Ketulusan Hati

Ketulusan Hati
59


__ADS_3

Dara mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya. Lalu pandangannya langsung tertuju pada seorang pria yang sedang berdiri membelakangi menghadap ke jendela.


"Kamu siapa?" tanya Dara mencoba mengangkat tubuhnya untuk bangun, namun tubuh Dara saat ini masih sangat lemah. Pria itu pun menoleh saat mendengar suara Dara, ia tersenyum dan berjalan mendekati Dara. Dara membualatkan matanya saat melihat wajah pria itu.


"Kamu? Kenapa kembali kesini?" tanya Dara pelan.


"Jangan banyak bergerak, kamu masih belum sembuh" ucap pria itu yang tak lain adalah Arham.


"Jangan mendekat!!" seru Dara, Arham menghentikan langkahnya dan menatap Dara lekat.


"Aku tidak akan menyetuhmu, aku hanya ingin melihat keadaan istriku. Apakah dia baik-baik saja?" ucap Arham menarik kursi dan duduk disebelah ranjang Dara.


"Sa-saya bukan istri anda sa..." Dara menghentikan ucapannya saat melihat sebuah foto di atas nakas. Bibir Dara terlihat sedikit bergetar, tanpa ia sadari tangannya mulai terulur untuk menggapai foto itu. Arham yang melihat itu pun langsung membantu Dara untuk mengambil foto itu.


"I-ini..?"


"Ara, putri kecil kita. Sangat mirip bukan dengan kamu?" ucap Arham, Dara yang mendengar itu langsung menatap Arham.


"Apa kamu masih menyangkal jika dia bukan putrimu, anak kita Dara" ucap Arham hendak menyetuh lengan Dara, namun dengan cepat Dara menarik tangannya.


"Maaf, saya masih belum bisa percaya semudah itu. Berikan saya waktu, saya tidak mengingat apapun tentang anda" ucap Dara dengan suara sedikit bergetar. Arham sadar saat ini Dara sangat ketakutan.


"Baik lah, aku akan selalu menunggumu. Ara juga sudah menunggumu di rumah, cepatlah kembali. Jangan lupa makan sarapanmu, aku juga akan meninggalkan foto itu disini" ucap Arham yang langsung melangakah keluar dari ruang rawat Dara.


"Sebentar lagi aku akan kembali, istirahatlah" ucap Arham sebelum menghilang di balik pintu.

__ADS_1


Dara menatap foto bayi kecil yang ada di genggamannya, ia mengelus foto itu dan tanpa terasa air matanya menetes dan mengenai frame foto. Dara menghapus air matanya yang mengenai foto dengan kain hijabnya.


"A--ara? Apa benar kamu anakku? Tapi kenapa aku... " Dara berhenti bicara saat mengingat sesuatu, ia menyentuh perutnya karena mengingat tentang bekas jahitan itu.


"Tidak, abang bilang itu bekas operasi usus buntu" ucap Dara menggelengkan kepalanya.


"Kenapa hatiku sakit saat aku tak mengakui anak ini adalah anakku. Apa dia benar-benar anakku?" ucap Dara yang semakin bingung.


"Ara memang anak kamu, maaf abang menyembunyikan ini dari kamu. Abang hanya tidak ingin kamu kembali drop saat mendengar ini semua, jadi abang meminta pada bunda dan ayah untuk diam" ujar Haikal yang baru masuk, ia berjalan mendekati Dara.


"Ja-jadi ini semua benar?" tanya Dara begitu gugup.


"Maaf" ucap Haikal menggenggam tangan Dara.


"Abang tidak salah, Dara tahu abang melakukan ini demi kebaikan Dara. Dara minta maaf sudah menyusahkan abang, bunda dan juga ayah. Dara selalu menyusahkan kalian" ujar Dara menangis diperlukan Haikal.


"Tidak, kamu adalah kebahagiaan untuk kami. Jangan pernah berpikir bodoh seperti itu"


"Satu lagi, abang punya sesuatu untuk kamu"


Haikal mengeluarkan sebuah kotak berlduru dari saku snellinya, Dara pun menatap Haikal bingung.


"Bukalah" ucap Haikal memberikan benda itu pada Dara. Dengan ragu Dara menerima benda itu dan membukanya perlahan, Dara membulatkan matanya saat melihat isi kotak itu adalah sebuah cincin nikah.


"Arham yang memberikan itu padamu" ucap Haikal. Lalu tiba-tiba sekelebat ingatan Dara pun mulai muncul, namun itu tak jelas. Dara menyetuh kepalanya yang berdenyut hebat karena ia memaksa untuk mengulang ingatan yang tadi melintas. Namun bayangan itu sama sekali tidak muncul.

__ADS_1


"Jangan dipaksa, kamu akan ingat semuanya dengan sendiri secara perlahan. Jujur abang masih belum rela menyerahkan kamu pada suami kamu, tapi abang sudah lihat jika dia benar-benar mencintai kamu dek. Pulanglah, kamu harus lihat putri kecil kamu" ujar Haikal mengeggam tangan Dara.


"Tapi Dara takut" ucap Dara menundukkan kepalanya.


"Apa yang kamu takutkan? Arham tidak akan menyakitimu, dia suami kamu. Setelah kamu benar-benar sembuh, abang akan menyuruh Arham untuk menjemput kamu" ucap Haikal mengelus wajah Dara.


"Tapi bagaimana bisa Dara menikah dengan pak Arham? bahkan kami tidak saling kenal. Dara hanya tahu dia adalah dosen Dara di kampus" tanya Dara.


"Seperti yang abang katakan, kamu akan mengingat semuanya secara perlahan" ucap Haikal.


"Tapi Dara tidak mau berdua dengannya, Dara tidak mau pulang ke sana. Dara mau pulang kerumah kita" ucap Dara menggenggam tangan Haikal.


"Apa kamu yakin? Lalu bagaimana dengan putri kamu?" tanya Haikal sambil menunjuk foto Ara.


"Da-Dara tidak tahu, beri Dara waktu" ucap Dara begitu gugup.


"Baik lah, abang akan bicarakan ini pada Arham" ucap Haikal mengelus kepala Dara.


"Istirahat lah" ucap Haikal mengecup kening Dara. Haikal membantu Dara berbaring dan menarik selimut hingga menutupi sebagian tubuh Dara.


"Abang tinggal dulu, masih ada pasien yang harus abang tangani" ucap Haikal yang dijawab anggukan oleh Dara. Haikal pun tersenyum dan langsung beranjak untuk keluar.


Dara menatap kembali foto bayi mungil itu dengan seksama. Dara memperhatikan wajah bayi itu memang begitu mirip dengannya. Dara mengelus foto itu dengan lembut dan memeluknya dengan erat.


"Bagaimana aku bisa melupakan hal yang begitu berharga, apa selama ini aku banyak sekali berbuat dosa? Maafkan hambamu ini ya allah, tolong bantu hamba untuk mengingat semuanya" ujar Dara memejamkan matanya.

__ADS_1


__ADS_2