Ketulusan Hati

Ketulusan Hati
96


__ADS_3

Senyuman manis itu tampak begitu jelas dari bibir wanita cantik yang kini tengah menatap kedua anak kecil yang sedang asik bermain.


"Apa kalian tidak lapar?" kedua anak itu langsung menoleh. Keduanya mengangguk antusias.


"Ara mau makan udang sama cumi crispy bunda." ucap gadis kecil dengan senyuman imutnya.


"Alan?"


"Alan mau makan buger bunda, yang ada daun hijaunya." ucap Alan sedikit berfikir.


"Burger maksudnya? Ok, akan bunda buatkan. Kalian tunggu di sini ya?" ucap Dara yang dijawab anggukan antusias kedua anak itu. Dara tersenyum senang dan melangkah pergi menuju dapur.


Tak perlu waktu lama. Nampan berisi makanan sesuai pesanan pun kini sudah duduk manis diatas meja.


"Ayok makan dulu, nanti lanjut lagi mainnya" ucap Dara membawa dua gelas minuman.


"Terimakasih bunda." ucap Ara dan Alan bersamaan.


"Wah enak tuh. Dedek Azka mau dong" ucap Arham yang baru muncul degan Azka di gendongannya.


"Dedek masih kecil papa. Mana bisa makan, belum ada gigi." ucap Ara. Mulutnya dipenuhi makanan.


"Habiskan dulu, baru bicara." ucap Dara menyapu bibir Ara dengan tisu. Ara mengangguk. Tanpa bicara ia kembali menyantap makannya dengan lahap.


Pandangan Dara tertuju pada Alan yang tengah menatap dirinya lekat.


"Ada apa sayang?" tanya Dara mengelus kepala Alan.


"buger nya kurang bunda, Alan mau dua" ucap Alan memasang wajah sedihnya. Dara menatap Arham, lalu keduanya tertawa bersama.


"Aduh anak bunda pintar sekali ya, tunggu ya bunda ambil lagi. Untung bunda buatnya banyak." ujar Dara beranjak menuju dapur. Arham tersenyum melihat tingkah lucu Alan.


"Makan yang kenyang" ucap Arham mengelus kepala Alan dan Ara bergantian.


"Papa, besok papa libur kan?" tanya Ara duduk di pangkuan Arham yang masih kosong.


"Emm, sepertinya papa tidak libur. Kenapa huh?" tanya Arham mengecup pipi Ara.


"Yah, Ara kira papa libur. Ara mau main ke laut. Alan pasti bosan dirumah aja." ucap Ara memanyunkan bibirnya.


"Lain kali aja ya." ucap Dara sambil meletakkan beberapa burger di meja. Alan terlihat senang saat melihat burger kesukaannya.


"Iya bunda" ucap Ara dengan tak semangat. Ara kembali duduk di tempat semula.


"Lain kali sayang, papa harus kerja besok." ucap Dara mengusap pipi Ara. Ara menatap Dara dan menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Makan lagi yang banyak." ucap Dara mencubit pipi Alan dengan gemas. Alan mengangguk antusias.


"Sini anak bunda yang tampan, baik banget sih dari tadi diam gak rewel. Senang ya di gendong papa?" ujar Dara. Ia mengambil Azka dari gendongan Arham. Azka tersenyum dengan tangan berusaha untuk menyetuh wajah Dara.


"Bun, papa juga mau dong digendong" rengek Arham memeluk Dara dari samping. Dara memberikan tatapan membunuh pada Arham. Bagaimana tidak, dengan tidak tahu malu Arham merengek seperti anak kecil didepan anak-anak.


"Maaf bun, papa cuma becanda." ucap Arham mencium pipi Dara. Dara membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang Arham lakukan.


"Papa, ada anak-anak" ucap Dara mencubit perut Arham. Arham mengaduh dan kemudian tertawa. Ara dan Alan hanya menatap kedua orangtuanya bingung.


"Kamu sangat cantik saat sedang marah. Aku mencintaimu, my wife." Arham kembali mencium pipi Dara dan langsung melesat pergi. Dara menghela nafas berat.


"Dasar!" ucap Dara menggelengkan kepalanya. Lalu ia kembali mengajak Azka bicara.


***


"Kau sangat cantik." ucap Arnold menatap Nissa yang sedang duduk di depan cermin. Nissa baru selesai mandi dan kini tengah memakai hijabnya.


"Tidak perlu gombal, itu tidak akan merubah semuanya." ucap Nissa datar. Ia berjalan menuju jendela.


"Siang ini kamu sudah bisa pulang. Keadaan kamu sudah membaik." imbuh Nissa. Arnold terdiam, namun matanya terus tertuju pada wanita cantik itu.


Nissa membalikan tubuhnya dan melihat kearah nakas.


"Aku tidak nafsu makan." jawab Arnold memejamkan matanya. Ia menarik selimut karena merasa kedinginan. Nissa menyipitkan matanya.


"Dasar manja" ucap Nissa pelan. Ia berjalan menghampiri sang suami.


"Bangun, kamu harus makan. Supaya bisa langsung pergi dari sini." ucap Nissa ketus sambil menarik selimut Arnold. Arnold tersenyum tipis.


"Kau sangat cantik jika galak seperti itu." goda Arnold. Wajah Nissa merah padam.


"Jangan banyak bicara. Cepat makan!!" Nissa menyuapi Arnold, namun ia memalingkan wajahnya. Bukan karena marah. Tapi ia takut jika Arnold dapat melihat semu merah di wajahnya.


"Sungguh, kau sangat cantik sayang."


Deg! Jantung Nissa seakan copot saat mendengar perkataan terakhir Arnold. Nissa menelan air ludahnya karena begitu gugup.


"Ada apa sayang, kenapa wajahnya sangat merah? Apa kau sakit?" tanya Arnold yang diakhiri senyuman tipis. Nissa meletakkan mangkuk bubur di nakas dengan kasar dan langsung beranjak pergi.


Baru selangkah kaki Nissa berjalan. Tubuhnya tertarik hingga ia terhuyung kebelakang. Nissa memekik kaget saat tubuhnya terjatuh. Bukan rasa sakit yang Nissa rasakan, melainkan ia merasa sesuatu yang hangat dan keras.


"Mas, lepa... " belum selesai Nissa bicara. Arnold memeluknya begitu lembut. Hingga Nissa pun sama sekali tidak menolak.


"Aku masih merindukanmu, izinkan aku seperti ini sebentar saja." ujar Arnold sedikit berbisik. Nissa memejamkan matanya merasakan kehangatan yang menembus hingga tulang.

__ADS_1


"Pulang lah denganku" imbuh Arnold. Nissa membuka matanya.


"Tidak mau. Pulang saja dengan kekasihmu itu." ucap Nissa mendorong tubuh Arnold lumayan keras hingga Arnold tersentak kaget. Nissa menatap Arnold tajam dan langsung beranjak pergi.


"Dia sudah lama pergi. Sudah lama aku membuang nya ke laut." ucap Arnold begitu datar. Nissa yang hendak membuka pintu pun mengurungkan niatnya. Ia berbalik menatap Arnold untuk meminta penjelasan.


"Apa kamu membunuhnya mas?" tanya Nissa sedikit bergetar. Arnold tak mau kalah, ia juga memberikan tatapan yang tak bisa diartikan.


"Ya, dia tidak akan bisa kembali mengganggu kita."


Nissa menutup mulutnya dan mulai menangis.


"Kamu jahat mas." ucap Nissa terduduk lesu. Arnold bangun turun dari ranjang. Ia berjalan perlahan mendekati Nissa.


"Aku memang jahat Nissa, kau tahu itu dari dulu. Aku akan membunuh siapa pun yang mencoba untuk menghianati aku." ucap Arnold mengusap wajah Nissa. Nissa menatap wajah Arnold dengan rasa takut. Arnold mengubah raut wajah serius nya begitu cepat. Ia tersenyum. Nissa bingung dengan pria yang ada di hadapannya.


"Sudah aku katakan sayang. Aku sudah berubah. Aku mengirim dia bersama mama ke suatu pulau. Kau tahu sayang? Mereka merencanakan pembunuhanku. Cukup menarik bukan." ujar Arnold menyetuh pipi Nissa. Nissa menatap mata Arnold begitu dalam. Terlihat masih begitu banyak luka disana.


"Orang yang baik tidak akan pernah dibenci oleh orang lain." ucap Nissa memperdalam tatapannya. Arnold tersenyum getir.


"Dunia ini sangat kejam. Sangat sulit mendapatkan kesetiaan manusia. Bahkan ada yang aku yakini dia adalah orang yang setia. Tapi dia malah memilih untuk menjauh dariku." ucap Arnold penuh arti. Nissa menunduk, ia sangat tahu apa yang Arnold maksud.


'Maaf mas, aku masih takut. Takut kamu hanya berubah untuk sesaat. Jika kamu benar-benar berubah. Tolong yakinkan hatiku.'


"Ah... Ternyata sangat sulit mendapatkan kepercayaan orang lain. Tapi sayang, aku selalu saja bodoh. Mempercayai orang begitu mudah. Lalu pada akhirnya aku yang terluka." imbuh Arnold berjalan menjauhi Nissa. Arnold kembali tersenyum. Senyuman yang tak bisa difahami.


"Kau tahu Nissa, aku hanya memiliki satu cinta. Cinta yang selalu terabaikan." lirih Arnold.


'Aku mencintaimu mas. Sangat mencintaimu.' teriak Nissa dalam hati.


"Entah lah, aku tidak tahu harus bicara apa lagi. Bahkan kau juga sudah tidak ingin bersamaku. Aku tidak akan memaksamu, aku tahu terlalu banyak luka yang aku goreskan di hatimu."


'Tidak mas. Jangan cepat menyerah. Yakin kan aku jika kau benar-benar berubah dan mencintai aku. Aku mohon.'


"Mungkin aku akan menyerah Nissa. Maafkan aku." kini Arnold berjalan menghampiri Nissa. Ia menatap wajah cantik itu lekat-lekat. Sebuah kecupan hangat mendarat dikening Nissa.


"Maaf. Semoga kamu selalu bahagia sayang. Lupakan aku, aku tidak pantas ada di hatimu. Melihat matamu, aku semakin sadar ternyata kau begitu menderita saat berada didekatku. Aku akan pergi."


'Tidak mas. Kau tidak boleh pergi. Aku mohon. Ya Allah. Kenapa mulutku begitu kelu. Aku mohon jangan pergi.'


"Aku pergi, jaga dirimu dengan baik." Arnold mengecup kening Nissa untuk yang kedua kali. Lalu ia langsung beranjak pergi. Meninggal Nissa yang masih setia mematung. Mulutnya seakan terkunci. Tubuhnya kaku, sangat sulit untuk digerakkan.


"Aku mencintaimu mas." ucap Nissa menjatuhkan tubuhnya kelantai. Tubuhnya bergetar hebat. Tangisan yang tertahan pun kini pecah seketika.


"Aku mencintaimu... "

__ADS_1


__ADS_2