
"NISSA" panggilan itu berhasil membuat pemilik nama terperanjat kaget. Ia langsung memberikan bayi dalam gendonganya pada bibik.
"Pergilah non, tuan akan sangat marah jika non terlambat" ucap bibik sedikit panik, Nissa pun mengangguk dan langsung berjalan keluar.
"Apa yang kau lakukan di dalam, apa aku menyuruhmu?" suara dingin itu membuat bulu kuduk Nissa naik.
"Maaf, tadi baby Alan menangis. Jadi... "
"Jangan pernah membahasnya didepan ku, aku tidak pernah peduli" ucap pria itu bajalan meninggalkan Nissa.
"Ikut denganku" suara itu kembali membuat Nissa terkejut, dengan tergesa ia mengikuti langkah besar suaminya.
Ceklek. Arnold membuka sebuah pintu ruangan. Nissa terus berjalan mengikuti Arnold dengan kepala menunduk hingga ia tak menyadari jika Arnold sudah berhenti.
"Auwh... Maaf" ucap Nissa mengelus keningnya yang berdenyut karena terbentur punggung kekar milik sang suami.
"Gunakan matamu dengan benar" dengan suara dingin. Nissa mengigit bibirnya karena takut akan mengulangi kesalahannya.
"Duduk"
Nissa pun duduk tak jauh dari suaminya, ia mencengkram ujung bajunya. Jantungnya terus berpacu hebat, ia tidak pernah dalam situasi ini. Berdua dengan seorang pria dalam sebuah ruangan, ditambah lagi pria yang saat ini bersamanya sudah resmi menjadi bagian hidupnya.
"Sayang, maaf aku terlambat" ucap seseorang memecah keheningan, Nissa langsung menoleh dan mendapatkan wanita tadi siang berjalan menghampiri suaminya.
__ADS_1
"Tidak jadi masalah" ucap Arnold menarik wanita bernama Wina itu kedalam pelukkannya.
'Apa maksudnya menyuruhku kesini jika hanya untuk melihat kemesraan mereka. Sangat menyebalkan, dasar pria brengsek'
"Ada apa dengan wajahmu? Kau marah aku bersamanya?" dengan cepat Nissa menggelengkan kepalanya.
"Sayang, aku sangat merindukanmu. Malam ini bisa kita tidur bersama? Jangan bilang malam ini dia akan tidur bersamamu?" rengekan itu berhasil membuat telinga Nissa sakit.
'Apa mereka sudah menikah? Kenapa tidur bersama? Jika sudah punya istri kenapa menikah denganku?'
"Aku tidak mungkin tidur dengan wanita jelek itu, malam ini kau bisa tidur denganku" ucap Arnold, namun matanya tak berpaling dari Nissa. Ia memperhatikan tangan Nissa yang saling bertaut.
"Mas" Nissa memejamkan matanya saat ia memanggil suaminya dengan panggilan baru. Ia sendiri bingung harus memanggil suaminya dengan sebutan apa. Dia tidak perduli jika suaminya akan marah. Namun ia salah, Arnold sama sekali tidak bereaksi.
"Maaf mas, besok Nissa izin untuk kembali kuliah. Boleh kan?"
Nissa kembali meremas bajunya, jika bukan karena keluarganya sudah dari tadi ia mencakar wajah pria kejam itu.
"Maaf" ucap Nissa menunduk, sebulir air bening jatuh membasahi pakainnya. Ia tidak pernah menyangka jika sekarang ia akan menjadi tahanan yang sama sekali tak membuat sebuah kesalahan. Hanya satu kesalahannya, ia sangat menyayangi keluarganya.
"Kemari" Nissa langsung mendongak, ia bingung dengan maksud suaminya.
"Apa kau tuli, aku bilang kemari" kini suara itu mulai meninggi, Nissa sangat terkejut dan langsung berjalan menghampiri sang suami.
__ADS_1
"Kau sangat lambat" ucap Arnold menarik tangan Nissa dengan kasar hingga Nissa terjerembab jatuh keatas tubuh Arnold.
'Ya allah, jantungku berdetak sangat cepat'
Wanita yang kini berada di sebelah Arnold pun menatap Nissa begitu sengit.
"A.. Apa yang anda lakukan?" tanya Nissa begitu gugup.
Cup
Sebuah kecupan mendarat dibibir Nissa. Nissa membulatkan matanya, ia sangat terkejut. Bukan hanya Nissa, tapi wanita itu pun tak kalah terkejut dengan apa yang Arnold lakukan.
"Ingat ucapanku, saat ini kau milikku. Semua yang ada ditubuhmu adalah milikku. Siapa yang menyetuh mu, aku tidak akan membiarkannya hidup. Walaupun hanya menyetuh kulitmu" ujar Arnold sambil mengelus lengan Nissa. Nissa terus mencerna ucapan suaminya, ia sama sekali tidak mengerti dengan maksud Arnold. Bahkan dia tidak diizinkan untuk keluar rumah, bagaimana orang lain akan menyetuhnya.
"Apa kau mengerti?" Nissa kembali terkejut, ia langsung menatap wajah suaminya.
'Ya ampun, kenapa dia sangat tampan jika dilihat dari dekat'
"Mau sampai kapan kau berada diatasku dan menatapku seperti itu. Aku ingatkan kembali! didalam kontrak sudah ditulis jika kau tidak boleh jatuh cinta padaku. Jadi berhenti mengagumi ketampananku" ujar Arnold membuat Nissa langsung bangun dan menjauhi Arnold.
"Maaf" ucap Nissa membenarkan pakaiannya. Ia menatap wanita yang kini tengah menatapnya tak bersahabat.
"Kau sama sekali tak selevel, jangan berharap mendapatkan cinta darinya. Walaupun kau adalah istri sahnya, pergi lah. Jangan mengganggu kemesraan kami" ucap wanita itu memeluk Arnold begitu manja.
__ADS_1
"Maaf nona, anda sudah tahu saya bukan levelnya. Kenapa nona masih saja takut?" ucap Nissa tersenyum penuh kemenangan. Ia langsung pergi meninggalkan ruangan itu. Ia sama sekali tidak takut jika suaminya akan marah sudah melewan kekasih hatinya.
"Keterlaluan, brengsek. Dia kira aku ini apa? Mengurungku disini, bahkan aku tidak bisa bertemu dengan sahabatku. Dara, Syila aku sangat merindukan kalian" ucap Nissa menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur. Ia terus menatap langit-langit dan bermain dengan pikirannya sendiri. Hingga tanpa sadar ia mulai terlelap masuk ke alam mimpi.