
"Non" panggil seseorang yang berhasil membuat Nissa sangat terkejut. Dengan cepat ia menghapus air matanya, ia juga membenarkan posisinya.
"Maaf non, saya tidak bermaksud untuk mengejutkan. Mari ikut dengan saya, saya akan antar non kekamar" ucap wanita paruh baya itu menatap Nissa lekat. Nissa tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Mari" ucap wanita paruh baya itu berjalan mendahului Nissa.
Sebuah pintu yang memiliki ukiran indah itu menjadi pusat perhatian Nissa. Ia terus menatap pintu itu hingga tak menyadari seseorang sedari tadi terus memanggilnya.
"Non" wanita paruh baya itu menyetuh pundak Nissa, Nissa pun langsung tersadar.
"Maaf"
"Itu kamar aden muda, jika anda ingin melihatnya silahkan" ucap wanita paruh baya itu tersenyum.
"Aden muda?" ucap Nissa bingung.
"Iya non, den Alan anaknya tuan Arnold" ucap wanita paruh baya itu membuat Nissa kembali terkejut.
'Kejutan apa lagi yang ada dirumah ini?' batin Nissa.
"Jadi suami saya pernah menikah?" pertanyaan yang Nissa lontarkan berhasil membuat wanita itu terkejut.
"Maaf non, kamar non ada disebelah sini" ucap wanita paruh baya itu menunjuk salah satu kamar tepat disebelah kamar yang menjadi pusat perhatian Nissa.
"Baik lah" ucap Nissa yang tidak ingin lebih tahu tentang laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu. Tanpa pikir panjang Nissa langsung masuk kekamar, ia sudah sangat lelah satu harian terus berdiri.
"Apa ini kamar pembantu? kasur hanya muat untuk satu orang. Dasar orang kaya pelit. Ah, aku tidak perduli. Saat ini aku hanya ingin mandi dan tidur" ucap Nissa tidak memperdulikan keadaan kamar yang cukup kecil, sangat jauh berbeda dengan kamar miliknya. Disana hanya ada kasur ukuran kecil dan sebuah lemari dengan ukuran yang sama. Tanpa pikir panjang ia langsung masuk kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah sangat lengket.
Setelah beberapa saat Nissa pun sudah selesai mandi, ia berjalan menuju koper miliknya yang entah kapan dan siapa yang membawanya masuk. Nissa sama sekali tidak perduli.
"Ekheeemmm"
Nissa terperanjat kaget saat mendengar suara dehaman seseorang, ia langsung membalikan tubuhnya. Mata membulat sempurna saat melihat sosok pria yang kini sudah berdiri sambil bersandar di daun pintu. Dengan cepat Nissa menutup tubuhnya dengan tangan, ia tidak pernah menyangka jika pria itu ada dikamarnya.
"Cih, tidak perlu kau tutupi. Aku tidak akan selera melihat tubuhmu. Kau belum menandatangani surat perjanjian kita" ucap pria itu melempar kertas dan pena diatas ranjang. Nissa menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, ia mengambil kertas itu dan langsung menandatanganinya.
"Sudah saya tanda tangan, silahkan keluar" ucap Nissa dengan nada mengusir.
"Jadi kau mengusirku dari rumahku sendiri?" senyuman devil itu berhasil membuat Nissa merinding.
"Saya harus ganti baju" ucap Nissa memalingkan wajahnya.
"Ganti saja, aku bisa melihatnya disini" ucap Arnold sambil menyeringai dan mendapatkan tatapan membunuh dari Nissa.
"Kenapa? Bukankah aku suamimu?" Kini Arnold duduk diatas ranjang dan menyilangkan kedua kakinya.
Nissa terlihat sangat kesal, ia berjalan mendekati pintu.
"Mau kemana? Apa kau akan memperlihatkan tubuhmu pada para pelayan?"
Ucapan itu bagaikan pisau tajam yang mengiris kulit mulus Nissa. Memangnya dia pikir aku wanita murahan apa?
Arnold berjalan mendekati Nissa, ia merangkul pinggang Nissa begitu kuat. Nissa tidak pernah menyangka jika hal itu akan terjadi. Arnold dengan kasar memutar tubuh Nissa, hingga kini mata mereka saling bertemu.
"Ingat, saat ini kau adalah milikku!! Siapapun yang mencoba mendekatimu atau pun kau yang mendekati mereka. Aku tidak akan sungkan untuk membunuhnya. Ingat itu istriku" peringatan itu berhasil masuk kedalam telinga dan menjalar ke dalam otak Nissa. Nissa yakin itu bukan lah ancaman biasa, melainkan sebuah ancaman yang benar-benar akan terjadi. Nissa menelan air ludahnya karena tenggorokannya sangat kering.
"Apa kau mengerti?" imbuh Arnold. Nissa mengangguk, ia tidak ingin ucapan pria itu benar-benar terjadi.
"Bagus, kau memang istri yang baik. Pergi ganti bajumu dan buatkan aku makan" ucapnya mendorong tubuh Nissa hingga terjerembab diatas kasur. Nissa menatap Arnold penuh kebencian, ia hendak bicara namun Arnold sudah terlebih dahulu keluar.
"Dasar brengsek, aku membencimu" teriak Nissa, namun tiba-tiba ia langsung tersadar dan menutup mulutnya dengan tangan. Nissa bangun dari duduknya untuk berganti pakaian.
***
__ADS_1
Suara dentingan sendok dan piring memecahkan kesunyian di ruang makan. Sepasang manusia itu sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Rey, belikan pakaian yang cocok untuknya. Dia terlihat sangat kampungan, jika seperti ini nama baikku akan hancur"
Ucapan itu berhasil membuat Nissa mengurungkan niatnya untuk memasukkan nasi kedalam mulut, ia kembali meletakkan sendok itu dipiring.
"Maaf, tidak perlu repot. Pakaian tidak akan membuat nama baik anda rusak, saya memakai pakaian yang sama seperti orang lain pakai" ucap Nissa bangun dari duduknya.
"Rey, cari tau siapa yang membuat desain pakainnya. Tutup usahanya, modelnya sangat kuno" Nissa membulatkan matanya karena terkejut dengan ucapan pria tampan namun memiliki mulut yang beracun itu.
"Baik tuan, akan saya lakukan" ucap pemilik nama yang sedari tadi terus disebut oleh Arnold.
"Baik, anda bisa mengganti semua pakaian saya dan jangan mengganggu kehidupan orang lain" ucap Nissa, ia menggeser kursi dan langsung pergi dari ruang makan. Nissa masuk kekamarnya, ia mejatuhkan tubuhnya di kasur dan mulai menangis.
"Kenapa dia begitu kejam? Aku kira manusia seperti dia hanya ada di novel-novel dan di tv. Tapi ternyata didunia nyata juga ada, kenapa harus aku yang mendapatkan suami seperti dia? Hiks hiks hiks" Nissa menagis sejadi-jadinya, namun suaranya tertahan oleh bantal yang ia gunakan untuk menutup wajahnya.
"Papa, kenapa papa harus meminta bantuan pada dia? Apa tidak ada orang lain yang lebih baik, kenapa harus dia Pa?" imbuh Nissa ditengah isakannya. Nissa terus menangis hingga ia tertidur karena lelah.
***
Tok tok tok tok
Suara ketukan pintu berhasil membuat Nissa terbangun, ia membuka matanya yang masih terasa berat. Ia mulai menurunkan kakinya ke lantai dan beranjak menuju pintu.
"Siapa?" ucapnya dengan suara serak.
"Bibik non, tuan sudah menunggu di ruang makan" teriak seseorang dari luar. Nissa langsung melihat jam dinding, ia sangat terkejut karena tertidur cukup lama.
"Astagfirullah, aku belum shalat" ucap Nissa.
"Non baik-baik aja kan?" bibik kembali mengetuk pintu.
"Iya bik, Nissa shalat dulu nanti nyusul" ucap Nissa langsung berlari menuju kamar mandi.
Setelah selesai shalat, Nissa langsung beranjak menuju ruang makan. Namun ia dibuat bingung karena disana sudah ada seorang wanita yang juga ikut duduk dengan suaminya.
"Maaf tadi saya shalat dulu" ucap Nissa menarik kursi, ia duduk berdampingan dengan suaminya.
"Eh, kenapa duduk disitu? Itu hanya untuk menantuku" imbuh wanita itu yang tak lain adalah ibu dari suami Nissa.
"Kau dengar ucapan mama?" Nissa langsung menatap wajah suaminya yang sama sekali tak ingin menatapnya.
"Maaf" ucap Nissa bangun dari duduknya, ia pun memilih untuk pindah tempat duduk.
"Apa makanan mahal ini cocok untukmu?" wanita itu kembali bersuara, Nissa yang hendak mengambil makanan pun mengurungkan niatnya.
"Saya permisi" ucap Nissa yang sudah tidak tahan mendengar hinaan dari mulut mertuanya.
"Sedikit saja kau melangkah, jangan harap keluargamu masih bisa makan enak" ucap Arnold begitu lantang. Nissa menghentikan langkahnya, ia memejamkan matanya.
'Kamu harus kuat, demi papa dan mama' ucap Nissa dalam hati. Ia berbalik dan duduk ditempat semula.
Tidak ada lagi suara ataupun hinaan yang Nissa dengar. Mereka begitu pokus menyantap makan malamnya.
"Kapan kamu akan menikahi Wina?" perkataan itu berhasil membuat Nissa tersedak. Mata tajam itu langsung menatap Nissa dengan tatapan yang tak bersahabat.
"Maaf" ucap Nissa menunduk, hal itu tak luput dari tatapan Arnold.
"Aku ke kamar dulu, selamat malam" ucap pria itu langsung bangun dari tempat duduknya dan beranjak pergi. Ia sengaja melakukan hal itu untuk menghindari pertanyaan konyol ibunya.
"Heh, dengar ya! Jangan kamu kira setelah kamu menikah dengan anak saya kamu bisa jadi nyonya disini. Arnold hanya mencintai Wina, dan hanya Wina yang bisa mendapatkan posisi nyonya disini" ucap wanita paruh baya itu penuh penekanan, lalu ia langsung beranjak pergi meninggalkan Nissa.
"Huuufft... Kenapa semua orang yang ada disini mengerikan?" ucap Nissa menghela napas begitu dalam.
__ADS_1
"Jadi bibik juga mengerikan ya non?"
Nissa terperanjat kaget saat tiba-tiba bibik sudah berada dibelakangnya.
"Ya ampun bik, jantung saya hampir copot" ucap Nissa mengelus dadanya, bukanya merasa bersalah si bibik malah tertawa renyah.
'sepertinya bibik tidak mengerikan'
"Bik, den muda itu udah besar atau masih kecil?" tanya Nissa yang kembali ingat dengan ucapan sang bibik sore tadi.
"Aden muda mah masih bayi atuh non, baru 2 bulan umurnya" ucap bibik yang berhasil membuat Nissa terkejut.
"Bayi? Memangnya ibunya kemana? Apa wanita yang bernama Wina itu ibunya?" tanya Nissa begitu polos.
"Shuut, jangan sembarangan ngomong non. Nanti non Wina dengar bisa kena amuk" ucap bibik sambil membereskan meja. Nissa pun ikut membantu meletakkan piring dalam wastafle.
"Emang Wina itu tunggal disini ya?"
"Enggak sih non, tapi dia sering nginap disini kalau nyonya ada dirumah" ucap bibik.
"Mereka sudah lama pacaran? Kenapa mereka tidak menikah aja kan saling cinta" ucap Nissa kembali duduk dan menatap bibik untuk mencari jawaban.
"Saya tidak tahu non, kan sekarang non istrinya tuan"
"Istri yang tak dianggap" ucap Nissa cukup pelan.
"Non ngomong apa?" tanya bibik yang tak mendengar ucapan Nissa.
"Enggak ada bik..eh itu suara bayi nangis ya?" ucap Nissa saat mendengar suara tangisan bayi.
"Ya ampun si aden mah sering kebangun kalau jam segini" ucap bibik hendak mencuci tangan.
"Eh bik, biar Nissa aja yang lihat? Boleh kan?" tanya Nissa sedikit ragu.
"Emang non mau nemuin si aden, biasanya non Wina paling anti dengar suara tangisan si aden"
"Saya Nissa bik bukan Wina, jadi bibik jangan khawatir" ucap Nissa tersenyum.
"Ya sudah, silahkan atuh" ucap bibik yang terlihat senang. Nissa pun langsung berlari untuk melihat keadaan bayi mungil itu. Ia membuka pintu kamar dengan pelan, matanya langsung tertuju pada box bayi. Ia menghampiri box itu, seketika senyumannya mengembang saat tubuh mungil itu menatap dirinya.
"Hai sayang, kamu tampan sekali" ucap Nissa mengambil bayi mungil itu kedalam gendonganya.
"Cup cup, jangan nangis lagi ya? Kamu haus ya?" ucap Nissa sambil mengedarkan pandangannya untuk mencari susu.
"Ini susunya non" ucap bibik yang tiba-tiba muncul.
"Ih bibik mah, suka banget deh ngagetin Nissa" ucap Nissa.
"Maaf non, ih si aden gak nangis lagi. Suka ya dengan mama baru?" ucap bibik sambil memberikan susu pada baby Alan.
"Bik, kenapa Alan ditempatkan di kamar ujung? Apa papanya gak mau liat dia?" tanya Nissa sambil mengusap kepala Alan.
"Emmm, sebentar" ucap bibik bangun untuk menutup pintu.
"ibu den Alan meninggal setelah melahirkan. Tuan tidak pernah sekalipun melihat den Alan, tuan selalu menganggap si aden sebuah kesalahan"
"Kesalahan?" tanya Nissa bingung.
"Iya non, dulu ibunya den Alan pernah selingkuh. Dia bawa laki-laki lain kerumah ini, dari situ tuan sangat marah dan langsung berubah jadi orang yang dingin" ucap bibik menatap baby Alan yang sudah terlelap.
"Kasian Alan, dia yang harus jadi korban dari kesalahan ibunya" ucap Nissa begitu penuh iba.
"Bibik senang kalau non mau terima den Alan"
__ADS_1
"Nissa suka anak kecil bik" ucap Nissa mencubit pipi Alan dengan gemas. Alan sedikit bergerak karena merasa terganggu.
"NISSA... "