Ketulusan Hati

Ketulusan Hati
78


__ADS_3

"Bundaaa... " teriakan itu berhasil membuat Dara terperanjat kaget, ia menggelengkan kepalanya dan hendak bangun dari duduknya. Namun baru saja selangkah Dara pergi, Azka menangis terlebih dahulu.


"Tunggu sayang, bunda dikamar" ucap Dara kembali duduk dan menenangkan Azka.


"Shhuut, ini bunda sayang. Azka bobok lagi ya?" ucap Dara mengelus kepala Azka hingga tertidur. Dara tersenyum dan mengecup pipi Azka dengan lembut.


"Anak bunda cepat besar" ucap Dara membenarkan selimut Azka, lalu ia pun beranjak keluar.


"Ara, ada apa sayang?" ucap Dara membuka pintu kamar Ara.


"Bunda, Ara mau papa. Ara mau dogendong papa" rengek Ara dengan mata dan hidung yang sudah memerah. Dara menghela napas berat, ia menghampiri Ara dan duduk disebelah sang putri.


"Sayang, papa sedang kerja. Ara dengan bunda aja ya? Kita pakai baju dulu, nanti sore papa pulang" ucap Dara mencoba membujuk Ara. Saat ini Ara memang masih memakai handuk biru kesukaannya.


"Ara mau mam kue bunda" ucap Ara dengan air mata yang mulai membendung.


"Ya sudah, kakak jangan nangis dong. Malu sama adek, adek aja bobok" ucap Dara mengelus kepala Ara dengan lembut.


"Sebentar ya, bunda ambilkan kue" ucap Dara yang langsung beranjak keluar.


"Ini kuenya" ucap Dara membawa sepotong kue dan duduk kembali disebelah Ara.


"Ara mau papa" rengek Ara kembali membuat Dara bingung, sejak Azka lahir Ara semakin manja dan sangat cengeng.


"Ara pake baju dulu ya? Nanti bunda telepon papa" ucap Dara, namun Ara hanya menggelengkan kepalanya.


Dara menghela napas gusar, jika Ara sudah seperti ini hanya Arham yang bisa membujuknya.


"Ya sudah, bunda telpon papa dulu ya?" ucap Dara dijawab anggukan oleh Ara. Dara pun mulai menelepon suaminya untuk meminta Arham pulang.

__ADS_1


"Papa sebentar lagi pulang, Ara pakai baju dulu ya sayang? Nanti masuk angin" ucap Dara, namun lagi-lagi Ara menolak.


"Assalamualaikum" ucap Arham yang tiba-tiba masuk kekamar sang putri.


"Wa'alaikumusalam" ucap Dara menatap Arham merasa bersalah.


"Tidak apa-apa" ucap Arham mengelus kepala Dara seakan ia mengerti apa yang ada dipikiran Dara. Lalu Arham tersenyum menatap Ara yang kini sedang menatapnya dengan mata dan hidung yang semakin memerah. Air matanya pun kini sudah siap untuk tumpah.



"Wah anak papa sudah mandi, makan apa?" ucap Arham membawa Ara kedalam gendonganya. Bukanya menjawab, Ara malah menenggelamkan wajahnya dileher Arham.


Dara yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya, ia berjalan menuju lemari untuk mengambil pakain Ara.


"Ara tidak mau pakai baju" ucap Dara memberikan baju Ara pada Arham. Arham mengangguk tanda mengerti.


"Mas, Dara kedapur sebentar. Sepertinya Ara lapar" ucap Dara yang dijawab anggukan oleh Arham. Mata sayu Dara membuat Arham sangat khawatir dengan kesehatan Dara. Arham tahu mengurus dua anak itu tidak mudah bagi Dara yang masih sangat muda.


"Bunda jahat, bunda lebih sayang adek. Ara juga mau dogendong terus dengan bunda" ucap Ara yang berhasil membuat Arham terkejut. Arham baru mengerti jika perubahan sikap Ara karena ia cemburu dengan adiknya.


"Siapa bilang bunda tidak sayang Ara? Bunda sayang Ara, tapi adek juga butuh bunda. Adek masih kecil sayang, bunda juga sayang Ara. Buktinya bunda selalu turutin kemauan Ara kan?"


Ara sama sekali tak bersuara, anak seumurannya tidak mungkin mengerti betapa repotnya sang bunda. Ia hanya ingin semua perhatian tertuju padanya.


"Ara pake baju dulu ya? Bunda masak makanan enak tuh, ayok kita lihat bunda masak apa?" ucap Arham sambil memakaikan baju Ara.


"Ara mau ayam goreng" rengek Ara sambil memakan kue yang masih tersisa ditanganya.


"Iya sayang, ayok" ucap Arham menggendong Ara untuk beranjak kedapur.

__ADS_1


"hy bunda sayang, masak apa?" tanya Arham menirukan suara Ara.


"bunda masak ayam kesukaan Ara, Ara pasti lapar kan?" ucap Dara.


"Iya bunda" ucap Ara dengan suara imutnya. Dara tersenyum dan kembali pokus menyelesaikan masakannya.


Tak berapa lama suara tangisan Azka pun pecah, Dara langsung berbalik menatap Arham.


"Ara duduk disini dulu ya? Papa ambil adek dulu" ucap Arham yang dijawab anggukan oleh Ara. Arham sedikit berlari untuk melihat Azka, sedangkan Ara hanya diam sambil menatap Dara yang masih sibuk memasak.


"Alhamdulillah" ucap Dara saat semua hidangan sudah tersusun rapi.


"Bunda, Ara mau bunda yang suap" rengek Ara sambil menatap Dara penuh harap.


"Siap tuan putri" ucap Dara sambil tersenyum lebar. Lelah memang mengurus dua anak sekaligus, tapi saat melihat mereka tersenyum semua menguap begitu saja. Itu lah yang selalu Dara rasakan setiap hari, tanggung jawabnya bukan hanya keluarga. Tapi ia juga harus berjuang untuk menyelesaikan pendidikannya.


"Bunda, Azka sepertinya haus. Dia tidak mau diam" ucap Arham yang muncul dengan Azka dalam dekapannya.


"Cup cup, anak bunda jangan nangis. Bunda minta maaf sayang" ucap Dara mengambil Azka dari Arham.


"Bunda, Ara mau disuap dengan bunda" rengek Ara dengan wajah kesalnya.


"Sini papa aja udah suap ya?" ucap Arham, namun Ara langsung menolak.


"Ara mau bunda" teriak Ara kembali menagis.


"Iya sini bunda suap" ucap Dara duduk disebelah Ara, ia menyuapi Ara sekaligus menyusui si kecil Azka.


"Maaf sayang, kamu pasti lelah" ucap Arham menatap wajah Dara yang terlihat sangat lelah.

__ADS_1


"Tidak apa-apa mas, ini sudah kewajiban Dara" ucap Dara tersenyum pada Arham, sedangakan Arham hanya bisa duduk dan terdiam menatap Dara.


'Kamu bukan hanya cantik sayang, kamu juga sangat bertanggung jawab. Maaf aku pernah menyia-nyiakan istri baik seperti kamu. Aku berjanji akan selalu membahagiakan kamu dan selalu ada disaat kamu butuh' batin Arham.


__ADS_2