Ketulusan Hati

Ketulusan Hati
81


__ADS_3

Tangan yang gemetar itu berusaha untuk menggapai handle pintu, ia akan menerima hukuman suaminya dengan senang hati. Setiap manusia pasti memiliki rasa takut, sama hal nya dengan wanita itu yang tengah memendam rasa takut di hatinya.


Ia memejamkan matanya untuk memberanikan diri masuk kedalam rumah. Baginya rumah itu adalah sebuah neraka, tak pernah ada kebahagian ataupun kesejukan disana. Rumah mewah itu terlihat sangat sepi, tak ada satu orang pun yang menyambut ia pulang.


Kaki jenjang itu melangkah dengan lebar, saat ini tujuannya adalah kamar kecil yang sudah ia tempati selama 3 tahun. Tempat yang bisa sedikit menenangkan hatinya.


"Assalamualaikum" ucapnya sambil membuka pintu perlahan.


"Wa'alaikumusalam, ya ampun non kemana aja? Tuan dari tadi terus marah-marah. Den Alan juga baru aja tidur"


"Maaf bik, Nissa tadi kerumah sakit" ucap Nissa duduk disebelah malaikat kecilnya yang kini tengah terlelap. Kecupan lembut mendarat di kening pemilik tubuh mungil itu.


"Non sakit?" tanya sang bibik begitu panik.


"Enggak bik, tadi teman Nissa yang sakit. Oh iya, Alan sudah makan bik?


"Owh bibik kira non yang sakit. Sudah tadi non, walaupun sempat nangis nyari non"


Nissa tersenyum, ia kembali menatap wajah tampan putranya.


BRAAKK


Nissa dan bibik pun sangat terkejut saat tiba-tiba seseorang mendobrak pintu dengan kasar. Siapa lagi kalau bukan pria tampan yang sudah menjadi suami Nissa, Arnold Digantara.


"Berani sekali kau!!" Pemilik mata tajam itu pun langsung menarik tahan Nissa dengan kasar.


"Mas lepas, Alan menangis" ucap Nissa mencoba menghentikan langkahnya, namun pemilik tubuh kekar itu sama sekali tak menghiraukan Nissa.


"Apa semua yang aku lakukan tidak membuat mu jera Hah!!" bentak Arnold, ia mendorong tubuh Nissa hingga membentur dinding. Nissa meringis saat merasakan punggungnya sakit.


"Apa kau ingin aku membunuh wanita yang kau temui tadi Hah?" Nissa sama sekali tak menjawab, ia terlihat menunduk.


"Apa kau tuli!!" Arnold kembali berteriak dan menarik dagu Nissa, ia mencengkram begitu kuat. Nissa memberanikan untuk menatap mata merah pria yang ada dihadapannya.

__ADS_1


"Aku lelah" tak ada kata-kata lain yang keluar dari bibir tipis wanita itu, ia benar-benar sudah tidak tahan dengan semuanya.


"Hahaha... Bukankah kau bahagia? Kau disini mendapatkan apa yang kau mau, bahkan kau bisa membeli semua apa yang kau mau" ucap Arnold sambil menyeringai.


"Tapi sayang aku tidak bisa membeli kebahagiaan" entah sejak kapan mulut itu berani mengucapkan kata-kata yang akan membuat pria kejam itu semakin marah.


"Bunuh aku sekarang mas, bukankah itu yang ingin kamu lakukan? Bunuh aku mas, aku sudah lelah. Aku lelah terus berusaha untuk melembutkan hati kamu" ucap Nissa dengan air mata yang terus berderai.


"Mama...." suara itu berhasil membuat keduanya menoleh.


"Bibik, jangan biarkan Alan kesini. Nissa mohon bik" ucap Nissa yang mulai panik.


"Maaf non, tapi den Alan tidak mau mendengarkan bibik" ucap bibik yang ikut panik karena Alan sudah terlebih dahulu mendekati Nissa.


"Papa, lepasin mama" ucap pemilik tubuh kecil itu sambil menarik celana sang papa yang saat ini masih mencengkram Nissa.


"Alan, dengarkan mama sayang. Kamu ikut bibik ya? Mama baik-baik aja"


"Engak ma, papa jahat. Alan benci papa, papa jahat" teriak Alan yang semakin menyulut emosi pria itu.


Sebuah tamparan berhasil mendarat dipipi mulus Nissa. Ia meringis menahan rasa pusing dan perih disudut bibirnya.


"Papa jangan pukul mama, papa jahat" teriak Alan terus memukul kaki pria itu dengan tangan kecilnya.


"Alan, pergi lah nak. Mama mohon" ucap Nissa dengan suara yang sudah hampir habis. Bibik pun mengambil Alan untuk mejauh, namun Alan terus meronta.


"Uhuk Uhuk..." napas Nissa tersenggal saat tangan besar itu menekan leher jenjangnya. Sebuah senyuman terlihat jelas dibibir tipis milik Nissa, ia memejamkan matanya. Ia akan menerima jika hari ini nyawanya akan melayang.


"Tuan saya mohon, jangan lakukan itu. Saat ini nona sedang hamil!!" teriak bibik yang berhasil menghentikan pria itu.


"Bibik" ucap Nissa menatap bibik tak percaya.


"Maaf non, hanya ini yang bisa menyelamatkan nona" ucap bibik yang mulai menangis sambil memeluk Alan.

__ADS_1


"Uhuk Uhuk... " pria itu kembali menekan leher Nissa, tapi kali ini semakin kuat hingga Nissa benar-benar kehabisan oksigen.


BRUUKK


Tubuh Nissa ambruk seketika saat pria itu melepaskan cengkramannya.


"Kenapa? Kenapa tidak melanjutkan apa yang kamu lakukan mas? jika aku mati kamu bisa bebas membawa wanitamu kerumah ini. Bahkan tidak akan ada yang mengaggu hubungan kalian lagi.. Akhhh" ujar Nissa sambil menyetuh perutnya.


"Tuan, nona pendarahan" ucap bibik begitu panik. Darah segar kini sudah membasahi celana putih yang Nissa kenakan. Mata sayunya kini sedikit demi sedikit mulai terpejam. Tidak ada respon sama sekali dari Arnold, ia hanya melihat tubuh lemah itu dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


"Mang, mang ujang. Tolong bantu, bantu non Nissa" teriak bibik yang disusul kedatangan mang ujang.


"Ya ampun non Nissa" ucap mang ujang hendak mendekati Nissa, namun langsung ditahan oleh Arnold.


"Jangan berani menyentuhnya jika kau masih ingin tanganmu selamat" perkataan itu berhasil membuat mang ujang diam, ia tidak akan pernah berani melawan tuannya. Semua perkataan Arnold akan terjadi jika orang yang diperingatkan tidak menghiraukannya.


"Tuan, kasian non Nissa. Sudah cukup dia menderita, tolong selamatkan non Nissa. Non Nissa selalu menghormati tuan, bahkan dia tidak pernah menolak semua keinginan tuan" ucap bibik dengan nada memohon.


"Cih! Dia menurutiku karena orang tuanya, jika tidak dia tidak akan melakukan hal itu" ucap pria itu yang langsung pergi.


"Nona mencintai tuan, dia tidak pernah membenci tuan. Yang mendonorkan ginjal untuk tuan adalah non Nissa tuan, bukan non Wina" ucapan bibik berhasil menghentikan langkah pria itu.


"Non Nissa lah yang menolong tuan, bahkan non Nissa juga yang sudah merawat tuan hingga sembuh walaupun dia juga sedang sakit. Non Nissa benar-benar tulus tuan, bahkan dia tidak pernah melarang hubungan tuan dan non Wina karena dia tidak mau mengaggu kisah cinta tuan"


"Non Nissa juga sangat bahagia saat dia tahu jika dirinya tengah hamil, walaupun itu membahayakan dirinya. Dia mengatakan jika dia sangat bahagia bisa mengandung darah daging tuan. Nona sudah banyak berkorban tuan, bahkan nyonya besar selalu memperlakukan non Nissa dengan buruk. Tapi non Nissa tidak pernah marah. Saya mohon tuan, tolong selamatkan non Nissa"


"Jika tuan tidak menginginkan non Nissa, tuan bisa melepaskannya. Bibik tahu sebenarnya tuan juga memiliki perasaan pada non Nissa, tapi tuan tidak mau mengakuinya karena perasaan itu tuan tutupi dengan rasa kecewa yang pernah tuan dapat kan"


"Bibik mohon tuan, bibik mohon" kini bibik pun mulai berlutut dan menangkup kedua tangannya, ia sudah tidak tega melihat kondisi Nissa. Darah yang keluar pun semakin banyak hingga membasahi lantai.


"Mamang juga mohon, tolong jangan biarkan non Nissa seperti ini. Non Nissa sangat baik tuan, selamatkan non Nissa" ucap mang ujang ikut berlutut.


Arnold menoleh kearah Nissa yang tergeletak di lantai dengan kondisi yang mengkhawatirkan. Arnold berjalan dengan cepat menghampiri tubuh Nissa. Tanpa pikir panjang ia langsung mengangkat tubuh Nissa dan membawanya pergi kerumah sakit.

__ADS_1


Ya allah, tolong bukan kan pintu hati tuan Arnold. Buat mereka bersatu dan biarkan hubungan mereka membaik. Izinkan mereka untuk bahagia bersama.


__ADS_2