
Memasuki semester dua ini, mahasiswa sudah mulai melaksanakan berbagai jenis praktek dasar keperawatan,sebagai bekal mereka nanti ketika magang di Rumah Sakit.
Setelah praktek pemeriksaan TTV ( Tanda Tanda Vital),besok seluruh mahasiswa akan mengikuti praktek pemasangan infus.
Jantung lira berdegup kencang,ini untuk pertama kalinya ia akan berhadapan dengan jarum dan darah setelah hampir setahun ia menuntut ilmu di kampus.
Lira ingat ketika SMA dulu, bagaimana ia menolong teman nya yang cedera bermain bola,sehingga menyebabkan pelipis nya harus di jahit,melihat darah yang bercucuran membuat lira mual dan seketika tubuhnya serasa tidak berdaya.
Hal ini sukses membuat lira tak nyenyak tidur semalaman.
Esoknya dosen telah membagi mahasiswa menjadi berpasang pasangan yang nantinya mereka akan saling praktek satu sama lain.
Lira berpasangan dengan Tari, gadis cantik asal kota palembang yang kalau berbicara, suaranya sudah cukup memenuhi satu gedung aula.
"Okey,,santai Lira." ujar Lira membatin.
Tampak dari ujung ruangan, Azka tersenyum padanya,seolah olah menyemangati Lira,karena Azka tau persis Lira sangat takut melihat darah, entah mengapa senyum Azka mampu membuat hati Lira sedikit rileks.
Lira dan Tari sudah siap di bed nya, Tari yang pertama melakukan praktek dan Lira jadi pasiennya, alhasil tangan Lira jadi hematum (masuknya udara ke dalam pembuluh darah) sebesar telur puyuh,,hadeuhhh dasar Tari.
__ADS_1
Keringat dingin mulai mengalir di pelipis Lira ketika gilirannya yang praktek, tangan Tari di tepuk tepuk, diputar agar pembuluh darahnya tampak, setelah tampak, Lira mulai mengambil abocate dan menusuknya di pembuluh darah Tari, darah mulai tampak dijarum abocate, Lira menahan nafas.
Dengan perlahan ia menarik jarum abocate, memfiksasi dan mengambil selang infus untuk disambungkan ke kateter abocate, namun tiba tiba tangan Tari bergerak sehingga membuat fiksasi terlepas dan darahpun mulai bercecer di bed dan lantai, sontak Lira terkejut, tangannya mulai basah oleh keringat.
Yunia yang berada persis di ujung bed langsung sigap mengambil alih. Lira masih berdiri mematung melihat kejadian itu, sementara teman yang lain sibuk membersihkan darah.
Akhirnya lira bisa menguasai diri,ia terduduk lemas dikursi tak jauh dari bed setelah pak dosen memberitahu bahwa lira harus mengulang prakteknya dan tentunya harus mencari pasien sendiri.
Hari ini benar benar buruk, pikir lira sambil menghembuskan nafas dalam.
Tiba tiba azka menghampirinya.
" Aku makan diruma aja,penghematan lagi gak ada duit." ujar Lira.
" Biar aku yang traktir." bujuk Azka.
Lira menggeleng, hari ini ia benar benar tidak mood, bahkan untuk sekedar makan.
" Udah, jangan dipikirkan yang tadi, di ulang aja besok prakteknya." Azka menyemangati Lira seolah olah tau apa yang dipikirkan gadis itu.
__ADS_1
"Siapa pasien nya ka?" tanya Lira.
"Temen temen lain yang prakteknya ngulang udah pada nyewa tukang ojek di depan kampus, mereka bayar 50 rb per tangan, aku gak ada duit buat bayar sebanyak itu." Lirih lira.
"Mau pake tangannya Yunia,ia mah gendut, susah cari pembuluh darahnya, yang ada aku nanti ngulang lagi." Kata Lira.
"Kan tangan aku ada." kata Azka sambil mengangkat tangan kirinya.
"Tapi kan tanganmu udah ditusuk tadi sama aldo." Ujar lira.
"Masih ada tangan satunya kan," ujar Azka tersenyum sambil mengangkat tangan kirinya yang belum ditusuk.
"Udah jangan dipikirin lagi,besok pake tangan aku, siapin aja abocate nya." Bujuk Azka.
"Ini cowok emang dari dulu selalu jadi dewa penolong, untung sampai detik ini ia belum ada pacar, jadi aku masih bisa terus bergantung padanya," Batin lira.
" Siipp.. Makasih bosque," teriak Lira.
"Aku mau ngasih tau ke dosen dulu, besok aku siap ngulang prakteknya." cerocos lira sambil berlari kecil menuju ke ruang dosen, meninggalkan azka yang tersenyum sambil memperhatikan ulah lira tersebut.
__ADS_1