
"Kamu!!" wanita itu terkejut bukan main. Namun dengan cepat ia mengubah ekspresinya.
"Maaf mengganggu, tolong katakan apakah Nissa ada disini?" tanya pria itu dengan wajah setengah prustasi.
Wanita itu mengernyit bingung, ia menatap pria itu dari ujung kaki hingga kepala. Penampilan yang cukup membuat hatinya iba.
"Maaf, tapi Nissa tidak ada disini. Bukankah Nissa dirumah sakit?" tanya wanita itu bingung.
"Sayang, siapa yang datang?" teriak seorang, lalu tak lama muncul seorang pria sambil menggendong seorang bayi.
"Ah, bukan kah anda suami Nissa? Kenapa tidak disuruh masuk sih bun?" ucap pria itu tersenyum menatap sang istri.
"Tidak perlu, aku kesini hanya untuk mencari istriku. Tapi sepertinya dia tidak ada disini, aku pamit dulu. Assalamualaikum" ucap pria itu yang langsung beranjak pergi.
"Wa'alaikumusalam" Pria yang menggendong bayi itu pun menatap istrinya bingung. Begitu pun sebaliknya.
"Mas, apa terjadi sesuatu dengan Nissa? Kemana Nissa pergi? Bukankah hari ini Nissa sudah bisa pulang kerumah? Dan dia mengatakan jika dia akan pulang kerumahnya" tanya Wanita itu yang tak lain adalah Dara. Ia menatap Arham penuh dengan kekhawatiran.
"Jangan berfikir buruk dulu, mungkin saja Nissa pergi kesuatu tempat. Sudah lah, kita akan cari tahu lagi nanti. Kasian Azka haus" ujar Arham memberikan Azka pada Dara. Dara mengangguk dan kembali masuk kedalam rumah.
"Mas, bagaimana jika Nissa benar-benar pergi?" tanya Dara setelah menidurkan Azka. Ia duduk disamping suaminya.
"Sudah mas katakan bukan, mungkin Nissa kesuatu tempat ada keperluan. Lebih baik kamu hubungi dia, siapa tahu dia sudah pulang" ucap Arham mengelus kepala Dara.
"Iya mas, kamu benar. Kenapa tidak dari tadi Dara telepon Nissa" Dara langsung berjalan menuju nakas untuk mengambil ponselnya. Tanpa banyak bicara ia langsung menelepon Nissa.
"Tidak tersambung mas" ucap Dara kembali duduk di sebelah Arham. Rasa cemas terpancar di wajah cantiknya.
"Hubungi Syila, mungkin dia tahu" ucap Arham. Dara menatap Arham untuk berfikir. Lalu ia bangun dari duduknya dan mengetik sesuatu di ponselnya. Dara terus mondar-mandir sambil sesekali menatap ponselnya. Arham yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia sudah sangat hafal bagaimana sikap istri tercintanya itu.
BUUKK
Dara menabrak dada bidang suaminya yang tak ia ketahui sudah berada di belakangnya sedari tadi.
"Mas, sakit tau gak?" ucap Dara sambil mengelus hidung bangirnya. Arham yang melihat itu pun tertawa renyah.
__ADS_1
"Habis kamu udah kayak setrikaan aja bolak balik gak jelas." ucap Arham mencubit pipi Dara.
"Mas!!" kesal Dara, ia memukul lengan Arham. Dara duduk di tepi ranjang dengan bibir yang mengerucut. Arham pun ikut duduk disebelah Dara.
"Mas, bagaimana jika terjadi sesuatu pada Nissa? Bagaimana jika dia nekad melakukan hal yang buruk?" ujar Dara memeluk Arham, Ia menangis dipelukan Arham.
"Shhuut... Jangan berfikir macam-macam. Dia tidak mungkin melakukan hal itu, percayalah. Nissa hanya perlu waktu untuk menerima keadaan. Alan bersamanya, jadi tidak mungkin dia melakukan hal buruk" Arham mengelus punggung Dara untuk menenangkannya.
"Lalu kemana dia pergi? Dia sudah tidak punya siapapun mas, kemana Nissa pergi?"
"Sayang, sudah lah. Mas yakin Nissa akan baik-baik aja, jangan menangis lagi. Nanti Ara dengar kamu nangis bisa runyem urusannya" ucap Arham yang berhasil membuat Dara diam. Dara melepaskan pelukanya dan kini malah memukul Arham.
"Dara sedang sedih mas" ucap Dara mengerucutkan bibirnya. Arham tersenyum geli melihat tingkah lucu istrinya.
"Dengar sayang, setiap rumah tangga memiliki masalah masing-masing. Kita tidak bisa ikut campur urusan mereka, biarkan mereka menyelesaikan semuanya sendiri." Arham memegang kedua tangan Dara dan menatap mata indah itu begitu lekat. Dara mengangguk dan kembali memeluk Arham.
"Ya sudah, makan yuk. Lapar" ucap Arham. Dara tersenyum dan mengangguk.
"Maaf udah bikin mas kelaparan" ucap Dara menatap Arham lekat.
"Maaf nya nanti aja pas lebaran" gurau Arham. Dara tertawa mendengar hal itu, Arham selalu saja bisa membuat Dara tertawa. Kedua insan itu pun segera beranjak menuju ruang makan.
Seorang wanita kini tengah berdiri didepan jendela yang cukup besar. Mulutnya terkunci rapat dan hanya tatapan kosong yang ia tunjukkan. Sesekali tanganya mengusap perutnya. Lalu air butiran bening itu kembali lolos membasahi pipinya.
Diambang pintu, seorang wanita seumuran dengannya hanya bisa diam menatap dirinya. Helaan nafas itu terdengar lembut. Ia mulai berjalan untuk mendekat.
"Nissa, sudah cukup. Jangan seperti ini sayang, kamu harus melupakan semuanya dan melanjutkan hidup kamu. Ikhlas kan anak itu" ujar wanita berhijab itu menarik bahu sahabatnya dengan lembut. Mata sayu itu pun bertemu dengan mata yang memancarkan kehangatan.
"Kenapa semuanya terjadi padaku Syil? Kenapa dia mengambil anakku?" Nissa memeluk Syila dan menangis tersedu dalam dekapan hangat sahabatnya.
"Shhuut, jangan bicara seperti itu. Allah ingin menguji kesabaran hambanya. Kamu harus sabar dan tabah, Allah memiliki rencana yang lebih indah."
"Dengar sayang, tidak ada yang tahu apa yang akan Allah rencanakan. Mungkin setelah ini dia akan menggantinya dengan yang lebih baik. Jangan berburuk sangka pada yang maha kuasa Nis, perbanyak Istigfar" Syila mengelus pundak Nissa dengan lembut. Nissa memang memutuskan untuk pulang bersama Syila, karena ia tahu jika dirinya pulang ke rumah Dara. Maka Arnold akan dengan mudah menemukan dirinya. Bahkan Nissa juga tidak memberi tahu hal ini pada Dara. Dia sangat hafal bagaimana sifat sahabatnya yang tak akan pernah bisa berbohong.
"Mama" ucap seseorang diambang pintu. Alan, ya si kecil tampan yang kini tengah menatap Nissa dan Syila.
__ADS_1
Nissa menghapus air matanya dan berusaha untuk tersenyum. Ia tidak mau menunjukkan kesedihan pada putranya.
"Sini sayang" ucap Nissa melambaikan tanganya. Alan tersenyum dan langsung berlari kepelukan Nissa.
"Ah anak mama, maaf sayang mama jarang bermain dengan kamu. Alan sudah makan?" ucap Nissa yang dijawab anggukan oleh Alan.
"Alan sudah makan, tinggal kamu yang belum makan" ucap Syila duduk ditepi ranjang. Ia tersenyum saat melihat kasih sayang yang Nissa berikan pada Alan. Bahkan ia tahu jika Alan bukan lah anak kandungnya.
"Aku belum lapar, kamu juga harus banyak makan. Supaya baby nya sehat" ucap Nissa menatap perut Syila yang membuncit. Syila tersenyum dan mengelus perutnya.
"Itu pasti, akhir-akhir ini aku sering lapar. Dan lihat hasilnya, pipiku sudah seperti bakpau" ucap Syila. Nissa yang mendengar itu pun tertawa renyah. Syila sangat bahagia karena bisa melihat dan mendengar kembali tawa sahabatnya itu.
"Syil, apa Dara akan marah aku tidak memberi tahunya dan aku juga sudah berbohong padanya?" tanya Nissa begitu khawatir.
"Tidak Nis, Dara akan mengerti keadaan kamu sekarang. Hanya saja, jika suami kamu datang kerumah nya dan menanyakan kamu. Aku yakin dia pasti sangat khawatir" ujar Syila. Nissa mengigit bibirnya, ia sangat merasa bersalah pada Dara. Karena masalahnya, semua sahabatnya harus ikut serta.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh. Kita itu sudah lama bersahabat. Masalah kamu adalah masalah aku, begitu pun sebaliknya Nis. Kita akan melewatinya sama-sama. Aku dan Dara akan selalu ada untuk kamu" ujar Syila yang bisa membaca pikiran sahabatnya itu. Nissa tersenyum, ia kembali memeluk Syila.
BRAAKK
Suara gebrakan meja berhasil membuat orang yang ada di ruangan itu terkejut. Pria bertubuh tegap itu berdiri dengan dua tangan bertumpu pada meja. Tangannya memerah akibat ulahnya sendiri. Wajah dan matanya pun tak kalah merah. Marah. Itu lah yang saat ini ia rasakan. Sudah hampir tiga hari ia belum juga mendapatkan kabar tentang istrinya. Pikirannya sangat kacau dan banyak pekerjaan yang terbengkalai.
"Maaf tuan, ada beberapa klien ingin membatalkan kontrak dengan perusahaan kita. Mereka kurang puas dengan hasil yang kita peroleh, jadi... "
"DIAM!!! Katakan pada mereka yang bodoh itu aku tidak perduli jika mereka ingin membatalkan kontrak. Sekarang tugas kalain hanya satu, temukan istriku secepatnya. Jika tidak aku akan pecat kalain semua. Persetanan dengan klien, aku tidak perduli lagi!!" Pria itu benar-benar dikuasai oleh amarah. Semua orang terdiam tak berani bicara.
"Kami akan melakukan perintah anda tuan. Permisi" ucap salah seorang pria berpakaian serba hitam itu sambil menunduk. Ia memberikan kode pada yang lain untuk segera keluar dari ruangan yang penuh dengan aura dingin itu. Pria itu juga memberi hormat pada pria yang memakai tuxedo navy sebelum meninggalkan ruangan. Rey Anggara, asisten pribadi Arnold.
"Rey, bagaimana dengan kedua wanita itu?" tanya Arnold kembali duduk di kursi kerjanya. Ia memijat pelepisnya yang berdenyut hebat.
"Mereka sudah diasingkan di pulau terpencil, tanpa identitas dan tanpa apapun." ucap Rey menjawab pertanyaan tanpa menatap tuannya.
"Bagus, pastikan mereka benar-benar menderita. Jika bukan karena dia yang sudah merawatku, aku sudah menghabisi mereka" ujar Arnold penuh penekanan.
"Tuan, saya sedikit mendapat informasi jika nyonya memiliki satu teman lagi. Kemungkinan nyonya ada disana, kerena kami sudah memastikan jika nyonya tidak ada di rumah buk Dara" ujar Rey yang berhasil membuat Arnold bangun dari duduknya.
__ADS_1
"Bawa aku kesana sekarang! Aku sangat merindukan istriku" ucap Arnold menarik jas miliknya dan langsung beranjak keluar. Rey pun mengikutinya dari belakang.
'Aku tidak akan pernah melepaskan kamu Nissa. Tidak akan pernah. Jika kau lari keujung dunia pun, aku pasti akan menemukan dirimu'