Ketulusan Hati

Ketulusan Hati
58


__ADS_3

Arham melangkah dengan cepat untuk mencari ruangan tempat dimana Dara di rawat, lalu langkahnya terhenti saat melihat Syila sedang duduk di kursi tunggu.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Arham yang berhasil membuat Syila terkejut.


"Kak Haikal dan dokter yang lain masih menangani Dara" ucap Syila. Arham yang mendengar itu langsung berjalan menuju pintu, ia mengintip Dara yang masih di tangani oleh dokter.


"Saya harap bapak tidak akan menyakiti Dara lagi, kali ini Allah memberikan bapak kesempatan kedua. Berjuang lah untuk mendapatkan Dara kembali, jika memang bapak mencintai Dara maka yakinkan dia agar bisa mengingat semuanya" ujar Syila menatap Arham lalu beranjak pergi. Arham yang mendengar itu hanya diam tak bergeming.


Selang beberapa waktu pintu pun terbuka dan menampakkan seorang dokter wanita bersama Haikal keluar dari sana. Pandangan Haikal langsung tertuju pada Arham.


"Apa yang sebenarnya terjadi pada istriku? Kenapa kau menyembunyikan semuanya?" bentak Arham menarik kerah baju Haikal. Haikal tersenyum getir dan melepaskan cengkraman tangan Arham dengan kasar.


"Tanyakan pada dirimu, kenapa aku melakukan ini semua?" ucap Haikal menepuk pundak Arham dan langsung beranjak pergi.


"Kau sudah memisahkan anak yang tak bersalah dari ibunya, aku tidak perduli dengan diriku. Tapi kau harus tahu putriku sangat membutuhkan ibunya" teriak Arham yang berhasil membuat Haikal menghentikan langkahnya.


"Itu semua tergantung padamu" ucap Haikal yang kembali melangkahkan kakinya.


"Aku akan membuat dia kembali padaku" ucap Arham menatap kepergian Haikal.


Arham memegang handle pintu dengan ragu, ia memutarnya dan membuka pintu dengan pelan. Mata Arham langsung tertuju pada Dara yang terbaring di atas brankar. Tanpa ia sadari air matanya mengalir begitu saja di pipinya, Arham menyetuh pipinya yang basah.


"Maafkan aku" ucap Arham berjalan mendekati Dara, ia duduk di samping Dara terbaring dan mengecup kening Dara dengan lembut.


Lalu tak berapa lama Dara pun mulai mengerjapkan matanya. Dara membuka matanya dengan sempurna dan langsung menatap Arham.


"Astagfirullahal'azim!!" seru Dara yang langsung bangun dari tidurnya.

__ADS_1


"Kenapa anda ada disini? Mana Syila dan Nissa? Bapak juga kenapa duduk disini" ucap Dara begitu panik, Arham yang mendengar itu hanya bisa menatap Dara.


"Jadi kamu benar-benar melupakan aku? Aku tahu selama ini aku begitu banyak menggoreskan luka dihati kamu. Tapi aku mohon jangan seperti ini, aku sangat mencintaimu Dara. Aku tidak ingin kehilangan kamu lagi" ucap Arham mulai meneteskan air matanya. Dara yang melihat itu pun tanpa sadar ikut menangis. Dara terkejut dan langsung menghapus air matanya.


"Saya tidak mengerti maksud anda, tolong keluar dari sini. Saya tidak mau orang lain salah faham" ucap Dara memalingkan wajahnya dari Arham, Dara menyetuh dadanya yang terasa sesak karena sudah mengatakan hal itu pada Arham.


"Baik lah, aku akan selalu menunggumu. Ara, anak kita juga sangat membutuhkanmu. Pulanglah, putri kita sangat membutuhkanmu Dara" ujar Arham bangun dari duduknya, ia melangkahkan dengan pelan keluar dari ruangan.


"Tunggu, apa maksud anda? Anak, Putri? Saya tidak mengerti apa yang anda bicarakan?" ucap Dara menatap punggung Arham.


"Kau melahirkan seorang bayi cantik dua bulan yang lalu, aku memberinya nama Dillara Chalista Putri Pratama. Dia sangat mirip denganmu"


"Satu lagi, aku akan kembali kesini untuk membuktikan jika aku adalah suamimu Dara" sambung Arham yang kemudian langsung pergi meninggalkan Dara yang masih terdiam untuk mencerna ucapan Arham.


"A-anak, aku sudah menikah? Tidak mungkin, tidak ada tanda jika aku sudah menikah. Akhhh" ucap Dara menyetuh kepalanya yang berdenyut hebat.


"Akkkkhhh ini tidak mungkin" teriak Dara begitu prustasi, ia menekan dadanya karena penyakitnya kembali kambuh.


"Akhhh sakit" ucap Dara tidur dengan posisi miring sambil terus menekan dada kirinya. Tak lama Haikal pun masuk karena ia mendengar suara teriakan Dara.


"Ya ampun dek, kamu kenapa lagi?" tanya Haikal panik dan langsung membenarkan posisi tidur Dara. Dengan mata yang begitu sayu dan masih berlinang air mata, Dara menatap Haikal begitu lekat.


"Katakan semuanya dengan jujur" ucap Dara pelan sebelum ia menutup matanya kembali, Haikal masih bisa mendengar dengan jelas ucapan Dara.


Haikal memasang oksigen pada Dara karena kondisi Dara kembali drop. Wajah Haikal sangat pucat, ia takut akan terjadi sesuatu pada adiknya.


"Abang minta maaf sayang, setelah kamu sadar kamu akan mendapatkan semua kebenarannya" ucap Haikal menggenggam tangan Dara.

__ADS_1


***


"Hai anak papa sudah bangun, maaf sayang tadi papa pergi sebentar" ucap Arham mengambil Ara dari box tidurnya.


"Ara tahu? Bunda kamu sudah kembali sayang? Ucapan papa benar bukan? Bunda kamu masih hidup" ucap Arham tersenyum pada Ara yang hanya bisa menatap Arham.


"Besok papa akan bawa bunda pulang, papa janji sayang" ucap Arham mencium pipi Ara. Tanpa Arham sadari sedari tadi Hesti sudah berdiri di depan pintu dan mendengar semua ucapan Arham.


"Jadi Dara masih hidup?" tanya Hesti membuat Arham terkejut.


"Mama?" ucap Arham menatap Hesti.


"Katakan Ham? Apa benar Dara masih hidup?" tanya Hesti duduk di sebelah Arham.


"Iya ma, tapi Dara tidak mengingat Arham maupun Ara. Dia hilang ingatan" Hesti menutup mulutnya saat mendengar ucapan Arham.


"Apa yang terjadi pada Dara? Bagaimana bisa Dara hilang ingatan?" tanya Hesti masih tak percaya.


"Arham juga belum tahu pasti ma" ucap Arham menatap Ara yang sedang tersenyum padanya.


"Tapi cepat atau lambat, Arham akan membawa Dara pulang. Arham akan melakukan itu demi Ara" ucap Arham mengelus wajah Ara.


"Perjuangan kamu baru dimulai Arham, dulu Dara yang selalu berjuang untuk kamu. Sekarang giliran kamu yang harus berjuang untuknya" ucap Hesti menyetuh pundak Arham, Arham mengangguk tanda mengerti dengan ucapan Hesti.


"Arham akan berjuang ma, demi keluarga kecil Arham" ucap Arham kembali mencium pipi Ara dengan penuh kasih sayang.


"Mama akan selalu mendoakan yang terbaik untuk keluarga kamu, jangan sia siakan lagi Dara" ujar Hesti yang dj jawab anggukkan oleh Arham.

__ADS_1


__ADS_2