
Buah kesabaran itu begitu manis, tak akan ada yang bisa menyaingi hadiah yang diberikan oleh-NYA. Jadi jangan lah berkeluh kesah akan apa yang menimpa dirimu. Bersabar, sesungguhnya hadiah manis akan datang padamu.
\~Cut Dara Maristha\~
Suara alat rumah sakit begitu menggema ditelinga pria yang kini tengah duduk sambil menggenggam tangan sang istri yang sedang berjuang untuk melahirkan buah hati mereka.
"Kamu kuat sayang" ucap Arham sambil menyeka keringat yang membasahi kening Dara.
"Sakit mas, kenapa dokternya lama sekali. Dara sudah tidak tahan" ucap Dara mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Arham.
"Sabar sayang, sebentar lagi dokter akan datang" ucap Arham. Benar saja, seorang dokter cantik memasuki ruangan.
"Biar saya periksa dulu ya mbak" ucap sang dokter. Dara mengangguk, ia memejamkan matanya untuk menahan rasa sakit yang semakin menjadi.
"Saya sudah tidak tahan dok, sakit" ucap Dara mengigit bibirnya. Arham yang melihat itu pun ikut cemas.
"Ah, sebentar lagi buk. Syukur lah ternyata bayinya dalam keadaan normal. Apa ibu ingin melahirkan secara normal?" tanya sang dokter. Dara menatap Arham, ia tak mengerti dengan ucapan sang dokter.
"Apa itu bisa dok, tidak akan membahayakan istri saya?" tanya Arham begitu khawatir.
"Tidak pak, keadaan bayinya normal. Ibu Dara bisa melahirkan secara normal. Banyak ibu-ibu saat melahirkan pertama operasi, tapi yang kedua melahirkan secara normal" ujar sang dokter.
"Saya mau normal dok, saya mau merasakan seperti apa dulu bunda berjuang" ucap Dara begitu yakin, sudah menjadi impian untuk Dara bisa merasakan sakitnya melahirkan normal.
"Baiklah, dengarkan aba aba saya. Sus tolong siapkan semuanya"
"Baik dok" jawab sang suster.
Dara tersenyum menatap Arham, air matanya mengalir begitu saja. Bukan, itu bukan lah air mata kesedihan. Tapi itu adalah air mata kebahagiaan, kebahagiaan yang begitu indah.
"Tarik napas, dorong perlahan" ucap dokter memberi aba aba pada Dara. Dara pun melakukan apa yang diperintahkan oleh dokter.
"Sakit mas" ucap Dara mengeratkan genggamannya, hingga tanpa ia sadari melukai tangan Arham.
"Kamu bisa, jangan takut. Aku ada disini" ucap Arham mengelus kepala Dara. Dara terus berusaha untuk mendorong anak yang ada dalam perutnya keluar.
Bayi mungil itu keluar seiring dengan suara azan subuh berkumandang. Arham mengucapkan syukur yang berkali kali saat mendengar suara tangisan buah hatinya yang sudah lahir kedunia. Dara memejamkan matanya, ia sangat kelelahan karena tenaganya benar-benar terkuras.
"Masya Allah, anaknya laki-laki. Sepertinya dia akan menjadi muazin terbaik, anak anda lahir tepat saat azan subuh berkumandang" ujar dokter, Arham hanya tersenyum untuk menanggapi ucapan sang dokter.
__ADS_1
"Sangat tampan, silakan bapak azankan," pinta sang dokter seraya memberikan bayi mungil yang masih sangat merah pada Arham. Arham mengambil bayi mungil itu kedalam gendonganya dengan pelan. Air matanya jatuh begitu saja, kebahagiaan benar-benar sudah lengkap. Hatinya sangat sakit saat ia mengingat dirinya pernah memiliki pikiran untuk menyingkirkan anak yang tak berdosa hanya karena ketakutan semata.
"Maaf," ucap Arham setelah ia mengazan kan putranya. Suster pun mengambil bayi itu untuk di bersihkan terlebih dahulu. Arham menatap Dara yang masih tertidur pulas, ia mencium kening Dara begitu dalam.
"Maaf pak, istri bapak harus kita pindahkan keruang inap" ucap sang suster. Arham pun mengangguk menyetujuinya.
***
"Dia sangat tampan" ucap Hesti mengelus pipi cucu laki-lakinya itu. Bayi mungil itu tertidur begitu pulas seakan ia tak menyadari jika saat ini sudah berada didunia.
"Cucu nenek sangat tampan" ucap Zahra ikut mencubit pipi bayi merah itu. Sedangkan Arham masih setia menunggu Dara bangun dari tidurnya.
"Papa, kenapa bunda tidur? Terus dedek bayi itu kenapa ada disini?" pertanyaan polos itu keluar begitu saja dari mulut gadis kecil yang kini berada di dalam gendongan Haikal.
"Bunda kecapean sayang, dedek bayi itu adiknya Ara" ucap Haikal.
"Yey, Ara punya adek ya? Ara mau cium adek bayi" seru Ara begitu semangat, Arham yang mendengar itu hanya bisa tersenyum.
"Sini sayang, nenek gendong. Ara mau cium adek bayi kan?" tanya Hesti yang dijawab anggukan oleh Ara. Hesti pun mengambil Ara dari gendongan Haikal.
"Ical, sebaiknya kamu pulang. Lihat istri kamu sepertinya sangat lelah, dia baru pulang kuliah langsung kesini. Kondisi saat hamil muda memang sangat cepat lelah, pulang lah" ucap Zahra saat melihat Syila sudah tertidur disofa. Memang benar, saat mendengar Dara melahirkan Syila langsung meluncur kerumah sakit.
"Iya bun, sore nanti Ical kembali lagi. Dara juga belum bangun" ucap Haikal, Zahra pun tersenyum dan mengangguk.
"Hey bangun, kok malah senyum sendiri" ucap Haikal yang sedikit aneh melihat istrinya tersenyum sendiri.
"Kakak sangat tampan" ucap Syila begitu polos, ia belum menyadari jika saat ini banyak orang yang mendengar ucapannya.
"Ekheeemmm" suara seseorang berhasil mengejutkan Syila, ia baru menyadari jika saat ini ia berada dirumah sakit.
"Kenapa tidak bilang" bisik Syila dengan wajah yang sudah memerah. Haikal tersenyum saat melihat pipi istrinya yang merona dan menambah kecantikannya. Semua orang yang melihat itu hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Kita pulang" ucap Haikal.
"Tapi Dara belum bangun" ucap Syila sambil melihat Dara yang masih tertidur.
"Nanti kita kesini lagi, kamu juga butuh istirahat" ucap Haikal, Syila mengangguk menyetujui ucapan Haikal. Keduanya pun langsung berpamitan untuk pulang.
"Mas" gumam Dara saat ia membuka matanya. Ia melihat kesekelilingnya yang ternyata disana sudah ramai orang.
__ADS_1
"Bunda" ucap Dara saat pandangannya menemukan sosok yang begitu berjasa dalam hidupnya.
"Iya sayang, selamat anak kamu sangat tampan" ucap Zahra mencium pucuk kepala Dara.
"Dara minta maaf, Dara tahu sekarang jadi seorang ibu itu tidak mudah. Dara minta maaf akhir-akhir ini jarang menjenguk bunda" ujar Dara memeluk Zahra begitu erat, tangisannya pun pecah seketika.
"Sudah, jangan menangis. Semua orang tua akan melakukan hal yang sama sayang, bunda tahu kamu juga sibuk dengan kuliah dan menjaga Ara. Sudah, lihat anak kamu sangat tampan. Mirip sekali dengan Arham" ucap Zahra. Dara pun menoleh, ia melihat bayi mungil tengah tertidur dalam box bayi.
"Dara mau gendong" ucap Dara, Arham pun mengambil bayinya dan memberikannya pada Dara.
"Hay anak bunda, kamu sangat mirip dengan papa sayang" ucap Dara kembali meneteskan air matanya, ia sangat bahagia bisa melihat langsung buah hatinya yang masih merah dan bisa menggendongnya.
"Ara" ucap Dara menatap putrinya yang kini sedang menatapnya.
"Bunda kenapa nangis? Dedek nya jahat ya?" tanya Ara yang kini sudah duduk disebelah Dara. Dara menggelengkan kepalanya, ia tersenyum dan mencium kening Ara.
"Dedek baik kok, lihat dia masih bobok" ucap Dara. Ara pun menatap adiknya, ia tersenyum dan menoel pipi adiknya.
"Bunda, kenapa adeknya gak bangun. Ara kan mau ajak adek main barby" ucap Ara yang berhasil membuat semua orang tertawa.
"Adeknya cowok sayang, kok main barby sih?" ucap Hesti mengelus kepala Ara.
"Emangnya gak boleh ya bunda?" tanya Ara begitu polos.
"Boleh sayang, nanti kalau adek sudah besar ya?" ucap Dara.
"Yah, Ara maunya sekarang" ucap Ara sambil mengerucutkan bibirnya.
"Aduh anak papa ini sangat lucu, sini main dengan papa" ucap Arham mengambil Ara kedalam gendonganya.
"Papa, Ara mau mamam" ucap Ara sambil memainkan kencing baju Arham.
"Ya sudah, kita beli makanan dulu. Aku keluar sebentar" ucap Arham menatap Dara, Dara tersenyum dan mengangguk.
"Hanya sebentar" ucap Arham mengecup kening Dara, lalu ia langsung beranjak keluar.
"Papa dan ayah kamu juga ikut keluar sebentar" ucap Galih, Dara pun mengangguk pada mertuanya.
__ADS_1
"Buah kesabaran kamu sudah terjawab sayang, bunda bangga punya anak seperti kamu" ucap Zahra mengelus kepala Dara.
"Aku juga sangat beruntung bisa mendapatkan putri kalian sebagai menantu, selain cantik, penyabar, salihah juga memberikan cucu yang imut dan tampan" ujar Hesti yang disambut tawa oleh Zahra dan Dara. Keluarga besar itu benar-benar sangat bahagia, sama halnya dengan hati Dara yang begitu bahagia bisa melihat keluarga berkumpul.