Ketulusan Hati

Ketulusan Hati
91


__ADS_3

Mendengar kesadaran Nissa, Dara langsung pergi menuju rumah sakit. Ia menitipkan Azka pada mertuanya, namun Ara dan Alan tetap ia bawa. Selama satu minggu Alan terus bersama Dara. Hal itu juga merubah sifat cemburuan Ara menjadi anak yang lebih pengertian. Gadis kecil itu memang sangat berbeda dengan anak seumuran dengannya.


Dara terdiam sejenak saat melihat Arnold tengah terduduk lesu.


"Bagaimana keadaan Nissa?" Dara memberanikan diri untuk bertanya.


"masuk lah" ucap Arnold tanpa menoleh. Lalu pandangannya tertuju pada anak kecil yang terus bersembunyi di belakang Dara.


"Ayo sayang" ucap Dara saat menyadari tatapan Arnold pada Alan, ia menarik Ara dan Alan masuk.


"Assalamualaikum" ucap Dara saat masuk kedalam. Namun Nissa masih tertidur pulas. Alan melepaskan genggaman Dara dan langsung berlari pada Nissa.


"Mama" panggil Alan naik keatas brankar. Dara yang melihat itu hendak menahan Alan, namun mata Nissa sudah terlebih dahulu terbuka.


"Alan" ucap Nissa mengelus kepala Alan, matanya masih terlihat sayu. Mata sayu itu kini beralih pada wanita berkerudung navy yang sedang tersenyum padanya.


"Dara" ucap Nissa begitu lemah. Dara mengangguk dan berjalan mendekati Nissa.


"Bagaimana? Apa yang kamu rasakan huh?" tanya Dara seraya membawa Ara untuk duduk di kursi, sedangkan dirinya memilih duduk disebelah Nissa yang masih kosong.


"Aku tidak tahu" ucap Nissa meneteskan air matanya. Dara yang melihat itu langsung menggelengkan kepalanya dan menyapu air mata yang membasahi pipi Nissa.


"Orang penyabar dan selalu ikhlas dalam segala hal akan mendapatkan kebahagiaan. Jangan memiliki pikiran buruk atas apa yang terjadi, kita manusia hanya bisa berencana. Tapi yang mengatur semuanya adalah Allah SWT." ujar Dara mengelus kepala Nissa. Mendengar perkataan Dara, Nissa semakin terisak. Ia langsung memeluk Dara dan menangis tersedu.


"Aku tidak bisa mempertahankan anakku Ra, aku sangat lemah" ujar Nissa dengan tubuh bergetar.


"Tidak sayang, itu artinya belum rezeki. Insha allah semuanya akan diganti dengan yang lebih baik" Dara menangkup wajah Nissa, kini mereka saling mengunci pandangan.


"Dengar, kamu adalah wanita hebat. Kamu bisa melewati semua kesulitan sendirian. Kamu hebat, tidak ada wanita sekuat kamu" ucap Dara tersenyum. Nissa kembali memeluk Dara.


"Aku minta maaf, aku bukan sahabat baik untuk kalian" ucap Nissa.

__ADS_1


"Mama jangan nangis" ucap Alan menatap Nissa begitu sedih, air matanya sudah membendung sempurna.


"Alan, anak mama. Mama minta maaf sayang" ucap Nissa langsung memeluk Alan. Dara tersenyum, ia ingin sekali menangis. Namun hal itu tak mungkin ia lakukan, saat ini Nissa butuh sandaran yang kuat. Dara harus menjadi dinding yang kokoh agar sahabatnya yang tengah terpuruk tak tumbang kedalam jurang yang dalam.


"Alan jangan nangis, Ara gak marah lagi kok kalau bunda peluk Alan. Jangan nangis ya? Nanti Ara ikut nangis" ucap Ara begitu polosnya. Dara tersenyum, ia sangat senang Ara kini sudah berubah. Tidak ada lagi Ara yang manja dan tukang merajuk.


"Alan gak nangis Ara, Alan cuma sedih lihat mama menangis terus" ucap Alan menghapus air matanya sendiri. Nissa dan Dara yang mendengar itu hanya bisa tersenyum. Kedua anak itu menjadi hiburan tersendiri untuk kesedihan Nissa.


"Terimakasih Ra" ucap Nissa menggenggam tangan Dara.


"Jangan sungkan, kita sudah berjanji akan terus bersama. Hanya saja Syila tidak bisa hadir, saat ini dia sedang kurang sehat. Bawaan kehamilan" ucap Dara.


"Aku mengerti, titip salam untuknya." ucap Nissa.


"Kamu harus sembuh, kita akan berkumpul lagi" ucap Dara begitu semangat. Namun wajah Nissa sama sekali tak menunjukan kebahagiaan.


"Ada apa?" tanya Dara saat menyadari akan hal itu.


"Hah? Kenapa? Bukankah kamu masih punya suami Nis, ada apa lagi hah?"


"Aku sudah lelah Ra, aku mau hidup normal. Aku juga ingin bahagia seperti yang lain." kini Nissa menatap Alan yang tengah bermain dengan Ara.


"Lalu bagaimana dengannya?" tanya Dara ikut menatap Alan.


"Dia akan bersamaku, tidak ada yang menginginkan dirinya" ucap Nissa. Nissa kembali menatap Dara, tangannya menggenggam erat tangan Dara.


"Apa kamu mau menolongku Ra?" ucap Nissa menatap Dara penuh harapan.


"Bagaimana dengan suami kamu Nis, bagaimana pun kamu masih punya suami. Istri yang keluar rumah tanpa izin suami itu dosa besar Nis"


"Aku akan bercerai" ucap Nissa melepaskan genggaman tangannya. Ia menyadarkan tubuhnya dan menatap lurus kedepan. Dara pun menatap Nissa tak percaya.

__ADS_1


"Nissa, kamu tahu bukan ka... "


"Aku tahu itu dosa Ra, tapi aku bukan kamu yang bisa terus bersabar. Aku tidak sanggup lagi, aku juga ingin bahagia" ucap Nissa, suaranya bergetar. Hatinya sangat sakit. Dara menatap Nissa begitu iba, tangannya terulur untuk mengelus bahu sahabatnya.


"Jangan mengambil keputusan saat hati kamu sedang panas, pikirkan dengan kepala dingin. Aku bukan memaksa kamu Nis, tapi aku ingin yang terbaik untuk kamu."


"Baik lah, kamu bisa ikut denganku untuk beberapa waktu. Disaat itu juga kamu harus memikirkan masa depan kamu Nis, jangan sampai salah langkah" Dara tersenyum dan memeluk Nissa. Ia tahu apa yang sedang sahabatnya rasakan saat ini.


***


Suara alat rumah sakit memecahkan keheningan. Sepasang suami istri itu saling membisu, tak ada yang ingin memulai bicara.


"Apa tidak ada kesempatan lagi untukku?" pada akhirnya Arnold mengalah, ia memulai untuk bicara. Nissa yang mendengar itu masih terdiam, mulutnya terkunci rapat.


"Aku tahu, aku memang salah. Aku brengsek, aku bodoh dan aku sangat jahat. Tapi aku ingin berubah, aku minta maaf. Berikan aku kesempatan" imbuh Arnold, ia hendak menyetuh lengan Nissa. Namun dengan cepat Nissa menghindar. Ia membalikan tubuhnya untuk membelakangi Arnold.


"Aku benar-benar minta maaf" Arnold menatap punggung Nissa, ia berharap tubuh itu berbalik.


"Sudah terlambat mas, semuanya sudah terlambat. Anak kita sudah tidak ada, itu karena kamu mas. Aku membencimu mas, aku membencimu!!" teriak Nissa, ia membalikan tubuhnya. Matanya memerah karena menahan amarah. Ia mengusap air matanya dengan kasar.


"Kamu yang mengatakan jika semua yang ada pada diriku itu sama sekali tak berharga. Kamu tidak akan pernah menerima apapun yang aku miliki mas. Dan itu benar adanya, anak tak bersalah itu menjadi korban kejahatan kamu mas. Kamu jahat, aku membencimu."


"Pergi!! Aku ingin sendiri" Nissa kembali membelakangi Arnold. Tubuhnya bergetar dan suara isakannya terdengar dengan jelas.


"Nissa... "


"Aku ingin sendiri, tolong hargai aku sedikit saja" potong Nissa. Arnold memejamkan matanya. Ia tidak ingin emosi kembali menguasai dirinya.


"Baik lah, aku akan pergi. Aku harap kamu memikirkan semuanya. Aku benar-benar tulus ingin memperbaiki semuanya Nissa, aku mencintaimu" ujar Arnold sebelum pergi. Ia menatap punggung Nissa yang masih bergetar. Kakinya melangkah gontai untuk meninggalkan ruangan itu. Untuk yang terakhir kalinya ia menoleh dan berharap Nissa akan menghentikan dirinya. Tapi itu semua hanya ada di bayangan Arnold, kesabaran Nissa sudah benar-benar habis.


Setelah kepergian Arnold, Nissa membalikkan tubuhnya. Tangisannya pecah, ia menatap pintu dan berharap pria itu kembali. Ia menarik kedua kakinya dan menenggelamkan wajahnya. Tangisan pilu menggema memenuhi seisi ruangan. Hanya dirinya dan tuhan yang tahu apa yang sedang ia rasakan.

__ADS_1


__ADS_2