Ketulusan Hati

Ketulusan Hati
68


__ADS_3

Suara Azan berhasil membangunkan ibu muda yang tengah terlelap. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu pandangannya beralih pada sosok yang kini masih terlelap disampingnya dengan jarak yang begitu dekat.


"Mas bangun, sudah subuh" ucap Dara hendak bangun dari tidurnya, namun dengan cepat Arham menariknya hingga kembali tertidur.


"Mas, ini sudah kesiangan. Dara harus shalat dan juga menyiapkan sarapan" ucap Dara mencoba melepaskan tangan Arham yang melingkar diperutnya.


"Ini hari libur, tidak perlu membuatkan sarapan. Tunggu sebentar lagi, masih dingin" gumam Arham semakin merapatkan tubuhnya dengan Dara.


"Ck, subuh dulu mas" ucap Dara melepaskan tangan Arham dengan paksa, lalu ia langsung beranjak menuju kamar mandi.


Setelah selesai shalat, Dara kembali membangunkan Arham yang masih terlelap dengan selimut yang hampir menutupi seluruh tubuhnya.


"Mas, itu jinnya jangan dimanja nanti makin suka!!" seru Dara menarik selimut Arham.


"Ck, dingin sayang" gumam Arham tanpa membuka matanya. Dara yang mendengar itu hanya menggelengkan kepalanya. Lalu tak lama suara Ara menangis pun terdengar. Dara langsung menghampiri box bayi Ara.


"Anak bunda sudah bangun?" ucap Dara mengangkat Ara kedalam gendongannya.


"Bantu bunda bangunin papa ya?" ucap Dara berjalan menuju ranjang, ia meletakkan Ara diatas ranjang. Ara pun semakin kencang menangis, Arham yang merasa terganggu pun membuka matanya.


"Shhhhttt, anak papa jangan nangis. Siapa jahat? Bunda jahat ya?" ucap Arham mengubah posisi tidurnya menjadi duduk, ia hendak mengambil Ara namun dengan cepat ditahan oleh Dara.


"Solat dulu mas" ucap Dara kembali menggendong Ara.


"Bunda kamu sangat pintar sayang" ucap Arham mencium Ara dan Dara bergantian, lalu ia langsung melesat kekamar mandi. Dara yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya, ia sudah terbiasa dengan kelakuan Arham setiap pagi.


"Ara haus ya? Iya sayang, kita minum susu ya?" ucap Dara saat melihat mata dan hidung Ara yang merah karena habis menangis.


"Sudah kenyang?" tanya Dara saat Ara sudah tak lagi meminum asi. Ara tersenyum sambil mengoyangkan kedua kakinya. Arham yang baru selesai solat pun menghampiri Dara dan mencium pipi Ara dengan gemas.


"Ara jalan-jalan ya dengan papa? Papa sudah lama tidak membawa Ara jalan-jalan" ucap Arham sambil terus mencium pipi Ara.


"Iya papa, tapi Ara mandi dulu ya?" ucap Dara menirukan suara anak kecil.

__ADS_1


"Papa juga mau mandi, biar papa yang mandiin Ara" ucap Arham mengambil Ara dari Dara.


"Ya sudah, kalau begitu Dara buat sarapan dulu" ucap Dara yang dijawab anggukan oleh Arham, Dara pun keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur.


***


"Assalamualaikum bunda" ucap Arham yang baru saja pulang bersama Ara didalam stroller.


"Wa'alaikumusalam" jawab Dara dari arah pintu belakang, ia berjalan dengan pasti mendekati Arham dan Ara.


"Wah anak bunda senang ya jalan-jalan dengan papa? Iya sayang?" ucap Dara menggendong Ara, Ara pun tersenyum saat Dara mencium pipinya.


"Mas mandi dulu sana, bau keringat" ucap Dara melihat baju Arham yang basah dengan keringat.


"Mau dicium juga dong kayak Ara" ucap Arham sambil menunjuk pipinya. Dara yang mendengar itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Minta cium aja sama shower mas" ucap Dara sambil beranjak menuju kamar, Arham menghela napas sambil menatap punggung Dara yang mulai menghilang dibalik pintu.


"Kau sangat menggemaskan sayang" ucap Arham sambil tersenyum dan menyusul Dara masuk kekamar.


"Minggu depan kita kerumah mama, lagian kamu juga masih belum sehat sepenuhnya dan Ara juga sekarang semakin rewel. Mama akan mengerti" ucap Arham duduk di samping Dara.


"Tapi Dara tidak enak dengan mama, mama pasti sendirian mengurus semuanya" ucap Dara menatap Arham dengan wajah bersalah.


"Jangan salah, teman mama sangat banyak jadi kamu jangan khawatir" ucap Arham menoel dagu Dara.


"Baik lah kalau begitu" ucap Dara tersenyum.


"Bang Ical bagaimana? Kapan dia akan menikah?" tanya Arham.


"dua minggu setelah kak Ilham" ucap Dara membenarkan posisi Ara.


"Sudah?" tanya Dara pada Ara, Ara pun tersenyum sambil menggoyangkan kedua kakinya.

__ADS_1


"Sama papa?" ucap Arham mengambil Ada dari gendongan Dara.


"Mas, kapan Dara bisa kuliah lagi?" tanya Dara dengan sedikit ragu.


"Tunggu Ara besar" ucap Arham tanpa menatap Dara, Dara menatap Arham begitu dalam.


"Emmm, Dara sudah hampir lupa semua pelajaran dikampus. Bahkan Dara belum ingat kapan terakhir Dara berhenti kuliah" ujar Dara yang berhasil mendapatkan perhatian Arham.


"Setelah Ara berusia satu tahun, kamu sudah bisa melanjutkan kuliah lagi" ucap Arham menatap Dara, namun Dara sama sekali tak merespon.


"Apa kamu keberatan?" tanya Arham.


"Tidak" ucap Dara dengan tak semangat, Arham yang menyadari akan hal itu langsung mengenggam tangan Dara.


"Aku cuma mau kamu pokus dulu menjaga Ara, Ara masih sangat membutuhkan perhatian kita sayang. Jika kita sama-sama sibuk, aku takut akan memengaruhi pertumbuhan Ara. Tapi jika memang kamu ingin secepatnya kembali kualiah, aku akan memikirkannya kembali" ujar Arham menatap Dara. Dara yang mendengar itu hanya bisa menunduk.


"Bagaimana?"


"Mas benar, Dara akan sabar sampai Ara berusia satu tahun. Dara janji akan membagi waktu dengan baik" ucap Dara


"Terimakasih sudah mengerti" ucap Arham. Namun tak lama Arham merasakan suatu yang hangat mengenai celananya.


"Ara pipis ya?" tanya Arham mengangkat tubuh mungil Ara, benar saja kini celana Arham sudah basah. Dara yang melihat itu langsung tertawa.


"Papa baru selesai mandi sayang" ucap Arham dengan nada kesal, Ara yang mendengar itu langsung menangis.


"Aduh anak bunda jangan menangis, papa jahat ya? Papa merahin Ara ya?" ucap Dara mengambil Ara dari tangan Arham.


"Maaf, aku tidak ada maksud untuk membuat Ara menangis" ucap Arham merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, mas ganti pakaian aja dulu" ucap Dara mengganti celana Ara.


"I love you" ucap Arham mencium pipi Dara dan langsung melenggang pergi. Dara sangat terkejut dengan perlakuan Arham, padahal hampir setiap hari Arham melakukan hal itu.

__ADS_1


"Dasar" ucap Dara, namun bibirnya kini membentuk bulan sabit. Ara yang tadinya menangis pun kini terdiam sambil menatap Dara.


__ADS_2