Ketulusan Hati

Ketulusan Hati
87


__ADS_3

Saat ini operasi akan segera dimulai, Nissa menatap Arnold yang terbaring lemah di sampingnya.


"Kamu harus bertahan mas, bagaimana pun Alan sangat membutuhkan kamu"


"Aku tahu, kamu tidak pernah menginginkan apapun dariku. Tapi hanya satu yang aku minta, tolong jaga Alan jika terjadi sesuatu padaku" ucap Nissa meneteskan air matanya, lalu ia kembali menatap langit-langit yang serba putih itu dengan intens.


Beberapa waktu telah berlalu, operasi pun berjalan dengan lancar. Keadaan Arnold sedikit membaik dan sudah melewati masa kritisnya. Namun berbeda halnya dengan Nissa, saat ini keadaanya masih belum normal. Detak jantungnya sangat lemah.


"Dokter, bagaimana dengan non Nissa? Apa dia baik-baik saja?" tanya bibik begitu cemas.


"Ibu Nissa masih dalam masa kritis, banyak berdoa agar ia bisa melewati masa kritis nya dengan cepat" ujar sang dokter.


"Ya Allah, tolong tangani nona dengan baik dok" bibik menatap sang dokter penuh harap.


"Kami akan selalu memberikan yang terbaik untuk pasien, ibu harus banyak berdoa. Kalau begitu saya permisi dulu"


"Terimakasih dok" kata bibik mengangguk yang kemudian disusul dengan kepergian sang dokter.


***


2 minggu kemudian...


"Bik, saya mau lihat mas Arnold? Boleh kan?" ucap Nissa yang masih tertidur diatas brankar.


"Jangan dulu non, non belum baikan. Tunggu keadaan non sehat dulu ya baru kita jenguk tuan" ucap bibik seraya membenarkan selimut Nissa.


"Bik, besok bawa Alan kesini ya. Nissa kangen"


"Iya non, sekarang non istirahat ya suapaya cepat sembuh" ucap bibik mengelus kepala Nissa. Nissa tersenyum dan menggangguk.

__ADS_1


Keesokan harinya bibik membawa Alan kerumah sakit. Terlihat begitu jelas mata Alan yang membengangkak karena terus menangis.


"Mama!" seru Alan saat mereka masuk kedalam ruangan. Nissa yang tengah terlelap pun langsung terbangun saat mendengar suara yang sudah sangat ia rindukan.


"Alan sayang" ucap Nissa membenarkan posisi tidurnya menjadi duduk.


"Mama rindu Alan" Nissa memeluk Alan begitu erat. Ia mengecup pucuk kepala Alan bertubi-tubi.


"Alan nangis? Kenapa nangis sayang?" mengelus pipi Alan sambil memperhatikan mata Alan yang bengkak.


"Alan mau mama, Alan kangen mama" ucap Alan kembali meneteskan air matanya.


"Maaf sayang, sudah jangan nangis lagi ya? Laki-laki tidak boleh cengeng" ucap Nissa menghapus air mata di pipi Alan.


"Alan mau bobok dengan mama, Alan mau sama mama" rengek Alan menenggelamkan wajahnya di dada Nissa.


"Iya sayang, jangan menangis lagi" Nissa kembali mengecup kepala Alan. Ia tersenyum, kehangatan menyelimuti hatinya.


"Kenapa?"


"Alan takut, pasti papa akan marahin Alan dan juga marahin mama. Alan gak mau mama terus dimarahin papa" perkataan itu keluar begitu saja dari mulut tipis Alan.


"Papa gak marah sayang, itu tandanya papa sayang dengan kita" ucap Nissa. Alan hanya diam sambil menatap Nissa begitu lekat, lalu tak lama ia kembali memeluk Nissa.


"Mama, Alan sayang mama"


"Mama juga sayang Alan"


***

__ADS_1


"Mang, kenapa tidak ada yang menjaga tuan?" ucap Nissa penuh tanya saat masuk kedalam ruang rawat Arnold, tak ada satu orang pun disana.


"Maaf non, memang cuma mamang yang menjaga tuan. Pak Rey juga sibuk menggantikan tuan di kantor, paling sesekali kesini"


"Mama dengan wanita itu mana?" tanya Nissa penuh selidik.


"Saya tidak tahu non, sejak operasi itu mereka sama sekali tidak terlihat" ucap mamang sambil menunduk.


"Kasian sekali kamu mas, orang yang sering kamu bela dan kamu sanjung sama sekali tidak perduli dengan keadaan kamu" ujar Nissa menatap wajah Arnold yang sedikit pucat dan terdapat beberapa bekas jahitan disana. Sebelah tangan Nissa terulur untuk mengelus wajah tampan sang suami.


"Kamu berkeringat?" tanya Nissa saat melihat cairan bening di kening Arnold.


"Mang, boleh tolong ambilkan air hangat dengan handuk kecil? Saya akan membersihkan tubuh mas Arnold. Sepertinya dia sudah risih" ucap Nissa menatap mang Ujang.


"Baik non, tunggu sebentar" ucap mang Ujang langsung beranjak keluar.


Dengan sabar Nissa merawat dan memperlakukan Arnold dengan begitu lembut. Hampir setiap hari Nissa berada di ruangan Arnold hanya untuk merawatnya.


"Ck, kenapa kamu belum sadar sih mas? Ternyata aku rindu kamu yang sering marah-marah dengab wajah garang kamu. Uh, lihat sekarang! Bahkan kamu tidak bisa apa-apa. Sekarang aku bisa melakukan apapun, aku bisa cubit kamu, pukul dan lihat wajah kamu dari dekat" ujar Nissa yang merasa bosan, sesekali tangan jahil nya terus mencubit gemas pipi Arnold.


"Kamu tahu mas, jika bukan karena Alan. Aku pasti sudah lama pergi, tapi mau bagaimana lagi. Alan lebih penting, dia masih sangat membutuhkan seorang ibu. Andai kamu seperti suami-suami kebanyakan, menghargai dan menyayangi aku sebagai istri kamu. Pasti aku akan menjadi orang paling bahagia"


"Tapi sayang, kamu jahat, brengsek, kejam dan tidak punya hati. Semuanya ada sama kamu mas, menyebalkan" Nissa benar-benar mengeluarkan isi hatinya, ia tidak perduli jika Arnold mendengar semuanya. Buktinya sampai saat ini tak ada pergerakan dari Arnold.


"Maaf mengganggu buk, saat ini sudah waktunya ibu untuk cek up. Dokter sudah menunggu ibu diruangan" ucap seorang susuter.


"Ah iya, saya hampir lupa. Saya akan langsung kesana sus, terima kasih" ucap Nissa tersenyum.


"Baik buk sama-sama" ucap suster yang langsung pergi meninggalkan ruangan. Nissa kembali menatap wajah Arnold, cukup lama ia memperhatikan setiap inci wajah suaminya. Lalu tak lama ia bangkit dari duduknya, ia sedikit meringis sambil menyentuh bagian perut bekas operasi.

__ADS_1


"Nissa keluar sebentar" ucap Nissa. Sebelum pergi, ia kembali menoleh kebelakang. Ada perasaan berat untuk meninggalkan ruangan itu, Nissa menghela napas dan ia pun pergi meninggalkan Arnold sendirian.


__ADS_2