
"Kenapa lagi Lo Ham?" tanya Reza yang baru datang. Saat ini mereka berada disebuah Cafe karena Arham yang meminta agar Reza menemui dirinya.
"Dara hamil" ucap Arham sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Serius lo, wah selamat bro. Bakal nambah ponakan berati gw" ucap Reza penuh semangat, namun tidak dengan Arham. Reza menyadari akan hal itu, ia menatap wajah Arham begitu lekat.
"Kenapa muka Lo gitu? Lo gak bahagia bakal nambah anak?" tanya Reza penuh tanda tanya.
"Gw belum bisa terima anak itu, gw masih takut" ucap Arham begitu prustasi.
"Takut? Takut apanya?"
"Gw takut kejadian dulu terulang lagi, gw gak bisa kehilangan Dara Za. Gw gak bisa hidup tanpa dia, Lo tau kan gimana gilanya gw dulu?" Arham begitu prustasi, ia mengacak rambutnya dengan kasar.
"Ck, itu masa lalu. Gw yakin kali ini Dara akan baik-baik aja, saat ini istri lo udah cukup usia buat hamil. Satu lagi, sekarang Lo ninggalin istri lo sendirian dirumah?" ucap Reza yang dijawab anggukan oleh Arham.
"Brengsek lo!! Gw minta lo pulang sekarang, istri lo butuh lo Ham. Jangan ulangi kesalahan lo yang lalu Ham, pulanglah" ucap Reza menatap Arham.
"Tapi gw... "
"Pulang, sekarang bukan waktunya untuk kabur dari keadaan. Bicarakan ini dengan baik-baik Ham, gw yakin lo bakal nerima calon anak Lo. Lo udah tua bro, berfikir lah dewasa. Jangan kalah dengan adek lo" ucap Reza sambil menepuk punggung Arham. Arham hanya diam sambil mencerna ucapan Reza.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, Arham bangkit dari duduknya dan langsung beranjak pergi tanpa sepatah kata pun. Reza yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Lo gak berubah Ham, pikiran lo selalu dangkal" ucap Reza yang ikut bangkit dari tempat duduk.
***
Suasana rumah sangat sepi, Arham masuk kedalam rumah dengan gontai. Pikiran tak pernah putus dari kajadian masa lalu yang sudah memporak porandakan hidupnya.
Arham memutar knop pintu dengan pelan, hatinya terus meronta agar segera membuka pintu dan memeluk sang istri. Namun ketakutan dalam dirinya sudah terlebih dahulu berkuasa hingga ia enggan untuk menghampiri istrinya.
Arham menatap tubuh ramping sang istri yang kini tengah tertidur sambil memeluk sebuah benda segi empat. Arham berjalan menghampiri Dara, ia mengambil benda yang ada dalam dekapan Dara dengan pelan. Arham menatap benda yang sudah 3 tahun lebih menghiasi kamarnya. Ya, benda itu adalah foto pernikahannya dengan Dara.
"Maaf" ucap Arham duduk disebelah Dara, ia mengelus kepala Dara dengan lembut. Dara yang merasa terganggu pun kini bangun dari tidurnya, ia membalikan tubuhnya menghadap Arham. Air mata Dara kembali mengalir di pipi mulusnya.
"Kenapa mas? Kenapa?" tanya Dara dengan tubuh yang bergetar. Arham langsung menarik tubuh Dara dan mendekapnya dengan sangat erat.
"Aku hanya takut kehilangan kamu, aku tidak mau kejadian dulu terulang kembali. Aku takut, takut jika kamu akan pergi meninggalkan aku Dara" ujar Arham yang juga ikut menangis. Dara sangat terkejut dengan ucapan Arham, ia melepaskan pelukanya dan mentap wajah Arham yang begitu berantakan.
"Mas, lihat Dara" ucap Dara menangkup wajah Arham dengan kedua tangannya. Arham pun mendengarkan perintah istrinya, ia menatap wajah cantik Dara begitu lekat.
"Jodoh, rezeki, maut itu semua Allah yang menentukan. Kita sebagai manusia tidak bisa mengubah atau pun menghindarinya. Anak ini adalah rezeki untuk kita mas, kita tidak bisa menolaknya. Untuk urusan maut, kita juga tidak pernah tau kapan itu akan menghampiri kita. Satu yang harus kita pahami, jika Allah belum berkehendak maka apa yang mas takutkan itu tidak akan terjadi mas"
__ADS_1
"perbanyak Istigfar, meminta ampun pada Allah" imbuh Dara yang kemudian langsung memeluk Arham.
"Allah tidak akan pernah menguji umatnya diluar batas kemampuan kita mas, jadi jangan pernah berburuk sangka pada Allah" ucap Dara mengelus punggung Arham.
"Maafkan aku, aku hanya takut. Aku takut kehilangan kamu, aku sangat mencintaimu Dara. Aku tidak akan hidup tanpamu" ucap Arham memeluk Dara begitu erat.
"Mas, jangan terlalu kuat. Baby kita kesakitan" ucap Dara. Arham yang mendengar itu langsung melepaskan pelukanya. Arham menatap wajah Dara begitu intens, lalu ia beralih mencium kening Dara dengan sangat lembut.
"Terimakasih" ucap Arham. Tangan kanannya kini beralih pada perut Dara yang masih datar.
"Papa minta maaf sayang, papa tidak bermaksud untuk menyakiti kamu" ucap Arham, ia menyejajarkan kepalanya dengan perut Dara. Sebuah kecupan hangat mendarat diperut Dara.
"Adek maafin papa kok" ucap Dara menirukan suara anak kecil. Arham kembali menatap wajah Dara, ia meneliti wajah cantik sang istri begitu telaten.
"I love you" bisik Arham sambil mengusap pipi mulus Dara.
"I love you to Daddy" ucap Dara sambil tersenyum manis. Dara menarik tangan Arham dan meletakkannya diperut.
"Dara ngantuk, mas peluk ya" ucap Dara begitu manja, Arham tersenyum dan mengangguk. Arham melingkarkan tanganya diperut Dara, sedangkan Dara semakin merapatkan tubuhnya untuk mencari kehangatan.
"Besok kita akan menemui dokter, aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu" bisik Arham. Dara menatap Arham lalu mengangguk untuk menyetujui.
__ADS_1
"Tidur lah, selamat malam" ucap Arham memeluk Dara begitu erat. Lalu keduanya terlelap dalam mimpi yang indah.