
"Bunda... " teriak Ara diambang pintu saat melihat Dara keluar dari mobil. Namun senyumannya lenyap begitu saja saat melihat Dara menggendong seseorang.
" Bunda kenapa gendong kakak itu?" tanya Ara dengan mata berkaca-kaca.
"Aduh anak ayah, kita masuk dulu ya" ucap Arham menggendong Ara dan mencium pipi Ara.
"Ayah, siapa kakak itu? Apa dia mau ambil bunda? Ara gak mau bunda diambil" rengek Ara.
"Enggak kok, kakak itu namanya Alan. Mamanya sakit, jadi Alan akan tinggal bersama kita beberapa hari" ucap Arham mencubit hidung Ara. Ara memeluk Arham, namun pandangannya terus menatap Dara. Dara menghela nafas, ia tahu saat ini Ara sedang cemburu. Jangankan orang lain, Azka saja sudah sering ia cemburui.
"Mas, Dara bawa Alan kekamar Azka dulu" ucap Dara yang dijawab anggukan oleh Arham.
Setelah menidurkan Alan, Dara langsung beranjak menuju kamarnya.
"Anak bunda belum bobok?" tanya Dara saat melihat Ara masih bermain boneka di tempat tidur. Ara hanya diam, sesekali matanya melirik Dara. Jika seperti ini, artinya Ara sedang dalam mode merajuk.
"Padahal bunda rindu Ara, tapi sepertinya anak bunda tidak rindu ya dengan bunda?" ucap Dara duduk disebelah Ara. Ara menatap Dara lekat, lalu ia langsung memeluk Dara.
"Ara juga rindu bunda, bunda jangan pergi lama lagi. Bunda juga jangan gendong siapapun selain dek Azka, Ara tidak suka" rengek Ara sambil memeluk Dara begitu erat.
"Maaf sayang" ucap Dara mencium pucuk kepala Ara.
"Ara sudah makan?"
"Sudah, tadi nenek masak buat Ara" ucap Ara menatap wajah Dara.
"Wah anak bunda memang pintar, ya sudah. Ayok bobok, besok lanjut lagi mainya" ucap Dara merapikan boneka mainan Ara.
"Ara mau dipeluk bunda" rengek Ara duduk di pangkuan Dara. Ara mencium gemas pucuk kepala Ara.
"Iya sayang" Dara menidurkan Ara sambil memeluknya. Seperti biasa Dara akan melantunkan ayat suci agar Ara tertidur.
Diambang pintu Arham tersenyum lebar melihat kedua wanita berharganya begitu dekat.
__ADS_1
***
Dini hari Dara sudah terbangun karena mendengar suara tangisan seseorang. Ia menyibak selimutnya dan beranjak keluar.
"Ya Allah, ada apa sayang?" tanya Dara saat masuk kekamar Azka dan mendapatkan Alan sudah terbangun sambil menangis.
"Alan mau mama, mama" Alan menatap Dara begitu sendu. Dara memeluk Alan dan mengelus kepalanya.
"Ini masih malam sayang, besok pagi kita ketemu mama ya. Bunda janji, sekarang Alan bobok lagi ya?" ucap Dara menangkup wajah Alan.
"Alan mau di peluk mama, Alan mau mama" teriak Alan yang berhasil membuat Dara terkejut.
"Sayang, dengarkan bunda. Mama sedang sakit, Alan jangan seperti ini. Alan mau nanti mama sedih hah?" ucap Dara begitu lembut.
"Alan gak mau mama sedih, Alan mau dipeluk mama" ucap Alan sambil sesegukan.
"Bunda yang peluk ya?" ucap Dara, namun Alan langsung menolak. Dara sudah kehabisan akal, biasanya Ara akan langsung menurut.
"Ada apa? Kenapa ribut?" tanya Arham yang muncul dibalik pintu.
"Hey anak jagoan, kamu sayang mama kan?" tanya Arham yang langsung dijawab anggukan oleh Alan.
"kalau begitu Alan tidak boleh menangis. Alan mau mama sedih karena melihat Alan menangis?" Alana menggeleng. Arham kembali tersenyum.
"Alan sayang mama kan? Jadi Alan harus menurut, besok kita akan menemui mama. Sekarang Alan bobok lagi, suapaya cepat ketemu mama ya?" ucap Arham mengelus kepala Alan. Alan menatap Arham begitu lekat, lalu tiba-tiba ia langsung memeluk Arham. Dara dan Arham saling melempar pandangan.
"Alan mau punya papa baik, papa selalu jahat dengan mama dan juga Alan" ucapan itu berhasil membuat Arham dan Dara tersentuh. Arham memeluk Alan dengan erat, ia mencium pucuk kepala Alan.
"Malam ini biar ayah peluk Alan, Alan kembali tidur ya sayang?" ucap Dara, lalu dengan cepat Alan mengangguk.
"Mas" panggil Dara untuk meminta persetujuan Arham. Arham tersenyum dan mengangguk.
"Terimakasih mas" ucap Dara membalas senyuman Arham.
__ADS_1
"Kembali kekamar, biarkan Alan denganku" ucap Arham.
"Iya mas, Dara kekamar dulu takut Ara dan Azka terbangun" Dara mencium pucuk kepala Alan, lalu berganti mencium pipi Arham. Lalu Dara kembali menuju kamarnya.
"Nissa, aku harap kamu baik-baik aja. Aku tahu kamu wanita hebat" ucap Dara menatap foto dirinya dan kedua sahabatnya. Ia tersenyum.
"Ah sudah pukul tiga ternyata, sebaiknya aku salat dulu" ucap Dara melangkah menuju kamar mandi.
Lantunan ayat suci yang Dara lantunkan begitu merdu. Keheningan malam seakan sirna oleh aluna merdu yang dapat menenangkan jiwa. Siapa pun yang mendengarnya akan merasa tenang. Tak pernah lupa sebuah doa ia panjatkan, sebuah senjata ampuh yang selalu Ia gunakan saat gundah atau pun susah. Tak ada yang bisa menyaingi kekuasaan-NYA.
***
"Mas, apa ada kabar tentang Nissa?" tanya Dara sambil menuangkan nasi dipiring Arham.
"Balum ada, setelah Alan bangun kita bisa langsung ke rumah sakit." ucap Arham.
"Kasian Alan, dia pasti sangat terpukul" ucap Dara menopang dagu. Tatapannya menyiratkan kesedihan yang mendalam. Arham nisa melihat semua itu. Tangannya terulur untuk menyetuh kepala sang istri.
"Jangan khawatir, Allah memiliki rencana yang hebat. Kita sebagai manusia hanya bisa berdoa dan berusaha untuk yang terbaik" ucap Arham mengelus kepala Dara. Dara mengangguk, namun tatapan itu tak juga berubah.
"Ada apa lagi hem?" tangan kekar itu kini berlaih untuk menyetuh pipi mulus Dara.
"Dara bukan sahabat yang baik mas, bagaimana bisa Dara tidak tahu penderitaan Nissa. Bahkan Dara tidak ada saat Nissa membutuhkan sandaran. Sahabat macam apa aku ini? " ucap Dara mulai meneteskan butiran bening.
"Jangan berfikir seperti itu sayang, tidak ada yang tahu hal ini akan terjadi. Jangan menyalahkan diri kamu, itu tidak baik. Saat ini kamu bisa membantunya lewat doa" ucap Arham menghapus jejak air bening yang membasahi pipi Dara.
"Sudah jangan menangis lagi, sekarang kamu harus makan" Dara tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Lalu mereka pun melanjutkan sarapan pagi. Namun tak berapa lama ponsel Arham pun bedering. Nomor tidak dikenal terlihat jelas muncul di layar ponsel Arham.
"Pasti kabar Nissa, cepat angkat mas" ucap Dara begitu semangat. Arham mengangguk.
"Assalamualaikum" ucap Arham yang terus menatap Dara.
"Apa? Baik bik, kami akan segera kesana. Iya, secepatnya kami kesana. Wa'alaikumusalam" Arham menutup sambungan telepon dan menatap Dara lekat.
__ADS_1
"Ada apa mas?" tanya Dara khawatir.
"Kita harus kerumah sakit, keadaan Nissa semakin memburuk" ucap Arham yang berhasil membuat Air mata Dara kembali meluncur. Tubuh Dara lemas seketika.