
"Keadaannya masih sangat lemah, dalam dua bulan ini perkembangan jantungnya lumayan membaik. Tapi berdoa lah agar adik anda segera sadar dari koma, karena dalam keadaan sadar kita akan lebih mudah melakukan perawatan lebih lanjut" ujar sang dokter.
"Terimakasih dok, kami terus berdoa untuk hal itu" ucap Haikal menjabat tangan sang dokter. Lalu keduanya beranjak keluar dari kamar. Ya, saat ini Dara memang melakukan perawatan dirumah karena Haikal yang mengawasi perkembangan Dara.
"Ical, bagimama keadaan adik kamu? Apa ada tanda jika Dara akan segera sadar?" tanya Zahra menyetuh lengan Haikal.
"Bunda banyak berdoa" ucap Haikal memeluk Zahra.
"Bunda sangat merindukan Dara" ucap Zahra menangis di pelukan Haikal.
"Ical juga bun, kita semua merindukan Dara" ucap Haikal mengelus punggung Zahra.
Flashback off
"Jangan biarkan adik anda menerima tekanan dan kenyataan yang membuat keadaannya semakin drop karena saat ini jantungnya sangat lemah. Untuk ingatannya biarkan itu pulih sendiri dan jangan memaksanya karena itu akan membahayakan kesehatannya. Ingatannya akan pulih secara perlahan"
Ucapan dokter terus mengiang di telinga Haikal, ia juga tidak ada maksud untuk menyembunyikan semuanya dari Dara. Tapi saat ini bukan waktu yang tepat untuk jujur pada Dara karena kondisinya masih sangat lemah.
"Ical, makan dulu nak" ucap Zahra menghampiri Haikal yang masih termenung di balkon kamar.
"Sebentar lagi bun, Ical masih memikirkan dari mana Ical akan berkata jujur pada Dara" ucap Haikal.
"Kita akan memikirkan ini sama-sama, makan dulu. Beberapa bulan ini kamu terlalu sibuk mengurus adik kamu, lihat kamu terlihat sangat kurus" ujar Zahra mengelus pundak Haikal.
"Iya bunda, Ical akan makan" ucap Haikal tersenyum pada Zahra.
"Ya sudah, kita makan sama-sama" ucap Zahra, lalu keduanya beranjak keluar dari kamar menuju ruang makan.
***
"Arham, kamu mau kemana sudah rapi? Ini kan hari minggu?" tanya Hesti saat melihat Arham sudah sangat rapi sambil mendorong stroller bayi.
__ADS_1
"Arham ingin membawa Ara cek up ma, mama lupa?" ucap Arham menatap Hesti.
"Ya ampun, mama lupa. Mama belum siap-siap" ucap Hesti yang langsung bangun dari duduknya.
"Mama istirahat aja di rumah" ucap Arham.
"Baiklah, jaga cucu mama" ucap Hesti yang di jawab anggukkan oleh Arham. Arham membawa stroller ke dalam mobil dan kembali ke kemar untuk menjemput Ara.
"Anak papa sudah cantik" ucap Arham menggendong Ara dan mencium pipi Ara dengan gemas.
"Hati-hati sayang, jangan ngebut. Wah cucu oma cantik sekali" ucap Hesti mencium pipi Ara.
"Arham pamit ma, Assalamualaikum" ucap Arham mencium tangan Hesti.
"Wa'alaikumusalam"
"Bagaimana perkembangan anak saya dok?" tanya Arham pada dokter anak yang menangani Ara.
"Alhamdulillah, terima kasih dok" ucap Arham begitu bahagia mendengar pemaparan sang dokter.
"Kalau begitu saya pamit dulu dok, anak saya sudah tidak mau diam" ucap Arham saat Ara sudah mulai gelisah dan tidak mau diam.
"Iya silahkan pak" ucap dokter mengangguk, Arham pun langsung keluar karena Ara sudah mulai menagis.
"Suuuttt, anak papa tidak boleh nangis" ucap Arham memenangkan Ara yang kini sedang menangis.
"Iya sayang, kita pulang ya? Kita pulang" ucap Arham menidurkan Ara dalam stroller bayi. Namun bukannya diam, Ara semakin kencang menagis.
"Ya ampun anak papa, maaf sayang" ucap Arham kembali menggendong Ara.
"Ara gak suka ya di rumah sakit? Kita pulang kok, Ara jangan nangis" ucap Arham, semua orang yang melihat Arham pun berdecak kagum. Sangat jarang seorang ayah sendirian memawa anaknya ke rumah sakit. Hal itu pun tak luput dari pandangan seorang pria yang memakai jas putih, ia berdiri tak jauh dari posisi Arham.
__ADS_1
"Kau merawatnya dengan baik" ucap pria itu menyeringai dan langsung pergi.
"Hai pak" ucap seseorang saat Arham hendak masuk ke dalam mobil, Arham menoleh dan mendapatkan Linda bersama seseorang. Arham terdiam saat melihat orang yang kini berdiri di sebelah Linda.
"Pak, perkenalkan. Ini kakak saya, Hilda.
Kak ini... "
"Maaf, saya harus pulang" ucap Arham hendak masuk ke dalam mobil, namun di tahan oleh Linda.
"Ini anak bapak? Ya ampun lucunya" ucap Linda hendak menyentuh Ara, namun langung di tahan oleh Arham.
"Tolong jaga sikap kamu Linda" ucap Arham begitu diingin, ia mantap Linda sekilas lalu langsung masuk ke dalam mobil.
"Pak tunggu, saya... "
"Dek cukup, jadi dia yang ingin kamu kenalin sama kakak?" tanya Hilda menatap sang adik lekat.
"Iya kak, dia yang sudah menolong Linda" ucap Linda begitu semangat.
"Kamu gila, dia sudah punya istri" ucap Hilda menatap sang adik tak percaya.
"Linda tahu kak, tapi istrinya kan sudah meninggal" ucap Linda yang berhasil membuat Hilda terkejut.
"Me--meninggal, Dara meninggal?" tanya Hilda sedikit bergetar.
"Kakak kenal? Jadi kakak juga kenal degan pak Arham" ucap Linda begitu berbinar.
"Kalau begitu kakak harus dukung aku buat dekat dengan pak Arham, kakak harus..."
"Cukup Linda, sampai kapan pun dia tidak akan mau berhubungan dengan kita. Kakak sudah membuat dia kecewa, dia tidak akan pernah menerima kamu" ujar Hilda yang langsung beranjak pergi. Linda yang mendengar itu hanya diam sambil menatap kepergian Hilda, Linda tersenyum getir saat ia mengerti dengan semua perkataan kakaknya.
__ADS_1
"Kenapa dunia ini begitu sempit" ucap Linda yang mulai meneteskan air matanya.