Ketulusan Hati

Ketulusan Hati
62


__ADS_3

Pagi yang sejuk, mentari yang mulai menampakkan diri dibalik awan putih seakan mengetahui isi hati seseorang wanita cantik yang kini sedang berjalan santai di sebuah taman. Tangannya begitu erat menggenggam stroller bayi, senyuman dibibirnya pun tak pernah putus.


"Kamu dingin ya sayang?" tanya wanita itu saat melihat bayi mungil yang terus menggeliat seakan tak nyaman dengan posisinya. Wanita itu berjongkok di depan stroller bayi dan mengangkat bayinya degan begitu hati-hati.


"Biar bunda peluk, nah sudah hangat sekarang kan?" ucap wanita itu mencium hidung sang bayi dengan gemas. Ia duduk di kursi sambil memainkan hidung mancung putri kecilnya.


"Dara?! Ya ampun, ini beneran kamu?" seru seseorang yang berhasil membuat Dara terkejut. Dara memicingkan matanya saat melihat seorang wanita cantik dengan balutan hijab yang senada dengan baju yang dipakai.


"Nadya?!!" ucap Dara seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat. Dara sangat ingat jika Nadya ini dulu selalu berpakaian seksi, bahkan Nadya juga tidak pernah menyukai dirinya.


"Iya ini aku, kenapa aku aneh ya berpenampilan seperti ini?" tanya Nadya.


"Ah enggak kok, kamu sangat cantik. Aku bahagia kamu sudah berubah dan tidak memusuhiku lagi" ujar Dara membuat Nadya bingung.


"Kamu lupa kita sudah berbaikan? Kamu juga yang buat aku sadar, sadar jika semua perbuatanku tidak lah baik. Aku selalu bersifat angkuh dan sering menyakiti hati orang lain. Terutama kamu Ra, aku selalu memusuhi mu hanya gara-gara seorang pria"


"Aku selalu mengingat ucapan kamu Ra, kamu mengatakan jika kita ingin mendapatkan jodoh yang baik, maka kita harus memperbaiki diri kita. Sekarang aku ingin lebih dekat dengan sang maha pencipta, aku ingin merubah hidupku. Terima kasih sudah mau mengingatkan dan menjadi temanku"


Nadya meneteskan air matanya, Dara yang mendengar pemaparan Nadya masih sangat bingung. Namun ia juga ikut terharu dengan perubahan Nadya.


"Jangan berubah karena manusia, tapi berubah lah demi Allah. Cinta Allah itu lebih indah dari segalanya, jangan pernah putus asa untuk terus mendekatkan diri padanya. Memang sangat sulit, tapi seiring waktu semuanya akan berjalan dengan mudah" ujar Dara tersenyum pada Nadya.


"Iya, kamu benar Ra" ucap Nadya menatap Dara lekat, lalu pandangannya beralih pada bayi mungil yang ada didekapan Dara.


"Anak kamu sangat cantik, mirip sekali degan kamu Ra" ucap Nadya mencubit pelan pipi Ara.


"Semua orang mengatakan hal itu, namanya Dillara. Panggil saja Ara" ucap Dara tersenyum.

__ADS_1


"Boleh aku gendong?" tanya Nadya menatap Dara penuh harap, Dara pun mengangguk dan memberikan Ara pada Nadya. Nadya terlihat sangat canggung saat menggendong Ara karena itu adalah pertama kalinya ia menggendong seorang bayi.


"Jangan terlalu tegang, Ara tidak lasak" ucap Dara saat menyadari kecanggungan Nadya.


"Maklum, ini pertama kali aku gendong bayi" ucap Nadya tersenyum.


"Sekalian belajar" ucap Dara tertawa renyah.


Tanpa mereka sadari, seseorang yang berdiri tak jauh dari mereka tersenyum lebar melihat kedekatan mereka berdua. Ia melangkahkan kakinya menjauh dari sana, namun senyuman itu tak juga pudar.


***


"Dara, nanti malam kita akan kerumah mama. Papa sakit, jadi bersiap lah dan kita juga akan menginap disana" ucap Arham di ambang pintu kamar. Memang selama ini Arham tidak satu kamar dengan Dara, Arham tidak ingin membuat Dara tak nyaman jadi ia mengalah untuk pindah kamar.


"Baik lah" ucap Dara mengangguk, Arham tersenyum dan langsung beranjak pergi.



"Ya sudah, Ara bobok dulu. Bunda mau mandi" ucap Dara mencium pipi Ara dan menarik selimut hingga menutupi sebagian tubuh Ara. Dara tersenyum dan langsung beranjak menuju kamar mandi.


"Sudah selesai?" tanya Arham membuka pintu kamar Dara sedikit.


"Sudah" ucap Dara yang langsung menggendong Ara, ia sedikit kesulitan membawa tas untuk keperluan Ara. Arham yang melihat itu langsung masuk kedalam dan membantu Dara.


"Terimakasih" ucap Dara, lalu ia berjalan terlebih dahulu.


"Apa rumah mama jauh?" tanya Dara saat mereka sudah dalam perjalanan.

__ADS_1


"Tidak, hanya dua puluh menit" ucap Arham tanpa menoleh kearah Dara. Dara mengangguk tanda mengerti. Lalu tak lama Dara sangat terkejut kerena Ara terbangun dan menangis.


"Suuussttt... Kenapa sayang? Kamu haus ya dari sore belum minum susu?" tanya Dara menepuk paha Ara dengan pelan. Dara menatap Arham sekilas, ia tidak mungkin memberi asi pada Ara di depan Arham. Ya, sudah seminggu ini Dara memang sudah bisa menyusui Ara.


"Aku tidak akan melihat, kamu bisa memberikan Ara asi dia sudah sangat haus" ucap Arham yang mengerti dengan maksud tatapan Dara. Dara sebenarnya sangat malu, namun ia menepis rasa itu karena Ara semakin kencang menangis.


"Iya sayang, kita minum ya?" ucap Dara yang mulai memberikan asi pada Ara. Dara benar-benar mengenyampingkan rasa malunya, lagian Arham juga suaminya jadi Dara tidak akan berdosa.


Dara tersenyum saat melihat Ara begitu lahap meminum asi. Sejak Dara memberikan asi, Ara kini telihat lebih gemuk dan semakin menggemaskan.


"Cepat besar sayang" ucap Dara mengelus kening Ara. Ara menatap Dara dan mulai memainkan tanganya di wajah Dara. Dara sangat bahagia bisa melihat perkembangan anaknya dengan sangat pesat.


"Sudah kenyang?" tanya Dara saat Ara sudah berhenti menyusu, Ara pun tersenyum seakan mengerti ucapan Dara. Dara merapikan pakaianya dan membenarkan posisi Ara.


"Anak papa sudah besar" ucap Arham mencubit pipi Ara gemas. Ara yang diperlakukan seperti itu pun terlihat bahagia dengan mengoyangkan kakinya dan tersenyum pada Arham.


"Terimakasih" ucap Arham membuat Dara bingung.


"Terimakasih sudah jadi ibu yang baik untuk Ara, terima kasih untuk semuanya" ucap Arham menggenggam tangan Dara.


"Sudah kewajiban Dara" ucap Dara menatap Arham lekat, ada sedikit rasa sedih karena Dara masih belum mengingat tentang Arham.


"Maaf, Dara masih belum bisa mengingat apapun" ucap Dara yang sudah berlinang air mata.


"Tidak jadi masalah, cepat atau lambat kamu akan mengingat semuanya" ucap Arham mengelus kepala Dara, Dara mengangguk dan tersenyum.


"Terimakasih" ucap Dara, Arham tersenyum lalu kembali pokus menyetir. Sepanjang perjalanan tak ada lagi pembicaraan, sebenarnya Dara sudah sangat mengantuk namun ia tidak bisa tidur karena Ara terjaga. Dara terus mengajak Ara bicara agar kantuk nya hilang.

__ADS_1


"Sebentar lagi sampai, kamu bisa langsung tidur" ucap Arham, Dara sangat terkejut karena Arham mengetahui jika dirinya sangat mengantuk. Dara menatap Arham sebentar dan mengangguk, lalu ia kembali menatap Ara yang sedang bermain dengan jarinya.


__ADS_2