Ketulusan Hati

Ketulusan Hati
75


__ADS_3

"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Arham menatap sang dokter penuh tanda tanya.


"Alhamdulillah janinnya sehat dan tidak ada masalah. Hanya saja buk Dara harus banyak makan agar tubuh ibu lebih kuat, saya lihat buk Dara sedikit kurus" ujar sang dokter yang berhasil membuat Dara dan Arham bernapas lega.


"Terimakasih dok, lalu apa tidak ada pengaruhnya dengan kejadian yang lalu dok?" tanya Arham sambil menggenggam tangan Dara.


"Untuk masalah itu kita akan lihat kedepan, tapi saya rasa tidak jadi masalah. Rahim buk Dara juga sudah sangat kuat dan tidak ada masalah. Tapi kemungkinan besar ibu tidak bisa melahirkan secara normal. Semuanya itu tergantung dari kuasa Allah, perbanyak lah doa"


"Alhamdulillah, terima kasih dok. Kalau begitu saya akan melakukan saran dokter" ucap Dara tersenyum lebar, ia sangat bahagia tidak ada masalah dengan kehamilannya.


"Baik, tolong jaga pola makan istri anda tuan" ucap dokter yang dijawab anggukan oleh Arham.


"Kami permisi dulu dok, assalamualaikum" ucap Arham, lalu mereka pun beranjak pulang.


"Wa'alaikumusalam" ucap sang dokter sambil menatap kepergian Dara dan Arham.


"Mas sudah dengar kan? Jadi jangan takut lagi, insha allah Dara dan baby akan baik-baik aja" ucap Dara menatap Arham. Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil.


"Maaf, aku hanya tidak ingin kejadian dulu terulang kembali. Cukup sekali aku merasa hancur dan sangat menyesal. Kalian adalah hidupku dan akan selalu menjadi nafasku" ucap Arham mencium kening Dara.


"Dara tau mas" ucap Dara mengusap wajah Arham dengan lembut.


"Kamu lapar?" tanya Arham saat mendengar suara riuh yang berasal dari perut Dara. Wajah Dara pun seketika memerah bagaikan kepiting rebus.


"Maaf" ucap Dara menundukkan kepalanya karena sangat malu. Arham yang melihat itu pun tersenyum geli.


"Kenapa harus meminta maaf, mau makan apa?" ucap Arham mengelus pipi Dara.


"Pecel lele, tapi Dara mau mas yang buatkan" rengek Dara dengan memasang wajah memohon.

__ADS_1


"Ck, kamu tahu kan suami kamu ini tidak bisa masak? Jangankan pecal, masak air saja gosong" ucap Arham. Dara yang mendengar itu pun langsung tertawa.


"Gampang mas, kan sekarang jaman modern. Mas lihat aja caranya di youtube" ucap Dara begitu semangat.


"Huff, baiklah tuan putri yang terhormat" ucap Arham sambil mengelus kepala Dara. Lalu ia langsung melajukan mobilnya menuju rumah.


***


Dara terus memperhatikan Arham yang masih sibuk dengan ikan lele yang masih loncat-loncat didalam baskom. Sesekali Dara tertawa kecil melihat tingkah lucu suaminya itu yang tengah berusaha memenuhi keinginan dirinya.


"Nda, Ala mau es tim lasa cokat" ucap Ara yang berhasil mengejutkan Dara.


"Eh kok es krim lagi sih, Ara gak boleh setiap hari makan es krim coklat nanti giginya rusak? Ara mau nanti giginya hitam, kan jadi jelek Ara nya" ucap Dara sambil mencubit hidung mancung Ara. Ara menggelengkan kepalanya, ia menatap Dara begitu lekat.


"Ara minum susu aja ya? Biar bunda buatkan?" tanya Dara yang langsung dijawab gelengan oleh Ara, Ara juga langsung menutup mulutnya. Dara menghela napas, ternyata Ara sama persis dengan dirinya yang tak suka minum susu.


"Ya sudah, kalau begitu bunda ambilkan puding coklat ya buat Ara?" ucap Dara yang langsung dijawab anggukan oleh Ara. Ara memang tidak menyukai susu, tapi Dara selalu memiliki inisiatif untuk menambahkan susu kedalam makanan Ara walaupun hanya sedikit.


"Sepertinya, maafkan aku sayang. Aku tidak bisa diandalkan" ucap Arham merasa bersalah. Dara yang mendengar itu tersenyum, Ia bisa mengerti dari tadi Arham terus berjuang. Ya, walaupun pada akhirnya Dara juga yang turun tangan.


"Ya sudah, tunggu sebentar Dara ambilkan pudding untuk Ara dulu" ucap Dara.


"Sebaiknya kita makan diluar saja, kamu pasti sangat lapar" ucap Arham menahan tangan Dara.


"Tidak perlu mas, Dara masih bisa tahan. Masak sendiri itu lebih enak dan terjamin kesehatannya" ucap Dara tersenyum, lalu ia pun langsung beranjak pergi. Arham hanya menghela napas melihat kepergian istri keras kepalanya itu.


Tidak perlu memerlukan waktu yang lama hidangan sudah tertata rapi dimeja makan. Arham terus menatap Dara tanpa berkedip, hingga sebuah suara berhasil membuatnya terkejut.


"Papa" teriak Ara dengan kedua tangan yang terangkat.

__ADS_1


"Ada apa sayang? Ara mau ikut makan juga?" tanya Arham yang dijawab anggukan oleh Ara. Arham mengangkat tubuh kecil Ara kedalam gendonganya.


"Nda, tu ndak nak" ucap Ara menggelengkan kepalanya sambil menunjuk gelas berisi susu yang Dara pegang.


"Iya sayang, tapi bunda harus tetap minum" ucap Dara duduk disebelah Arham.


"Apa tidak mual?" tanya Arham.


"Dara tidak tahu mas, dulu waktu Ara juga tidak mual" ucap Dara, ia mulai meminum susu dengan pelan. Seperti biasa, Dara akan menutup hidungnya agar tak mencium bau susu yang sangat menyengat.


"Alhamdulillah" ucap Dara saat ia sudah berhasil menghabiskan segelas susu ibu hamil.


"Makan, kamu pasti sudah lapar" ucap Arham menuangkan nasi dan meletakkan ikan di piring Dara.


"Terimakasih, ini pasti enak. Sambal pecal ala chef Arham" ucap Dara dengan mata berbinar.


"Kamu berlebihan sayang, ini rasanya sama sekali tidak enak" ucap Arham menambahkan sayur dalam piring Dara.


"Em, enak mas. Sudah, jangan banyak sayurnya" ucap Dara menahan tangan Arham yang hendak menambahkan sayur.


"Kamu harus dengarkan ucapan dokter, makan makanan yang bergizi" ucap Arham. Dara menghela napas, ia tidak pernah menyangka jika Arham akan sebawel ini.


"Baik lah, Dara akan memakan semuanya. Jika Dara gendut, mas jangan lari" ucap Dara.


"Bagaimana aku bisa lari, hatiku sudah ada disini" ucap Arham mengelus Ara dan perut Dara bergantian. Dara hanya tersenyum sambil terus mengunyah makanan yang masih memenuhi mulutnya.


"Anak papa mau makan sayur? Papa suap" ucap Arham yang langsung ditolak oleh Ara. Arham memang sangat suka menggoda putri kecilnya itu. Ara mengoyangkan tangan Arham dan menunjuk ikan goreng.


"Ara mau?" tanya Arham yang dijawab anggukan oleh Ara.

__ADS_1


"Baiklah tuan putri, mari kita makan" ucap Arham begitu semangat. Dara yang melihat itu pun hanya bisa tersenyum bahagia, ia sangat senang bisa melihat keluarga kecilnya berkumpul bersama.


__ADS_2