Ketulusan Hati

Ketulusan Hati
77


__ADS_3

"Bagaimana kabar Nissa?" tanya Dara menatap sahabat yang sekaligus kakak iparnya.


"Belum ada, terakhir kali dia menghubungi aku empat bulan yang lalu" ucap Syila sambil menggendong baby Azka. Bayi mungil itu diberi nama Azka Mahesha Pratama.


"Aku khawatir Syil, hatiku tidak enak terus" ucap Dara menatap Syila.


"Aku juga, tapi kita tidak boleh berprasangka buruk dulu. Mungkin Nissa sibuk dan ikut dengan suaminya" ucap Syila, Dara pun mengangguk menyetujui ucapan Syila.


"Oh iya, sudah berapa bulan?" tanya Dara sambil menatap perut Syila yang sudah sedikit membuncit.


"Baru masuk 3 bulan" ucap Syila.


"Hampir tiga tahun kalian benar-benar menundanya?" ucap Dara tak percaya.


"Aku juga tidak menyangka abang kamu begitu sabar, kak Haikal benar-benar ingin aku menyelesaikan dulu pendidikan" ucap Syila tersenyum.


"Itu lah bang Ical, dia akan memberikan yang terbaik untuk orang yang ia cintai. Kamu sangat beruntung mendapatkan pria yang satu itu" ucap Dara sambil melipat pakaian Azka.


"Ya, kamu benar Ra aku memang beruntung. Cepat nyusul, bulan depan aku wisuda. Jangan kelamaan, nanti keburu tua" ucap Syila tertawa renyah.


"Insha Allah menyusul kok" ucap Dara ikut tertawa.


"Oh iya Ra, melahirkan itu sakit banget ya?" tanya Syila.


"Emm... Sakit sih, tapi disitu kita bisa merasakan betapa hebatnya perjuangan seorang ibu. Jangan takut, kamu akan memiliki kesan sendiri" ujar Dara sambil mengedipkan matanya.


"Aku juga mau melahirkan secara normal, semoga aja bisa" ucap Syila.


"Insha Allah bisa, banyak berdoa dan jaga pola makan" ucap Dara.


"Pasti itu, kamu juga bantu doa Ra" ucap Syila.


"Aku selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian" ucap Dara tersenyum. Lalu tak lama ponsel Syila pun berdering, ia langsung memberikan Azka pada Dara.


"Eh, Nissa" ucap Syila menunjukkan ponselnya pada Dara jika Nissa yang menelepon.

__ADS_1


"Angkat, cepat!!" seru Dara, Syila pun mengangguk dan langsung menerima telpon.


"Hallo, assalamualaikum Nissa" ucap Syila.


"Wa'alaikumusalam" ucap Nissa disebrang sana, tapi ada yang aneh dengan suara Nissa.


"Nis, kamu nangis?" tanya Syila khawatir, Dara pun terdiam sambil menatap Syila.


"Enggak Syil, aku cuma flu. Bagaimana kabar kalian? Aku dengar Dara sudah melahirkan ya?"


"Alhamdulillah kami baik Nis, kamu gimana? Iya, Dara sudah melahirkan bayi laki-laki" ucap Syila sambil terus menatap Dara.


"Alhamdulillah kalau begitu, aku sangat merindukan kalian"


"Kami juga rindu kamu Nis, kapan kita bisa kumpul lagi?" tanya Syila.


"Entah lah, eh Syil. Udah dulu ya, suami aku manggil. Dah, assalamualaikum"


Tut tut tut


"Wa'alaikumusalam"


"Ada yang aneh, kamu dengar suara anak kecil nangis gak Ra?" tanya Syila yang curiga dengan sikap aneh Nissa.


"Iya, aku dengar juga. Apa Nissa sudah punya anak? tapi dia tidak pernah menceritakan jika dia hamil" ucap Dara.


"Ya Allah, semoga apa yang ada dipikiran kita tidak benar" ucap Syila menghela napas.


"Aamiin, semoga" ucap Dara yang tak yakin dengan ucapannya. Pikirannya terus menerawang pada kehidupan Nissa yang penuh teka teki. Sebagai sahabat, Dara harusnya tahu tentang kehidupan Nissa. Namun ia sama sekali tak mengetahui kehidupan sahabatnya itu. Beberapa tahun ini Nissa sama sekali tidak memberi kabar pada Dara maupun Syila.


***


Dara mencium kedua pipi Ara dan Azka bergantian. Ia tersenyum melihat putra dan putrinya tertidur begitu pulas.


"Anak bunda tampan sekali" ucap Dara mencubit hidung Azka pelan. Ia begitu gemas melihat Azka yang tertidur begitu pulas.

__ADS_1



"Sayang, mereka sudah tidur?" tanya Arham yang baru masuk kekamar.


"Sudah mas, mereka tidur sangat pulas" ucap Dara.


"Bunda juga harus tidur, seharian sudah menjaga Ara dan Azka" ucap Arham memeluk Dara dari belakang.


"Iya mas, Dara juga mau tidur. Tapi seperti biasa, harus dipeluk" ucap Dara membalikan tubuhnya menghadap Arham.


"Baiklah ratuku, tapi kamu gemukan bagaimana aku memeluknya?" ucap Arham menggoda istrinya. Dara memang sedikit gemukan, tapi tidak terlalu gemuk dan Dara masih terlihat sangat cantik.


"Mas lupa kalau dulu mas yang suruh Dara gemuk. Terus sekarang kenapa bicara seperti itu?" ucap Dara membelakangi Arham.


"Aduh, bunda kok marah sih. Papa kan cuma bercanda, bunda tetap cantik dan akan selalu ada dihati papa" bisik Arham sambil memeluk Dara dari belakang.


"Gombal" ucap Dara yang kemudian merebahkan tubuhnya membelakangi Arham.


"Selamat malam sayang" ucap Arham ikut merebahkan diri, ia mengecup kelapa Dara dengan lembut. Lalu keduanya langsung terlelap kedalam mimpi.


Disebuah kamar yang cukup besar terlihat seorang wanita terus menatap langit-langit. Entah apa yang sedang ia pikirkan, hingga ia tak menyadari sepasang mata sedari tadi terus memperhatikan dirinya.


"Sudah cukup melamunnya hah?" Suara itu berhasil membuat dirinya terkejut.


"Ck, kaget kak. Kalau Syila jantungan gimana?" ucap Syila sedikit kesal dengan suaminya itu.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Haikal menarik Syila kedalam dekapannya.


"Nissa, seperti ada yang dia sembunyikan. Sudah hampir dua tahun kami jarang berkomunikasi, tadi siang Nissa menghubungi Syila lagi. Tapi dia sangat aneh, Syila takut terjadi sesuatu pada Nissa" ujar Syila.


"Jangan khawatir, dia akan baik-baik saja. Dia juga sudah memiliki keluarga sendiri, setiap rumah tangga pasti punya jalan sendiri sayang. Sudah jangan terlalu dipikirkan, kamu harus istirahat kasian anak kita" ucap Haikal mengelus perut Syila yang sudah mulai terlihat buncit.


"Jika terjadi sesuatu Syila akan merasa bersalah kak, bagaimana pun Nissa adalah sahabat Syila. Kami sudah berjanji untuk saling membantu dan terus bersama saat senang maupun susah" kini Syila sudah tidak bisa membendung air matanya. Ia mencengkram erat baju Haikal.


"Dengarkan aku, Nissa akan baik-baik saja sayang. Jangan seperti ini, tidak bagus untuk kesehatan kamu. Besok kita akan mencari tahu dimana Nissa berada, tidurlah" ucap Haikal menenangkan Syila, ia tahu jika istrinya sangat peduli pada sahabat karibnya. Syila bukanlah orang yang mudah melupakan orang yang dekat dengan dirinya, ia begitu setia dan sangat perhatian. Itu lah kenapa Haikal begitu mencintai Syila, ia satu-satunya wanita yang sudah mencuri hati Haikal sejak pandangan pertama.

__ADS_1


"Tidur ya? Jangan menangis lagi" ucap Haikal mencium kening Syila, Syila pun mengangguk dan semakin merapat untuk mencari kenyamanan.


"Terimakasih" ucap Syila yang kemudian langsung terlelap karena ia sudah sangat mengantuk. Hening malam membuat kedua insan itu semakin dalam masuk ke alam mimpi.


__ADS_2