawat, mereka memiliki diagnosa keperawatan dengan tujuan care, yaitu merawat, sehingga hubungan dokter dengan perawat adalah mitra kerja.
Lira sering kesal jika melihat adegan di film- film yang terkadang menggambarkan seorang perawat adalah pembantu, Ia lebih suka melihat adegan yang menampakkan sisi profesionalitas seorang perawat, seperti di film Jewel of the Palace, dimana tokoh utama Jang Geum banyak melakukan tindakan keperawatan.
Lebih bagus lagi kalau ada sutradara mau membuat film tentang kisah Florence Nightangle. Mungkin Lira orang pertama yang akan membeli tiket bioskopnya.
...
Lira dan Alin memilih untuk membantu kakak senior menyiapkan obat injek untuk pasien. Belajar cara menghitung dosis obat sungguh menyenangkan bagi Lira, disetiap spuit ditulis waktu pemberian obat, karena ini adalah salah satu dari prinsip benar dalam pemberian obat.
Tak terasa malam sudah larut, beberapa mahasiswa magang ada yang sudah mulai tertidur dikursi mereka. Tinggallah Alin dan Lira yang masih sibuk menulis laporan sambil di selingi detak jarum jam di dinding.
Seorang keluarga pasien menghampiri mereka.
" Sus, infus ibu saya habis." Katanya
" Ibu Suzanna di bangsal 13 sus."
Glekkkk...
Seketika mata Lira dan Alin saling berpandangan. Yang benar saja nama dan bangsal nya kok terdengar menyeramkan.
" Baiklah, sebentar pak, kami segera kesana." Kata Lira akhirnya.
Setelah menyiapkan kolf infus, Lira dan Alin pergi ke bangsal yang dimaksud, menyusul keluarga pasien tadi yang sudah tidak nampak lagi dari pandangan.
Koridor yang mengarah ke bangsal terasa lebih panjang dari biasanya, Lira sengaja mengalihkan pandangannya agar tidak melihat lukisan yang berada tepat di ujung koridor.
" Kok aku merinding ya Ra." Bisik Alin sambil memegang lengan Lira.
__ADS_1
Lira yang tak kalah merindingnya hanya diam sambil terus fokus berjalan.
Mereka sudah berdiri di depan sebuah bangsal yang bertuliskan angka tiga belas, tapi...
BANGSAL ITU KOSONG !!!
Hahh.....
" Aku gak salah dengar kan lin? tadi bapak itu bilang bangsal 13?" Suara Lira tercekat.
" Sepertinya begitu." Kata Alin dengan suara yang bergetar.
"Jadi..."
Mata keduanya berpandangan. Sepertinya jantung Lira sudah tidak berada ditempatnya, detik berikutnya mereka berbalik badan.
" La- riiiiiii !!!"
Tiba- tiba keduanya dihentikan dengan sebuah suara dingin.
" Mau kemana sus?"
Masih berpegangan tangan dengan erat, Lira dan Alin menoleh ke arah suara. Ternyata si bapak tadi yang memanggil.
" Pasien nya mana pak?" Tanya Lira berusaha mengendalikan suaranya yang terdengar gemetar.
" Maaf sus, tadi saya salah, bukan bangsal 13 tapi bangsal 14." Kata si bapak.
Huuhhhhh
Dasar si bapak, bercandanya kelewatan, Lira dan Alin hanya bisa menelan saliva.
__ADS_1
Selesai mengganti infus, keduanya kembali ke ruang perawat sambil tertawa mengingat kekonyolan mereka tadi. Menjadi perawat memang benar- benar luar biasa.