Ketulusan Hati

Ketulusan Hati
92


__ADS_3

Kaki ini begitu sulit untuk aku gerakan, sama halnya seperti hatiku yang enggan untuk beranjak pergi. Namun aku tidak ingin membuatnya kembali terluka karena kehadiranku. Kali ini aku akan mengalah, memberikan waktu untuknya.


Maafkan aku. Aku sadar sekarang, orang terbodoh di dunia itu adalah aku. Aku sudah mengabaikan wanita yang begitu tulus seperti dirimu.


Ku putar handle pintu kamar, aku menatap setiap inci dari kamar kecil ini. Tempat yang menjadi saksi bisu antara aku dan istriku. Tempat tidur kecil ini, tidak pernah berubah. Aroma yang melekat pada tubuhnya masih tertinggal disini. Akhhh... Aku benar-benar sudah gila, entah sejak kapan aku mulai mencintainya.


Flashback on


"Mas, kamu harus mendengarkan ucapanku. Mama dan Wina itu bukan orang baik!" dengan lantang dia berteriak menuduh ibuku. Aku sangat marah, bagaimana bisa dia mengatakan hal buruk pada ibuku.


"Jaga mulutmu, jangan sampai aku merobek nya!!" ancamku sambil mencengkram kuat wajahnya. Sakit, aku tahu dia kesakitan. Ini salahnya sendiri, dia sudah membuat emosiku naik.


"Aku tidak bercanda mas, aku mendengar semuanya. Tadi mereka bi... "


"Cukup!! Hentikan Omong kosong mu itu. Ibuku orang baik, dia tidak mungkin menghianati aku!" bentakan yang keluar dari mulutku berhasil membuatnya terdiam. Aku tidak mengerti kenapa dia begitu membenci ibuku, aku lah yang selalu menyakiti dirinya bukan ibu. Walaupun dia bukan ibu kandungku, tapi aku percaya padanya. Dia adalah orang yang baik karena sudah merawatku dari kecil dengan penuh kasih sayang.


"Ingat!! Sekali lagi kau bicara buruk pada ibuku, aku tidak akan mengampunimu" Aku langsung pergi meninggalkan dirinya yang masih terdiam.


Ku langkahkan kakiku menuju ruang kerjaku. Kepalaku sudah sangat sakit memikirkan semua masalah dikantor. Sekarang masalah keluarga yang semakin menambah beban hidupku.


Keesokan harinya aku tak melihat dia dikamar, aku mencarinya kesetiap sudut rumah. Namun dirinya tak kunjung aku temui. Saat kakiku hendak melangkah pergi, sebuah suara berhasil menghentikan langkah kakiku. Semakin jelas aku mendengar sayup suara orang bertengkar. Tanpa ragu aku mendekati sumber suara.


"Pokoknya aku tidak mau lagi menunggu lama, aku ingin menikah dengannya buk. Aku sudah bosan menjadi bonekanya, aku ingin mendapatkan status yang pasti"


"Jangan bodoh, sudah aku katakan bukan? Jangan jatuh cinta padanya. Dia hanyalah ladang uang kita, kau harus lebih memanfaatkan dia. Jika bisa kau mengandung anaknya tanpa harus menikah. Setelah anak itu mendapatkan kekayaan ayahnya, kita langsung pergi dari sini."


"Tapi buk..."


"Cukup Wina, kau adalah putriku. Aku rela membunuh nyonya dirumah ini hanya untuk kebahagiaan kamu. Tunggu beberapa saat lagi, setelah kita menyingkirkan pria brengsek itu. Kita bisa menikmati semua hartanya"


Apa maksud mama? Kenapa dia bicara seperti itu? Bagaimana bisa dia mengatakan jika Wina adalah anaknya?. Karena penasaran aku tetap diam dan mendengarkan perdebatan mereka.


"Tapi buk, aku mencintai kak Arnold. Aku tidak rela jika kita harus menyingkirkan dia. Lebih baik kita singkirkan wanita dan anak haram itu. Kak Arnold tidak mencintainya, kita bisa dengan mudah menyingkirkan wanita sialan itu"

__ADS_1


"Jangan bodoh, Arnold bukan orang yang mudah di bohongi. Lebih baik kita menyingkirkan dia, kita bisa mudah bergerak. Kau ikuti saja...


BRAAKK


Aku tidak bisa lagi berdiam diri, aku ingin sekali membunuh kedua wanita yang sudah mengelabuiku selama ini.


"A.. Arnold, bagimana bisa kau..."


"Apa kalian kira aku bodoh? berani sekali kalain merencanakan pembunuhanku dirumah ku sendiri. Kalian pikir aku akan diam dan memaafkan kalain huh? Dalam mimpi pun kalian tidak akan bisa lari" Aku mendekati kedua wanita licik itu, emosiku kali ini benar-benar tidak bisa terkontrol. Wajah mereka sangat pucat. Hah,,, berani sekali merdeka ingin menyingkirkan aku.


"Akhhh sakit kak... "


"Kau kira aku takut untuk membunuh mu?" ucapku, aku mengeratkan cengkraman tanganku di lehernya. Aku sudah tidak perduli jika dia akan mati. Berani sekali mereka ingin membunuhku.


PRANKK


Sakit. Kepalaku sangat sakit, aku melepaskan cengkramanku dan menyetuh kepalaku. Benar saja, kepalaku berdarah. Aku membalikan tubuhku dan mendapatkan wanita tua itu sedang tersenyum puas.


"Hah, apa kau kira aku akan mati hanya dengan memukul kepalaku dengan pas bunga? Kau salah, kau sudah melenyapkan ibuku. Aku tidak akan mengampuni kalian" ujar ku. Bisa ku lihat jika mereka mulai ketakutan. Sial!! Kepalaku semakin sakit. Dengan cepat aku meraih ponselku dan menelepon seseorang.


"Jangan harap kalian bisa lari dari rumah ini. Kalian harus membayar berapa banyak uang yang sudah kalian habiskan dan apa yang sudah kalian perbuat" ucapku dan langsung beranjak pergi.


"Sial!!" umpatku. Aku benar-benar marah, ingin sekali rasanya aku langsung membunuh kedua manusia ular itu. Lalu aku kembali ingat ucapan Nissa, jadi semua yang dikatakannya itu benar. Kenapa aku sebodoh ini?.


Flashback off


"Maaf, aku tidak pernah percaya ucapan kamu Nissa. Kenapa hidupku selalu dikelilingi oleh penghianat? Kenapa!?" Aku berteriak sekuat tenaga, biar lah orang menganggapku gila. Tapi benar apa adanya, aku memang sudah gila. Aku merebahkan tubuhku dikasur yang lumayan keras ini. Oh tuhan, betapa jahatnya aku membiarkan dia tidur ditempat yang tidak nyaman ini selama bertahun-tahun.


"Aku berjanji, aku akan membahagiakan kamu Nissa. Maafkan aku, aku akan terus memohon padamu. Aku rasa, aku memang sudah mencintai mu Nissa."


***


Bulan sabit terlihat dengan jelas di bibir pria tampan yang kini tengah menatap dirinya dicermin. Ia merapikan jas hitam yang melekat pas di tubuhnya. Lalu mata indahnya beralih pada sebuket bunga mawar yang sengaja ia beli untuk pujaan hatinya.

__ADS_1


"Cantik, sama seperti wajahnya" ucap pria itu sambil mencium rangkaian bunga mawar merah.


"Tunggu sayang, aku akan menjemputmu." ucap pria itu langsung menyambar kunci mobilnya. Bulan sabit di bibirnya tak pernah pudar.


Tepat didepan ruangan yang serba putih, pria itu terdiam sejenak. Ia menyentuh dadanya yang berdegup kencang. Dengan yakin, tangannya memutar handle pintu dan tak lupa ia melengkungkan bibirnya.


"Assalamualaikum... " ucapnya membuka pintu. Namun seketika senyuman dibibirnya musnah.


"Wa'alaikumusalam" jawab seorang wanita.


"Maaf mbak, pasien disini kemana?" tanya pria itu menyapa sang wanita yang tak bukan adalah seorang suster.


"Oh mbak Nissa ya? Sudah pulang tadi pagi. Ini saya sedang membereskan semuanya" ucap sang suster begitu ramah. Mendengar jawaban sang suster, pria itu langsung mengubah raut wajahnya.


"Kemana dia pergi? Aku suaminya, siapa yang membawanya?" tanya pria itu dengan nada meninggi.


"Maaf tuan, kami tidak tahu. Tadi mbak Nissa keluar bersama dua wanita lainnya. Mungkin tuan bisa menanyakan itu pada mereka, permisi tuan" ujar sang suster yang langsung beranjak pergi karena merasa takut dengan tatapan mengerikan pria itu.


"Akhhh.. Sial!! Kemana kau pergi Nissa? Jadi kau benar-benar tidak memaafkan aku?" pria itu memainkan tanganya memukul udara.


"Aku tidak akan menyerah, aku akan membawa mu kembali pulang. Kau masih istriku, kau hanya milikku Nissa" ucapnya yang langsung beranjak meninggalkan rumah sakit.


Tok tok tok


"Iya sebentar.. " teriak seseorang dari dalam. Lalu tak lama pintu pun terbuka dan menampakkan seorang wanita cantik dengan kerudung panjang yang hampir menutupi setengah badannya. Namun ekspresi wanita itu langsung berubah saat melihat wajah orang yang ada di hadapannya.


"Kamu!!"



ARNOLD


__ADS_1


ANISSA


__ADS_2