Ketulusan Hati

Ketulusan Hati
Extra Part 2


__ADS_3

Sesampainya dirumah. Ara di sambut sang bunda. Ia tersenyum manis untuk menutupi matanya yang sembab. Namun sayang, Dara sudah terlebih dahulu tahu.


"Ada apa? Kenapa kamu menangis?" tanya Dara lembut. Ara menggeleng.


"Ara capek bun, Ara mau istirahat."


"Tidak mau cerita dengan bunda?" tanya Dara menatap sang putri penuh kasih sayang.


"Bunda ikut Ara sebentar." ucapnya menarik tangan sang bunda ke kamar.


"Ada apa? Masalah Alan?" tanya Dara saat mereka sudah berada di kamar Ara. Ara mengangguk, ia menunduk karena matanya kembali memanas.


"Alan akan melamar seseorang bun. Wanita itu teman sekelas Ara, dia seorang model." ucap Ara sesegukan. Dara menghela nafas. Ia memeluk Ara dengan lembut.


"Itu artinya dia sudah menemukan wanita yang cocok untuk dijadikan pendamping hidup. Kamu tidak perlu menagis. Allah akan menggantikan laki-laki yang jauh lebih baik dari Alan. Mungkin kalian belum berjodoh." ucap Dara mengelus kepala Ara.


"Bunda tahu kan, dari kecil kita selalu bersama. Ara suka Alan dari dulu bun, Ara kira Alan juga sama. Tapi Ara salah, Alan cuma anggap Ara sahabat. Tidak lebih."


"Apa Ara tidak cantik ya bun? Apa Alan tidak suka Ara karena Ara gak pinter make up?" ucap Ara begitu polos. Dara tersenyum mendengar pertanyaan konyol putrinya.


"Ada-ada saja kamu ini. Siapa bilang anak bunda tidak cantik?Cantik itu tidak dilihat dari pintar Make up atau tidak. Ikut bunda deh." ujar Dara menarik tangan Ara.


"Kamu lihat. Mata kamu cantik, hidung mancung, bibir merah alami, alis tebal, pipi merah menggemaskan yang paling bunda suka. Apa lagi yang kamu keluh kan?" ucap Dara berdiri didepan cermin.


"Cantik itu bukan hanya dari fisik. Tapi disini juga harus cantik." ucap Dara menunjuk dada Ara. Ara menatap Dara lekat.


"Inner beauty seorang wanita itu lebih penting dari pada penampilan fisik." imbuh Dara mencubit pipi sang putri begitu gemas.


"Ara faham sekarang bunda. Terima kasih." ucap Ara memeluk Dara. Kesedihan pun lenyap seketika.


"Ya sudah, jangan sedih lagi. Sekarang ganti baju, setelah itu bantu bunda buat kue. Malam ini kita akan kerumah nenek." ucap Dara.

__ADS_1


"Beneran bun? Ok, Ara ganti baju dulu. Cuma dua menit." ucap Ara kembali semangat. Dara tersenyum lebar. Gadis kecilnya itu memang sangat menggemaskan.


'Kamu sudah dewasa, tapi pikiran kamu masih seperti anak kecil. Bunda masih harus mengajarkan apa artinya perjuangan hidup.'


***


Matahari pagi mulai terik. Namun hal itu sama sekali tak menggoyahkan Ara untuk tetap berada dibawah terik matahari.


"Ayok - ayok, dibeli sayurannya. Murah meriah, dibantu kakek nya. Mari buk, sayurnya seger banget loh." Ara begitu semangat menawarkan sayuran pada beberapa orang yang lewat. Sudah menjadi kebiasaan Ara membantu sang kakek yang berjualan sayur dan beberapa buah-buahan didepan kampus.


"Mas, mbak ini pisangnya. Masih seger, gak pake pengawet. Murah lagi, manis lagi kayak saya Hehe.. Becanda mbak." sang kakek yang mendengar itu tertawa.


"Sudah cukup nak, ini sudah panas. Lagian jualan kakek sudah mau habis. Terima kasih nak Ara selalu membantu kakek setiap hari." ujar sang kakek merasa kasian karena jilbab yang Ara gunakan sudah basah oleh keringat.


"Ahhh.. Capek juga ya kek cari uang? Kakek hebat banget bisa jualan ini tiap hari. Ara mah cuma taunya minta uang sama papa." ucap Ara duduk disebelah sang kakek.


"Ini mata pencaharian kakek nak. Lagian kakek jualannya cuma duduk aja. Ada yang beli alhamdulillah, gak ada yang tetap alhamdulillah." Ara tersenyum mendengar pemaparan sang kakek.


"Ah iya kek, Ara harus pulang dulu. Nanti sore ada jadwal kuliah. Semangat ya kek, semoga mudah rezekinya. Assalamualaikum kek." ucap Ara mencium tangan sang kakek dan langsung beranjak pergi.


"Wa'alaikumusalam. Semoga sehat selalu nak, diberikan kebahagiaan dunia akhirat." ucap sang kakek tersenyum menatap kepergian Ara.


Setelah mata kuliah usai. Ara langsung beranjak untuk pulang. Namun baru saja ia hendak membuka pintu mobil. Seseorang menarik tangannya.


"Alan? Apaan sih main tarik-tarik. Kalau Ara jatuh, terus lecet gimana?" omelnya menatap Alan kesal.


"Aku yang obatin. Cerewet." ucap Alan menyentil hidung Ara.


"Huaaaaaaa... Idung ara merah Alan." teriak gadis itu yang berhasil membuat Alan panik.


"Shhuut, jangan teriak. Nanti orang kira aku apa-apain kamu lagi." ucap Alan kesal. Ara mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Ara ketus. Bukan menjawab, Alan malah menarik Ara dan memeluknya erat. Ara terkejut bukan main. Ia mendorong tubuh Alan sekuat tenaga.


"Ih Alan, jangan peluk-peluk Ara. Kasian tahu calon suami Ara, masak ia jatahnya kamu ambil. Alan jahat." ucap Ara sedikit mundur.


"Ck, siapa juga cowok yang mau sama anak kecil kayak kamu. Dasar." gurau Alan. Namun bagi Ara itu bukan seperti gurauan. Ara menunduk, matanya mulai memanas.


"Ra, aku minat maaf. Aku gak ada maksud... "


"Enggak kok Lan, kamu benar. Mana ada cowok yang mau sama aku, aku ini kekanak-kanakan, cerewet dan kupel. Jauh banget sama cewek diluar sana." ucap Ara menghapus air matanya. Alan terdiam, ia merasa bersalah sudah bicara sembarang. Ia melupakan jika sahabatnya ini sangat sensitif. Walaupun ia cerewet, ceria, tapi Ara juga cengeng dan sangat sensitif.


"Maaf aku cengeng ya?" imbuh nya sambil tersenyum.


"Ck, aku juga minta maaf." ucap Alan hendak memeluk Ara, namun dengan cepat Ara menghindari. Mungkin dulu Ara tidak akan menolak Alan memeluknya. Karena dalam pemikirannya, Alan adalah calon imam masa depannya. Tapi itu salah, ternyata Alan hanya lah sahabat. Sahabat terbaik yang pernah Ara kenal. Sedikit demi sedikit Ara juga mulai belajar dari sang bunda tentang hubungan dan batasan antara laki-laki dengan wanita yang bukan mahram.


Alan menatap Ara lekat.


"Kamu berubah Ra, aku perhatikan sekarang kamu banyak menghindar dari aku. Apa aku menyakiti hati kamu Ra?" tanya Alan. Dengan cepat Ara menggeleng.


"Bukan begitu Lan, bunda bilang kita sudah dewasa. Jadi kita harus menjaga jarak, aku gak mau ada kesalah fahaman jika kita terlalu dekat. Aku harap kamu ngerti." ucap Ara tersenyum. Alan menatap Ara bingung. Ia sama sekali tidak mengerti dengan ucapan Ara.


"Aku harus pulang sudah sore. Selamat atas keberhasilan kamu. Semoga selalu bahagia. Assalamualaikum." ucap Ara yang langsung beranjak pergi.


"Wa'alaikumusalam." ucap Alan masih terdiam. Alan tersadar, ia pun mengejar Ara. Namun sayang, gadis itu sudah masuk kedalam mobil dan pergi.


"Kamu salah Ra, aku gagal. Aku gagal Ra.. Kamu berubah... Kamu semakin menjauh Ra." ucap Alan menatap mobil Ara yang mulai menghilang.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=The end\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hy semuanya... Aku rasa cukup sampe disini aja ya cerita Ara... Kayakanya masih banyak ya yang mau cerita Ara berlanjut... Aku masih memikirkan cerita Ara lanjut apa enggak nih. Aku lihat komentar sama like nya aja deh... Klau banyak yang minta lanjut, kemungkinan aku lanjut. Tapi kalau gak ada yang mau lanjut... Alhamdulilah juga gak perlu capek mikir Hehe... Thanks semuanya yang udah dukung cerita menharukan Dara dari awal cerita sampe penghujung si Ara yang cerewet... Semoga tidur kalian nyenyak ya... Jangan gak tidur karena penasaran... Hihi 😀😀


See you again...

__ADS_1


__ADS_2