
Tok tok tok
Suara ketukan pintu begitu nyaring, seorang wanita cantik yang baru saja selesai shalat pun langsung melangkah menuju pintu. Ia membuka pintu rumah dengan pelan.
"Iya cari.... Da--Dara?" ucap wanita itu tercekat, kerongkongannya seketika kering saat melihat sosok sahabat yang ia kira sudah tiada beberapa bulan yang lalu.
"Syila? Kenapa kamu sangat terkejut dan pucat?" tanya Dara bingung melihat sahabatnya yang masih terdiam sambil menatapnya.
"Dara, jadi ini beneran kamu? Aku tidak mimpi?" tanya Syila menyetuh wajah Dara, Dara pun tersenyum dan mengangguk.
"Ya allah, Dara" ucap Syila yang langsung memeluk Dara dengan erat.
"Kamu kenapa Syil? Aku kan cuma pergi ke Aceh untuk berobat, kenapa kamu terkejut?" tanya Dara melepaskan pelukannya dan menatap Syila penuh tanda tanya.
"Maksud kamu?" tanya Syila bingung.
"Iya, abang bilang aku kecelakaan jadi koma beberapa bulan. Masak kamu lupa?" ujar Dara tersenyum sambil menatap mata Syila, Syila pun bingung senidiri dengan ucapan Dara.
"Kamu tidak ingat apa-apa tentang kamu Ra? Tentang... "
"DARA?" teriak seseorang yang baru tiba.
"Nissa, ya ampun rindunya" ucap Dara begitu senang dan langsung memeluk sahabatnya.
"Ini beneran kamu Ra? Bukannya kamu..."
"Ck, kenapa sih kalian aneh semua? Tadi Syila, sekarang kamu Nis. Apa kalian sama sekali tidak tahu apa yang terjadi padaku?" ucap Dara memotong ucapan Nissa sambil menatap kedua sahabatnya. Syila dan Nissa pun saling melempar pandangan, keduanya terlihat bingung.
"Ck, sudah lah. Aku mau masuk, aku sangat merindukan kasurku" ucap Dara yang langsung masuk. Syila memberikan isyarat pada Nissa, namun Nissa hanya menaikkan kedua bahunya.
"Syil, Nis. Kenapa barang-barangku tidak ada semua?" seru Dara bingung saat ia tak mendapatkan barang miliknya.
"Em itu, eh itu Ra. Kemaren bang Haikal yang bawa semua barang kamu" ujar Syila berbohong, ia sangat bingung dengan sikap Dara.
"Maaf, abang bilang aku setengah amnesia. Aku tidak bisa mengingat semua yang sudah terjadi belakangan ini, bisa kalian ceritakan semuanya?" tanya Dara yang berhasil membuat Syila dan Nissa pun terkejut, keduanya saling memandang lalu kembali menatap Dara.
"Kamu benar-benar lupa semuanya Ra? Tentang kejadian dan semua yang sudah terjadi belakangan ini?" tanya Syila, Dara pun mengangguk sebagai jawaban.
"Sedikit pun kamu tidak ingat?" tanya Nissa.
__ADS_1
"Memangnya apa yang sudah terjadi, apa ada kejadian yang begitu penting dan aku melupakannya?" tanya Dara menatap kedua sahabatnya bergantian.
"Apa kamu tidak ingat tentang pak Arham?" tanya Nissa menatap Dara penuh selidik, Dara yang mendengar pertanyaan Nissa pun mengernyit bingung.
"Pak Arham? Siapa dia? Tunggu, aku seperti tidak asing dengan nama itu?" tanya Dara yang mulai berfikir. Syila dan Nissa pun kini mengerti dan percaya jika Dara benar-benar hilang ingatan.
"Dosen kita di kampus yang super Killer" ucap Syila, Nissa yang mendengar itu pun langsung mencubit Syila.
"Ck sakit, ini demi kebaikan Dara, sepertinya dia memang tak ingat tentang suaminya" bisik Syila di telinga Nissa.
"Ah iya aku ingat, dia salah satu dosen kita. Memangnya kenapa dengan pak Arham?" tanya Dara begitu polos.
"Jadi kamu memang tidak ingat apapun?" tanya Syila tak percaya.
"Kan aku sudah bilang tadi kalau aku setengah amnesia, oh iya kenapa kasurnya di masukin dalam plastik. Padahal kan cuma aku tinggal beberapa bulan, kok ini udah kayak setahun ya?" ujar Dara. Nissa dan Syila pun hanya bisa terdiam dan saling tatap.
"Biar gak berabu Ra" ucap Nissa.
"Owh iya ya" ucap Dara tersenyum.
Cukup lama mereka terdiam, namun Nissa yang sadar ada sedikit rasa canggung pun mulai angkat bicara.
"Ra, apa kamu tidak merasa ada sesuatu yang aneh pada diri kamu?" tanya Nissa menatap Dara lekat.
"Bisa ikut aku sebentar?" tanya Nissa, Syila yang mendengar itu pun langsung menatap Nissa bingung.
"Kita harus terus terang Syil, Dara harus tahu semuanya" ucap Nissa.
"Tapi Nis, apa kamu yakin?" tanya Syila sambil melirik Dara sekilas.
"Harus, kamu juga harus ikut" ucap Nissa yang langsung berdiri dan menarik kedua sahabatnya.
***
Dara menghentikan langkahnya saat melihat rumah di depannya, ia menatap sekeliling rumah itu dengan bingung.
"Nis, ini rumah siapa? Kenapa aku seperti sudah akrab ya dengan rumah ini?" tanya Dara pada Nissa.
"Nanti kamu juga akan tahu" ucap Nissa. Mereka berjalan menuju depan pintu rumah, Nissa mendorong tubuh Dara agar ia berdiri di depan.
__ADS_1
"Ketuk Ra" ucap Nissa, Syila menyenggol bahu Nissa. Ia sangat takut akan terjadi sesuatu pada Dara.
"Kenapa aku yang ketuk? Emang ini rumah siapa sih?" tanya Dara.
"Ketuk aja dulu" ucap Nissa menarik tangan Dara dan mengetukkan ke pintu. Beberapa kali Dara mengetuk pintu namun tak ada jawaban dari dalam rumah.
"Gak ada orang" ucap Dara.
"Sekali lagi" ucap Nissa. Dara pun menuruti perkataan Nissa dan kembali mengetuk pintu. Lalu tak lama pintu pun mulai terbuka, Dara sedikit terkejut akan hal itu. Dara mengernyit bingung saat orang yang membuka pintu itu terus memberikan tatapan yang tak bisa di artikan.
"Ni--Nissa, bapak ini siapa?" tanya Dara pelan.
"Dara" ucap pria itu yang langsung memeluk Dara dengan sangat erat, Dara terkejut bukan main hingga tubuhnya seketika mematung. Namun tak lama ia tersadar dan langsung mendorong tubuh pria yang mendekapnya dengan erat.
"Astagfirullahal'azim, apa yang bapak lakukan?" teriak Dara tersulut emosi.
"Dara, ada apa? Apa kamu tidak merindukan aku hah?" tanya pria itu yang tak lain adalah Arham.
"Nissa kenapa kamu membawa aku ketempat ini?" tanya Dara dengan nada tinggi.
"Ra, dia itu suami kamu" ucap Nissa yang kembali membuat Dara terkejut. Dara menyetuh dadanya yang terasa sangat sakit.
"Akhh... " pekik Dara dan tubuhnya mulai limbung, namun dengan cepat di tahan oleh Arham.
"Jangan sentuh saya" ucap Dara menepis tangan Arham, Arham pun tak kalau terkejut dengan sikap Dara.
"Syila, bawa aku pergi. Akhhh" ucap Dara memegang tangan Syila.
"Iya, kita pulang sekarang" ucap Syila langsung membantu Dara, namun dengan cepat Arham menangkap tangan Dara.
"Jangan pergi, apa kamu juga tidak ingin melihat putri kita?" ucap Arham.
"Apa yang anda katakan? Lepaskan, sakit sekali" ucap Dara yang mulai limbung, Arham hendak menangkap tubuh Dara namun dengan cepat ditahan oleh seseorang.
"Biar aku saja" ucap orang itu, ia adalah Haikal. Haikal sengaja mencari Dara karena tiba-tiba Dara menghilang dari rumah, ia sudah mencari Dara ke asrama namun tak mendapatkan Dara. Dan pada akhirnya Haikal memutuskan untuk kerumah Arham karena ia memiliki perasaan jika Dara ada di sana. Ternyata feeling Haikal memang benar jika Dara ada disana.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Arham menahan Haikal.
"Jangan menahanku jika kau ingin Dara selamat" bentak Haikal, Arham langsung melepaskan tangannya. Haikal dengan cepat membawa Dara kedalam mobilnya.
__ADS_1
"Kak saya ikut" ucap Syila yang di jawab anggukkan oleh Haikal, lalu mereka pun langsung pergi menuju rumah sakit.
"Dara mengalami amnesia, saya juga tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Sebaiknya bapak tanyakan ini pada bang Haikal" ucap Nissa yang langsung pergi meninggalkan Arham yang masih diam mematung.