
"Mas, besok kita jemput Alan ya?" ucap Nissa menatap wajah Arnold. Arnold membuka matanya dan menatap Nissa lekat. Tangan kekarnya semakin erat memeluk tubuh ramping Nissa.
"Biarkan dia disana sementara waktu, kita juga butuh waktu berdua. Lagian dia juga betah disana." ujar Arnold mengecup kening Nissa. Nissa hendak protes. Namun Arnold sudah terlebih dahulu menutup mulutnya.
"Kau membuang waktu istirahatmu. Jadi jangan salahkan aku jika besok kau tidak bisa bangun dari tempat tidur." Nissa membulatkan matanya. Bulu kuduknya seketika berdiri saat melihat seringaian Arnold.
"Nissa lelah mas, sudah cukup." ucap Nissa berusaha menolak. Namun bukan Arnold namanya jika tidak mendapatkan apa yang ia inginkan. Nissa hanya bisa pasrah. Ia tidak bisa melakukan apapun.
"Aku harap, ia segera tumbuh disini. Aku sangat menantikannya." bisik Arnold tepat ditelinga Nissa. Ada rasa geli saat Arnold menyentuh perutnya. Ia sangat yakin jika saat ini wajahnya sudah seperti kepiting rebus. Nissa menenggelamkan wajahnya di dada bidang Arnold. Ia tak ingin sang suami melihat wajahnya yang memerah.
"Kau sangat menggemaskan." ucap Arnold menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh mereka. Gelapnya malam menjadi saksi bisu kedua insan yang tengah beradu cinta. Melepaskan kerinduan yang sudah lama terpendam.
***
"Bunda.... " lengkingan suara itu berasal dari kamar Ara. Ya, siapa lagi pemilik suara itu kalau bukan Ara si gadis kecil yang penuh dengan keceriaan.
"Ada apa sayang? Kenapa teriak-teriak?" ibu dua anak itu berjalan dengan tergesa menuju kamar putrinya.
"Bunda, kemana baju pink kesayangan Ara? Ara mau pake bunda." rengek Ara memanyunkan bibirnya. Dara menghela nafas. Putri kecilnya yang satu ini memang tidak bisa jika sehari saja tidak membuat keributan.
"Lain kali jangan teriak-teriak, adek masih bobok. Bunda meletakkan ditempat biasa kok." ucap Dara membuka almri besar milik Ara.
"Gak ada bunda, Ara sudah cari tadi." ucap Ara melipat kedua tanganya. Ia memperhatikan Dara yang tengah mencari baju yang ia maksud.
"Iya ya, kok tidak ada. Mungkin bunda cuci, kamu pakai yang lain aja ya?" ucap Dara yang langsung dijawab gelengan oleh Ara.
"Ara mau pake yang pink!"
"Tunggu sebentar, bunda lihat di belakang dulu." ucap Dara beranjak keluar dari kamar Ara.
"Ada bunda?" tanya Ara mengikuti Dara dari belakang.
"Tidak ada, kemana ya? Apa ketinggalan dirumah tante Syila ya?" tanya Dara sambil meningat-ingat.
"Yah bunda, padahal Ara mau pake baju itu." rengek Ara duduk di kursi dengan lesu.
"Ara pakai yang lain dulu ya, nanti kita ambil bajunya. Sekarang bunda harus beres-beres rumah dulu sebelum adek bangun. Jadi Ara jangan keras kepala ya?" ucap Dara mengelus kepala Ara. Ara mengangguk. Ia pun langsung beranjak menuju kamarnya. Dara yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Seperti biasa, Dara selalu disibukkan dengan urusan dapur. Sudah berapa kali Arham ingin menyewa asisten, tapi Dara selalu saja menolak. Keras kepala Dara memang tak pernah hilang. Jadi tidak salah lagi jika Ara mewarisi sifat itu dari Dara.
"Belum selesai?" tanya seseorang. Sebuah tangan kini melingkar sempurna diperut Dara. Dara sedikit terkejut.
"Mas, lepasin. Dara sedang masak." ucap Dara berusaha melepaskan tangan Arham dari perutnya.
"Yang masak kan tangan kamu, jangan banyak bergerak." ucap Arham.
__ADS_1
"Mas. Kalau anak-anak lihat bagaimana?" ucap Dara membalikan tubuhnya. Ia menatap wajah Arham yang masih lusuh khas orang baru bangun tidur.
"Mereka tidak akan melihat... " ucap Arham mendekatkan wajahnya dengan Dara. Namun dengan cepat Dara mendorong tubuh Arham.
"Hai sayang, ada apa?" ucap Dara menghampiri anak kecil yang tengah berdiri diambang pintu.
"Alan haus bunda..." ucap Alan menunduk. Dara tersenyum dan mengambil gelas yang Alan pegang.
"Sini bunda ambilkan." ucap Dara berjalan melewati Arham yang masih berdiri di sana.
"Alan, memang nya air dikamar sudah habis ya?" tanya Arham datar. Alan mengangguk.
"Kalau masih ada tidak mungkin Alan kesini mas. Ini sayang minumnya." ucap Dara memberikan segelas air putih pada Alan.
"Terimakasih bunda." ucap Alan yang langsung beranjak pergi. Arham yang melihat itu langsung tersenyum senang. Baru selangkah Arham berjalan, sudah terdengar suara tangisan bayi. Arham berdecak kesal.
'Ya tuhan, kapan aku bisa memeluk istriku. Baru juga punya dua anak, bagaimana jika punya sepuluh. Mungkin aku akan tidur di gudang.'
"Mas.. " Dara sedikit berteriak karena Arham sama sekali tak mendengar panggilannya.
"Ah iya, ada apa?" tanya Arham tersentak.
"Tolong lanjutkan masak ya? Dara lihat baby Azka dulu. Love you papa." ucap Dara yang langsung meninggalkan Arham yang terlihat kesal. Dengan malas Arham melanjutkan pekerjaan Dara. Walaupun sudah tidak terlalu banyak. Namun bagi Arham itu semua sangat melelahkan.
"Papa, boleh ambilkan baju Azka di lemari? Bunda lupa ambil tadi." ucap Dara saat melihat Arham masuk kedalam kamar. Dara baru saja selesai memandikan Azka.
"Bunda tidak capek?" tanya Arham duduk disebelah Dara sambil memberikan baju Azka.
"Alhamdulillah enggak pa, paling nanti malam terasa pegel. Tapi papa jangan khawatir, sebentar saja hilang kok. Iya kan sayang?" ujar Dara sambil mengajak putranya bicara. Arham meneliti setiap inci wajah sang istri.
Wajah itu masih tetap cantik. Tak berubah dari awal Arham bertemu dengan Dara. Arham selalu mengerutuki dirinya sendiri saat mengingat masa lalu. Namun semua itu sudah berlalu. Saat ini hanya satu tujuan Arham, yaitu membahagiakan keluarga kecilnya.
"Papa gak mandi? Bau tahu." gurau Dara. Arham tersenyum sambil mengacak rambut panjang Dara. Lalu Arham langsung beranjak menuju kamar mandi.
"Jangan lupa handuk pa." teriak Dara saat mendengar pintu kamar mandi tertutup. Arham kembali keluar, sudah menjadi kebiasaan Arham setiap hari. Ia lupa membawa handuk.
"Papa mah kebiasaan kan dek. Hmmm... Anak bunda udah harum, sekarang Azka keluar ya. Main sama kakak." ucap Dara membawa Azka keluar dari kamar.
"Bunda, cemilan Ara udah habis." rengek Ara sambil menunjukkan toples kosong pada Dara.
"Ya sudah, nanti beli lagi dengan papa. Alan mana?" ucap Dara saat tak melihat keberadaan Alan.
"Alan dari tadi di kamar bunda,,, katanya dia rindu mamanya." ucap Ara kembali duduk disofa menikmati film kartun kesukaannya. Dara mengernyit, lalu ia pun pergi menuju kamar Alan.
Dara tersenyum saat melihat Alan sedang duduk di tepi ranjang sambil menunduk.
__ADS_1
"Anak bunda kenapa sedih?" Dara duduk di sebelah Alan. Alan sangat terkejut, ia menghapus air matanya dengan kasar.
"Ada apa sayang?" Dara mengelus kepala Alan dengan lembut. Alan mentap Dara dengan takut. Ia hendak bicara, namun matanya memancarkan ketakutan.
"Alan rindu mama?" tanya Dara lagi. Kali ini Alan mengangguk, ia kembali meneteskan air matanya. Dara memeluk Alan.
"Ya sudah, bantu bunda telpon mama ya? Biar jemput Alan."
"Mama disini sayang.. " ucap seseorang diambang pintu. Dara sangat terkejut saat melihat Nissa sudah berdiri disana. Alan terlihat sangat senang dan langsung berlari memeluk Nissa.
"Mama, Alan mau ikut mama pulang. Alan kangen mama." ucap Alan sesegukkan. Dara bangun dari duduknya untuk menghampiri mereka.
"Iya sayang. Mama minta maaf." ucap Nissa membawa Alan kedalam dekapannya. Nissa menggendong Alan dan membawanya keruang tamu.
"Alan tidak rindu dengan papa?" tanya Nissa menatap Arnold yang tengah mengobrol dengan Arham. Alan menggeleng, ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Nissa.
Arnold menoleh kearah Nissa. Ia tersenyum dan bangun dari duduknya. Arnold berjalan menghampiri Nissa dan Alan.
"Alan." panggil Arnold. Alan semakin erat memeluk Nissa.
"Papa sayang, tidak perlu takut." bisik Nissa. Namun Alan menggeleng dan menolak untuk menatap Arnold.
"Alan tidak rindu papa?" tanya Arnold menatap punggung Alan lekat. Rasa bersalah mulai menyelimuti hatinya. Andai saja dulu ia bersikap baik, mungkin Alan tidak akan ketakutan seperti ini.
"Papa minta maaf." ucap Arnold mencium kepala Alan dengan lembut.
"Kita pulang ya?" imbuh Arnold, Nissa mengangguk.
"Ra, makasih ya udah mau jaga Alan. Kami pamit pulang dulu. Masih ada yang harus kami urus." ucap Nissa.
"Kenapa tidak sarapan dulu?" tanya Dara.
"Tidak usah repot Ra, kami akan langsung pulang. Maaf sudah merepotkan kamu selalu." ucap Nissa menatap Dara penuh rasa bersalah.
"Sudah aku katakan bukan? Kita sahabat, tak ada kata merepotkan. Jadi jangan sungkan. Apa pun yang terjadi, kita akan tetap bersama." ucap Dara. Nissa tersenyum bahagia mendengar ucapan tulus sahabatnya.
Lalu Nissa dan Arnold pun langsung berpamitan untuk pulang. Dara tidak bisa menahan mereka lebih lama. Ia tahu saat ini mereka membutuhkan waktu untuk memperbaiki semuanya.
"Masalah sudah selesai." ucap Arham merangkul pinggang Dara sambil menatap kepergian Nissa.
"Dara senang mas, akhirnya Nissa bahagia." ucap Dara. Arham mengangguk. Keduanya terdiam menatap mobil Arnold hingga menghilang.
"Papa... Remot tv Ara mana?" teriakkan itu menggema memenuhi kuping Dara dan Arham. Bahkan Azka pun terkejut mendengar suara sang kakak.
"Mas, mulai deh jahil nya." ucap Dara menatap Arham kesal. Arham tersenyum jahil. Dara menggelengkan kepalanya, ia tak habis pikir dengan dua orang yang setiap hari selalu membuat keributan.
__ADS_1