Ketulusan Hati

Ketulusan Hati
90


__ADS_3

Langkah kaki Dara dan Arham pun terdengar begitu jelas di koridor rumah sakit. Wajah cemas pun terpancar dari paras cantik wanita dua anak itu. Kedua tanganya mengepal untuk mengurangi rasa cemas yang bergejolak di hatinya.


"Bibik" panggil Dara saat mereka sudah tiba di depan ruang inap Nissa.


"Non nisa, dia mengalami pendarahan lagi. Keadaannya semakin memburuk" ucap bibik terisak dan langsung memeluk Dara. Dara memejamkan matanya tak sanggup menerima kenyataan.


"Kita harus banyak berdoa untuk Nissa bik" ucap Dara mengelus punggung bibik.


"Bik, apa orang tua Nissa tidak datang?" tanya Dara saat menyadari sejak kemarin ia sama sekali tak melihat keluarga Nissa. Bibik menggeleng, ia kembali duduk di kursi dengan lemas.


Flashback on


"Mama, papa" ucap Nissa saat melihat kedua orang tuanya berada diambang pintu.


"Nissa" ucap sang mama menghampiri Nissa dan memeluk putrinya dengan erat.


"Ma, ada apa?" tanya Nissa penasaran, ia pun melerai pelukannya.


"Mama sama papa minta maaf sayang, jika bukan karena mama dengan papa kamu tidak akan mengalami ini semua" ujar mama menatap Nissa begitu lekat. Sedangakan sang papa hanya diam membisu.


"Papa, apa papa tidak merindukan Nissa?" ucap Nissa menatap sang papa penuh kerinduan. Sang papa pun mendekat dan langsung memeluk Nissa.


"Papa minta maaf sayang" ucap papa mengelus rambut Nissa begitu lembut.


"Jaga diri baik-baik sayang, papa dan mama tidak mungkin selalu ada untuk kamu. Jadilah istri penurut, jangan membantah apa pun yang suami kamu ucapkan" imbuh papa semakin erat memeluk Nissa. Nissa merasakan seperti ada yang aneh, hatinya juga sedikit gelisah.


"Iya pa, Nissa mengerti" ucap Nissa tersenyum.


"Papa dengan mama harus pergi, jaga diri baik baik sayang" ucap mama membuat Nissa bingung.


"Mama dengan papa mau kemana?" tanya Nissa penuh selidik.


"Papa dan mama harus ke luar kota sayang, ada sedikit urusan disana." ucap mama mengelus kepala Nissa. Nissa merasa kedua orang tuanya seperti akan pergi sangat jauh.

__ADS_1


"Ma, pa. Apa tidak bisa ditunda dulu?" tanya Nissa penuh harap.


"Maaf sayang, kami harus pergi sekarang. Papa kamu harus melakukan meeting besok pagi. Mama harap kamu selalu bahagia sayang" Mama mengecup pucuk kepala Nissa dengan lembut. Lalu tak lama mereka pun berpamitan untuk pergi. Nissa menyetuh dadanya, ia merasakan sesuatu yang tidak enak.


'Tolong lindungi mama dan papa ya allah' batin Nissa.


Beberapa jam kemudian...


"Non mau makan apa? Biar bibik buatkan" tanya bibik saat melihat Nissa sedang menonton televisi bersama Alan yang sedang tertidur.


"Em, makan apa ya? Kayaknya sup udang enak deh bik. Buat lebih ya bik, kita makan sama-sama" ucap Nissa tersenyum.


"Sipp non, ditunggu ya?" ucap Bibik yang langsung beranjak menuju dapur. Nissa kembali pokus pada televisi.


"Ini non sup nya, dihabiskan ya biar non makin sehat" ucap bibik seraya memberikan Semangkuk sup pada Nissa.


"Makasih bik" ucap Nissa mengambil sup dengan semangat. Lalu tak berapa lama suara ponsel Nissa pun berdering, dengan sigap ia mengambil ponselnya.


"Hallo" ucap Nissa, namun tak lama mangkuk yang ia pegang pun terjatuh hingga pecah. Bibik yang melihat itu sangat terkejut dan bingung.


"Mama, papa" ucap Nissa, ia menjatuhkan ponsel di tangannya.


"mereka udah gak ada bik, mama sama papa kecelakaan" Nissa langsung berhambur kepelukkan bibik.


"Ya allah, sekarang mereka dimana non?" tanya bibik mengelus pundak Nissa.


"Rumah sakit bik, bantu Nissa pergi kesana bik" ucap Nissa melerai pelukannya. Bibik mengangguk menyetujui, lalu mereka pun langsung beranjak pergi.


Nissa terduduk lesu di ranjang, setelah pulang dari pemakaman ia langsung mengurungkan diri. Sudah beberapa kali bibik memanggil dirinya, namun Nissa sama sekali tak perduli.


"kenapa mama dan papa ninggalin Nissa, Nissa mau ikut" ucap Nissa menenggelamkan wajahnya di antara kedua kaki. Ia terus menangis sepanjang hari. Ia tidak peduli orang-orang terus memanggil dirinya.


Flashback off

__ADS_1


Butiran bening kini sudah membasahi pipi Dara. Ia mengusap pipinya dengan lembut.


'Lihat dirimu Dara, kamu sama sekali tidak tahu apa-apa. Kamu benar-benar tidak berguna. Sahabat macam apa yang tidak tahu tentang kesedihan sahabatnya? Aku sama sekali tidak berguna' batin Dara


"Kapan itu terjadi bik? Bagaimana aku tidak tahu tentang semua ini?" ucap Dara mulai terisak. Arham memeluk Dara dengan lembut, tangannya terus mengelus pundak Dara.


"Satu tahun yang lalu non, saat itu non Nissa benar-benar terpukul. Jika bukan karena den Alan, mungkin non Nissa tidak akan sekuat ini non" ujar bibik ikut menangis. Dara melepaskan pelukanya, ia memandang Alan yang kini tengah memeluk bibik.


"Alan" ucap Dara mengambil Alan dan memeluknya dengan erat.


Setelah beberapa saat, terlihat seorang dokter keluar dari ruang rawat Nissa bersama pria tampan yang tak lain adalah Arnold. Arnold menatap Dara dan Arham bergantian, lalu ia menatap Alan lekat.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Arham pada sang dokter.


"Kondisi pasien sangat lemah, dia belum bisa ditemui oleh siapapun. Tolong bantu doa untuk kesembuhannya" ucap sang dokter, Dara mengangguk pelan.


"Saya harap anda sadar sekarang, penyesalan akan datang di akhir" ucap Dara pada Arnold. Arnold menatap Dara sekilas, lalu ia pun langsung beranjak pergi.


"Papa" teriak Alan memanggil Arnold, namun hal itu sama sekali tidak membuat Arnold berpaling.


"Kita pulang dulu ya sayang? Besok kita kesini lagi" ucap Dara.


"Enggak, Alan mau mama!!" teriak Alan berusaha turun dari gendongan Dara. Bibik yang melihat itu langsung mengambil Alan.


"Alan, mama sedang sakit. Kita pulang ya? Besok bibik janji akan bawa Alan kesini" ucap bibik.


"Alan mau mama"


"Iya sayang, besok kita ketemu mama. Sekarang kita pulang, Alan mau mama tambah sakit?" ucap Arham yang langsung dijawab gelengan oleh Alan.


Pada akhirnya mereka pun kembali pulang kerumah. Keadaan Nissa masih belum stabil. Arnold kembali masuk ke ruang rawat Nissa, ia duduk disamping Nissa.


"Bangun lah, aku janji tidak akan pernah menyakiti kamu lagi. Aku mohon" ucap Arnold menggenggam tangan Nissa. Air matanya meluncur begitu saja, ia mengusap pipinya dan melihat cairan bening di tangannya.

__ADS_1


"Lihat, kau berhasil membuat ku menangis. Tidak ada yang pernah berhasil melakukan ini Nissa, cuma kamu yang berani membuat ku menangis" Arnold mengusap wajah Nissa dengan lembut. Ia kembali menangis, perkataan Dara kembali terngiang ditelinganya.


"Benar, dia benar. Sekarang aku sadar, aku sadar Nissa. Maafkan aku, bangunlah. Aku ingin memperbaiki semuanya" kini Arndol semakin terpuruk, ia menenggelamkan wajahnya. Bayangan wajah sedih Nissa terus mengahantui pikirannya. Beberapa hari ini ia sama sekali tidak bisa tidur. Mungkin ini yang di namakan penyesalan.


__ADS_2