Ketulusan Hati

Ketulusan Hati
66


__ADS_3

Malam hari keadaan rumah terlihat sangat sepi, Dara duduk ditepi ranjang sambil menggendong Ara yang juga belum tertidur. Arham juga sama sekali belum menampakkan dirinya dan hal itu membuat Dara sangat cemas.


"Papa kemana ya? Kenapa belum pulang?" tanya Dara menatap Ara yang masih sibuk dengan mainan ditangannya.


"Ara bobok dulu disini ya? Bunda mau telpon papa dulu" ucap Dara menidurkan Ara diatas kasur. Dara mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Arham.


"Ck, gak aktif" ucap Dara meletakkan kembali ponselnya diatas nakas.


"Bobok ya? Ini sudah malam sayang" ucap Dara kembali menggendong Ara. Dara berjalan keluar kamar sambil sesekali melihat jam dinding.


"Kamu kemana sih mas?" tanya Dara begitu khawatir, ia terus menatap pintu dan berharap Arham muncul disana. Namun sudah dua jam Dara menunggu, tapi Arham belum juga pulang. Dara masuk kekamar untuk menidurkan Ara yang sudah tertidur beberapa menit yang lalu. Ara kembali menangis saat Dara meletakkannya didalam box bayi.


"Cup cup, Ara mau bobok sama bunda ya? Ya sudah, kita bobok ya" ucap Dara membawa Ara keatas ranjang, Dara ikut berbaring di sebelah Ara sambil mengelus kepala Ara. Pikiran Dara terus tetuju pada Arham yang belum pulang, ia sangat khawatir karena Arham sama sekali tak memberi kabar akan pulang terlambat.


Setengah jam menunggu, akhirnya Dara menyerah karena kantuknya mulai menyerang. Dara melihat Ara yang juga sudah tertidur begitu lelap.


"Selamat malam sayang" ucap Dara mencium kening Ara dengan lembut, lalu ia pun ikut memejamkan matanya.


***


Tepat pukul 03.00 dini hari, Arham pulang dengan keadaan yang berantakan. Kancing kemeja sudah terbuka setengah dan rambut yang lumayan berantakan.


Arham tersenyum saat melihat dua wanita terpenting dalam hidupnya yang kini tengah terlelap. Arham duduk disebelah Dara, ia mengelus wajah Dara dengan lembut dan mengecup kening Dara.


"Maaf membuat kalian menunggu" ucap Arham menatap Dara dan Ara bergantian, lalu ia bangun dan berjalan menuju kamar mandi.


Setelah selesai mandi, Arham berbaring disebelah Dara yang masih kosong. Dara yang merasa terganggu pun terbangun.


"Mas? Kapan pulang?" tanya Dara merubah posisinya menjadi duduk. Arham menatap Dara sebentar, lalu ia tersenyum saat melihat ekspresi wajah Dara.

__ADS_1


"Baru saja, aku melihat kamu begitu pulas jadi aku tidak ingin mengaggu tidurmu. Tapi maaf, aku sudah membangunkan kamu" ujar Arham ikut duduk.


"Tidak apa-apa, ini juga sudah waktunya shalat malam. Mas sudah shalat?" tanya Dara hendak bangun, namun dengan cepat ditahan oleh Arham.


"Sebentar lagi, saat ini aku sangat ingin memelukmu" ucap Arham langsung menarik Dara kedalam pelukannya. Dara sangat terkejut dengan sikap Arham yang sangat aneh.


"Mas" panggil Dara saat Arham tak kunjung melepaskan pelukanya.


"Sebentar lagi, aku mohon" ucap Arham begitu pilu, Dara yang mendengar itu pun diam. Ia membalas pelukkan Arham sambil memejamkan matanya, Dara sangat menyukai kehangatan yang Arham berikan.


"Jangan pernah tinggalkan aku, tetap lah bersamaku" bisik Arham, Dara membuka matanya dan melepaskan pelukannya.


"Ada apa?" tanya Dara mengelus wajah Arham yang terlihat pucat dengan mata yang sayu.


"Jangan tinggalkan aku, aku minta maaf atas semua kesalahanku selama ini" ucap Arham mencium tangan Dara, Dara pun semakin bingung dengan ucapan Arham. Sebulir air bening mengalir dipipi Arham.


"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Dara menghapus air mata Arham dengan lembut. Arham sama sekali tak menjawab pertanyaan Dara, ia hanya menatap Dara begitu dalam.


"Berjanjilah untuk terus bersamaku" ucap Arham menggenggam tangan Dara.


"Maaf Dara tidak bisa berjanji, Dara tidak tahu kedepannya seperti apa. Tapi Dara akan terus berusaha untuk selalu bersama kamu mas. Maaf, Dara juga belum mengingat tentang kamu mas" ucap Dara memeluk Arham. Hatinya begitu perih saat mengingat jika dirinya sama sekali tak mengingat apapun tentang suaminya.


"Itu tidak penting, saat ini yang paling penting kamu ada disini" ucap Arham memeluk Dara dengan erat. Dara mengangguk lalu melepaskan pelukanya.


"Mas harus tidur, besok harus bekerja lagi" ucap Dara tersenyum, lalu ia bangkit dari tempat tidur.


"Jangan ganggu Ara, dia baru saja tertidur" ucap Dara mengingatkan Arham yang sangat suka mengaggu Ara tidur.


"Tapi aku sangat merindukanya" ucap Arham menoel hidung Ara.

__ADS_1


"Ck, jika Ara bangun mas tidak akan tidur sampai pagi" ucap Dara yang langsung melenggang pergi menuju kamar mandi.


"Hey anak papa, maaf beberapa hari ini papa jarang main dengan Ara. Ara pasti kangen papa kan?" ucap Arham mengajak Ara berbicara. Arham memeluk Ara dan ikut memejamkan matanya.


"Ya Allah, tolong lindungi selalu keluarga hamba. Jadikan kami keluarga yang taat pada perintahmu dan terhindar dari marabahaya. Jadikan putri kecil kami menjadi anak yang salihah dan penyayang. Ampuni atas segala dosa hamba dan suami hamba, dan izinkan hamba untuk mengingat semuanya kembali. Aamiin Aamiin ya rabbal alamin" Dara mengusap kedua tangannya di wajah dengan begitu lembut. Ia mengambil kitab suci Al-qur'an dan mulai membacanya dengan begitu merdu.


***


Suara merdu Dara di pagi hari membuat Arham terbangun dari alam mimpinya. Matanya terbuka sempurna saat melihat tubuh mungil Ara yang juga sudah terjaga. Ara menatap Arham begitu lekat, terlihat kerinduan diwajahnya.



"Anak papa sudah bangun?" ucap Arham mencubit hidung Ara dengan gemas. Ara yang diperlakukan seperti itu terlihat senang dan tertawa.


"Maafkan papa sayang, papa juga rindu Ara" ucap Arham membawa Ara dalam dekapannya. Ara yang seakan mengerti ucapan Arham pun menyadarkan kepalanya didada Arham. Arham tersenyum sambil mengelus kepala Ara.


"Mas shalat dulu, biar Ara dengan Dara" ucap Dara sambil melipat mukenanya.


"Satu menit lagi, biarkan kami saling menyalurkan rasa rindu"


"Dara tahu, tapi shalat lebih penting. Setelah itu mas bisa kangen-kangenan lagi dengan Ara" ucap Dara mengambil Ara dari dekapan Arham.


"Baik lah bunda sayang" ucap Arham mengecup pipi Dara dengan tiba-tiba hingga membuat Dara terperanjat kaget.


"Maaf sayang, hanya hadiah kecil" ucap Arham yang langsung melenggang ke kamar mandi. Dara yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Eh anak bunda, terbangun karena dengar bunda mengaji ya?" ucap Dara sambil mencium pipi Ara dengan gemas.


"Sebentar lagi kita mandi ya? biar segar" ucap Dara duduk di tepi ranjang. Lalu tak lama Arham keluar dari kamar mandi, ia mengambil kain sarung untuk shalat.

__ADS_1


"Ara kalau sudah besar harus jadi anak yang baik ya sayang, penyayang, penyabar dan jadi gadis manis yang lembut" ucap Dara menggenggam tangan mungil Ara. Ara pun tersenyum sambil sesekali tangannya terulur menarik kerudung Dara. Dara yang sangat gemas pun tak henti-hentinya mencium pipi merah Ara.


__ADS_2