
Hari terus berganti, bulan terus berubah dan matahari pun tak lelah untuk memutari bumi. Tak ada yang bisa menciptakan bumi sesempurna ini selain yang maha kuasa.
"Hai, kenapa melamun sendirian?" seseorang berhasil membuyarkan lamunan sang wanita cantik. Ia terlihat kaget, namun sedetik kemudian ia tersenyum saat tahu siapa yang datang.
"Bagaimana kamu bisa masuk kesini? Apa tidak takut kakakmu akan marah?" tanya wanita itu menikmati teh hangat yang selalu menemani paginya.
"Aku tidak pernah takut padanya, jika dia ingin menyingkirkan aku maka aku akan menerima itu. Aku hanya ingin memastikan wanita cantik dirumah ini tersenyum bahagia"
"Kau memang sangat berani. Aku tetap bahagia, selama Alan ada disini"
"Kau merawatnya dengan baik, Alan sekarang lebih gemukan" ucap pria itu menatap wajah sang wanita yang sedari tadi terus tersenyum.
"Aku sudah menganggapnya seperti anak sendiri" ucap wanita itu kembali menyeruput teh.
"Aku perhatikan setiap hari kamu minum teh, itu tidak baik. Lihat tubuhmu sangat kurus" ucap pria itu mengambil cangkir dari genggaman sang wanita.
"Aku menyukainya, ini membuatku sedikit tenang. Ah iya, apa kamu melihat kedua sahabatku? Mereka baik-baik saja kan?"
"Emm.. Sudah hampir seminggu aku tidak masuk kampus. Aku sibuk dengan pekerjaanku, jika aku membuat kesalahan kakak tidak akan mengampuniku"
"Hah, kau masih beruntung bisa bebas. Lihat aku, bagaikan seekor burung dalam sangkar. Aku tidak biasa berdiam dirumah, tapi hampir satu tahun aku ada disini"
"Nissa, apa kau mau pergi bersamaku?" tangan hangat itu dengan berani mengengam tangan wanita yang tak lain adalah kakak iparnya.
"Alex, apa maksudmu?" ucap Nissa menarik tangannya dari genggaman pria itu. Ia masih tau diri dan mengingat semua peraturan dirumah ini.
"Aku menyukai mu Nissa, aku berjanji akan membebaskan dirimu dari rumah ini. Aku tahu ini bukanlah rumah untukmu, aku bisa memberikan kebahagiaan walaupun tak semewah rumah ini" Alex kembali menggenggam tangan Nissa. Nissa panik bukan main, ia sangat takut jika sang suami akan mengetahui hal ini. Jika Arnold tahu, ia tidak bisa membayangkan kemarahan Arnold.
"Tidak Alex, jangan gila. Kakamu akan membunuh mu, dia tidak akan melepaskanmu. Pergi lah, aku hanya menganggap mu sebagai adik. Jangan berpikiran lebih" ucap Nissa langsung pergi meninggalkan Alex yang masih diam mematung.
"Maafkan aku Alex, aku tidak mau kau bernasib sama seperti Dion" Nissa menutup mulutnya agar suara isakannya tidak keluar. Ingatan tentang beberapa bulan lalu itu kembali muncul.
"Mas, aku mohon lepaskan Dion. Dia tidak bersalah, dia hanya membantuku saat aku terjatuh. Dia tidak bermaksud untuk menyentuhku" Nissa kini bersimpuh dikaki sang suami. Dion yang merupakan pelayan dirumah ini harus menerima hukuman karena kecerobohan dirinya.
__ADS_1
"Lepaskan tangan kotormu, aku membenci semua yang ada ditubuhmu" bentak Arnold mendorong tubuh Nissa hingga terjatuh.
"Habisi dia, aku tidak ingin melihatnya lagi" ucap Arnold yang langsung beranjak pergi.
Dor..
Tubuh Nissa menegang seketika, matanya melihat dengan jelas bagaimana peluru itu menembus jantung orang yang sudah menolongnya. Air matanya tak lagi keluar, tenggorokannya juga begitu kering seakan cairan tubuhnya sudah tidak ada lagi.
"Di... Dion.. Ini semua salahku, maafkan aku" tanganya bergetar hebat, ia hendak mendekati tubuh pria yang kini terbaring lemah dengan darah yang terus mengalir dari tubuhnya.
"Berani menyetuhnya, jangan harap besok tanganmu masih menempel" suara itu semakin mebuat Nissa bergetar, ia tak pernah menyangka jika pria yang ia nikahi adalah seorang psikopat.
"Non... " sebuah suara berhasil membangunkan Nissa. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Mimpi buruk?" tanya bibik mengelus pundak Nissa, Nissa mengangguk pelan.
"Minum dulu" ucap bibik memberikan segelas air putih, dengan pelan Nissa meminumnya.
"Tolong jangan membuat tuan marah, bibik tidak tahan melihat non tersakiti lagi" ucap bibik yang sudah berlinang air mata. Sejak kejadian itu, sikap Arnold berubah dan mulai berani memukul Nissa.
"Nissa baik-baik aja bik" ucap Nissa tersenyum, ia turun dari tempat tidur dan beranjak keluar.
"Assalamualaikum, mas memanggil Nissa?" ucap Nissa masuk kedalam ruang kerja Arnold. Bukan jawaban yang Nissa dapatkan melainkan sebuah tatapan yang begitu menakutkan.
"Kemari" ucap Arnold terus memberikan tatapan aneh pada Nissa. Nissa mematuhi suaminya, ia berjalan menghampiri Arnold.
"Siapa yang menemui mu pagi ini?" pertanyaan itu membuat Nissa terkejut dan takut setengah mati. Apa dia tahu jika Alex datang ke rumah, bodoh. Dia pasti tahu lah. Ini kan rumahnya. Batin Nissa.
"Bagian mana yang dia sentuh?" tangan Nissa bergetar hebat saat Arnold berjalan kearahnya, bahkan mulutnya seakan terkunci. Nissa menyembunyikan tangannya, ia melakukan itu dengan refleks.
"Bagaimana dia menyetuhmu? Apa selembut ini?" menarik tangan Nissa dan menggenggamnya dengan erat.
"Ah, sakit mas" ucap Nissa meringis saat genggaman itu semakin kuat.
__ADS_1
"Sudah aku katakan bukan, tidak ada yang boleh menyentuhmu sekalipun itu adikku. Apa kau memang wanita yang sangat menyukai sentuhan lelaki?" ucap Arnold sambil menyelipkan rambut Nissa.
"Jangan menyakitinya, itu hanya salah faham. Dia tidak sengaja, jangan sakiti Alex" ucap Nissa begitu panik.
"Apa kau mau tahu bagimana aku memberikan pelajaran pada adik kecilku?" bisikan itu berhasil membuat Nissa terkejut.
"Jangan lakukan apapun padanya, dia tidak bersalah. Bagaimana pun dia adik kamu mas" ucap Nissa menarik tangan Arnold. Nissa kembali membuat kesalahan, Arnold sangat membenci jika seseorang memohon untuk orang lain.
Tap. Sebuah layar monitor hidup dan menunjukan seseorang yang terlihat begitu menyedihkan. Sekujur tubuhnya penuh dengan lembam, bahkan kedua tanganya diikat.
Nissa menutup mulutnya karena tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Alex, ya tuhan. Apa yang kamu lakukan mas?" teriak Nissa. Ia terus menatap layar monitor diamana Alex terlihat dengan jelas sedang kesakitan.
"Hukuman kecil" ucap Arnold kembali duduk dikursi. Ia menatap monitor itu bergantian menatap Nissa.
"Jangan menyiksanya, siksa saja aku mas. Jangan orang lain, aku yang bersalah disini" ucap Nissa menjatuhkan tubuhnya.
"Kau merelakan aku menyiksamu untuk orang lain. Apa kau menyukai adikku?" Arnold membungkuk untuk menyejajarkan tubuhnya dengan Nissa. Dengan cepat Nissa menggelengkan kepalanya.
"Padahal jika kau mengatakan iya aku akan melepaskannya. Tapi sudahlah, kau juga tidak menyukainya. Aku juga tidak menyukainya, buat apa dia hidup" ucap Arnold menutup layar monitor, ia kembali duduk di kursinya.
"Jangan, biarkan dia menjalankan hidupnya. Bagaimana pun dia adik kamu mas" ucap Nissa.
"Aku sudah menganggap dia orang asing saat dia dengan berani mendekatimu. Cih, bahkan dia berani mengungkapkan perasaannya padamu. Tidak tahu malu"
Nissa kembali terkejut saat mendengar hal itu. Dari mana dia bisa tahu? Tadi pagi yang ada ditaman hanya aku dan Alex.
"Kenapa kamu melakukan ini mas? Apa salahku, bahkan kau menyakiti orang tak bersalah. Kenapa aku tidak boleh berhubungan dengan orang lain, sedangkan kamu dengan bebas menyetuh wanita lain"
"Aku juga manusia biasa, punya batas kesabaran. Aku juga ingin hidup normal, aku ingin kembali seperti kehidupanku yang dulu" Nissa benar-benar mengeluarkan semua isi hatinya, kesabarannya sudah habis. Arnold yang mendengar itu mengeratkan rahangnya dan kedua tangannya mengepal.
"Terserah padamu" setelah mengucapkan itu Arnold langsung pergi meninggalkan Nissa. Ia membanting pintu cukup keras hingga menimbulkan bunyi yang begitu nyaring. Kali ini Nissa menangis sejadi-jadinya, dadanya sangat sesak. Napasnya juga sedikit tersenggal, ia tidak tahan dengan semua yang ia jalani. Lelah, dia sudah cukup lelah dengan sikap dan tindakan yang suaminya lakukan. Tapi Nissa tidak punya kekuatan untuk melawan, hanya satu yang ia lindungi. Yaitu keluarganya, ayah dan mamanya yang sudah sudah payah membesarkan dirinya.
__ADS_1