Ketulusan Hati

Ketulusan Hati
82


__ADS_3

Setiap manusia memiliki masa lalu, jangan jadikan masa lalu sebagai kesalahan terbesar. Tapi jadikan masa lalu yang kelam sebagai pelajaran untuk menjadi lebih baik.


~Ketulusan Hati~


Dara terus mondar-mandir hingga membuat Haikal jengah.


"Dek, kamu kenapa sih? Duduk" ucap Haikal menghampiri Dara. Dara membalikan tubuhnya, ia menatap Haikal dengan tatapan sendu.


"Hati Dara tidak enak bang, Dara takut terjadi sesuatu pada Nissa" ucap Dara sambil mengigit jarinya.


"Oh iya, abang bukanya kenal dengan suami Nissa? Pasti abang tahu kan dimana Nissa tinggal?" ucap Dara dengan mata berbinar. Haikal menatap Dara sekilas, lalu ia kembali membalikan tubuhnya.


"Tidak perlu ikut campur dengan rumah tangga orang lain, lebih baik kamu pulang dek. Kasian Ara dan Azka" ucap Haikal duduk di ranjang Syila.


"Tapi bang... "


"Pulang" ucap Haikal tegas, Dara menghela napas dalam.


"Baik lah, kalau begitu Dara pulang dulu. Assalamualaikum" ucap Dara mencium punggung tangan Haikal, ia menatap Haikal sebentar. Lalu ia kembali menghela napas dan langsung beranjak pergi.


Tepat didepan pintu utama rumah sakit, langkah kaki Dara terhenti. Ia melihat seseorang yang terbaring diatas brankar yang didorong oleh beberapa suster. Matanya juga menangkap sesosok wanita paruh baya yang tengah menggendong anak kecil.


"Nissa!!"


Dara langsung berlari mengikuti mereka, ia mengejar wanita paruh baya itu dengan cepat.


"Ibu tunggu sebentar, apa yang terjadi dengan Nissa?" tanya Dara menarik tangan wanita paruh baya itu.


"Anda siapa?" tanyanya dengan wajah khawatir, lalu pandangan Dara berlaih pada tubuh mungil yang bergetar karena terisak.


"Saya sahabat Nissa, bisa tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?"


"Non Nissa mengalami pendarahan"

__ADS_1


Dara yang mendengar itu menutup mulutnya dengan tangan.


"Ayo kita lihat keadaan Nissa, saya harus... "


"Non, jangan kesana saya mohon" ucap wanita paruh baya itu menarik tangan Dara. Dara menatap wanita paruh baya untuk bertanya ada apa sebenarnya?


"Bisa ikut bibik sebentar?" tanya wanita itu menatap Dara. Dara sedikit berfikir, ia menatap anak kecil yang sedang menatapnya. Dara mengulurkan tanganya pada Alan, dengan senang Alan langsung menerima uluran tangan Dara. Dara membawa Alan kedalam gendonganya.


"Hey tampan, kenapa nangis?" tanya Dara sambil menghapus air mata yang membasahi pipi Alan.


"Mama" ucap Alan kembali menangis, lalu Dara pun langsung memeluk Alan.


"Jangan nangis, mama baik-baik aja kok" ucap Dara, lalu ia kembali menatap bibik.


"Ikut bibik sebentar" ucap bibik menarik tangan Dara. Lalu mereka berjalan menuju taman rumah sakit dan memilih untuk duduk di bangku. Kebetulan keadaan taman cukup sepi.


"Non sahabat non Nissa kan? Tolong bantu non Nissa, dia sudah cukup menderita non" kini bibik ikut menangis sambil menggenggam tangan Dara.


"Saya juga tidak tahu bagaimana non Nissa bisa masuk kerumah yang seperti neraka itu"


3 tahun yang lalu....


Sebuah mobil mewah berhenti tepat didepan pintu utama. Seorang pria bertubuh tinggi dengan setelan jas, punggung yang lebar dan dengan pahataan wajah yang sempurna terlihat turun dari mobil.


"Bawa dia masuk kedalam" ucapnya begitu dingin pada salah seorang pria yang memakai pakain serba hitam. Pria itu sedikit berlari untuk membuka pintu mobil.


"Nona muda, silahkan turun" ucapnya sambil membungkuk. Wanita cantik dengan balutan gaun pengantin itu keluar dari dalam mobil, wajahnya sama sekali tidak mencerminkan seorang pengantin bahagia.


"Mari ikut dengan saya nona, anda sudah ditunggu dengan tuan Arnold" ucap pria itu membimbing wanita cantik itu untuk masuk ke dalam.


'Jadi namanya Arnold? Bagaimana bisa aku tidak tahu nama pria yang saat ini sudah sah menjadi suamiku. Papa juga tidak pernah menyinggung namanya, bahkan saat akad saja aku tidak bisa melihatnya'


"Silahkan masuk" pria itu membuka pintu sebuah ruangan. Wanita itu dengan ragu melangkah sedikit demi sedikit. Kakinya terhenti dan tubuhnya bergetar saat melihat adegan panas dihadapannya.

__ADS_1


'Ya tuhan, apa yang dia lakukan? Apa dia lupa sudah menikah? Siapa wanita itu? Apa dia istrinya?'


"Apa yang kau lihat? Biasakan dari sekarang, karena kau akan melihatnya setiap hari" pria bersuara baritone itu tersenyum miring sambil memainkan rambut wanita yang duduk dipangkuannya.


"Rey, bawakan surat perjanjian itu kemari"


Surat perjanjian? Apa maksudnya?


"Ini tuan" pria berpakaian serba hitam itu meletakkan secarik kertas diatas meja.


"Anissa Hafisah Digantara, apa kau senang mendapatkan nama belakangmu? Haha, aku harap kau menjaga nama baik untuk nama belakangmu"


"Ah iya, kemari lah" imbuh pria itu sambil mejentikkan jarinya. Nissa pun dengan sangat ragu berjalan mendekati pria yang kini telah menjadi suaminya.


"Duduk"


Nissa duduk tepat didepan suaminya, ia terus memandang wanita ada dalam dekapan Arnold.


"Dia kekasihku, namanya Wina. Jadi kau tidak perlu terkejut"


"Oh iya, silahkan baca surat perjanjian nya nona Nissa" imbuh Arnold memberikan kertas itu pada Nissa. Nissa mengambil kertas itu dengan tangan gemetar. Namun raut wajahnya langsung berubah saat ia membaca isi dari perjanjian yang suaminya berikan.


"Saya tidak setuju dengan perjanjian yang terakhir, bagaimana bisa anda melakukan apa yang anda mau sedangkan saya harus patuh pada anda dan tidak boleh keluar rumah?" ujar Nissa dengan mata yang sudah memerah.


"Tidak jadi masalah jika kamu tidak setuju. Rey katakan bahwa DGR Group mencabut semua saham pada Nara Group" Nissa yang mendengar hal itu langsung menatap Arnold, ia mengepalkan kedua tangannya untuk menahan agar tidak emosi. Nissa menghela napas begitu dalam, senyuman yang begitu manis pun ia tunjukkan pada sang suami.


"Aku hanya orang biasa, bagaimana aku bisa menolak suamiku" ucap Nissa dengan menekan ucapan terakhirnya.


"Ah kau sangat manis istriku, cepat tanda tangan jika kau setuju. Setelah itu istirahat, biarkan aku menikmati waktu ku bersamanya" ujar Arnold sambil memainkan rambut milik wanita yang bergelayut manja ditubuhnya. Nissa kembali tersenyum , ia bangun dari duduknya dan pergi meninggalkan ruangan yang membuat dadanya sangat sesak.


"Oh iya, kamarmu ada dipaling ujung. Ingat jangan pernah naik keatas" teriak Arnold saat Nissa hendak membuka pintu. Nissa diam sesaat, lalu ia kembali melanjutkan langkahnya. Nissa menutup pintu dengan pelan, ia menyadarkan tubuhnya disana. Cairan bening itu sudah tak bisa ia tahan dan tumpah membasahi pipinya.


'Permainan apa yang sebenarnya engkau berikan ya allah? aku hanya ingin memiliki suami yang mencintaiku dan menerima ku dengan hati yang tulus'

__ADS_1


__ADS_2