
Jangan kau dahului takdir Allah, karena kita tak pernah tahu apa yang Allah rencanakan untuk hambanya.
~Cut Dara Maristha~
"Ara kamu dimana sayang?" teriak Dara dari arah kamar, ia terus menyusuri rumah untuk mencari keberadaan Ara.
Dara menghela napas lega saat melihat Ara tengah duduk disofa ruang kerja Arham.
"Ya ampun anak bunda sedang makan apa? Sampe belepotan gini" ucap berjalan menghampiri Ara yang kini tengah makan cemilan.
"Ala mam upuk da" ucap Ara begitu lucu. Saat ini Ara memang sudah mulai bisa bicara karena usianya sudah menginjak 2 tahun.
"Enak ya? Papa mana?" ucap Dara sambil membersihkan makanan yang menempel di sekitar mulut Ara.
"Papa pis" ucap Ara kembali memasukkan cemilan kesukaannya kedalam mulut kecilnya. Lalu tak lama Arham pun keluar dari kamar mandi.
"Mas, kenapa ninggalin Ara sendiri sih? Kalau Ara jatuh gimana?" ucap Dara menatap Arham.
"Siapa bilang? Anak papa kan sudah besar, jadi gak akan jatuh kan sayang?" ucap Arham duduk disebelah Ara. Ara yang mendengar ucapan Arham pun tersenyum dan mengangguk.
"Papa endong" rengek Ara mengangkat kedua tangannya kearah Arham.
"Sini, aduh anak papa sudah berat" ucap Arham mencium pipi Ara begitu gemas. Dara yang melihat itu hanya bisa tersenyum.
"Mas, sore nanti Dara ingin bicara sesuatu. Bisa kan?" tanya Dara menatap Arham lekat.
"Kenapa harus sore? Sekarang kan bisa" ucap Arham membalas tatapan Dara.
"Nanti saja, sekarang kita makan dulu. Dara sudah siapkan makanan kesukaan mas" ucap Dara mengambil Ara dari gendong Arham.
__ADS_1
"Ara mau makan? Bunda suapin ya?" ucap Dara yang di jawab anggukkan oleh Ara.
"Papa juga mau diusapin dong" ucap Arham.
"No papa" ucap Ara yang langsung menggelengkan kepalanya dan memeluk Dara begitu erat.
"Boleh dong, kan bunda punya papa" ucap Arham menggoda putri kecilnya.
"No, nda unya Ala" ucap Ara tak mau kalah, ia mengalungkan kedua tangannya dileher Dara.
"Mas, jangan ganggu Ara terus" ucap Dara yang tak suka jika Arham terus mengganggu Ara. Bagaimana tidak, Arham sudah sangat sering membuat Ara menangis dan pada akhirnya Dara yang akan menenangkan Ara.
"Maafkan papa sayang" ucap Arham mencium pipi Ara dan Dara bergantian. Arham merangkul pinggang Dara dan mereka pun beranjak untuk makan.
***
Dara tersenyum sendiri didalam kamar mandi, sebuah benda pipih lah yang berhasil membuatnya tersenyum sendiri.
"Sayang kamu di dalam?" teriak Arham sambil mengetuk pintu kamar mandi. Dara sedikit terkejut dan langsung menyembunyikan benda itu dibelakangnya. Dara menghela napas sebelum ia membuka pintu.
"Kamu kenapa? Kok lama?" tanya Arham begitu cemas.
"Dara tidak apa-apa mas, duduk dulu" ucap Dara menarik tangan Arham menuju ranjang.
"Ada apa? Jangan buat aku takut sayang" ucap Arham menatap Dara lekat. Arham semakin khawatir saat melihat wajah Dara yang pucat.
"Tutup mata" ucap Dara begitu antusias, sedangkan Arham menatap Dara bingung.
"Mas, tutup mata" rengek Dara sambil mengerucutkan bibirnya.
"Ok" ucap Arham mengalah dan menutup matanya.
__ADS_1
"Jangan ngintip" ucap Dara saat melihat mata Arham sedikit terbuka. Arham tersenyum karena ketahuan oleh sang istri.
"Sudah, mas buka matanya" ucap Dara dengan begitu semangat. Arham pun membuka matanya perlahan, namun ia sangat terkejut saat melihat benda yang saat ini berada didepan matanya. Wajah Arham berubah datar, senyuman yang tadi terus mengembang kini sirna.
"Mas, kok diam?" tanya Dara saat melihat Arham sama sekali tak bereaksi.
"Dara hamil mas, Ara akan punya adik" ucap Dara begitu senang. Namun berbeda dengan Arham, ia sama sekali tak bergeming.
"Mas, mas tidak senang?" tanya Dara sedikit was-was. Arham menatap Dara sekilas, lalu ia langsung beranjak pergi meninggalkan Dara yang masih diam mematung.
"Mas?" ucap Dara dengan raut wajah sedih, ia tak pernah menyangka jika Arham sama sekali tak menginginkan anak yang saat ini ada dalam rahimnya.
"Apa salah anak ini mas? Kenapa kamu tidak senang?" ucap Dara yang mulai meneteskan air matanya. Tangan kanannya terulur untuk mengelus perutnya yang masih rata.
Dara menghapus air matanya, ia bangkit dari duduknya dan berjalan keluar.
"Mas" ucap Dara menyetuh pundak Arham yang kini tengah berdiri dibalkon kamar atas. Dara memeluk Arham dari belakang.
"Singkirkan anak itu" ucap Arham yang berhasil membuat Dara sangat terkejut. Dara pun langsung melepaskan pelukanya dan berdiri dihadapan Arham.
"Apa maksud kamu mas?" tanya Dara penuh penekanan.
"Aku bilang singkirkan anak itu!" ucap Arham dengan nada tinggi.
"Kenapa?" tanya Dara dengan air mata kembali jatuh membasahi pipinya.
"Kenapa mas, jawab?" teriak Dara sambil menarik baju Arham.
"Aku tidak mau anak itu mengambil kamu dariku Dara. Singkirkan anak itu, aku tidak ingin mendengarnya lagi" ucap Arham yang langsung pergi meninggalkan Dara yang terdiam mematung untuk mencerna semua perkataan Arham.
"Mas, apa yang kamu pikirkan?" ucap Dara menatap kepergian Arham. Ia mejatuhkan tubuhnya, pikirannya saat ini benar-benar kalut. Dara tak pernah menyangka jika Arham akan memiliki pikiran untuk menyingkirkan anaknya sendiri.
__ADS_1