
Hy semuanya, ketemu lagi deh kita... Udah pada nungguin ya? Hehe maaf ya kelamaan. Habis aku pusing mikirin laporan magang aku, jadi gak bisa berpikir untuk nulis. Tapi demi kalian yang udah selalu setia aku usahin buat nulis walaupun gak banyak... Semoga kalian suka ya.
Happy reading.. 🤗🤗🤗
🌹🌹🌹🌹
Arham membuka pintu kamar dengan pelan karena takut membangunkan Dara dan juga Ara yang tertidur disamping Dara.
"Selamat malam sayang" ucap Arham mencium kening Dara lumayan lama, lalu ia beralih mencium Ara.
"Cepat besar anak papa" ucap Arham mengelus pipi Ara dengan lembut, ia pun ikut merebahkan tubuhnya diranjang yang masih kosong. Namun Arham kembali terbangun saat mengingat kaki Dara yang terkilir. Arham bangkit dari tidurnya dan duduk disebelah Dara. Ia menyentuh kaki Dara yang sudah memerah dan sedikit bengkak.
"Maaf" ucap Arham kembali mencium kening Dara dengan begitu lembut. Ia menatap wajah Dara dengan seksama, jemarinya mulai menyetuh hidung mancung dan berakhir pada bibir tipis milik Dara.
"Sungguh indah ciptaanmu ya Allah" bisik Arham sambil tersenyum, ia sangat bahagia bisa memiliki istri yang begitu baik dan cantik seperti Dara.
"Hmmm, mas" gumam Dara yang tersadar dari tidurnya, Arham tersenyum lebar saat melihat Dara mengerjapkan matanya.
"Maaf mengaggu tidur kamu sayang" ucap Arham mengelus rambut Dara dengan lembut.
"Mas belum tidur? Mas tidak betah ya disini? Maaf ya, ini semua karena Dara" ucap Dara begitu merasa bersalah.
"Tidak sayang, aku masih ingin melihat wajah cantik kamu" ucap Arham menggoda Dara.
"Ck, Dara ngantuk mas. Tidur, ini sudah malam" ucap Dara kembali memejamkan matanya.
"Boleh aku memelukmu?" tanya Arham berbisik ditelinga Dara. Dara kembali membuka matanya dan mengangguk menyetujui keinginan Arham.
"Terimakasih" ucap Arham langsung memeluk Dara, Dara menggeser tubuhnya dengan pelan agar tak mengaggu Ara. Dara menenggelamkan wajahnya di dada bidang Arham dan kembali memejamkan matanya.
"Mas" panggil Dara sambil menenggelamkan wajahnya di dada Arham dan menghirup aroma tubuh Arham.
__ADS_1
"Ya?"
"Terimakasih sudah mau menerima Dara, Dara tahu jika Dara masih sangat kekanak-kanakan. Bahkan Dara selalu menyusahkan mas" ucap Dara memejamkan matanya.
"Tidak sayang, disini kamu yang sudah banyak berjuang. Aku sangat bersyukur bisa mendapatkan istri cantik, solehah, penyabar dan memiliki hati yang lembut seperti kamu. I Love you my wife" ujar Arham dengan mata tertutup, Dara yang mendengar itu hanya bisa tersenyum.
"Mas beneran cinta sama Dara? Apa buktinya?" tanya Dara menatap wajah Arham.
"Apa selama ini aku kurang membuktikan jika aku mencintai kamu? Memangnya apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya jika suami tampan kamu ini sangat mencintai wanita yang bernama Cut Dara Maristha ini hah?" ucap Arham mencubit hidung Dara. Dara yang mendengar itu hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Dara hanya bercanda mas, Dara yakin saat ini dihati kamu hanya ada Cut Dara Maristha seorang" ucap Dara menyetuh dada Arham.
"Ya, kamu bisa rasakan detak jantungku. Saat aku dekat denganmu, jantung ini sama sekali tak bisa dikontrol" ucap Arham menahan tangan Dara agar tetap berada di dada bidangnya. Dara mengangguk saat merasakan jantung Arham yang berdetak kencang.
"Tidurlah, ini sudah malam" ucap Arham mengeratkan pelukannya dan mulai memejamkan matanya. Sedangkan Dara masih setia menatap wajah sang suami yang selalu ia rindukan setiap saat. Sebelum memejamkan mata, Dara mengecup pipi Arham dengan lembut dan ikut menyusul Arham kealam mimpi.
***
"Syila, kamu gak kangen sama Dara? Udah seminggu kita jarang banget ketemu Dara" ucap Nissa sambil mengaduk jus kesukaannya.
"Ok, aku setuju" ucap Nissa tersenyum manis. Namun matanya tak sengaja menangkap manik mata indah milik seseorang tengah menatap dirinya.
"Syil, kenapa cowok tu liatin aku terus sih. Jadi takut deh" ucap Nissa berbisik pada Syila.
"Masak sih? Yang mana?" tanya Syila menoleh kebelakang. Namun ia sama sekali tak menemukan seseorang yang melihat kearahnya.
"Itu, eh kok udah ilang sih. Tadi ada kok dia duduk dimeja situ, cepet banget ilangnya. Jangan-jangan dia setan lagi ya? Ih serem deh" seru Nissa sambil mengelus pundaknya.
"Mana ada setan di siang bolong Nis, ngaco kamu mah. Udah ah gak usah pikirin hal itu lagi" ucap Syila.
"Sorry deh Hehe, oh iya Syil. Jadi setelah kamu nikah masih tetap kuliah kan? Gak ikut-ikutan kayak Dara kan?" tanya Nissa begitu penuh harap.
__ADS_1
"Kayaknya sih" ucap Syila dengan wajah yang serius, Nissa pun langsung merubah raut wajahnya menjadi sedih.
"Terus aku sendirian, kamu sama Dara tega banget sih. Emang harus ya kalau udah nikah gak kuliah?" tanya Nissa dengan begitu polos.
"Haha... Lucu banget sih kamu Nis, enggak juga lah. Jangan takut, aku tetap kuliah kok. Aku udah buat kesepakatan dengan kak Haikal jika setelah menikah aku tetap melanjutkan pendidikanku. Dia juga mengizinkan aku untuk mengejar cita cintaku. Baik banget kan?" ujar Syila dengan wajah berbinar.
"Ish, kesel deh. Aku kira benar kamu mau ninggalin aku juga Syil?" ucap Nissa sambil mengerucutkan bibirnya.
"Haha...maaf deh, aku kan cuma becanda" ucap Syila sambil mencubit pipi Nissa hingga memerah.
"Sakit tau, kamu mah enak udah mau nikah aja. Lah aku masih jomblo aja, andai ada yang lamar aku kerumah pasti langsung aku terima deh" ucap Nissa sambil menopang dagu.
"Yakin?" tanya Syila yang tak yakin dengan ucapan sang sahabat.
"Ya gitu lah" ucap Nissa yang juga tak yakin dengan dirinya sendiri. Lalu tak lama ponsel milik Nissa pun berbunyi.
"Eh, mama nelpon. Tunggu sebentar ya?" ucap Nissa yang dijawab anggukan oleh Syila. Lalu Nissa pun beranjak menjauh dari Syila.
"Ada apa?" tanya Syila saat melihat raut wajah aneh dari Nissa setelah menerima telpon dari sang mama.
"Kenapa mulut aku sering asin sih, beneran ada yang lamar aku Syil? Gimana dong?" jawab Nissa dengan wajah yang pucat. Syila yang mendengar itu pun sangat terkejut, ia tak menyangka jika ucapan Nissa benar-benar terkabul.
"Kamu sih asal ngomong, terus gimana?"
"Gak tau, mama suruh aku pulang besok. Lusa acara lamarannya, katanya sih anak dari rekan kerja papa" ucap Nissa dengan wajah lesu.
"Lah, tadi katanya mau terima terus kalau ada yang lamar. Terus kenapa sekarang murung?" tanya Syila menatap Nissa.
"Aku takut, kalau cowok itu jahat, jelek terus suka mukul gimana?" ucap Nissa begitu prustasi.
"Astagfirullah Nissa, jangan berprasangka buruk dulu. Kalian kan bisa ta'arufan dulu, jangan lupa sholat untuk minta petunjuk dari Allah. Semua yang Allah rencanakan itu pasti akan indah Nis" ucap Syila, Nissa pun mencoba mencerna semua ucapan Syila.
__ADS_1
"Makasih Syil, aku akan cobak dulu deh" ucap Nissa tersenyum kecut.
"Bismillahirrahmanirrahim, semoga semuanya dimudahkan dan diberikan jalan terbaik" ucap Syila mengelus tangan Nissa. Nissa pun menatap Syila lekat sambil menggenggam tangan Syila dengan erat.