Ketulusan Hati

Ketulusan Hati
Extra Part


__ADS_3

Seorang gadis cantik kini tengah berputar ria didepan cermin. Ia meneliti penampilannya. Gamis berbahan jeans ia padukan dengan jilbab berwarna mauve. Sangat cocok dengan kulit putih bersih gadis itu. Senyuman dibibirnya merekah. Ia merasa penampilannya sudah cukup sempurna.


"Perfect Ara. You are beautiful." ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya. Ia menyambar handbag kesukaannya dan langsung beranjak keluar dari kamar.


"Morning bun, morning pah." ucapnya mencium kedua pipi orang tuanya bergantian. Tak lupa juga ia mencium pipi sang adik yang sudah duduk menunggunya. Hari ini adalah hari ahad, jadi sudah pasti semua keluarga berkumpul dirumah.


"Ayok makan." ucap pria paruh baya sambil menyesap kopi buatan sang istri.


"Mau kemana?" sang adik membuka pembicaraan.


"Ada deh, anak kecil tidak perlu tahu." ucap gadis cantik itu tersenyum lebar. Mata gadis itu tak sengaja bertemu dengan mata teduh sang bunda.


"Alan?" tanya sang bunda yang berhasil mendapatkan perhatian semua orang. Arham menatap putrinya lekat.


"Emmm, iya bun." ucap Ara mengangguk.


"Ck, aku gak setuju kakak sama bang Alan. Ya, walaupun dia tampan dan baik. Tapi dia itu banyak diincar kaum wanita. Mending kakak cari yang lain deh." ujar Azka sambil melahap omelet kesukaannya.


"Ck, anak kecil jangan sok tahu." ucap Ara menyenggol Azka.


"Aku sudah SMA, jadi bukan anak kecil lagi." ucap Azka kesal. Ara tertawa ringan saat melihat wajah lucu Azka.


"Ada masalah apa?" tanya Arham penuh selidik.


"Gak tahu pah, Alan ngajak ketemu. Katanya ada hal penting yang mau disampaikan." ucap Ara santai. Dara dan Arham pun saling pandang.


"Pokus dengan kuliah kamu Ara, jangan memikirkan hal lain." ucap Arham tegas. Ara tersenyum dan memangguk.


"Ya sudah, lanjut makan lagi." ucap Dara. Lalu mereka pun melanjutkan makannya dengan hening.


"Ara pamit pah, bun." ucap Ara mencium tangan kedua orang tuanya.


"Assalamualaikum." ucap Ara memasuki mobil kesayangannya. Gadis itu memang selalu ceria dan tak pernah sekali pun menunjukkan kesedihannya.

__ADS_1


"Wa'alaikumusalam."


"Putri kita sudah besar bun, dia sudah dewasa." ucap Arham merangkul Dara.


"Semoga anak kita selalu dilindungi Allah dan mendapatkan kebahagiaan selalu. Aamiin." ucap Dara sambil tersenyum. Arham mengangguk. Lalu mereka pun kembali masuk kedalam rumah.


Disebuah Cafe terlihat seorang pria tampan duduk sendirian. Ia terus melirik jam yang melingkar di tangannya. Sesekali ia melihat pintu masuk. Matanya melebar sempurna saat melihat sosok yang ia tunggu-tunggu.


"Terlambat 10 detik." ucapnya datar. Gadis cantik itu tersenyum dan duduk dihadapan sang pria.


"Maaf, tadi macet dikit didepan." ucap gadis itu meletakkan handbag miliknya di meja. Pria itu berdecak kesal sambil meneliti penampilan sang gadis.


"Ada apa? Jelek ya?" tanya gadis itu menyadari tatapan dari sang pria.


"Tidak, kamu tetap cantik." ucap pria itu yang berhasil membuat sang gadis tersipu malu.


"Ah, iya ada apa? Katanya mau ngomongin hal penting." gadis itu menatap sang pria antusias. Pria itu menatap sang gadis lekat.


"Aku menyukai mu, maukah kau menikah denganku?"


"A... Alan apa maksud kamu?" tanya gadis itu gugup. Ara, ya gadis itu adalah Ara. Dia terlihat sangat gugup.


"Sial!! Apa aku terlihat gugup?" tanya Alan. Ara semakin bingung. Ia tidak mengerti apa maksud ucapan Alan.


"Ma.. Maksud kamu?"


"Aku menyukai seorang gadis. Aku berencana untuk melamarnya hari ini."


Jleb! Bagaikan belati menembus jantung Ara. Dadanya sesak. Nafasnya tercekat. Ternyata selama ini ia sudah salah sangka.


'Dasar bodoh. Mana mungkin dia menyukaimu. Sahabat, seharusnya aku menyadari itu sejak dulu. Dia hanya menganggap kamu sahabat, tidak lebih Ara.'


Ara berusaha untuk tersenyum. Ia memperbaiki posisi duduknya agar lebih nyaman.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Dara penasaran. Ia juga berusaha untuk menunjukkan wajah cerianya. Sakit sekali rasanya, jika bisa saat ini Ara ingin sekali menangis. Tapi itu tidak mungkin ia lakukan. Ia tidak mau membuat persahabatannya hancur.


"Kamu akan tahu, sebentar lagi dia sampai." ucap Alan begitu semangat. Ara terus tersenyum. Ia bingung harus bicara apa lagi. Kedua tanganya terpaut kuat, keringat mulai membasahi telapak tangannya.


"Apa dia akan menerimaku?" tanya Alan menatap Ara lekat.


"Ya, dia pasti akan menerima kamu. Secara kamu kan tampan, baik dan juga sopan. Yah, walaupun sedikit cuek." ucap Ara jujur.


"Ahhh... Aku harap begitu." ucapnya terlihat gugup.


"Tarik nafas, tenang. Jangan terlalu gugup. Kamu pasti berhasil." ucap Ara menyemangati Alan. Sebagai sahabat, ia akan mendukung sahabatnya.


"Terimakasih Ra, kamu udah mau jadi sahabat terbaik aku." ucap Alan menggenggam tangan Ara. Ara mengangguk sambil tersenyum lebar.


"Ah itu dia." ucap Alan membenarkan posisi duduknya. Ia juga merapikan pakaiannya. Ara menoleh karena sangat penasaran. Mata Ara membulat sempurna saat melihat orang yang Alan maksud.


"Jihan?" ucap Ara tak percaya. Jihan adalah salah satu model cantik yang juga mahasiswi dijurusan yang sama dengan Ara.


"Ara? Lo juga disini?" ucap Jihan menatap Ara dan Alan bergantian.


"Ah enggak kok, aku cuma sebentar. Tadi gak sengaja ketemu Alan disini. Aku balik dulu ya Lan. Assalamualaikum." ucap Ara yang langsung beranjak pergi. Ia sengaja memberikan waktu untuk Alan dan Jihan.


Ara menyadarkan tubuhnya di kepala kursi mobil. Ia menyentuh dadanya yang terasa sesak.


"Apa yang aku pikirkan? Aku sudah terlalu jauh berharap." ucap Ara menatap lurus kedepan. Ia memejamkan matanya dan menarik nafas dalam-dalam. Namun butiran bening itu tetap saja lolos dari pertahanan. Ara tidak bisa lagi menahannya. Dadanya benar-benar sesak.


Tangisan Ara pecah, ia menangis sendirian di dalam mobil. Perih di hatinya semakin menjadi saat wajah Alan melintas dalam pikirannya.


"Ingat sayang, jangan terlalu berharap pada manusia. Itu hanya akan membuat kita sakit. Tujukan semua cinta kita pada-NYA. Insha allah hati kita akan selalu tenang dan kebahagiaan akan selalu ada dalam diri kita. Jangan mencintai manusia lebih dari cinta-NYA. Ingat pesan bunda sayang." perkataan sang bunda pun kembali terngiang.


"Ara mengerti sekarang bunda. Ara minta maaf sudah melupakan perkataan bunda. Ara minta maaf ya Allah." ucap Ara sesegukan. Ia merasa dirinya benar-benar sangat bodoh. Ia mencintai manusia melebihi cintanya pada sang Rabb.


'Maafkan Ara ya Allah. Ara tidak akan mengulanginya lagi. Ara minta ampun.'

__ADS_1


Gadis manis itu pun berusaha menenangkan hatinya. Ia terus beristigfar meminta ampun atas kesalahannya. Setelah merasa tenang. Ia melajukan mobilnya untuk pulang. Ia ingin istirahat dan menenangkan dirinya.


__ADS_2