Ketulusan Hati

Ketulusan Hati
70


__ADS_3

Balutan gaun biru langit semakin menambah kecantikan ibu satu anak itu. Ia terus menatap dirinya dicemrin karena masih tidak yakin dengan penampilannya. Lalu tak lama masuk seorang pria dengan setelan jas dengan warna senada dengan sang wanita.


"Kamu sangat cantik sayang" ucap pria itu memeluk sang wanita dari belakang.


"Mas, apa Dara cocok dengan gaun ini?" tanya wanita itu yang tak lain adalah Cut Dara Maristha. Ia membalikan tubuhnya menghadap sang suami, Arham Maulana Pratama.


"Apa pun yang kamu kenakan, kamu akan tetap cantik" ucap Arham mengecup pipi Dara.


"Ck, mulai deh" ucap Dara mencubit perut Arham pelan. Arham pun tertawa saat melihat wajah kesal Dara.


"Ara sudah siap?" tanya Dara pada Arham yang kini tengah menatap wajahnya.


"Sudah, tadi mama yang gendong" ucap Arham.


"Ya sudah, kita keluar juga yuk" ucap Dara hendak keluar, namun dengan cepat Arham menahannya.


"Jangan terlalu cepat, manfaatkan waktu berdua kita sayang" ucap Arham berbisik ditelinga Dara. Dara yang mendengar itu sedikit mencerna ucapan Arham.


"MAS.. ini sudah terlambat" ucap Dara kesal sambil mencubit perut Arham. Namun kali ini cubitanya berhasil membuat Arham meringis kesakitan.


"Rasain, siapa suruh pagi-pagi sudah bikin kesal... Woeee" ucap Dara menjulurkan lidahnya dan langsung beranjak keluar meninggalkan Arham yang masih mengelus perutnya.


"Sayang, tanggung jawab dong" teriak Arham, namun Dara sama sekali tak menghiraukannya.


"Wah anak bunda sudah cantik" ucap Dara saat melihat Ara sudah sangat cantik dengan gaun yang sama dengannya.


"Cantik dong sama seperti bunda" ucap Hesti.


"Nenek bisa aja kan sayang" ucap Dara mengambil Ara dari gendongan Hesti.


"Kak Ilham sudah siap ma?" tanya Dara.


"Kok kakak sih, kamu kan kakaknya Ilham" ucap Hesti meralat panggilan Dara pada Ilham.


"Maaf ma, Dara sudah terbiasa" ucap Dara merasa bersalah.


"Belajar dong sayang, mulai dari sekarang dibiaskan panggilan yang benar" ujar Arham yang tiba-tiba muncul dan merangkul pinggang Dara.

__ADS_1


"Dara usahakan" ucap Dara tersenyum.


"Ya sudah, kalau begitu kita bersiap sepertinya Ilham sudah siap" ucap Hesti yang dijawab anggukan oleh Arham dan Dara.


***


"Mas, mereka sangat serasi ya?" ucap Dara sambil menatap Ilham dan Nadya yang tengah berdiri diatas pelaminan sambil menyalami tamu yang datang.


"Sudah jodoh ya pasti serasi, kamu mau juga?kalau mau kita buat lagi seperti itu" ucap Arham menaikkan sebelah alisnya sambil menatap Dara.


"Tidak perlu mas, sekali seumur hidup sudah cukup" ucap Dara. Arham yang mendengar itu pun hanya tersenyum.


"Bagaimana jika aku yang duluan menghadap allah? Apa kamu?...


"Cukup mas, kenapa harus membahas itu sih?" potong Dara yang tidak suka dengan arah pembicaraan Arham.


"Kan seandainya sayang, lagian kan semua orang pasti akan meninggal" ucap Arham.


"Cukup, Dara tidak mau dengar lagi" ucap Dara yang langsung pergi meninggalkan Arham.


"Auwwh" pekik Dara saat sebelah kakinya tak sengaja terperosok kedalam lubang.


"Auwwh, sakit" ringis Dara, ia berusaha mengangkat kakinya namun rasa sakit yang ia rasakan semakin menjadi.


"Hiks, sakit" rengek Dara, lalu tak lama sebuah tangan menyetuh kakinya.


"Lain kali kalau merajuk itu lihat keadaan, jika seperti ini siapa yang salah?" ucap Arham membuka sepatu yang Dara kenakan.


"Ini semua salah mas, jika auwh jangan ditekan sakit!!" ucap Dara yang mulai meneteskan air matanya.


"Ck, ternyata bunda masih kecil ya? Begitu saja menangis" ucap Arham mengangkat tubuh Dara.


"Sakit mas, mas tidak merasakan" ucap Dara memukul dada Arham dengan kesal, Arham pun tersenyum melihat tingkah istrinya.


"Maaf" ucap Arham mencium pucuk kepala Dara.


"Jangan bicara seperti itu lagi, Dara tidak mau mas pergi. Jangan bicara yang aneh lagi hiks" ucap Dara mulai terisak.

__ADS_1


"Mas minta maaf dan berjanji tidak akan mengatakan hal itu lagi" ucap Arham.


"Ya ampun, Dara kenapa?!!" seru Hesti saat melihat Arham menggendong Dara.


"Biasa ma, anak kecil jatuh terperosok" ucap Arham yang berhasil mendapatkan cubitan dari Dara.


"Awhh sakit sayang" ucap Arham sambil tersenyum.


"Ya ampun, bawa kekamar aja. Kamar tamu kosong kok" ucap Nia ibu dari Nadya.


"Terimakasih tan" ucap Arham tersenyum ramah.


"Iya sama sama, ayok tante antar kalian" ucap Nia, Arham pun mengangguk dan mengikuti langkah Nia.


"Ya ampun kok bisa terkilir begini sih? Bunda sudah bilang bukan kamu harus hati-hati, jika sudah seperti ini siapa yang susah? Suami kamu kan? Lihat, Ara juga siapa yang jaga?" omel Zahra sambil mengurut kaki Dara dan sekali melihat Ara yang sedang menatapnya.



"Awhh sakit bun pelan-pelan" ringis Dara sambil mencengkram bantal. Ara yang mendengar suara Dara pun malah tertawa.


"Ih kok ketawa sih? Bunda lagi sakit sayang" ucap Dara mencubit pipi Ara gemas. Ara pun tersenyum dan menggerakkan tangan dan kakinya.


"Bunda sakit, Dara tidak mau lagi di urut sakit bun... Aduh udah bun" seru Dara semakin erat mencengkram bantal.


"Ck, tahan sedikit jika tidak diurut nanti masuk angin dan bengkak. Sudah punya anak juga masih seperti anak kecil" ucap Zahra yang tak menghiraukan ucapan Dara.


"Tapi ini sakit bunda" ucap Dara yang mulai meneteskan air matanya.


"Siapa suruh lasak, kebiasaan lama" ucap seseorang yang tiba-tiba muncul. Dara dan Zahra pun langsung melihat kearah pintu.


"Abang, sakit" rengek Dara pada Haikal yang masih berdiri diambang pintu dengan tangan terlipat didada.


"Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Haikal berjalan mendekati Dara.


"Dara tidak tahu ada lubang, jadi kaki Dara terperosok" ucap Dara.


"Ck, cerobohnya gak hilang-hilang" ucap Haikal duduk disamping Ara. Dara yang mendengar ucapan Haikal pun hanya bisa mengerucutkan bibirnya. Sedangkan Zahra hanya bisa tersenyum melihat kedua anaknya yang sudah terbiasa bercanda ria jika bersatu.

__ADS_1


__ADS_2