
Hy hy hy... Ketemu lagi kita, apa kabar nih? Masih pada setia nungguin Dara ya.. Hehe. Sorry ya update nya kelamaan. Tapi gak papa deh, aku tahu kok kalian akan setia selalu menunggu. Selamat membaca... 😆😆
🍁🍁🍁
"Dara...Rindunya" teriak Nissa saat Dara membuka pintu rumah. Dara tersentak saat Nissa tiba-tiba menubruk tubuhnya.
"Ya ampun Nis, kalau aku jatuh gimana!!?" seru Dara yang masih terkejut.
"Dia rindu berat tu, dari beberapa hari terus ngerengek mau ketemu kamu" ujar Syila, Dara yang mendengar itu tersenyum senang.
"Aku juga kangen kalian, tapi mau gimana lagi. Ara masih sangat kecil, jadi aku tidak mungkin meninggalkan dia terus"
"Ya sudah, ayok masuk. Kebetulan aku juga baru selesai masak, pasti kalian belum makan?" ucap Dara menarik kedua sahabatnya masuk kedalam rumah. Sedangkan kedua sahabatnya hanya tersenyum sambil mengikuti langkah Dara.
"Ara tidur?" tanya Syila duduk dikursi.
"Iya, makanya aku bisa masak. Beberapa hari ini Ara rewel, jadi aku gak bisa apa-apa. Semua pekerjaan rumah juga kebanyakan mas Arham yang kerjain" ucap Dara merapikan masakan di atas meja makan.
"Kamu sudah ingat semua Ra?" tanya Nissa menatap Dara dan Syila bergantian. Dara yang mendengar pertanyaan itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Sabar, semua butuh proses" ucap Syila sambil menyomot tahu goreng.
"Aku juga merasa bersalah pada suami aku Syil, aku selalu melihat kekecewaan dimatanya. Tapi mau bagaimana lagi, aku sudah berusaha untuk mengingat semuanya" ucap Dara memasang wajah sedihnya.
"Hukuman kali buat suami kamu Ra" ucap Nissa yang berhasil mendapatkan tatapan mengerikan dari Syila. Nissa pun langsung menutup mulutnya yang tak bisa dikotrol. Sedangkan Dara hanya menatap kedua sahabatnya bingung.
"Memangnya kenapa dengan mas Arham dulu? Apa ada sesuatu yang kalian sembunyikan?" tanya Dara duduk sambil menatap Syila dan Nissa bergantian.
"Tidak ada Ra, kamu lebih tahu dari yang kami tahu. Oh iya, aku mau lihat Ara dong, udah lama gak lihat baby unyu kita. Habis tugas terus menumpuk sih jadi jarang main deh" ujar Syila berusaha mengalihkan pembicaraan. Nissa sangat merasa bersalah dan hanya bisa menunduk.
"Ah, boleh kok" ucap Dara, namun tak berapa lama suara tangisan Ara pun memenuhi seisi rumah.
"Ya ampun, dia ngerti banget sih kalau tantenya kangen" ucap Syila dengan wajah berbinar.
"Ara kangen aku tuh, secara kan aku cantik banget" ucap Nissa begitu percaya diri. Dara yang mendengar itu hanya bisa menggelengkan kepalanya dan langsung beranjak menuju kamarnya.
"Hai anak bunda, sudah bangun lagi? Kok cepat banget sih boboknya?" tanya Dara mengangkat Ara kedalam gendongan.
"Em, anak bunda bau acem" ucap Dara mencium pipi Ara dengan gemas, lalu Dara pun kembali keluar.
"Wah, ini dia secantik. Sini biar tante yang gendong" ucap Syila hendak mengambil Ara dalam gendongan Dara, namun dengan cepat ditahan oleh Nissa.
"Aku aja dulu, kamu mah bisa puas-puas nanti. Lagian kan kamu bakal jadi tante Ara beneran, jadi nanti aja gendongnya" ucap Nissa yang langsung membawa Ara kedalam gendonganya, Syila pun terlihat sangat kesal.
"Maksud kamu apa nis?" tanya Dara bingung dengan ucapan Nissa.
__ADS_1
"Is kamu pura-pura gak tahu deh, kamu lupa apa kalau Syila bakal jadi kakak ipar kamu Ra?" ucap Nissa.
"Apa!!? Kamu serius? Kok aku gak tahu?" tanya Dara tak percaya dengan ucapan Nissa.
"Lah, kok bisa sih kamu gak tahu. Emangnya bang Ical gak cerita apa sama kamu?" tanya Nissa, sedangkan Syila hanya menggelengkan kepalanya.
"Syil? Ini beneran?" tanya Dara memberikan tatapan tajam pada Syila, Syila pun merasa terancam dengan tatapan yang Dara berikan.
"Em, duduk dulu deh biar aku ceritain" ucap Syila yang terlihat kebingungan.
"Em, aku juga bingung harus cerita dari mana" ucap Syila menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Flashback on
"Halo Ma, apa? Pulang? Mau ngapain? Syila masih banyak tugas ma jadi gak bisa pulang"
"Apa? Siapa? Kok bisa?" imbuh Syila dengan wajah terkejutnya
"Iya-iya, Syila pulang sekarang"
"Wa'alaikumusalam"
Syila pun mematikan ponselnya dan langsung menyambar kunci mobil.
"Siapa sih yang datang kerumah, terus kenapa aku harus pulang? Ck, ada-ada saja deh" ucap Syila yang langsung menancap gas mobilnya menuju Bogor. Satu jam setengah perjalanan, kini Syila sudah berada di depan rumah. Ia memarkirkan mobilnya di garasi. Namun ia mengernyitkan keningnya saat melihat mobil putih yang tak asing lagi baginya.
"Syila? Kamu sudah sampai nak?" tanya seorang wanita paruh baya yang berhasil membuat Syila terkejut.
"Ya ampun ma, Syila kaget. Syila kangen mama" ucap Syila yang langsung memeluk mamanya. Pria yang tadi membelakangi Syila pun menoleh karena mendengar keributan.
"Nak Haikal, masuk dulu. Syila nya sudah sampai" ucap Laila, Syila langsung melepaskan pelukanya saat mendengar nama yang di sebutankan oleh mamanya. Syila membulatkan matanya saat melihat orang yang kini tangah menatapnya.
"Kak Haikal, bagaimana bisa ada disini?" tanya Syila menatap Haikal bingung.
"Syila, sebaiknya kita masuk dulu. Didalam kita akan membicarakan semuanya" ucap Laila, Syila hendak protes namun mamanya terlebih dahulu menarik tangannya. Syila menoleh kearah Haikal dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Hai sayang" ucap wanita paruh baya yang tak lain adalah Zahra.
"Tante" ucap Syila langsung mencium punggung tangan Zahra, lalu bergantian mencium tangan Raffi.
"Duduk Syila" ucap Syahril sang papa, Syila pun mengangguk dan duduk disebelah Laila. Lalu pandangannya beralih pada pria yang ikut duduk dihadapannya. Syila menatap kedua orangtuanya secara bergantian untuk mencari jawaban.
"Syila, tujuan nak Haikal dan kedua orangtuanya kesini adalah untuk menghitbah kamu. Bagaimana pendapat kamu? Nak Haikal sudah menjelaskan semuanya pada papa tadi" ujar Syahril menatap Syila yang masih terdiam sambil mengedipkan matanya beberapa kali karena bingung.
"Syila?" panggil Syahril saat tak mendapat jawaban dari Syila, Syila tersentak dan langsung menatap Laila.
__ADS_1
"Semua terserah padamu Syil, mama akan menghargai keputusan kamu" ucap Laila pelan sambil mengelus punggung Syila. Syila menelan air ludahnya yang terasa kering, ia tak pernah menyangka jika Haikal benar-benar akan melamarnya.
"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Syila pada Haikal. Haikal menatap Syila sebentar lalu mengangguk tanda setuju. Syila berjalan terlebih dahulu menuju balkon rumah, ia berdiri menatap lurus kedepan.
"Kenapa kakak ingin melamar Syila?" tanya Syila dengan santai namun penuh arti.
"Kau belum mengembalikan jas milikiku, jadi aku menepati janjiku" ucap Haikal tak kalah santai.
"Ck, Syila serius kak. Untuk masalah jas, maaf Syila lupa mengembalikan" ucap Syila sedikit kesal dengan jawaban Haikal.
"Aku juga serius, kau belum mengembalikan jas milikku dan itu tandanya kau mengizinkan aku untuk datang kerumahmu" ucap Haikal, Syila yang mendengar itu langsung berbalik dan memberikan tatapan membunuh pada Haikal.
"Maaf kak, ini masalah masa depan. Saya tidak akan main-main dan... "
"Dan kau bersedia untuk menjadi istriku jika aku mengatakan aku jatuh hati padamu sejak pandangan pertama?" potong Haikal yang berhasil membuat Syila terdiam seribu bahasa. Haikal tersenyum karena berhasil membuat gadis dihadapannya berhenti bicara.
"Aku menyukaimu karena ketulusanmu, kelembutanmu dan juga kasih sayang yang selalu kau berikan pada adikku. Jangan salah sangka, aku menyukai bukan karena kebaikanmu pada adikku. Tapi aku menyukai semua kepribadianmu Syila, jadilah istriku" ujar Haikal yang tanpa Syila sadari Haikal kini sedang melamarnya secara langsung.
"Sa... Saya.. "
"Aku akan memberikan kamu waktu tiga hari, aku harap kamu memikirkan semuanya dengan baik" ucap Haikal yang langsung beranjak pergi meninggalkan Syila yang masih diam mematung.
Flashback off
"Lalu? Kamu menerima abangku? Kenapa kalian menyembunyikan semuanya? Apa kalian kira aku ini sudah tidak ada lagi?" tanya Dara sedikit emosi. Ia tidak pernah menyangka jika keluarganya sama sekali tak menceritakan hal penting seperti ini.
"Jangan salah faham, besok abang akan datang kerumah Syila. Dia akan mengatakan keputusan yang ia buat, abang harap kamu ikut" ucap seseorang yang tiba-tiba muncul dan berhasil membuat semua orang terkejut. Terutama Syila yang terlihat sangat gugup dan mengatupkan mulutnya seakan terkunci.
"Jahat" ucap Dara menatap Haikal sengit, Haikal tersenyum dan menghampiri Dara.
"Maaf, abang hanya tidak ingin menganggu ibu muda yang sedang sibuk merawat anaknya hingga lupa untuk pulang" ujar Haikal mengecup kening Dara. Dara merubah raut wajah kesalnya menjadi senyuman.
"Maaf, Dara bukan tidak ingat pulang. Dara hanya ingin belajar jadi istri dan ibu yang baik" ucap Dara memeluk Haikal.
"Sudah, tidak perlu minta maaf. Abang kesini hanya ingin melihat keponakan abang" ucap Haikal melerai pelukannya.
"Tapi Ara sedang digendong sama tantenya tuh" ucap Dara mencoba menggoda Syila, dan benar saja kini pipi Syila memerah.
"Ck, ini aku balikin anak kamu" ucap Syila memberikan Ara pada Dara, sedangkan Nissa hanya terkekeh melihat tingkah sahabatnya itu.
"Mau kemana?" tanya Dara saat melihat Syila beranjak pergi.
"Mau ambil hadiah buat Ara, ketinggalan di mobil" ucap Syila tanpa menoleh.
"Haha...Sepertinya abang akan diterima deh, Dara melihat ada benih-benih cinta. Iya gak sayang?" ucap Dara sambil mencium Ara dengan gemas.
__ADS_1
"Itu pasti, tak akan ada yang menolak pesona dokter Haikal. Iya kan cantik?" ucap Haikal mengambil Ara dari gendong Dara. Dara menatap Nissa sambil memainkan alis nya.
"Iya aku tahu, aku sekarang jomblo sendirian" ucap Nissa yang tahu maksud dari tatapan Dara. Dara yang mendengar ucapan Nissa pun tertawa bahagia kerena berhasil menggoda kedua sahabatnya.