Ketulusan Hati

Ketulusan Hati
79


__ADS_3

Pagi yang begitu cerah, tak ada sedikit pun pertanda awan mendung. Terlihat seorang wanita cantik sedikit berlari karena ia sudah terlambat untuk masuk kelas.


"Assalamualaikum" ucap wanita itu saat memasuki kelas. Namun bukan jawaban salam yang ia dapat, melainkan tatapan tajam dari sang dosen.


"Sudah berapa kali kamu terlambat Dara? besok kerjakan tugas dari saya. Saya tambah tugas khusus untuk kamu. Duduk!!" seru sang dosen. Dara hanya mengangguk mematuhi ucapan sang dosen.


Dara terlambat karena Azka sangat rewel dan tak bisa ditinggal begitu saja. Untung Hesti bisa membantu Dara hingga akhirnya Dara bisa berangkat kuliah. Saat ini hanya tinggal satu semester lagi menuju kelulusan, jadi Dara tetap semangat untuk melanjutkan kuliahnya.


Waktu seakan berjalan sangat cepat, hingga tak terasa pelajaran pun sudah selesai. Dara berjalan menyusuri lorong kampus untuk pulang, namun ia di kejutkan oleh sebuah tangan yang menempel di pundaknya.


"Aaaaa... " teriak Dara karena terkejut, ia langsung membalikan tubuhnya.


"MAS!!" seru Dara saat melihat ternyata Arham yang menyetuhnya.


"Maaf sayang" ucap Arham menarik Dara kedalam dekapannya.


"Mas lepasin, ini tempat umum" ucap Dara mendorong tubuh Arham. Arham tersenyum melihat wajah Dara yang merona karena malu.


"Kalau begitu ikut aku sebentar" ajak Arham yang langsung menarik tangan Dara.


"Mas kita mau kemana? Dara harus pulang kasian Ara sama Azka" protes Dara saat mereka sudah memasuki area parkir.


"Shhuut, Ara sama Azka baik-baik aja. Jangan berisik" ucap Arham sambil mendorong Dara masuk ke dalam mobil.


"Mas, Dara juga bawa mobil nan..."


Ucapan Dara langsung terpotong karena Arham terlebih dahulu menutup mulut Dara dengan telunjuknya.


"Jangan berisik" ucap Arham langsung menutup pintu mobil dan berjalan untuk masuk ke dalam mobil. Dara terlihat sangat kesal dengan sikap aneh Arham, tatapan tajam pun ia layangkan pada suaminya.


"Jangan menatapku seperti itu sayang... Nanti aku semakin jatuh cinta" ucap Arham menggoda sang istri yang sedang kesal. Dara yang mendengar itu hanya berdecak dan memalingkan wajahnya.


"Tidak ingin bertanya lagi kita mau kemana?" tanya Arham yang merasa bosan karena Dara sama sekali tak bicara. Dara menoleh kearah Arham dengan tatapan tajam.


"Maaf sayang" ucap Arham yang merasa ngeri dengan tatapan Dara.


"Sudah sampai" ucap Arham saat mereka sudah tiba didepan sebuah restoran bintang lima.

__ADS_1


"Mas, buat apa kita kesini?" tanya Dara menatap Arham penasaran.


"Ikut saja, ayok turun" ucap Arham turun dari mobil yang diikuti oleh Dara. Arham tersenyum menghampiri Dara, ia menggenggam tangan Dara dan membawa Dara masuk. Arham masuk ke sebuah ruangan khusus yang memang sudah ia pesan.


"Mas ini?...."


"Happy wedding anniversary honey" ucap Arham mencium kening Dara begitu lekat. Dara sangat terkejut dengan kejutan yang Arham buat, bahkan Dara hampir melupakan hari ulang tahun pernikahannya yang ke-4.


"Maaf, hanya ini yang bisa aku berikan" ucap Arham menatap wajah Dara, ia terus memiliki wajah Dara yang terlihat begitu lelah.


"Ini sangat berlebihan mas, kita bisa merayakan ini dirumah" ucap Dara.


"Aku hanya ingin membawa kamu refreshing, aku tahu kamu sangat lelah" ucap Arham mengelus wajah Dara. Dara menatap wajah Arham lumayan lama, lalu ia menatap hidangan diatas meja. Bukan, bukan hidangan yang menjadi pusat perhatian Dara, melainkan sebuah foto dirinya dengan Arham yang diambil beberapa tahun yang lalu.



"Mas, itu kan foto lama. Lihat Dara saja masih terlihat sangat muda" ucap Dara memukul dada Arham pelan.


"Sampai sekarang kamu masih cantik sayang" ucap Arham menangkup wajah Dara dengan kedua tangannya.


"Terimakasih" ucap Dara yang langsung memeluk Arham, ia benar-benar sangat bahagia.


"Kok mas tahu?" tanya Dara penasaran.


"Wajah kamu sangat pucat, jangan biasakan itu lagi. Kamu punya penyakit mag sayang" ucap Arham menatap Dara sayu.


"Dara janji tidak akan lupa makan lagi, ya sudah kita makan ya? Dara lapar" ucap Dara sambil mengelus perutnya. Ia tahu jika saat ini Arham merasa bersalah padanya, tapi Dara tidak ingin membuat Arham terus merasa bersalah hanya karena dirinya.


Arham tersenyum, ia membantu Dara duduk dan melayani Dara bak seorang putri.


"Mas, Dara bisa sendiri" rengek Dara.


"Kamu sangat bawel sayang" ucap Arham sambil meletakkan piring dihadapan Dara.


"Habis mas buat Dara kayak anak kecil" ucap Dara mengambil sendok dan garpu.


"Habiskan, kamu terlihat sudah kurusan" ucap Arham mentap Dara.

__ADS_1


"Mas tidak makan?" tanya Dara saat melihat Arham hanya menatap dirinya.


"Aku kenyang saat melihat kamu makan"


Dara yang mendengar itu memutar kedua matanya.


"Bukan mulut" ucap Dara menyuapi Arham. Arham tersenyum dan menerima suapan Dara. Mereka begitu terlihat bahagia dan terus tertawa bersama. Berbeda halnya dengan seorang wanita cantik yang kini tengah duduk dikursi paling pojok. Tatapan nya begitu kosong, air mata yang sudah lama ia bendung kini tumpah begitu saja.


Ia menahan agar isakannya tak keluar dan didengar oleh orang disebelahnya.


"Mas, Dara ketoilet sebentar ya?" ucap Dara bangkit dari tempat duduk.


"Jangan lama-lama sayang, aku akan rindu" ucap Arham mengedipkan matanya.


"Dara pergi ketoilet mas, bukan keluar kota" ucap Dara yang langsung pergi meninggalkan Arham yang tertawa melihat wajah lucu Dara.


"Dasar orang tua, sudah tua masih saja suka gombal" gerutu Dara sambil berjalan menuju toilet, namun tanpa ia sadari seseorang bangun dari tempat duduknya hingga tak sengaja mereka pun bertabrakan.


"Awhh,, maaf mbak" ucap seseorang yang menabrak Dara.


"Nissa!!" seru Dara saat ia melihat wajah wanita yang menabrak dirinya. Wanita itu pun sangat terkejut melihat Dara. Ia tak pernah menyangka jika dirinya akan bertemu dengan orang yang sudah lama ia hindari.


"Maaf, anda salah orang" ucap Nisaa yang langsung beranjak pergi meninggalkan Dara.


"Nissa tunggu" teriak Dara hendak mengejar Nissa, namun sebuah tangan terlebih dahulu menahannya.


"Ada apa? Katanya mau ketoilet?" tanya Arham sambil melihat kearah pintu.


"Nissa mas, Dara mau kejar dia" ucap Dara dengan begitu cemas bercampur bahagia bisa melihat kembali sahabat yang sudah lama tak ada kabar. Namun Dara sedikit khawatir karena ia sempat melihat wajah sembab Nissa.


"Kamu salah orang, mana mungkin Nissa pergi begitu saja saat melihat kamu. Jika itu Nissa, dia pasti masih disini" ucap Arham.


"Tapi mas... "


"Katanya mau ketoilet?" tanya Arham menarik wajah Dara untuk melihat dirinya. Dara menghela napas gusar, ia menatap Arham dan mengangguk.


"Setelah dari toilet kita pulang, kamu harus istirahat" ucap Arham.

__ADS_1


"Iya mas, Dara ketoilet sebentar" ucap Dara yang langsung pergi meninggalkan Arham, bayangan wajah Nissa pun terus berputar dipikiran Dara.


'Apa yang terjadi dengan kamu Nis? kenapa kamu sudah berubah?Kamu juga terlihat berbeda' batin Dara


__ADS_2