Ketulusan Hati

Ketulusan Hati
55


__ADS_3

Aku menatap wajahku sendiri di pantulan cermin, semuanya tidak ada yang berubah. Tapi aku bingung, aku selalu merasa ada sesuatu yang hilang. Setelah terbangun dari mimpi yang cukup panjang, entah lah aku sendiri bingung dengan semua mimpi itu. Aku bermimpi seorang pria yang tak jelas wajahnya melingkarkan sebuah cincin indah di jariku , tapi saat aku membuka mata yang aku lihat hanyalah kedua orang tuaku dan abangku yang sedang menatapku dengan tatapan yang aneh. Aku melihat jari manisku, tak ada apa pun yang melingkar di sana. Kecewa, ya itu yang aku rasakan.


Mereka mengatakan jika aku mengalami sebuah kecelakaan dan aku setengah amnesia. Memang sangat aneh, bahkan aku masih mengingat semua keluargaku dan juga kedua sahabatku Syila dan Nissa. Tapi dalam hatiku seperti ada yang terlupakan dan itu sama sekali tak aku ketahui. Bahkan kecelakaan yang mereka katakan pun aku sama sekali tak mengingatnya. Ah, sudahlah. Jika aku terus memikirkan hal itu kepalaku akan kembali sakit.


Aku memutuskan untuk membersihkan tubuhku karena terasa sangat lengket, aku sendiri tidak tahu kapan terakhir kali aku mandi. Aku masuk ke kemar mandi dengan begitu semangat.


"Ya ampun" ucapku terkejut saat melihat jahitan di bagian perutku yang lumayan besar. Aku mengurungkan niatku untuk mandi dan beranjak keluar dari kamar.


"BUNDA.... " teriak ku, lalu tak lama aku melihat bunda masuk ke kamar dengan memasang wajah cemas.


"Ada apa?" tanya bunda menatapku dengan sangat khawatir.


"Bunda, kenapa ada bekas jahitan disini?" tanyaku menunjuk bekas jahitan di perutku.


"Eh, itu karena...em kamu.." Aku mengernyit saat bunda seperti orang bingung untuk menjawab pertanyaanku.


"Beberapa bulan lalu kamu kena usus buntu, tidak perlu takut itu akan segera hilang" ucap seseorang yang tiba-tiba masuk kekamarku aku langsung menurunkan bajuku yang terangkat. Ya, siapa lagi kalau bukan bang Ical.


"Kenapa aku tidak mengingat apa pun? Kenapa semuanya seperti mimpi?" tanyaku apa adanya.


"Cukup, kamu tidak perlu banyak berfikir. Saat ini kamu hanya harus pokus pada kesembuhan kamu dan kembali melanjutkan kuliah" ucap bang Ical membuatku tekejut, apa lagi sekarang? Kenapa aku sama sekali tak mengingat apapun. Aku menatap wajah abangku penuh tanda tanya.


"Kenapa harus disini? Dara ingin kuliah di Jakarta, teman Dara semuanya disana" ucapku memelas.


"Jangan banyak bicara Dara, minum obat setelah itu istirahat" ucap abangku menatapku tajam, aku tidak lagi mengenal dirinya yang seperti dulu begitu lembut. Dia sudah sangat berubah, sekarang dia terlihat lebih kasar.


"Abang berubah, abang jahat" teriak ku dan langsung mejatuhkan diriku di atas ranjang. Aku menarik selimut dan menutup seluruh tubuhku. Aku tidak ingin kuliah di tempat saat ini aku berada, walaupun aku tahu ini adalah tanah kelahiranku. Tapi aku sudah lebih nyaman di Jakarta, aku sudah memiliki teman dekat di sana.


"Dara minum obat dulu" ucap bunda menarik selimut yang menutupi tubuhku.

__ADS_1


"Dara tidak mau bunda, sudah seminggu Dara selalu minum obat. Dara tidak sakit, kenapa semua orang menganggap Dara sakit" ucapku menarik kembali selimut untuk menutupi tubuhku.


"Dara..."


"Dara mau kembali ke Jakarta bunda, Dara kangen sahabat Dara dan asrama" air mataku mengalir begitu deras, aku sangat merindukan semua yang ada di sana. Aku juga merasa sudah begitu lama tak bertemu dengan mereka, terakhir kali aku ingat kami bertemu sebelum liburan semester. Selain itu, aku juga merindukan sesuatu tapi tidak tahu apa yang saat ini amat aku rindukan.


"Biarkan dia seperti itu bunda, dia sangat keras kepala"


Aku bangun dari tidurku dan langsung menatap abangku.


"Kenapa abang mengurung Dara? Kenapa kalian seperti menyembunyikan sesuatu aaahhh"


Sakit sekali, dadaku sangat sakit dan detak jantungku seakan berpacu sangat cepat.


"Dara, sudah abang katakan kamu harus minum obat" ucap bang Ical duduk di sebelahku.


"Dada Dara sesak, sakit" ringisku saat merasakan dadaku semakin sakit. Aku juga tak bisa bernapas dengan lancar, jantungku semakin berpacu hebat. Kepalaku juga terasa sangat berat, hingga pandanganku pun mulai mengabur. Aku mencengkram tangan bang Ical dan semuanya berubah menjadi gelap.


"Bagaimana keadaannya Cal?" tanya Zahra pada anaknya yang kini tengah menatap sang adik yang masih terlelap.


"Jantungnya masih belum normal, Dara belum bisa menerima hal yang berat dan membebani pikirannya. Kita akan membawa dia kembali ke Jakarta, untuk ingatannya biar Dara tahu semuanya sendiri" ujar Haikal yang langsung beranjak keluar dari kamar. Zahra yang melihat sikap putranya itu hanya bisa menghela napas.


"Maafkan abang dek, abang sama sekali tidak ada maksud untuk memisahkan kamu dengan anak kamu. Abang hanya tidak ingin kamu kenapa-napa, abang masih belum percaya pada suami kamu. Abang masih sangat takut akan kehilangan kamu" ujar Haikal, sebulir air bening kini menetes di wajah tampannya.


Flashback on


"Kenapa kamu meninggalkan abang dek, kenapa kamu yang harus pergi. Kenapa? Kenapa kamu tidak pernah mendengarkan ucapan abangmu ini hah? Bangun lah, bangun sayang" ucap Haikal, ia mengeggam tangan Dara yang pucat nan dingin. Haikal memeluk adiknya dengan begitu erat, hatinya benar-benar hancur saat melihat orang yang ia sayangi pergi begitu saja dari kehidupannya.


"Bangun, abang mohon. Apa kamu tidak ingin melihat anak kamu hah? Bangun lah Dara, abang mohon" sambung Haikal.

__ADS_1


"Uhuk... "


Haikal sangat terkejut saat mendengar Dara terbatuk, ia langsung melihat dan ternyata benar itu adalah Dara. Namun Haikal kembali terkejut saat mulut Dara mengeluarkan darah. Ia langsung menarik tangan Dara dan mengecek denyut nadi.


"Terimakasih ya allah" ucap Haikal, dengan cepat ia memasang kembali alat pendeteksi detak jantung di tubuh Dara, Haikal juga memasang oksigen karena Dara bernapas sendikit tersenggal. Haikal memeriksa detak jantung Dara dengan stetoskop miliknya.


"Ya allah, jantungnya sangat lemah" ucap Haikal, Ia beranjak keluar dari ruangan.


Haikal sempat terdiam saat melihat orang - orang yang menatapnya dengan penuh tanda tanya. Lalu Haikal tidak menghiraukan mereka dan langsung beranjak pergi untuk memanggil dokter yang menangani Dara.


Tak lama Haikal kembali dengan dua orang dokter perempuan dengan langkah cepat, Haikal mengangkat tangannya saat kedua orang tuanya hendak bertanya. Lalu mereka langsung masuk dan mengunci pintu kembali.


"Bagaimana keadaan adik saya?" tanya Haikal pada dokter.


"Ada sedikit masalah pada jantung adik anda dok, sepertinya air ketuban adik anda naik ke jantung dan juga otaknya. Ia mengalami emboli air ketuban, cukup langka terjadi. Karena saat operasi pun dia mengalami serangan jantung. Ini sangat fatal, detak jantungnya sempat berhenti cukup lama. Kemungkinan jika adik anda selamat ia akan menderita amnesia dan jantungnya lemah" ujar sang dokter membuat Haikal seketika lemas.


"Saat ini yang paling penting keselamatan adik saya dok, untuk masalah lainnya biar saya yang mencari solusinya" ucap Haikal yang di jawab anggukkan oleh kedua dokter. Haikal dan kedua dokter itu pun keluar dari ruangan Dara.


"Saya akan membawa Dara ke Aceh, tanah kelahirannya. Saya harap kalian menerima ini semua" ucap Haikal menatap kedua mertua Dara.


"Ini semua kami serahkan pada kalian semua, kami sekeluarga minta maaf atas sikap anak kami yang tak pantas untuk nak Dara. Kami tidak akan menuntut apapun" ucap Gilang menatap Haikal dengan penuh penyesalan.


"Lalu bagaimana dengan bayinya?" tanya Hesti.


"Arham berhak atas anak itu, dia juga harus mendapatkan pelajaran dari apa yang sudah ia perbuat. Haikal harap bunda dan ayah bisa menerima keputusan Haikal" ucap Haikal menatap kedua orang tuanya.


"Tidak Ical, bagaimana pun Arham adalah suami Dara. Kita tidak bisa memutuskan semuanya sepihak" ucap Raffi menolak keputusan Haikal.


"Tapi Ical akan tetap membawa Dara" ucap Haikal yang kembali masuk ke dalam ruangan. Haikal menghampiri tempat Dara berbaring lemah.

__ADS_1


"Abang akan melakukan yang terbaik untuk kamu, sementara waktu izinkan abang untuk membawa kamu pergi. Ini demi kebaikan kamu" ucap Haikal mencium punggung tangan Dara.


__ADS_2