
Jangan biarkan dunia luar mengguncang rumah tanggamu, tapi jadikan iman sebagai tiang yang kokoh agar rumah yang kini baru berdiri tak mudah goyang saat ditiup badai.
~Cut Dara Maristha~
"Jadi bagimana dengan keputusanmu?" tanya Syila menatap Nissa untuk menunggu jawaban. Dara pun ikut memandang Nissa.
"Aku tidak tahu, aku tidak bisa menolak keinginan papa. Tapi aku juga bingung, bahkan sampai sekarang aku belum melihat wajah pria yang akan dijodohkan denganku" jawab Nissa begitu pilu. Syila pun menatap Dara, Dara menggeleng pelan.
"Apa tidak bisa dibicarakan lagi Nis?" tanya Dara.
"Jika papa sudah bicara, aku tidak bisa membantah lagi Ra, Syil. Papa sudah terlalu banyak berkorban untuk aku dan mama. Jadi aku akan memutuskan untuk menerima perjodohan ini" ucap Nissa dengan begitu yakin, ia benar-benar tidak bisa mengabaikan keinginan orangtuanya yang sudah berjuang untuk membahagiakan dirinya.
"Terus meminta petunjuk Nis, insha allah semuanya akan berjalan dengan lancar" ucap Dara mengelus pundak Nissa.
"Ah, maaf. Tidak seharusnya kita membahas tentang aku, ini kan hari bahagia kamu Syila" ucap Nissa tersenyum pada Syila. Ya, saat ini mereka memang sedang berada dikamar Syila. Beberapa jam yang lalu acara resepsi pernikahan Syila dan Haikal pun selesai, jadi mereka memanfaatkan waktu untuk berkumpul.
"Permisi, maaf menganggu waktu kalian. Aku lelah, jadi bisa kalian keluar?" ucap seseorang yang tiba-tiba muncul didepan pintu. Ketiga wanita cantik itu pun langsung menoleh dan mendapatkan Haikal sudah berdiri disana dengan balutan tuxedo yang begitu pas ditubunya.
"Maafkan kami yang mulia sudah menculik istri anda. Nissa mari kita keluar" ucap Dara yang langsung menarik Nissa.
"Syil, semoga sukses" ucap Nissa yang berhasil membuat pipi Syila merona.
"Bang, Ara menunggu temannya tuh" bisik Dara saat ia berpapasan dengan Haikal. Haikal yang mendengar itu pun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dara dan Nissa langsung keluar dari kamar Syila sambil tertawa, keduanya menutup pintu dengan pelan.
"Dara!!" Seru seseorang yang berhasil membuat Dara dan Nissa terkejut.
"Ya ampun anak ini, bunda kira kamu kemana? Pergi ke kamar, Ara menangis dari tadi. Kasian Arham sendirian mengurus Ara" ujar Zahra menghampiri Dara dan Nissa.
"Ya ampun, Dara lupa bun. Ya sudah, Dara pergi kekamar dulu. Assalamualaikum" ucap Dara yang langsung berlari, Zahra yang melihat tingkah ibu satu anak itu pun hanya bisa menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Nissa, bunda harap kamu tidak seperti Dara saat kamu sudah menikah. Masih saja seperti anak kecil" ucap Zahra pada Nissa, Nissa yang mendengar itu pun hanya bisa senyum dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ara, maafkan bunda sayang" ucap Dara saat ia masuk kekamar dan melihat Ara menangis di pelukan Arham.
"Kamu kemana aja sih?" tanya Arham dengan nada kesal. Bagaimana tidak, Ara sudah setengah jam menangis.
"Maaf mas, tadi Dara ngobrol dengan Syila dan Nissa" ucap Dara merasa bersalah, ia menggendong Ara sambil terus mengelus punggung putri kecilnya.
"Ara haus, sebaiknya kamu susui dia dulu" ucap Arham yang langsung keluar dari kamar, Dara semakin merasa bersalah karena sudah membuat Arham marah.
"Bunda minta maaf sayang" ucap Dara mencium pipi Ara dan mulai menyusui Ara.
"Bunda tinggal sebentar ya?" ucap Dara menidurkan Ara yang sudah dari tadi tertidur. Ia pun beranjak dari kamar untuk mencari keberadaan suaminya.
"Kamu dimana sih mas?" tanya Dara sambil melihat kiri dan kanan untuk mencari keberadaan suaminya. Suasana rumah memang masih sangat ramai oleh para tamu. Namun langkah Dara terhenti saat melihat Arham sedang mengobrol dengan seorang wanita cantik dengan pakaian yang lumayan terbuka. Wanita itu melihat keberadaan Dara, ia tersenyum puas.
"Ya ampun ham, aku kangen banget sama kamu" ucap wanita itu dan langsung memeluk Arham. Arham sangat terkejut dan seketika tubuhnya menegang. Ia sama sekali tidak mengerti dengan sikap temannya itu.
"Selamat berjuang Ham, siapa suruh dulu kamu mengerjai aku hanya untuk membuat istri kamu cemburu. Sekarang aku mengabulkan semua itu, haha" ucap wanita itu begitu bahagia sudah berhasil mengerjai temannya. Arham mengerang kesal, ia melepaskan tangan wanita itu dan langsung menyusul Dara.
"Sayang dengarkan aku dulu" ucap Arham menarik tangan Dara.
"Tidur diluar, jangan ikuti Dara" ucap Dara melepaskan tangan Arham dan langsung masuk kekamar.
"Sayang, dengarkan dulu. Jangan seperti ini" ucap Arham menggedor pintu kamar. Namun Dara sama sekali tak menghiraukan teriakan Arham. Ia tidak perduli jika orang lain mendengarnya, saat ini ia hanya sibuk dengan hatinya yang memanas.
"Dasar laki-laki, kenapa tidak menolak sih? Sudah punya istri juga masih saja gatal, keterlaluan" ucap Dara sambil mengusap pipinya yang basah dengan kasar. Ia menarik selimut dan langsung menenggelamkan tubuhnya disana.
"Papa kamu keterlaluan sayang" ucap Dara memeluk Ara dengan lembut, ia memejamkan matanya.
__ADS_1
Sudah beberapa jam Dara berusaha memejamkan matanya, namun ia belum juga bisa tidur. Biasanya Dara akan tidur dalam dekapan hangat Arham, namun kali ini ia sedang merajuk dan lebih memilih diam. Dara berulang kali memejamkan matanya, namun belum juga berhasil masuk kealam mimpi.
"Ck, ok malam ini aku ngalah" ucap Dara menyibak selimutnya dan beranjak menuju pintu. Dengan ragu ia memutar knop pintu, sedikit demi sedikit pintu terbuka. Namun Dara harus kecewa karena ia sama sekali tidak menemukan Arham disana.
"Lihat, bahkan dia sama sekali tidak mau berjuang. Ck, salah ya jika istri cemburu melihat suaminya mesra dengan orang lain?" omel Dara, ia hendak menutup pintu namun sebuah tangan sudah terlebih dahulu melingkar diperutnya.
"Yang namanya mesra itu seperti ini, apa kamu tidak lihat tadi aku sama sekali tak membalas pelukkannya. Hanya kamu yang selalu membuat aku nyaman Dara" ucap Arham menyadarkan dagunya dileher Dara.
"Tapi mas menikmatinya" ucap Dara ketus. Arham yang mendengar itu hanya tersenyum, ia sangat senang karena mengetahui jika saat ini istri cantiknya sedang cemburu.
"Benarkah? Bagaimana aku menikmatinya?" tanya Arham menggoda Dara.
"Mas, jangan buat Dara marah" ucap Dara sangat kesal.
"Maaf sayang, aku tidak tahu jika dia akan memelukku dengan tiba-tiba. Jujur aku sama sekali tidak senang, aku merasa bersalah. Maafkan aku" ucap Arham begitu tulus. Dara terdiam sesaat untuk mencerna ucapan Arham.
"Jika kamu marah, mas akan terima itu. Tapi jangan suruh mas tidur diluar, mas tidak bisa tidur tanpa kamu" ujar Arham dengan nada sendu.
"Sama mas, Dara juga" ucap Dara dalam hati, yang benar saja Dara akan mengatakan hal itu. Mungkin saja jika saat ini ia tidak dalam kondisi merajuk.
"Lepaskan mas, Dara ngantuk" ucap Dara melepaskan pelukan Arham dan beranjak menuju ranjang. Arham tersenyum melihat tingkah istrinya yang semakin hari semakin menggemaskan. Dara tidur disebelah Ara dengan posisi membelakangi Arham.
"Yakin tidak mau dipeluk?" ucap Arham menarik selimut dan hendak tidur membelakangi Dara. Namun dengan cepat Dara membalikan tubuhnya.
"Ck, ngeselin" ucap Dara yang langsung memeluk Arham dan menenggelamkan wajahnya di dada Arham.
"Jangan bergerak" ucap Dara saat Arham hendak membenarkan posisinya agar lebih nyaman.
"Baiklah tuan putri" ucap Arham mengurungkan niatnya untuk mencari posisi nyaman, ia memeluk Dara dengan erat dan mencium pucuk kepala Dara sebelum memejamkan matanya. Bibir tipis Dara tertaut membentuk bulan sabit, ia sangat senang karena saat ini Arham benar-benar sangat mencintai dirinya.
__ADS_1
'Dara harap kita akan terus bersama hingga Jannah mas' batin Dara.